Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku

Mereka Yang Ku Sayang Menghianatiku
Pusara Penghalang


__ADS_3

Setelah beberapa lama di jalan aku dan bang Rendi akhirnya sampai juga di pusara mama da papaku. Di sana ada batu nisan bertuliskan Burhan Subarsono ku hampiri pusara itu dan mulai ku peluk.


" Gue jalan ke warung di depan sana ya, puas-puasin aja lid gue akan tunggu selama apapun itu. Gue gak mau ganggu lu disini jadi gue akan tunggu di warung depan" bang Rendi menepuk pundak ku dan mulai berjalan ke arah warung yang dia tunjuk tadi. Baiknya Abang sepupu ku ini, bahkan seorang Rendi Subarsono mau menunggu aku dan dia duduk di warung yang bahkan seumur hidup dia belum pernah jalani. Karena dia adalah satu-satunya penerus kakek jadi kakek sedikit ketat padanya, mana mungkin kakek mengizinkan penurusnya jajan di warung sembarangan makanya dia tak pernah beli sesuatu di warung.


Setelah ku pastikan bang Rendi sampai di warung itu, ku peluk lagi pusara papa ku. Betapa aku merindukan mereka, aku rindu saat papa pulang kerja dan berlari memelukku, aku rindu di cium sama papa, bahkan aku sangat rindu mendengar papa yang mengomel ketika aku izin mau jalan sama teman lelaki ku. Aku rindu ekspresi papa ketika bilang "enggak lid, kalau mau jalan berdua sama cowok papa ikut"


Papaku ini memang sedikit posesif mungkin karena aku adalah anak tunggalnya dan dia ingin yang terbaik padaku. Makanya ketika aku SMA dulu aku tak punya banyak mantan pacar, hubunganku juga gak pernah lama karena kemanapun aku pergi kalau itu sama laki-laki maka papa akan ikut. Akh lucunya papaku ini.


Kupeluk pusara di depanku dan ku benamkan wajahku dan tanpa sadar aku mulai menangis


"Papa apa kabar ? Enak ya disana makanya papa gak pernah datang nengokin Lidia ke mimpi Lidia ?" aku menangis sesugukan


"Papa, mama akhir-akhir ini semua berjalan sulit. Lidia kangen ma, Lidia kangen pa. Mas dewa dan Sintia ternyata punya hubungan di belakang Lidia, sakit ma rasanya sakit sekali. Kalau kalian masih hidup mungkin rasanya gak akan sesakit ini. Lidia pura-pura kuat tapi nyatanya Lidia hancur pa, ma. Mereka ternyata berhubungan udah cukup lama dan bagaimana bisa selama ini aku gak sadar. Bodohnya aku selama ini di hianati tapi aku gak tau" suara tangisan ku kian mendalam, ku benamkan wajahku di pundak ku agar suaranya sedikit teredam.


"Ma, pa kenapa terlalu cepat pergi Lidia belum siap. Maaf ya Lidia jarang datang jengukin mama papa itu karena Lidia takut. Setiap kali Lidia lihat pusara mama papa Lidia selalu merasa pusara ini menghalangi kita untuk ketemu, tapi walaupun begitu doaku selalu ku panjatkan ke Tuhan semoga mama papa di tempatkan di sisi terbaik"


"Ma pa sampaikan pada Tuhan ya biar Lidia di kuatin disini, biar Lidia kuat menjalani hal yang sangat sulit ini. Tapi biarpun ini sangat sakit rasanya mama papa gak perlu kuatir karena bang Rendi selalu jagain Lidia. Bang Rendi selalu ada dan selalu bantuin Lidia ma, jadi mama papa yang tenang disana ya. Cukup lihat dan doakan Lidia dari sana, Lidia akan buktikan kalau Lidia pantas menjadi kebanggaan mama papa. Lidia pamit ya, Lidia masih harus kembali ke kantor agar peninggalan papa ini bisa Lidia kembangkan lagi" setelah itu aku berdoa dan ku tabur bunga yang tadi sudah kubeli di depan. Ku lihat pusara mama dan papa masih sangat terjaga, syukurlah pikirku.

__ADS_1


Setelah selesai berdoa aku berjalan ke arah warung. Disana ku dapati bang Rendi sedang asyik berbincang dengan penjaga warungnya, usia gak jauh berbeda dari bang Rendi mungkin. Untuk pertama kalinya ku dapati bang Rendi tertawa seseru itu dengan orang baru.


"Wah seru nih, sampai gak sadar gue udah disini" aku menimpali omongan mereka.


"Enggak lid, ini gue baru kenalan sama seseorang namanya Leo. Dia lulusan Universitas Indonesia loh lid, asyik orangnya. Dia baru pulang dari Jepang selama ini dia kerja disana. Katanya dia mutusin untuk balik ke Indo karena orang tuanya sakit." bang Rendi mencoba mendeskripsikan laki-laki di depannya padaku. Setelah kuamati tampan juga wajahnya.


"Wah keren, udah pintar kerja di luar negeri tapi demi orang tua mutusin balik ke Indo. Keren. Memang terkadang cita-cita harus ditinggalkan demi berbakti mumpung orang tua masih hidup kan" timpalku sama mereka.


"Oh iya Leo, perkenalkan ini adik sepupu gue, namanya Lidia"


"Salam kenal, jadi sekarang di Indo kegiatannya apa aja?" aku mencoba mengulik lebih dalam lagi.


"Belum ada nih, gue lagi nyari pekerjaan baru aja di Jakarta ini. Gue bosan di rumah Mulu"


"Oh iya lid dia kan berprestasi tuh, kenapa gak lu coba aja masukin dia di kantor Subarsono Corp. Masukin dia di bagian apa gitu yang bisa menunjang kemajuan perusahaan."


"oh iya boleh juga tuh bang, selama Leonya gak keberatan ya Lidia senang aja. Kemungkinan Lidia kan emang kekurangan asisten pribadi"

__ADS_1


"Wah mbak, gak usah nanti merepotkan. Lagian kan Subarsono Corp salah satu perusahaan yang sangat besar. gue takut mbak terlalu dini untuk langsung percaya sama gue"


"enggak akh, santai aja Leo. Lagian jangan manggil mbak kayaknya kita seumuran. Gue ajak bergabung karena gue yakin lu pantas diberi kepercayaan. Jarang Lo abang ku yang satu ini langsung percaya sama orang, dia malah gak pernah tertawa selepas itu sama orang baru. Makanya gue mau rekrut elo, karena gue percaya dengan penilaian abang gue"


"Kalau gitu terima kasih banyak ya lid, gue senang di beri kepercayaan begini. Kapan gue bisa mulai bekerja lid" dia kegirangan bertanya seakan gak sabar masuk kerja.


"Secepat yang Lo bisa Leo, besok juga bisa kalau Lo udah siap " gue melempar senyum ke arahnya.


"Siap lid, gue siap. Makasih ya udah memilih memercayai gue"


" sama-sama, ini kartu nama gue. Nanti hubungi aja nomor itu, itu nomor Bisnis gue. Nanti gue balas dengan nomor pribadi gue. Semoga betah ya bekerja sama gue."


"Selamat ya bro akhirnya lu dapat kerja. Jadi Asisten CEO lagi, gue titip jagain adek gue. Tapi lu harus tau dia bawel amat dan semoga betah ya" bang Rendi mulai menggodai ku lagi, pakai acara bilang gue bawel lagi. Reseh emang Abang ku yang satu ini.


"Enak aja mana ada gue bawel. Udah akh ayo antar gue balik kantor lagi. Kelamaan disini nih, gue juga udah lapar".


"Oke princess kita balik tapi sebelum itu kita makan dulu ya" bang Rendi membelai rambutku. Dia selalu memperlakukan aku seperti anak kecil saja.

__ADS_1


__ADS_2