Milky Way : VALLENA

Milky Way : VALLENA
Bab 10 : Darah Pertama


__ADS_3

“dia peliharaan pelacur Lena. Akan bermasalah jika kita mencelakainya. Pelacur itu sudah dapat dukungan penuh dari Parlok” ucap pria pirang


“sungguh kebetulan, bagaimana kalau disamarkan, kematian ke dua bocah ini bisa dibuat seolah ini perbuatannya.” Jelas si kekar


Si pirang pun berdiri dan memberi pujian pada si kekar. Vall akan di jadikan kambing hitam oleh mereka.


Mereka berdua tertawa di sisi mayat kedua bocah malang itu. Bahkan mereka sempat menertawai Vall yang di nilai bagai anjing peliharaan seorang pelacur.


Vall terlihat terdiam dari semenjak dia melihat semua kejadian ini. Dalam hatinya penuh dengan pikiran pikiran putus asa. Semua yang sudah di alami Lena sudah membuatnya berpikir semua hal yang terjadi adalah kesalahannya. Di tambah dengan apa yang dia lihat saat ini, membuat Vall semakin terpuruk dari rasa bersalah. Dia sangat membenci dirinya sendiri yang tidak mampu berbuat apapun pada mereka yang telah putus asa meminta pertolongan.


Satu pukulan keras batang papan kayu mendarat di kepala Vall hingga papan itu patah. Vall yang masih berusaha menjaga tubuhnya agar tetap berdiri pun di pukul oleh pria kekar tepat di wajahnya. Tangan berotot itu dengan sekejap merobohkan tubuh Vall ke lantai dengan sangat keras. Tapi anehnya, Vall seperti tidak merasakan sakit sama sekali, apa yang dia rasa saat ini hanya ada rasa sakit hati yang mendalam. Dia hanya terdiam di lantai sambil memandangi Angga yang sudah tidak bernyawa dengan mata terbuka. Saat itu pula rasa sakit di hatinya membuat emosi di hatinya semakin membara.


Tubuh Vall diangkat dengan mudah oleh pria kekar dan dilemparkannya ke arah sebuah lemari kaca di pinggiran tembok. Tubuh Vall terlempar dengan keras dan membuat serpihan kaca berhamburan. Tampak tangan kanan Vall meraih sebilah pecahan kaca yang tajam hingga mengoyak telapak tangannya sendiri. Dengan keras Vall menggenggamnya sampai terlihat darah darah segar mengalir dari telapak ke lengannya.


“cacingpun akan menggeliat jika diinjak. Kemarilah, tunjukkan apa yang bisa kau lakukan padaku” ejek pria kekar.


Vall berlari menerjang tubuh kekar lawannya dengan sekuat tenaga, tapi dengan mudah pria kekar itu menahan dengan tangannya. Saat Vall menusukkan pecahan kaca tajam di tangannya ke arah perut pria kekar, pria itu hanya menimpalinya dengan senyum kecil seolah dia tengah mengejek Vall yang hanya menggoresnya meski pecahan kaca tajam itu tenggelam sedalam 7 cm ke perutnya. Karena tidak mempan, Vall berusaha mengganti rencananya dengan merobek perut lawannya. Tidak tinggal diam, pria kekar menendang perut Vall dengan lututnya. Membuat Vall bertekuk lutut. Tubuhnya seakan tidak mau bergerak karena kelelahan dan kesakitan, tapi tidak hatinya. Emosi dan sakit dihatinya membuat Vall terus melawan bagai mayat hidup.


Satu sabetan bilah kaca di genggam Vall mampu menyayat sepasang mata pria kekar tersebut. melihat temannya terluka, pria pirang pun terawa bahkan hanya menonton saja.


“aku baru tahu kalau tubuh besarmu ternyata hanya sekedar aksesoris saja” ejek pria pirang.


“akan ku buat dagingmu membusuk malam ini bocah!”


Begitu pria kekar emosi, Vall langsung ambil kesempatan. Saat orang emosi, semua serangannya akan tidak terkendali. Dengan mudahnya Vall menghidar pukulan pukulan pria kekar. Tampak kepalan tangan yang kokoh itu menghantam dinding berkali kali dan Vall dengan mudah menghidarinnya.


Pria kekar pun mulai menyerang dengan sembarangan saat menyadari semua serangannya seakan jadi mainan untuk Vall. Vall dengan mudah menggiring pria kekar ke arah lemari yang hancur tadi. Melihat beberapa sisa pecahan kaca yang masih berdiri dengan tajam di sela sela pintu lemari, Vall mulai mendorong pria bertubuh kekar tersebut dan menjegal kakinya hingga pria kekar itu terjatuh tepat dipecahanan kaca yang masih tertancap di kayu.


Tampak pecahan tajam kaca itu menusuk tenggorokan pria kekar hingga membuat tubuhnya mengejang terus menerus. Darah keluar dari leher dan mulutnya dengan sangat deras. Vall yang melihat ini pun semakin tidak terkendali, ditariknya leher pria kekar itu ke kanan dan ke kiri hingga lehernya hampir putus.


Pria pirang yang melihat temannya sudah tidak berdaya dengan cepat menusukkan pisaunya ke punggung Vall dari belakang. Pisau tajam itupun sempat dihindari oleh Vall, namun masih sempat tenggelam di pinggang Vall sedalam 6 cm.


Vall memegang genggaman tangan pria pirang yang masih menancapkan pisaunya. Wajah Vall terlihat sangat emosi pada pria pirang. Mereka saling menggenggam dan berebut pisau.


Sesaat pria pirang mulai gugup saat Vall menatapnya dengan penuh kebencian. Mata Vall yang berada di balik beberapa helai poninya terlihat seperti tatapan binatang buas di balik semak semak.


Jari jari pria pirang mulai di patahkan satu persatu oleh Vall. Pria pirang itupun berteriak kesakitan setelah 3 jarinya di patahkan seketika. Disaat yang sama, pisau di genggaman mereka berdua pun berhasil Vall rebut. Dengan cepat Vall merangkul leher pria pirang dari belakang dan menghujami mulutnya dengan pisau berkali kali. Vall seperti orang kesetanan menghujamkan pisau tersebut ke mulut pria pirang. Entah berapa puluh kali dia menghunjamkannya, Vall tidak kunjung juga berhenti meski pria pirang sudah terkulai dengan mulut penuh darah. Bahkan tampak lidahnya sudah putus dan terjatuh di lantai. Vall masih menusuk mulutnya. Pikiran Vall sudah tidak terkendali lagi. Tangannya terus menerus menusukkan pisaunya, tatapannya menuju ke arah ke dua mayat bocah tak berdosa di hadapannya.


Begitu Vall merasa kelelahan, Vall menjatuhkan tubuh pria pirang dan beranjak menghampiri mayat ke dua bocah malang itu. Di bawanya kedua jasad itu keluar rumah dengan langkah sempoyongan. Tak beberapa lama, Vall pun terjatuh ke tanah di pinggir jalan setapak. Luka di pinggangnya cukup dalam hingga membuatnya tidak sadarkan diri karen kehilangan banyak darah.

__ADS_1


 


...****************...


 


Lena terbangun dari tidurnya, dia mengambil minuman dingin di lemari es nya. Tatapannya sibuk mencari Vall dibeberapa sudut pandangan. Lena pun mulai menengok ke arah sungai dari jendela. Tetap saja dia tidak menemukan Vall yang biasanya ada di bebatuan pinggir sungai.


Lena mengambil sebuah lembaran di dalam laci kamarnya. Sebuah form hasil pemeriksaan diagnosis HIV. Di usia 20 tahun ini, Lena sudah positif HIV. Ini yang membuatnya berusaha menahan nafsu saat memeluk Vall. Dia takut Vall akan tertular penyakit mematikan ini. Dalam hati Lena, apakah dia dan Vall bisa bersama sebagai pasangan suatu hari nanti? Tidak, itu mustahil baginya. Janji yang dulu pernah dia ikatkan dengan Vall hanya sebatas khayalan. Saat ini mereka harus berusaha untuk tidak saling menyukai.


Keberuntungan Lena rasakan saat mengetahui kondisi Vall yang tidak waras seutuhnya. Dia bisa bersama meski hanya sebatas teman pengusir sepi. Dalam hal ini pun Lena berpikir, jika dia mati nanti, Vall tidak akan terlalu terluka.


Sejenak notifikasi pesan masuk di ponsel milik Lena. Dalam pesan terdapat lampiran akta kematian Bulan. Lena mengeluarkan banyak uang untuk membayar beberapa detektif swasta untuk mencari keberadaan Bulan yang tidak terdengar lagi kabarnya. Sudah banyak dari mereka yang menyerah saat akta kematian Bulan telah rilis. Dari pihak keluarga Bulan pun juga sudah membenarkan hal ini. Tap tidak bagi Lena, dia masih tidak mau menerima kenyataan itu terjadi pada sahabatnya. Dia akan terus berusaha mencari Bulan bagaimanapun caranya.


Lamunan Lena dibuyarkan oleh suara ketukan pintu. Seseorang mengetuk pintu rumah Lena dari luar. Lena yang merasa itu adalah Vall bergegas menghampirinya dan membuka pintu.


“apakah kau sudah makan?” tanya Lena saat membuka pintu.


Wajah Lena pun mulai tersipu malu saat mengetahui yang datang bukanlah Vall, tapi seorang wanita bernama LYRA dengan kedua putri kembarnya ANA & NINA yang masing masing berusia 6 tahun.


 


...****************...


 


Dengan sekuat hati Vall mencoba untuk tidak tertawa, tapi itu percuma, dia seperti sedang kehilangan akal sehatnya.


Vall menggali sebuah lubang di bawah pohon dekat sungai. Dia menggali dengan tangan kosongnya. Meski tangannya memerah dan bersimbah darah, Vall tidak merasakan sakit di sekujur dagingnya. Dia hanya terus menggali dan sesekali tertawa kecil.


Suara burung hantu di atas Vall terdengar mengiringi tawa Vall. Sesekali Vall mengerang dan merintih agar dia bisa mengendalikan hatinya sendiri. Bahkan dia mulai sedikit menangis, tapi itu semua tidak lama, cukup sejenak dan akhirnya dia tertawa lagi. Vall pun menghadap wajahnya ke langit. Matanya yang sayu melihat langit seolah dia sedang ingin melihat sang pencipta.


“apa yang yang sebenarnya Kau rencanakan?. Cukup matikan saja hidupku, jangan Kau perlihatkan lagi kekejaman nasib mereka padaku. Ini sangat menyakitkan” keluh Vall


Vall pun mulai terdengar sedang tertawa lagi. Diiringi suara serangga dan hewan hewan malam lainnya di sekitar sungai.


 


...****************...

__ADS_1


 


Di rumah orang tua Vall, ibu Lidya tengah merawat suaminya yang sedang terbaring di ranjang. Saat ibu Lidya membuka jendela dan menghirup udara malam, dia melihat Vall yang terduduk di pagar depan rumah, tepat di pinggir jalan.


Raut ibu kandung itu terlihat bahagia melihat sesosok anaknya. Tidak butuh waktu lama, wanita itu bergegas menghampiri putranya. Diam diam ibu Lidya duduk di belakang pagar tepat di mana Vall berada. Lama sekali ibu itu menunggu Vall. Dia berharap bisa menemani putranya dalam diam. Dia paham betul perasaan putranya ini tidak sedang baik baik saja.


“apakah kau rindu ibumu?” tanya ibu Lidya membuka percakapan


Vall hanya terdiam dan sedikit membenarkan posisi duduknya. Dia juga berusaha menutupi lukanya.


“apakah ayah masih sakit?” tanya Vall


“dia mulai sering lupa dengan segala hal. Bahkan kadang tidak ingat dengan istrinya yang selalu merawatnya”


“ibu, dulu ayah pernah berkata tangan yang ternoda darah, akan kesulitan untuk berhenti membunuh. Apakah benar manusia serendah itu?”


“yang ibu tahu, itu semua tergantung dari masing masing penderita. Jika dia menikmatinya itu bisa membuatnya untuk melakukan lagi”


Vall terdiam mendengar jawaban ibunya. Dia sadar, dalam hatinya ada setitik rasa kepuasan tersendiri saat melampiaskan amarah dan kebencian. Vall beranggapan, bahwa dirinya suatu hari nanti akan berubah menjadi pribadi yang lebih buruk lagi dari sekarang. Karena kebencian akan segala hal mulai Vall rasakan. Bahkan dia mulai membenci dirinya sendiri.


Dalam diam, Vall pun mulai bangkit dan melangkah pergi meninggalkan ibunya. Lidya yang mengetahui itupun juga berdiri dan memanggilnya.


“tidakkah itu keterlaluan? Aku seorang ibu yang menyayangi keluargaku. Luangkan sedikit waktumu. Aku cukup senang melihatmu pulang meski hanya sekedar melihat lihat dari luar”


“mungkin keluarga kecil yang kau sayangi itu tidak ada lagi. Ayah sudah tidak memiliki kuasa seperti seorang kepala rumah tangga. Dan aku,.. aku rasa aku kehilangan jati diriku. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana lagi agar bisa hidup seperti manusia normal.”


“kau tahu! Kau paham! Kau jauh lebih tahu apa yang harus kau lakukan. Karena sebagai ibumu aku sangat mengenalmu. Bahkan aku tahu alasanmu tetap berada didekat Lena meski itu akan menghancurkan perasaanmu sendiri.”


“ucapanmu terlalu berat untuk ku terima, aku saat ini benar benar hancur” rintih Vall


Melihat anaknya yang menderita pun ibu Lidya langsung mengerti. Putranya ini tengah mengalami depresi yang sangat hebat. Rasa sedih seorang ibu pun mulai terasa dihati wanita paruh baya ini.


“saat penderitaan itu melumatmu, kau cukup bangkit lagi dan melangkah lagi. Arahkan kekesalanmu ke langit dan katakan padaNYA bahwa kau cukup kuat untuk menerima apapun. Kau adalah putraku, kau adalah darah dan daging yang istimewa bagiku”


“diam! Semakin kau menyemangatiku, semakin tajam pula hinaan yang kuterima di kepalaku. Ada banyak hal terjadi di luar sana. Dimana saat kita termenung, di saat itu pula ada yang meringis kesakitan, ada yang menangis inginkan pertolongan bahkan ada yang tengah menunggu ajal menjemput. Dan ibu tahu apa yang lebih buruk? Aku merasa itu adalah sebuah keindahan kehidupan.”


Ibu Lidya pun mulai sadar bahwa ada noda darah yang tertinggal di bekas tempat Vall duduk tadi. Dengan cepat ibu Lidya memahami, putranya ini baru saja mengalami hal yang tidak akan dia lupakan dan akan selalu membekas dihatinya.


“tolong aku bu, aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Aku tidak bisa mengabaikan hal sekecil apapun. Semua itu selalu menghujami hatiku seakan memang sengaja dicipta untuk menyiksaku sampai aku merasa menikmatinya”

__ADS_1


__ADS_2