Milky Way : VALLENA

Milky Way : VALLENA
Bab 8 : Tolong Aku


__ADS_3

Banyak warga kampung sampah merayakan pergantian tahun baru. Letupan letupan kembang api memenuhi langit langit kampung sampah. Vall yang duduk di batu tepi sungai nampak memperhatikan kumpulan anak anak kecil berlarian di sepanjang jalan. Beberapa orang dewasa juga nampak seperti meneguk beberapa botol miras.


Vall berharap saat ini bisa bersama Lena meski Cuma sekedar jadi anjing peliharaan saja di sampingnya. tapi Lena yang mengurung diri di kamar seakan tidak mau tahu dan seperti tidak ingin melihat Vall. Tak lama kemudian Lena keluar kamar dan nampak gelisah. Seperti orang yang kecanduan dan membutuhkan obat secepatnya. Dia terlihat seperti menunggu seseorang di depan pintu.


Vall yang melewatinya seakan bagai angin yang tidak terlalu di perlukan. Bahkan Lena lebih sibuk memperhatikan jalan di depan rumahnya.


Beberapa menit kemudian, datanglah pria tua yang bernama dokter Han dengan membawa koper di tangan kanannya. Pria yang dulu pernah menyuntikkan obat pada Lena sewaktu di hadapan Parlok. Tak banyak omong, Lena menarik pria tua itu ke dalam kamarnya. Saat mereka melihat Val yang tengah duduk di meja makan. Membuat dokter Han sedikit merasa terusik.


“apakah dia juga pelangganmu?” tanya dokter Han.


“dia temanku. Abaikan” jawab Lena sambil menutup pintu kamar.


Vall melihat mereka seolah merasa mendidih darahnya. Dia tahu, saat ini dia tidak ada hubungan apapun dengan semua urusan Lena. Lagi pula memang sudah kegiatan Lena untuk melayani mereka yang berada di lingkaran pekerjaannya.


Lena seperti tidak sabar untuk merasakan sensasi obat terlarang ciptaan dokter Han. Sekalipun dia mengutuknya, tapi dia tak sanggup lepas darinya. Terlebih lagi dia juga harus selalu siap melayani pria tua di depanya yang memiliki sifat agresif dan suka kekerasan.


“aku akan berikan semua maumu, untuk kali ini bisakah tidak mencampurkannya dengan obat perangsang?” pinta Lena memohon dengan sangat.


“wanita ****** tidak akan terlihat menggoda jika tidak ada perlawanan” jawab pria tua itu sambil tersenyum menjijikkan.


Lena tak mampu menolaknya, karena ini juga bagian perjanjian antara dia dan Parlok. Saat pria itu menyuntikkan obat ke lengan Lena, tampak Lena seperti orang yang setengah sadar. Tatapan matanya menggambarkan pikirannya yang sedang melayang. Dia juga mulai terlihat sensitif saat kulit lehernya di belai dan kemudian dicekik pria tua itu.


Di luar kamar, Vall mendengar samar samar Lena tengah dinikmati oleh pria tua yang menurut dia bahkan lebih cocok jadi seorang kakek kakek renta. Vall mulai menutup kedua telinganya. Dia berusaha untuk injak kaki, tapi dia sudah bertekad untuk tidak peduli dan tidak akan lari dari apapun yang Lena alami. Vall berusaha menjadi orang yang tidak memperdulikan apapun. Keberadaannya di rumah Lena adalah bukti yang bisa dia tunjukkan bahwa benar benar sudah tidak peduli.


Setelah beberapa waktu, tampak pria tua itu keluar kamar dan sedang membetulkan kemejanya. Dokter Han pun melihat ke arah Vall. Dengan pandangan yang agak emosi.


“dia masih dalam kondisi melayang dan menantang, kau sungguh beruntung aku ada keperluan mendadak”


Vall yang hatinya sedikit emosi menggenggam sebilah pisau didekat tempat buah. Tapi setelah beberapa saat, dia pun urung niat untuk melakukannya. Vall sadar ini hanya akan memperkeruh suasana dan situasi yang Lena alami nanti.


Vall kemudian melangkah mendatangi Lena yang terlentang di kasurnya. Tubuh Lena terlihat polos tak terbungkus apapun. Wajahnya terlihat menahan gejala obat yang dia terima. Matanya yang terpejam kemudian terbuka perlahan saat Vall menyelimutinya dengan selimut bercorak bunga.


Lena yang masih terpengaruh obat perangsang langsung merangkul bahu Vall dipeluknya tubuh Vall hingga mereka berdua terjatuh dan saling bertindih di kasur. Nafas hangat Lena sangat terasa di bibir Vall. Saat bibir mereka berdua saling menyentuh, Lena seketika itu juga mendorong Vall hingga jatuh ke lantai. Tampak Lena berusaha keras menahan nafsunya sendiri. Terlihat dari raut mukanya yang tersiksa batinnya saat melihat Vall.


“keluar dari kamarku!” bentak Lena


Vall pun mengambil selimut dan memberikannya pada Lena sebelum dai pergi meninggalkannya.


Lena yang mulai menangis menutup pintu kamar dengan sangat keras. Vall yang mendengar Lena menangis dari balik pintu berusaha lebih mendekatinya dengan menyentuh pintu kayu itu. Dalam hati Vall hanya ada kata apa yang harus dia lakukan dan apa yang bisa dia perbuat untuk meringankan beban yang Lena tanggung.


Begitu lama Vall menunggu Lena di balik pintu. Malam tampak semakin sunyi. Bahkan suara detak jarum jam pun seperti terdengar sangat keras di telinga mereka berdua


 Tidak satupun dari mereka yang mengeluarkan sepatah katapun. Hanya membisu dan di batasi dengan sebuah pintu kayu.


Saat Lena yakin Vall sudah tidak ada disitu, Lena mulai membenturkan kepalanya ke pintu dengan pelan. Lama kelamaan dia benturkan kepalanya agak lebih keras. Lena berusaha menyakiti jasadnya untuk menghilangkan rasa sakit dihatinya. Merasa yakin Vall sudah pergi, Lena pun mulai terisak lagi. Tangisan kecil dan pelan itu terdengar begitu menyayat hati Vall di balik pintu.

__ADS_1


“tolong aku” ucap Lena lirih.


Dalam hati Lena tidak mungkin bisa meminta pertolongan langsung ke Vall karena sangat mustahil ada yang bisa menolongnya. Tetapi Lena juga sangat tersiksa dengan situasinya selama ini.


...****************...


 


Vall tampak mencuci mukanya di air sungai. Sungai itu memang tidak jauh dari rumah Lena. Vall berkali kali membasuh mukanya. Bahkan dia mengusap kulit wajahnya seolah ingin mengupasnya sendiri dengan kedua tangannya. Semakin memerah kulit wajahnya, semakin keras juga dia meratapi apa yang sudah terjadi kepada mereka saat ini. Seorang pecundang yang berharap bisa melindungi wanitanya dari segala bentuk palu nasib.


Malam terlihat sunyi. Suara katak di tepian sungai meredam amarah dalam diri Vall. Dia melihat sekelilingnya tampak desa yang terlihat sangat damai dan indah penuh cahaya di berbagai rumah. Dalam kedamaian ini, ada wanita yang berkorban jiwa raga dan hatinya. Hal ini yang membuat Vall merasa sangat sangat  dan sangat pecundang sekali.


 


...****************...


 


Di sisi lain, di tempat di mana keluarga kaya raya, keluarga yang sangat memandang tinggi status dan kehormatannya  tengah dilanda musibah yang sangat memalukan bagi mereka. Tampak orang tua Bulan saling emosi dan bertengkar dengan hebat. Mereka tidak menyangka hal ini terjadi pada keluarga mereka yang sangat terpandang di kalangan para bangsawan. Terlihat juga Bulan sedang meringkuk sedih di lantai dengan memegang perutnya.


“maaf aku salah” ucap bulan sebelum dia pingsan karena perutnya habis di pukul ayahnya.


Saat Bulan pingsan, benda yang di genggamannya pun terjatuh di lantai. Benda yang menunjukan kondisi positif hamil. Harapan bulan untuk mengandung anak dari Vall agar dia bisa menikah dan bersama, tapi ternyata tidak semudah itu.


 


...****************...


 


Begitu dia menjauh dari pintu keluar, tampak ibu Bulan membanting pintu besar itu dengan sekuat tenaga. Sebuah tanda bahwa Bulan benar benar sangat dibenci oleh kedua orang tuanya sendiri.


Bulan memegang perutnya yang sudah mulai nampak sedikit membesar. Sekalipun dia tidak diinginkan keluarganya sendiri, tapi dai merasa bahwa mungkin suatu hari nanti, dia bisa mendapatkan rasa cinta dari anaknya.


“nona, ayo kita segera pergi” ucap sopir dengan membukakan pintu mobil


Bulan nampak sedikit bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Jika dia akan diasingkan, setidaknya dia ingin bertemu Vall sebentar dan untuk terakhir kalinya.


“bisakah kita ke rumah temanku sebentar?” ucap bulan


“maaf, kita harus buru buru sebelum tertinggal pesawat”


“sebentar saja, tidak perlu turun dari mobil, cukup melihatnya sekilas. Aku mohon”


Mendengar keinginan Bulan yang sangat putus asa, sopir pun mulai menjalankan mobilnya ke arah rumah Vall.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, Bulan tidak melihat Vall sama sekali. Bahkan tidak ada tanda tanda Vall berada di rumahnya. Kekecewaan yang amat menyakitkan melanda sekujur tubuh Bulan. Bahkan keinginannya untuk bertemu ayah dari janin yang dia kandung pun tidak bisa.


“maaf, aku harus segera menyelesaikan kewajibanku” kata sopir dengan menginjakkan kakinya melajukan mobil mewah ke arah tujuan awal. Menjauh dari kota kelahiran Bulan. Menjauh dari kenangan kenangannya bersama ke dua sahabat terbaiknya.


Sangat lama mereka berkendara melaju melewati beberapa kota dan hutan menuju ujung pulau. Tampak Bulan yang awalnya tenggelam dikesedihannya mulai bingung.


Tujuan awalnya ke bandara, tapi entah kenapa mereka seolah menuju ke pantai. Bulan juga mulai sadar saat dia melihat sopirnya tengah gundah dan gugup. Beberapa kali sopir mencoba menghubungi keluarganya lewat telepon genggam.


Bulan mulai mencoba memahami apa yang tengah terjadi saat sopir mulai terisak saat mendengar putri kecilnya di telepon. Di saat itu pula si sopir membanting teleponnya seperti orang yang putus asa.


“apakah terjadi sesuatu yang buruk?” tanya Bulan


‘kaulah yang terburuk dalam hidupku” jawab sopir


Bulan yang bingung pun dibuat terkejut saat mobil dilajukan dengan kecepatan yang sangat kencang. Bahkan Bulan mulai teriak dan memohon pada sopir untuk memelankan laju mobilnya. Beberapa kali mobil hampir menabrak pembatas jalan. Beberapa kali pula Bulan hampir terpelanting karena kedua tangannya justru sibuk memegang perutnya. Bulan lebih khawatir kondisi janinnya daripada keselamatannya sendiri.


“aku benar benar tidak mengerti, bisakah kita bicarakan sebentar dan pelankan laju mobil” pinta Bulan.


“orang tuamu mengancam akan membunuh keluargaku jika aku tidak menuruti perintah mereka!” jawab sopir sedikit membentak


“apa yang mereka perintahkan? Apa hubungannya denganku?”


“mereka bilang, jika mengasingkanmu, calon mertuamu akan dengan mudah menemukanmu di manapun kau berada. Itu sama saja dengan mempermalukan diri mereka sendiri nantinya jika ketahuan tengah menyembunyikan kondisimu”


Mobil Bulan tampak melaju dengan kencang melewati jalan jalan pegunungan yang berkelok dan menurun. Seakan si sopir seperti mengambil posisi untuk melakukan sesuatu.


“pelankan mobil, ini berbahaya!” perintah Bulan


“ini perintah dari orang tuamu untuk membuatmu seperti terlibat kecelakaan. Mereka tidak mau kehilangan muka di hadapan para bangsawan lain. Jika kau mati, orang tuamu justru akan mendapat simpati dari banyak kalangan para bangsawan. Ini rencana dan perintah mereka padaku”


Mendengar penjelasan sopir, Bulan merasa tidak percaya. Dia mulai mencerna segala jenis perkataan sopirnya dengan benar, tapi semua yang di katakan serasa seperti tidak ada kebohongan sedikitpun.


“aku putri mereka satu satunya. Aku tidak ingin mati, aku sedang hamil”


“itulah masalah yang kau berikan padaku!. Aku tidak peduli mereka orang tua seperti apa bagimu, hanya saja aku terlalu emosi jika apa yang kau perbuat sangat mempengaruhi keluargaku juga”


Mobil mulai melaju ke arah pembatas jalan di mana hanya ada pepohonan dan lereng gunung yang sangat curam. Bulan berteriak saat mobil melaju menuruni lereng gunung semiring 45 derajat dengan kecepatan penuh.


Beberapa kali mobil menabrak beberapa pohon. Kecepatan yang sangat luar biasa membuat mobil tersebut berputar dan terguling. Bulan dengan sekuat tenaga memegang dan merangkul kaki di perutnya. Dia berusaha untuk melindungi janinnya. Dalam hatinya hanya ada kenangan bersama Vall dan Lena. Bukan memikirkan apa yang tengah terjadi padanya.


Tidak jauh dari tempat kejadian, nampak seorang pemuda (Juli 25 tahun) memperhatikan mobil mahal Bulan yang tengah melaju dengan kencang. Juli tampak memperhatikan dengan tenang. Tubuhnya tidak begitu berotot, tapi tampak berisi dengan sedikit otot otot perut dan dadanya. Dia hanya mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada. Rambutnya sepanjang pinggul di ikat kucir kuda. Tampang manisnya yang nampak seperti wanita itu tersenyum tipis. Seolah dia telah menemukan sesuatu yang selama ini sudah dia tunggu tunggu.


“ibu, seperti ramalanmu, aku menemukannya. Pangkal garis takdir antara Milky Way dan RIP.” ucap Juli


Dari lengan kanan Juli terlihat dengan jelas tanda huruf “B”. Tanda yang serupa dengan tanda “L” di lengan kiri Lena.

__ADS_1


 


__ADS_2