
Tahun 2023
Vall yang dibantu berdiri oleh Lena dan Bulan berusaha meraih dan bersandar di daun pintu untuk melihat apa yang telah terjadi di luar rumah. Tampak Gin dan Juli yang terlihat kompak tengah berdampingan dan bersiap melawan polisi RIP di depannya.
Serangan dibuka oleh Gin dengan pukulan keras. Meski pukulannya terlihat menyentuh wajah polisi, tetapi sebetulnya pukulan Gin sama sekali tidak menyentuh sedikitpun. Dengan mudah polisi itu menghindar meski matanya tertutup kacamata hitam ala polisi film bolywood.
Juli yang tidak mau kehilangan kesempatan, langsung melayangkan tapaknya ke arah polisi dari balik tubuh Gin. mereka berdua terlihat kompak menyerang seperti memiliki ikatan batin. Dengan mudah polisi RIP menepis semua serangan Juli dan Gin.
Tampak polisi RIP melompat mundur seringan kertas dan memasang kuda kudanya dengan lembut bagai air. Dengan gemulai polisi RIP mengembalikan setiap serangan yang Gin tujukan kepadanya. Saat Juli hendak menyerangnya, polisi itu tiba tiba mengangkat jarinya mengisyaratkan agar Juli untuk menahan apa yang akan dia lakukan.
Dengan santai polisi aneh itu mengeluarkan ponsel dari sakunya yang terus bergetar dari tadi. Gin dan Jli terlihat seperti mainan saat melihat lawan di hadapannya seperti tidak melihat mereka dan lebih menyibukkan diri untuk mengobrol dengan seseorang yang menelponnya.
“aku merasa sangat terbakar” ucap Gin pada Juli
“ku rasakan hal yang sama” balas Juli.
Saat polisi RIP itu menyimpan telepon selulernya kembali ke saku, dia pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri seperti barisan anak kecil.
“kita akan bertemu lagi nanti. Ku rasa kau juga harus segera lari” ucap polisi pada Gin.
“kau menghinaku?” balas Gin mulai kesal
Dengan tenang polisi tersebut menunjukkan jari telunjuknya ke arah langit dan tersenyum pada Gin. tidak beberapa lama, terdengar suara aneh seperti gerbang besi yang amat besar tengar digeser. Suara yang membuat semua orang merinding itu membuat Gin terlihat ketakutan seperti sebelumnya.
Beberapa warga yang berada di tempat pun tampak terkejut dan merinding mendengarnya.
Entah siapa polisi RIP ini, kenapa dia tahu soal suara dari langit yang akan terjadi. Bahkan Gin yang mengenali suara itupun tidak tahu kapan waktu munculnya suara suara aneh itu.
“siapa kau sebenarnya?” tanya Gin yang terlihat ketakutan.
“kau akan mengetahuinya nanti. Dan untuk wanita pemilik kampung sampah, aku akan kembali untuk mengambil jasadmu nanti”
Setelang melayangkan ancaman, pergilah sang polisi RIP tersebut dengan mobilnya. Entah apa yang dia rencanakan, sepertinya dia sedang membiarkan targetnya lolos dari kematian untuk saat ini.
Vall yang melihat ini tidak sanggup untuk mengangkat wajahnya dari rasa malu. Dia merasa tidak bisa melakukan apapun untuk Lena jika polisi itu datang lagi.
Seketika putri Lena datang menghampiri ibunya. Bulan yang nampak ingin menyembunyikan sesuatu pun langsung menutupi kepala putrinya dengan kerudung jaketnya. Vall yang melihat ini pun seperti berusaha membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak mau membuat suasana tampak canggung. Terlebih lagi, saat ini Bulan terlihat lebih menikmati hidupnya daripada sebelumnya. Sekalipun dalam hati Vall merasa ikut bahagia, tetapi dia juga merasakan ada rasa sedih saat melihat darah dagingnya bersama Bulan tersebut.
Beberapa warga tampak berteriak histeris saat melihat beberapa benda asing terjatuh lagi ke bumi. Sama seperti sebelumnya, Gin langsung melarikan diri meninggalkan yang lain tanpa bicara.
Juli yang melihat tingkah aneh Gin cukup memahami apa yang terjadi. Semua keanehan ini ada hubungannya dengan asal usul Gin yang dikatakan berasal dari langit.
“ada apa dengannya?” tanya Lena
“itu urusan pribadinya. Percayalah, dia akan kembali suatu hari nanti. Dia sudah berjanji pada ibumu akan menjagamu”
“kau mengenal ibuku?”
“aku akan menjelaskan semua kepadamu nanti. Untuk saat ini, pria ini perlu perawatan” ucap Juli menunjuk ke Vall
Juli pun langsung mengambil alih dengan membantu Vall berjalan.
“namamu Vall kan, aku mendengar semua kisah kalian dari Bulan. untuk kedepan nanti, aku akan menyiksamu dengan berbagai penderitaan. Karena apa yang akan kita hadapi nanti, akan lebih buruk dari ini”
Tampak di mata Vall yang ,mulai memperlihatkan semangat juangnya. Dia merasa, akan lebih berguna nantinya.
...****************...
Ibu Lidya yang tinggal sendiri semenjak kepergian suaminya, melihat ke arah gerbang rumah. Berkali kali dia menatap jalanan dan berharap putranya datang menjenguk dan mengobati rasa kesepiannya.
Tampaklah wajah bahagia dan sedih saat melihat Vall tengah terluka parah dibantu berjalan oleh Juli. Saat ibu Lidya menghampiri, dia melihat Lena dan Bulan di belakang mereka.
“apakah aku sedang bermimpi?” ucap ibu Lidya
...****************...
Di rumah orang tua Vall, Lena tampak menundukkan wajahnya saat bertatap muka dengan ibu Lidya
Mereka duduk berhadapan di pinggiran ranjang tepat di mana Vall terbaring dengan balutan perban.
“tatap aku” perintah ibu Lidya pada Lena
“maaf, aku benar benar meminta maaf. Janjiku pada ibu dulu, tidak bisa ku penuhi”
“semua ini kesalahanku, Lena tidak ada hubungannya. Aku yang memaksanya” jawab Vall mencoba melindungi Lena dari amarah ibunya.
“apakah kalian bahagia?”
Tampak Vall dan Lena yang bingung dengan pertanyaan ibu Lidya.
“aku tanya apa kalian bahagia. Terserah jika kalian mau mati sekarang, aku hanya ingin tahu apa kalian BAHAGIA!!?”
__ADS_1
Lena tersenyum dan mengangguk ke arah ibu Lidya. Tampak wajahnya yang terlihat bahagia. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Vall.
“kalau begitu, aku hanya bisa menerima saja. Sebagai seorang ibu, kebahagian anaknya lah yang utama. Itulah prinsipku. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Setidaknya kalian bahagia”
Ibu Lidya pun beralih pandangannya kepada Bulan yang sedang duduk menikmati teh hangat. Dengan lembut dia menyapa Bulan yang sudah lama tidak dia lihat.
“aku tidak tahu harus berkata apa, semenjak orang tuamu mengabarkan kematianmu, aku hanya pasrah. Dan kupikir, aku sudah tidak bisa melihat anak kecil yang dulu selalu bermain dengan putraku kemanapun dia pergi”
Saat itu juga terlihat putri Bulan yang tengah berlari ke pelukan ibunya. Ibu Lidya yang memperhatikan putri Bulan tampak tidak asing dengan parasnya. Memiliki mata besar seperti Bulan dan hidung mancung seperti Vall. Saat itu juga ibu Lidya berdiri dan melihat Vall dengan rasa kecewa. Sesekali ibu Lidya memperhatikan Bulan dan Vall secara bergantian untuk memastikan bahwa apa yang dia khawatirkan itu adalah kenyataan.
“aku benar benar sudah tidak bisa berkata apa apa lagi. Semua yang kalian jalani, kenapa begitu rumit!” keluh ibu Lidya pada semua yang ada di dalam ruangan.
“karena kerumitan inilah kami bisa bersama lagi saat ini. Aku pikir ini tidak semata mata sebuah kesalahan” jawab Bulan sambil menunduk malu.
Merasa bingung dan kehabisan kata kata, ibu Lidya keluar ruangan dan menuju ke sebuah dapur. Dia melihat Juli yang sedang memakan beberapa buah buahan dan beberapa sayuran mentah. Melihat ini pun ibu Lidya langsung mengambil beberapa makanan mentah di lemari es dan memasaknya.
“begitu laparkah?”
“tidak perlu lakukan apapun, aku sudah terbiasa makan seadanya.”
“aku lakukan untuk membalas karena telah menolong putraku” jawab ibu Lidya
Setelah beberapa saat ibu Lidya memasak, dia memberikan beberapa piring hidangan yang belum pernah Juli rasakan.
“dengar, Bulan sudah seperti putriku sendiri, aku akan memburumu kemanapun jika kau berani menyakiti baik dari fisik maupun perasaannya”
Tampak wajah Juli yang gugup melihat tatapan ibu Lidya seperti seorang ibu yang tidak ingin putrinya diambil. Juli pun langsung mengangguk patuh dengan menelan kunyahan kunyahan buah di mulutnya.
“nah, sekarang maukah kau menceritakan bagaimana kalian bisa bertemu dan apa yang kalian lakukan selama 10 tahun ini? Kenapa Bulan sampai tidak mau menemui orang tuanya padahal dia memiliki keluarga yang cukup kaya raya dan terhormat”
Air mata ibu Lidya tidak bisa terbendung saat mendengar langsung dari Juli bahwa orang tua Bulan sendiri yang menginginkan Bulan mati karena kehamilannya. Dan dia pun mulai tersenyum dan tertawa ketika mendengar kisah hidup mereka berdua selama 10 tahun ini. Mereka melewati banyak hal yang menegangkan dan mengharukan.
...****************...
Di sebuah bangunan, tampak polisi RIP yang berseteru dengan Gin dan Juli melangkah di tengah tengah aula. Beberapa orang yang duduk di meja jamuan seperti sedang melirik ke arah sebuah patung budha di hadapan mereka. Sejenak kemudian muncul sebuah kabut hitam yang bergerak di atas pangkuan patung budha tersebut. kabut aneh itu perlahan berubah menyerupai sesosok pria tua dengan menggunakan jubah berkerudung. Seketika semua orang di aula langsung bertekuk lutut. Begitu juga si polisi RIP
“kau tahu kenapa aku memanggilmu?” tanya pria kabut.
“aku penasaran dengan itu” jawab polisi RIP
“kau pernah mendengar ramalan para leluhur Milky Way?”
“tentang kebangkitan pendiri mereka dan kemakmuran yang akan mereka capai” jawab polisi RIP
“lalu? Apa yang harus ku laksanakan?”
“giring mereka pada takdirnya. Alasanku menghentikan niatmu membunuh mereka karena aku ingin kau menjadi bagian dari takdir mereka”
Setelah memberi perintah, pria kabut pun langsung memudar dan menghilang meninggalkan beberapa kabut yang mulai menipis dan lenyap.
Polisi RIP yang mendengar perintah atasannya pun bimbang. Dai baru tahu bahwa kebangkitan leluhur Milky Way adalah ancaman umat manusia. Entah apa yang dia pikirkan, polisi itu terlihat tampak berat hati menjalankan perintah atasan RIP.
...****************...
Beberapa minggu berlalu, Vall yang sudah mulai terlihat lebih baikan berjalan ke arah ruang tamu di mana semua sedang berkumpul. Diam diam Vall mendengar Juli menceritakan semua kejadian dari awal bertemu Widyari pemimpin Milky Way dan ibu dari Lena. Juli juga menceritakan tentang ramalan yang membuat ibu mereka berdua berselisih hingga sebab Lena bisa dibawa oleh Gin.
Tampak Vall yang memperhatikan wajah sedih Lena saat mendengar cerita Juli. Dia tidak menyangka bahwa dia ternyata tanpa sengaja telah menciptakan Milky Way versi dia sendiri tanpa mengetahui betapa berbahayanya tindakan itu. Semua yang telah terjadi di kampung sampah, membuat dia semakin sedih dan menyalahkan dirinya.
“lalu, apa yang akan kalian lakukan sekarang?” tanya ibu Lidya.
“aku hanya mengikuti perintah Bulan” jawab Juli terlihat begitu patuh pada istrinya
“aku akan mengikuti Lena. Dia sudah seperti kakak dan keluargaku satu satunya” jawab Bulan.
“aku juga akan mengikuti Lena. Apapun yang terjadi” jawab Vall yang mulai mendekati mereka semua
Tampak wajah puas ibu Lidya curahkan saat mendengar ucapan putranya. Dia pikir, putranya akan menjauh jika mendengar takdir buruk yang selalu menyelimuti Lena.
“nah sekarang apa rencanamu?” tanya ibu Lidya pada Lena
“setelah mendengar keinginan terakhir ibuku, ku rasa cukup disini. aku akan menghabiskan sisa waktuku bersama Vall. Untuk Bulan dan Juli, hiduplah dengan baik. Jangan terlibat dengan aku maupun kedua sekte lagi.”
“apakah ini perpisahan?” tanya Bulan dengan menggandeng kedua tangan Lena.
Lena hanya menjawab dengan senyuman dan berlinangan air mata.
...****************...
__ADS_1
2 bulan berlalu, Vall tampak mendampingi Lena yang tengah tertidur di sebuah ruang perawatan. Beberapa kali dokter memeriksanya dan menggelengkan kepalanya.
“banyak organ tubuhnya yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ku rasa aku tidak bisa melakukan apapun lagi sekalipun kau memaksaku untuk terus menerus memeriksanya”
Tanpa menjawab, Vall membiarkan dokter tersebut pergi. Seorang perawat yang merapikan selimut Lena sedikit melirik ke arah Vall. Dia pun pergi tanpa berkata apapun karena dia tahu, apapun yang dia katakan, tidak akan membuat situasi berubah membaik.
Berjam jam Vall hanya terdiam memandangi wajah pucat Lena. Senyum Vall pun melebar saat melihat Lena terbangun dari tidurnya.
“berapa lama aku tertidur?” tanya Lena
“sekitar tiga hari”
“tiga hari adalah waktu yang banyak untuk ku sia siakan”
Mereka berdua pun saling bertatapan dan saling tertawa kecil. Sedikit rasa bahagia yang sedang mereka rasakan ini tidak sebanding dengan rasa sedih yang kini tengah mereka miliki.
“apakah aku boleh masuk?” tanya polisi RIP yang sudah berdiri di pintu.
Vall yang terkejut langsung beranjak dan memasang badan untuk melindungi Lena.
Sedangkan Lena tampak berusaha bangkit memegang lengan Vall.
“tenang, aku tidak memiliki niat apapun lagi pada bocah milky way itu, kedatanganku kemari adalah hal yang jauh lebih penting dari anak yang sekarat itu” jelas polisi RIP
“apa maumu?”
Polisi RIP pun mengeluarkan beberapa lembar foto hasil print dan menunjukkannya pada Vall dan Lena.
Baik Vall dan Lena pun tampak heran dan bingung melihat foto Lyra bersama ke dua putrinya Ana dan Nina.
“kau tahu tentang mereka?” tanya polisi pada Lena
“mereka pernah tinggal di kampungku dan menetap cukup lama. Mereka sangat tertutup, tidak ada yang bisa ku gali sekalipun aku menghabiskan waktuku untuk menjejali mereka dengan segala pertanyaan. Jika kau mau berbuat hal buruk pada mereka..”
“bukan.ah, gimana caraku menjelaskan.. dengar, aku memiliki perintah dari tetua RIP untuk”
Polisi RIP menatap Vall dan Lena yang tampak bingung. Dan dia juga merasa tidak penting untuk menjelaskan kepada mereka. Merasa kedatangannya sia sia, polisi RIP itu pun beranjak meninggalkan mereka.
“apa yang akan kau lakukan pada mereka?!”
“sesuatu yang hidup di atas sana, sedang mengumpulkan berbagai info tentang mereka yang berada di dasar. Kita penghuni di darat, hanya menjalankan perintah” jelas polisi RIP “aku rasa akan ada badai bencana terburuk dalam sejarah” lanjutnya
...****************...
Di pinggiran pantai, Vall menggendong tubuh lemah Lena di punggungnya. Mereka berjalan pelan sambil menikmati matahari terbenam. Mata Lena tampak sayu dan sembab, begitu juga dengan Vall. Mereka sama sama terdiam cukup lama. Beberapa kali ombak mengguyur kaki telanjang Vall.
Mata Vall tertuju pada beberapa bocah yang sedang menyalakan petasan. Mereka tampak bahagia saat petasan tersebut terbang tinggi dan meledak di udara disusul beberapa kembang api yang juga di nyalakan. Tampak mata Vall yang memerah sedih menatap kembang api di udara.
“lihat, indah sekali. Bagaimana jika kita menyalakannya juga?” tanya Vall
Lena tampak diam tidak menjawab. Rangkulan kedua tangannya di pundak dan leher Vall juga mulai terlepas. Vall yang merasakan Lena sudah tidak bernyawa hanya meneteskan air mata diiringi suara petasan dan ledakan kembang api. Beberapa suara ombak yang menerjang pun juga tampak seperti berusaha mengaburkan suara tangisan kecil pria maskulin itu.
Lena : “aku tidak bisa bilang bahwa aku hidup bahagia, aku hanya tahu bahwa aku sangat bahagia saat bersamamu”
Vall : “tunggulah, ke manapun kau pergi, aku akan selalu mengikutimu”
...Milky Way : VALLENA...
...Selesai...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesuai judulnya, cerita ini hanya untuk memperdalam kisah antara Vall dan Lena, bukan cerita keseluruhan dari Milky Way. Nantikan kisah kisah terbaru di Milky Way yang tidak kalah menarik dari Vallena. Terima kasih sudah membaca karya pertamaku ini. Saran dan kritikan maupun dukungan akan membuatku lebih bersemangat untuk berkarya. 🙏🙏🙏
__ADS_1