Milky Way : VALLENA

Milky Way : VALLENA
Bab 9 : DiCipta Hanya Untuk Membusuk


__ADS_3

Di balik gelapnya malam, sesosok bocah kecil berusia 8 tahun bernama Angga memperhatikan sebuah restoran dengan banyaknya para pengunjung berpesta pora. Meja mereka penuh dengan makanan yang sangat lezat dan terlihat begitu mahal. Beberapa dari mereka hanya mencicipi sebagian dan mengabaikannya.


Angga melihat dengan perasaan iri. Angga adalah anak kecil yang sering mengemis di sekitar beberapa tempat makan. Selain mengharapkan beberapa belas kasian, dia juga berharap bisa memakan sisa sisa makanan dari beberapa tempat sampah.


Tampak beberapa pelayan membuang sisa sisa makanan di tempat pembuangan. Begitu pelayan pergi, angga berlari menghampiri dan mengacak acak beberapa sampah tersebut, berharap beberapa sisa makanan yang masih layak untuk dia temukan. Wajahnya terlihat berbunga bunga begitu menemukan beberapa potong daging dan roti.


Langkahnya pun beranjak meninggalkan tempat sampah menuju sebuah gang kecil. Kaki telanjangnya tampak sudah biasa menapak jalan berbatu dan aspal yang dingin. Bahkan bajunya yang sangat kotor dan berlubang seperti sudah terbiasa di belai oleh angin malam yang dingin.


Saat di dalam gang sempit, Angga mengeluarkan suaranya dengan sangat berat. Seperti berusaha memanggil sesuatu. Angga memang seorang anak dengan gangguan disartria. Meski dia susah berbicara, tapi dia sangat menghargai hidupnya dengan berjuang dengan segala kemampuannya untuk hidup.


Setelah Angga bersuara, seorang gadis kecil berusia 4 tahun muncul dari balik kardus. Dia adalah adik kandung Angga. Sama dengan Angga, dia juga anak yang tidak terurus dengan baik. Selama ini, hanya Angga yang mau mengurusnya dengan memulung beberapa makanan sisa.


Mereka tampak bahagia memakan beberapa potong sisa makanan tersebut. tawa adiknya yang lugu itu selalu memberi Angga semangat juang untuk terus menjalani hidupnya dengan sembunyi sembunyi dari aparat keamanan. Sering kali mereka dikejar tiap kali ketemu di jalan.


Di bawah sinar rembulan, Angga menggendong adiknya yang terlelap di punggungnya. Kaki kecilnya yang sudah kelelahan terus bergerak dan melangkah ke kegelapan malam. Beberapa rumah disepanjang jalan sudah tampak sepi dan sunyi. Angga bernyanyi nyanyi kecil dengan suara yang bisa dia keluarkan. Sekalipun bagai lolongan anjing, Angga terus berusaha menyanyikan lagu untuk mengantar adiknya tertidur.


 


...****************...


Tepat di gerbang kampung sampah, Angga tampak ragu untuk memasukinya. Dia merasa enggan untuk pulang ke kampung sampah ini meski sudah lebih baik dari sebelumnya. Tapi, kehidupannya sama sekali tidak berubah. Dia memiliki seorang ayah pemabuk dan suka jual beli obat terlarang secara diam diam di dalam kampung. Tidak ada yang tahu di mana ibunya berada, dia hanya ingat dibesarkan oleh seorang lelaki kejam yang sering menghajarnya.


Dengan perlahan Angga melangkahkan kakinya ke dalam rumah kecil. Rumahnya agak jauh dari rumah warga lain. Karena memang ini cukup bagus untuk sembunyi sembunyi dari pemilik kampung yaitu Lena. Lena sudah melarang semua warga yang tinggal di kampung sampah harus patuh dengan aturannya. Tidak ada transaksi antar warga dengan anggota kartel Parlok.


“menunggu adalah hal yang sangat membosankan” ucap seorang lelaki yang tak lain adalah ayah Angga


Ayah Angga langsung menarik lengan Angga dengan sangat kasar, membuat adiknya terjatuh dari punggungnya. Adik Angga yang terjaga dari tidurnya pun berusaha menahan rasa sakitnya. Dia tahu betul apa yang terjadi jika dia sampai menangis, pukulan kejam seorang pria di depannya sudah terlalu sering dia rasakan.


Ayah Angga merogoh uang di kantong celana pendek Angga. Beberapa lembar uang pun dia dapati. Raut muka ayah Angga tampak tidak senang melihat hasil yang didapat anaknya hari ini. Kekesalannya dia lampiaskan dengan memukul wajah kecil Angga dengan sangat keras hingga dia tersungkur.


Rasa sakit yang diterima Angga membuat kedua tangannya merangkul adiknya, dia berharap adiknya tidak menerima apa yang dia rasakan dari siksaan ayah kandungnya sendiri. Beberapa kali pukulan dan tendangan Angga terima dengan pasrah. Bahkan darah dari hidungnya menetes ke rambut adiknya yang tengah dia peluk. Suara suara teriakan kecil Angga sama sekali tidak menyurutkan emosi ayahnya.


Begitu ayahnya kelelahan, diapun pergi meninggalkan kedua anaknya yang terkapar di lantai. Tampak Angga meraba dan memeriksa adiknya. Angga berharap adiknya tidak mengalami luka apapun.


Angga mengusap darah di hidungnya saat adik kecilnya menatapnya dengan ketakutan. Tidak hanya itu, Angga menunjukkan tawanya yang memperlihatkan bahwa giginya baru saja lepas karena pukulan ayahnya. Melihat adiknya yang masih ketakutan, Angga berusaha memasang wajah lucu dan konyolnya. Hingga akhirnya gadis kecil itu pun tertawa kecil. Senyuman dan tawa inilah yang mereka andalkan untuk bertahan dari penderitaan. Tangan tangan kecil mereka saling menggenggam berharap semua penderitaan akan ada habisnya suatu hari nanti.


 

__ADS_1


...****************...


Di tengah tengah tawa kecil, kedua bocah itu mendengar ayahnya sedang menelpon seseorang.


“aku akan mengantarkannya sekarang. Di tempat biasa sekarang juga” ucap pria brengsek itu


Angga dan adiknya dilempar sebuah bungkusan kantong hitam oleh ayahnya.


“antarkan barang itu di tempat biasa. Ada seseorang yang sedang menunggu disana” perintah ayah Angga


Angga pun menurutinya. Sekalipun kakinya lelah, dia tidak akan pernah berani melawan apapun perintah ayahnya. Kaki kecilnya pun melangkah lagi dengan menggendong adiknya. Angga tidak mau meninggalkan adiknya di rumah bersama ayahnya, dia takut akan terjadi sesuatu yang menimpa adiknya nanti jika dia tidak ada.


Jalan setapak di pinggir sungai dekat rumah Lena angga lalui. Dia berjalan dengan sangat hati hati agar tidak jatuh. Kakinya terlihat gemetaran karena lelah. Angga pun menghentikan langkahnya saat seorang lelaki berada di hadapannya. Lelaki dengan rambut acak acakan hingga beberapa helai rambutnya menutupi matanya.


“kak Vall!” ucap adik Angga


Mereka berdua adalah anak kampung sampah, sudah sewajarnya mereka mengenal Vall yang sering berada dekat sungai. Vall melebarkan senyumnya saat adik Angga menyapanya. Tanpa menjawab apapun, Vall membungkuk di depan Angga, memakaikan sendal jepitnya sendiri pada Angga.


“segeralah pulang” ucap Vall


Tampak di mata Vall gadis kecil di punggung Angga melambaikan tangan pada dirinya hingga mereka berdua lenyap di balik gelapnya malam hari. Hati Vall merasa sangat khawatir, dia tahu betul bahwa kedua bocah itu memang sering berkeliaran bahkan keluar masuk kampung sampah. Tapi kali ini dia melihat beberapa luka di wajah Angga.


Tibalah kedua bocah itu ke sebuah rumah kosong yang jauh dari pemukiman. Bangunan tua pinggir sawah terlihat gelap dan hampir rubuh. Seseorang berbadan kekar bersiul memberi isyarat pada Angga bahwa seseorang lagi sedang menunggunya di dalam bangunan.


Pria kekar itu menuntun Angga dan adiknya masuk ke dalam. Berkali kali adik Angga menggenggam erat pundak kakaknya seperti merasa sesuatu yang tidak baik. Angga pun menggenggam tangan kecil adiknya. Berusaha memberinya sedikit ketenangan batin.


Samar samar terlihat seorang berambut pirang yang memainkan pisau kecilnya di tangan kiri.


“apa kau bawa barang titipan ayahmu?” tanya si pria pirang


Pria kekar di belakang Anggapun sedikit mendorong tubuh kecil itu hingga hampir terjatuh ke arah pria pirang. Angga buru buru mengeluarkan bungkusan yang di berikan ayahnya dari kantong plastik di pinggangnya kepada pria pirang.


“berapa banyak uang yang ku keluarkan untuk barang ini, harusnya ayahmu lebih berhati hati mengantarkannya” ucap si pirang terhenti begitu merasa ada yang aneh pada bungkusannya. Terasa lebih berat dari perkiraan.


Dengan buru buru bingkisan itu dibuka dengan pisau, dilihatnya dengan mata dan wajah yang sangat emosi. Si pirang melemparkannya ke arah Angga. Sebuah batu menggelinding di bawah kaki kaki Angga.


Bukan obat sesuai yang di pesan, tapi ayah Angga menggantinya dengan beberapa batu tanpa peduli nasib kedua anaknya sendiri.

__ADS_1


“lancang sekali ayahmu itu!”


Adik angga yang ketakutan pun meringkuk di balik punggung kakaknya. Sedangkan Angga sama sekali tidak tahu apa apa. Dia hanya di perintahkan membawa apa yang sudah ayahnya berikan. Dia tidak tahu dan tidak mengerti situasi yang terjadi padanya saat ini.


Pria pirang langsung mengambil dan mengangkat tubuh mungil adik Angga. Seketika tubuh tak berdosa itu di banting ke sebuah meja hingga badan kecilnya menggeliat merasakan sakit yang luar biasa. Matanya melotot dan mulutnya menganga merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan celana kecilnya pun mulai basah karena mengompol.


Angga berteriak sejadi jadinya dan berusaha memberontak saat pria kekar memegangnya dengan sangat kuat.


“lihat!” perintah pria kekar sambil memaksa Angga untuk melihat adik kecilnya yang malang di siksa dengan kejam.


Pria pirang pun mengambil sebuah papan kayu dan meruncingkan sebagian pucuknya agar tampak sedikit tajam. Angga yang melihat itupun tak bisa membendung air matanya, dia menangis dan berteriak saat papan kayu itu dihunjamkan ke perut adiknya.


 


Tak jauh dari lokasi, Vall berusaha mencari keberadaan Angga. Vall bahkan tidak sadar bahwa kakinya yang tidak mengenakan sendal tertusuk dan terkoyak beberapa batu tajam di jalan setapak. Tidak beberapa lama Vall mencarinya, dia mendengar sedikit suara rintihan seorang bocah di sebuah bangunan tua pinggir sawah. Bergegaslah Vall melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari. Dia sangat mengenali suara Angga meski hanya beberapa kali mendengar bocah itu merintih kesakitan.


Pintu bangunan yang tertutup seadanya itu pun diterjang Vall dengan bahunya. Vall melihat sesuatu yang sangat membuatnya jijik dan mual. Tampak jelas di kedua matanya tubuh kecil adik Angga ditusuk sebuah papan kayu yang panjang di meja usang. Sedangkan Angga sendiri tengah tengkurap dan ditindih punggungnya oleh seorang pria pirang.


Melihat kedatangan Vall, pria pirang itu pun melempar senyum sambil mengiris telinga Angga yang sisa sebelah seperti dengan sengaja mempertontonkannya.


Belum sempat Vall tersadar dari keterkejutan yang dia alami, seseorang pria kekar sudah berdiri di belakangnya sambil berbisik tepat di telinga Vall.


“anak muda, sepertinya nasibmu tidak bagus malam ini” bisik pria kekar


 


...****************...


 


Tepat di gerbang kampung sampah, nampak seorang wanita berdiri melihat dari luar suasana sepi kampung milik Lena ini dengan penuh harapan. Wanita itupun melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


“ana!nina! ayo” perintah wanita itu pada kedua putrinya di belakang.


Tampak dua bocah perempuan yang kembar muncul dari balik pagar tembok. Bocah bocah mungil berusia 6 tahun berjalan mengikuti ibunya dari belakang. Ana adalah gadis yang terlihat pemberani dan optimis, berbeda dengan Nina yang terlihat lemah lembut dan pemalu. Mereka bertiga memasuki kampung sampah.


 

__ADS_1


__ADS_2