
Kembali di masa kini, tahun 2013
Ibu Lidya meninggalkan rumah Lena. Ia baru mengerti apa yang telah diderita Lena. Dia tidak menyangka gadis kecil yang dulu pernah dia rawat seperti anaknya sendiri akan segera mati. Dalam perjalanan pulang, ibu Lidya sempat melihat putranya Vall duduk seperti biasa di pinggir sungai.
Dalam hati ibu paruh baya ini, dia merasa semua yang putranya lakukan selama ini hanya untuk ke sia siaan saja. Hanya akan membuatnya lebih menderita lagi nanti jika tahu apa yang Lena hadapi saat ini.
Pandangan ibu Lidya beralih ke arah rumah Lena yang tidak jauh darinya. Dia melihat Lena di balik jendela menatap Vall dari kejauhan.
“terserahlah, lakukan apa yang menurut kalian terbaik. Aku hanya bisa berharap kalian mendapat kebahagiaan lebih sebelum ajal menjemput”
...****************...
Di setasiun kereta seorang security gerbong menurunkan paksa seorang gelandangan dengan gaya punk. Gelandangan itu didorong hingga jatuh.
“kau bilang ingin ke kampung sampah kan?! Keluar gerbang ikuti jalan setapak ke utara!. Jangan kembali lagi disini babi!” bentak petugas keamanan
“namaku GIN. Nama ini aku dapat dari bidadari di hutan! Bukan babi!” balas pria kotor itu.
Gin pun melangkah keluar mengikuti arahan security tadi menuju kampung sampah. Beberapa orang yang berpapasan dengannya pun buru buru menutup hidungnya. Entah berapa lama pria bernama Gin ini tidak mandi. Dia terlihat masa bodoh dan merasa menikmati segala tentang hidupnya. Bahkan dia bersiul menggoda saat beberapa wanita seksi melewatinya.
Gin pun sejenak menghentikan langkahnya, dia merasakan sedikit kebahagiaan. Wajahnya senyum mengingat beberapa rumah dan bangunan masih sama seperti 20 tahun lalu. Dia pun berlari menuju kampung sampah. Begitu sampai depan kampung sampah, ia bingung. Kampung yang dulu kotor dan kumuh menjadi desa yang indah dan asri. Berkali kali dia berpikir dan menggaruk kepalanya.
“apakah ini kampung sampah?!” teriak Gin menarik perhatian beberapa orang di sekitarnya
“betul, ini kampung sampah” jawab Lena di belakangnya.
Gin pun terkejut dan meloncat beberapa langkah ke belakang. Kedua tangannya memasang kuda kuda bertahan.
“menjauh kau iblis!” ucap Gin “tunjukan wujud aslimu, tidak mungkin ada wanita cantik yang mau mendekatiku!” lanjut Gin.
“minggir kau menghalangi jalan” ujar Lena pada Gin saat beberapa orang mengangkat sebuat tulisan dari besi yang mau dipasang di atas gerbang kampung sampah.
Reaksi Gin berubah saat melihat tulisan yang mau di pasang itu bertuliskan MILKY WAY.
“buang jauh jauh itu!!” bentak Gin pada semua orang.
Gin membanting tulisan itu dengan kuat sampai bengkok dan bersuara keras hingga menarik perhatian semua orang. Gin mengambil beberapa batu besar dan membantingnya ditulisan sampe berkali kali agar rusak. Bahkan dia tidak sengaja sampai membanting pria gemuk di sampingnya seperti membanting batu. Gin terlihat mengamuk. Lena pun tak tinggal diam. Di tahannya tangan Gin yang masih menggenggam batu.
“apa yang kamu lakukan?” ucap lena emosi
Gin pun merasa sedikit mengenali wanita cantik di hadapannya, bahkan untuk memastikannya, Gin merobek kain di pergelangan tangan Lena. Dan ternyata benar, ada tanda huruf “L”
Melihat perilaku Gin, Lena pun sadar, bahwa pria di hadapannya ini adalah orang yang tahu tentang asal usulnya.
“kau orang yang membuangku disini 20 tahun lalu?”
Lena mengepalkan genggamannya. Dipukulnya wajah Gin yang masih kebingungan. Berkali kali Lena memukulnya sekuat tenaga, tapi Gin diam dan terjatuh ke tanah. Lena tak berhenti untuk terus memukulinya.
“membuangku? Kenapa tidak membunuhku saja!” bentak Lena
Gin pun menahan tangan Lena dan dia tidak menghindari saat tangan Lena yang lain menghantam rahangnya. Saat darah mulai mengalir di bibir Gin, Lena pun berusaha menahan emosinya.
“kau tidak mengingatnya, bagaimana bisa kau menuduhku membuangmu? Aku hanya melarikanmu dari kematian. Dan aku bukan orang yang harusnya bertanggung jawab soal apapun yang terjadi padamu” jelas Gin. “ibumu yang menyuruhku untuk membawamu. Dan tulisan itu adalah kata terkutuk yang membuat hidup ibumu hancur!” tunjuk Gin ke arah tulisan MILKY WAY
...****************...
Gin dan Vall duduk berdua memakan setiap makanan yang tersedia di rumah Lena. Tak jauh dari mereka, sepasang mata curiga dan emosi terus menatap ke arah Gin seakan dia masih belum puas untuk memukulnya.
__ADS_1
“setampan apakah diriku sampai wanita itu terus menatapku?” bisik Gin pada Vall di sampingnya
“aku rasa kamu menderita Erotomania parah” jawab vall.
“apa itu?” tanya Gin
“aku tak berkewajiban menjawabnya kan?” tanya balik Vall
Gin yang masih penasaran tiba tiba berubah warna emosinya. Di pukulnya kepala Vall berkali kali. Tapi Vall diam saja karna dia memang sudah seperti mayat hidup.
“kau bocah, dulu kau terlihat bersinar penuh semangat. Tampak dari tatapanmu dulu penuh dengan kepercayaan diri dengan apapun. Tapi lihat sekarang, kau bahkan tidak bisa menjaga kondisimu sendiri. Bagaimana mungkin aku dulu begitu bodoh menitipkan anak itu padamu?”
Perkataan perkataan Gin membuat Vall semakin terpuruk. Vall menundukkan mukanya dan tidak melanjutkan makannya. Dia sadar diri semua itu adalah kesalahannya. Apa yang terjadi kepada Lena adalah hasil dari kesalahannya.
Tangan Gin yang masih memukul kepala vall ditahan Lena. Terlihat lena tidak menunjukan mimik muka marah, tapi lebih terlihat bermuka sedih.
“apakah salah jika aku ingin mengetahui asal usulku? Keluargaku? Dan semua yang terjadi pada mereka. Bahkan aku tidak ingat apapun apa itu Milky Way?”
“dengar bocah, aku telah berjanji pada ibumu untuk membawamu pergi dari kuil jika sangat terdesak, dia juga mengizinkanku untuk membunuhmu. Apapun yang dia pilih itu mungkin adalah kesalahan. Bahkan dulu aku pun berpikiran bahwa itu gila. Tapi semenjak memahami apa itu Milky way dan tanda huruf L di tanganmu, lebih baik kau tidak lahir di dunia ini” ucapan Gin terasa lebih mengintimidasi. Membuat Lena pun sedikit terdiam.
“tapi mungkin aku bisa menceritakan semuanya jika aku boleh tinggal disini dan makan sepuasnya” lanjut Gin dengan senyum riang dan gaya se imut mungkin.
“aku ingin sekali menghajarmu, tapi aku terlalu lelah hari ini” keluh lena.
Lena pun meninggalkan mereka menuju ke kamarnya. Terlihat kondisi Lena yang kurang sehat dari langkah kaki indahnya. Gin yang melihat Vall meletakkan kepalanya di meja mencoba mendekatinya pelan pelan. Nampak Vall melihat Lena berjalan menjauhinya. Vall menatap dengan penuh kerinduan. Seperti ingin menggapai sesuatu yang tidak pernah ia akan dapatkan.
“kau ingin mengikutinya ke kamar?” tanya Gin
Vall pun terdiam dan memejamkan matanya. Dalam hati ia masih memikirkan peristiwa sepuluh tahun lalu. Di mana dia terbangun dari tidurnya, dia mendapati Lena dan Bulan berada di depan rumahnya. Dia pun samar samar mengingat bahwa dia tidur dengan Lena di saat itu, tapi dia ragu, apakah itu Lena atau Bulan. Semenjak saat itupun Bulan tidak pernah terlihat lagi. Entah di mana Bulan sekarang, Vall berharap Bulan baik baik saja.
Pandangan Vall teralihkan kepada Gin yang selalu memperhatikannya. Tatapan mata Gin kearahnya seperti penuh dengan kecurigaan. Membuat Vall merasa sedikit risih.
“aku mencium aroma darah darimu. Dengar bocah, aku tidak peduli dengan apapun yang kamu lakukan. Tetapi jika itu bisa membahayakan Lena, aku bersumpah akan membuatmu menyesalinya” ucap Gin
“kau bisa mencobanya” jawab Vall
“cukup banyak juga daging yang kau buat membusuk. Tapi aku ragu kalau kau bisa melakukan hal ini lagi setelah ini”
Tanpa kata kata, Vall langsung menghantam kepalan tangannya ke arah wajah Gin. gin yang merasa di atas kendali dengan mudah menghindari semua pukulan Vall yang serasa seperti anak kecil di hadapannya. Bahkan Gin dengan mudah mengarahkan pukulan Vall ke arah pohon besar dengan kuat.
Gin memperhatikan dengan seksama saat pukulan Vall mendarat dengan keras ke pohon hingga membuat tangan Vall tersebut terluka dan berdarah. Tetapi anehnya tidak ada sedikit perubahan di raut wajah Vall. Bagaimanapun kuatnya seseorang, jika beberapa anggota tubuhnya terluka akan memberi beberapa gejala umum rasa sakit dari raut mukanya.
Gin pun mulai membalas Vall dengan satu pukulan ke arah pundak Vall hingga membuat pemuda itu terjatuh dan bertekuk lutut di hadapan Gin. di saat yang sama, Gin mulai memukul wajah Vall dengan sedikit tenaga. Darah segar menetes di bibir Vall tapi Gin tidak melihat Vall merasakan kesakitan.
Merasa penasaran, Gin memukulnya lebih keras dan memukulnya lagi sampai beberapa kali hingga Vall terjatuh tersungkur di tanah.
“kenapa kau tidak merasakan kesakitan?” tanya Gin
Vall pun bangkit dan berdiri tepat di muka tubuh kekar Gin.
“itu karena kau lemah”
Gin yang merasa seperti di pancing itu mulai menarik leher Vall dan membenturkannya ke arah pohon besar. Belum sempat Vall mengambil langkah dan posisi dengan benar, Gin langsung memukul ulu hati Vall bertubi tubi dengan kedua tangannya. Tampak pukulan keras Gin membuat pohon di punggung Vall bergetar dengan hebatnya, membuat beberapa helai daun kering berjatuhan.
Dan sekali lagi, Gin di buat heran dengan sikap Vall yang seperti tidak merasakan rasa sakit.
“kau memiliki kelainan”
“congenital analgesia” jawab Vall
Seketika jawaban Vall membuat Gin merasa murka dan emosinya langsung meledak
“lalu untuk apa aku memukulmu dari tadi bangsat!!”
...****************...
__ADS_1
Lena terbangun dari tidurnya, badannya terasa sangat lemah sekali. Dengan pelan dia melangkahkan kaki indahnya menuju dapur. Di saat yang sama, terdengar beberapa suara kecil di dapur. Lena juga mencium aroma yang sangat enak sekali. Membuat nafsu makan dan rasa laparnya naik.
“kau sudah bangun? Maaf aku meminjam beberapa peralatan masakmu. Sayang sekali beberapa perabotan bagus ini seperti tidak pernah di pakai” ucap Nina
"kata maafmu tidak mempperlihatkan bahwa ini sudah kegiatan keseharianmu" ucap Lena
Terlihat senyum manis Nina begitu cerah di mata Lena. Lena yang melihat Nina setiap hari memasak untuknya merasa sedikit malu. Lena memang tidak begitu mengerti tentang memasak. Berbeda jauh sekali dengan gadis muda di depannya ini yang begitu pandai memasak dan berlaku layaknya perempuan pada umumnya. Usia Nina saat ini sudah menginjak di 16 tahun. Dia tumbuh menjadi pribadi yang hampir sempurna untuk ukuran seorang gadis seusianya. Wajahnya cantik, perilakunya sopan dan baik. Bahkan dia lebih memperhatikan setiap kondisi yang Lena alami.
Dengan hati riang, Nina menyiapkan beberapa makanan hangat yang baru dia masak di meja makan. Tidak hanya itu, Nina juga menyiapkan kursi untuk Lena duduki.
“terimakasih untuk makanannya” ucap Lena pelan sambil menunduk lesu.
“kondisi kakak semakin buruk, perlukah ku antar ke rumah sakit?”
“tidak perlu, ini sudah biasa. Besok juga sembuh”
Lena tidak mau menceritakan penyakit yang dideritanya. Dia hanya bisa berusaha untuk lebih berupaya tampak baik baik saja di depan semua orang.
“bagaimana dengan proses rehabilitasi yang kakak jalankan?”
“sudah bertahun tahun, cukup memuaskan. Sekarang aku jauh lebih bisa mengatasi rasa kecanduanku”
“bagaimana dengan mereka? Anggota kartel yang mengikat kakak. Jika mau, aku bisa meminta tolong ibuku. Percayalah, ibuku cukup bisa diharapkan. Jika hanya masalah seperti itu, bagi ibuku itu bukan hal sulit. Dan aku beri tahu rahasia kecil. Kami bertiga tidak sendiri. Ibuku punya 3 kesatria pelindung”
Penjelasan Nina membuat Lena sedikit mempercayainya meski seperti ucapan konyol seorang penghayal. Tapi tidak bisa Lena bantah jika Lyra bukanlah wanita biasa. Ada banyak keanehan yang bahkan sulit untuk dijelaskan secara logika.
“jangan lakukan apapun, aku tidak mau menambah lebih banyak masalah lagi. Mereka para anggota kartel juga tidak sepenuhnya orang jahat. Banyak dari mereka adalah orang yang terpaksa mengikuti perintah atasannya”
Lena melihat Nina juga menyiapkan sebuah kursi dan beberapa makanan untuk Vall. Meski Vall tidak terlihat, entah kenapa Nina seperti memiliki naluri yang luar biasa akan kedatangan Vall.
Tidak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Muncullah Gin yang datang dengan sedikir menari seperti layaknya pria yang tidak memiliki beban hidup. Disusul dengan Vall yang berjalan di belakangnya dengan wajah lebam.
Gin dengan santainya duduk di kursi bersama Nina dan Lena. Tanpa berkata kata, Gin langsung melahap makanan di meja dengan tangan kotornya. Mungkin seperti inilah kebiasaan Gin sebagai lelaki punk di jalanan.
“gadis ini menyiapkan masakan untuk Vall, beraninya kamu mengotori mejaku!” bentak Lena
“hei bocah bangsat, kau keberatan jika ini aku makan?” tanya Gin pada Vall yang berada di depan pintu kamarnya.
“tidak” jawab Vall pelan sambil membuka pintu kamarnya.
Vall terlihat lebih mematuhi perkataan Gin daripada saat berbicara dengan Lena. Entah kenapa Lena merasa sepertinya Vall sudah Gin kendalikan dengan begitu mudahnya.
“apa yang kau lakukan pada Vall?” tanya Lena
“hei bocah, katakan sesuatu. Wanita mu ini seperti ingin membunuhku!”
“dia menghajarku” jawab Vall dari dalam kamar
Lena yang murka dan memang sebelumnya dia sudah merasa sangat kesal dengan pria yang bernama Gin ini. Beberapa rambut Gin ditarik hingga rontok dari kulit kepalanya.
“aku bahkan tidak ingat mengizinkanmu masuk rumahku. Beraninya kamu melukainya!”
“setidaknya aku pernah menyelamatkanmu”
“kau membuangku babi biadab”
Nina yang melihat pertengkaran mereka seperti sedikit ada rasa bahagia dan iri. Meski dari luar mereka terlihat saling membentak dan marah, tapi ada rasa tanggung jawab pada diri masing masing. Mereka seperti sebuah keluarga bagi Nina.
Ketegangan emosi di wajah Lena terlihat seperti mulai berubah. Dia merasa Gin memperhatikannya dengan lebih lembut.
“apa?”
“ibumu, ada wajah ibumu didirimu” ucap Gin
__ADS_1
Begitu Lena tercair kan suasana, Gin diam diam meraih beberapa potongan daging di piring Lena dengan jari jarinya.
“kau mengotori makananku!”