Milky Way : VALLENA

Milky Way : VALLENA
Bab 11 : Serpihan Mistery MilkyWay


__ADS_3

“aku mendengar kau mengelola kampung ini. Nama mereka adalah Ana dan Nina. Aku akan membiayai semua kebutuhan dan beberapa imbalan jika boleh menitipkan mereka disini”


Lena mempersilahkan ibu dan anak ini masuk kerumahnya. Beberapa buah buahan dan air minum Lena hidangkan. Tampak wajah mungil dan cantik kedua bocah itu melirik semua hidangan di meja Lena.


“apakah kalian suka buah?” tanya Lena


Salah seorang yang bernama Nina pun mengangguk dengan tersenyum manis. Beda dengan saudaranya yang bernama Ana. Ana tampak tidak peduli dan langsung mengambil beberapa buah apel.


“jaga sikapmu” perintah Lyra pada anaknya.


“tidak apa, aku ada banyak buah untuk mereka jika mau, aku bisa mengambilkan lebih banyak lagi”


“mengenai permintaanku?”


“ah ya, untuk menitipkan kedua anak ini, aku tidak bisa menerimanya. Karena aku tidak pandai mengurus anak dan aku cukup sibuk. Lebih baik jika kau membesarkan mereka disini. Aku bisa siapkan tempat untuk kalian tinggali.”


Lyra memperhatikan Lena dengan sangat bersyukur. Dia tidak menyangka akhirnya dia bisa mendapat tempat tinggal karena selama ini hidupnya selalu berpindah pindah tanpa kejelasan mau tinggal di mana.


“apakah benar aku boleh tinggal disini? Aku memiliki banyak musuh yang mungkin akan merepotkanmu suatu hari nanti” jelas Lyra


“kita bisa pikirkan nanti” ucap Lena.


“baiklah, aku juga akan berjanji untuk tidak membawa masalahku pada kampung ini” ucap Lyra meninggalkan tempat duduknya. “aku akan kembali lagi, sementara kedua anakku izinkan tinggal sebentar disini”


“apakah kau akan meninggalkan mereka?”


“abaikan, dia hanya perlu membunuh beberapa orang untuk menyembunyikan keberadaannya disini” jawab Ana


Lena merasa hubungan dan hidup ibu dan anak ini ada yang tidak beres. Tapi Lena merasa bahwa kedua anak kembar ini sangat lucu dan menggemaskan sekali. Tidak mungkin dia mengusirnya hanya karena omongan yang keluar dari mulut seorang bocah.


“kau adalah orang bertanda L pertama yang mau membantuku” ucap Lyra yang kemudian menutup pintu rumah Lena.


Lena yang mendengar itupun langsung bergegas mengejarnya, Lena yakin bahwa Lyra ini mengetahui misteri tanda L di lengannya. Begitu pintu dibuka dengan cepat, Lena tidak menemukan keberadaan Lyra lagi. Lyra seakan lenyap seperti hantu meninggalkan kedua putrinya di rumah Lena.


“apakah kalian mengetahui apa yang di maksud ibu kalian tadi?” tanya Lena pada Ana dan Nina yang memakan buah buahan di meja. “tanda L di lenganku ini. Bagaimana ibu kalian bisa tahu padahal tanda ini tertutup bajuku?” lanjut Lena


Nina yang melihat Lena tampak penasaran dan terkejut itupun meletakkan buahnya.


“tanda itu adalah tanda lahir yang hanya dimiliki oleh seorang Leader Milky Way. Kami sering bertemu dengan mereka di perjalanan kami” jelas Nina.


“mereka? Maksudmu ada banyak orang yang memiliki tanda sepertiku ini?”

__ADS_1


“ya, mereka tersebar di seluruh penjuru kehidupan. Adapun alasan kenapa jarang ada yang mengetahui, itu karena mereka bersembunyi.”


“bersembunyi? dari apa?”


“dari RIP. Hanya itu yang aku ketahui. Untuk selebihnya, ibuku lebih mengetahuinya.”


“bagaimana kalian bisa begitu mengetahui. Maksud aku, apakah kalian ada hubungannya dengan Milky Way atau RIP itu sendiri?” tanya Lena semakin penasaran


“bukan, kami hanya hewan yang kabur dari dasar laut” jawab Ana.


Nina pun tampak tertawa dengan dibuat buat seakan ingin Lena menganggap omongan Ana adalah hal yang lucu dan konyol. Tapi tidak bagi Lena, dia merasa keluarga yang datang padanya ini menyimpan banyak misteri akan asal usulnya.


Jam menunjukkan pukul 3 pagi, Lena masih terjaga karena dalam hatinya masih terpikirkan tentang Milky Way dan beberapa orang yang mengetahui tentangnya. Sekeras apapun Lena berusaha mengingat masa lalu, tapi tidak satupun kenangan terlintas di kepalanya selain seorang wanita yang bernyanyi untuknya. Wanita yang memiliki tanda L sama sepertinya itu dia yakini bahwa dia adalah ibunya.


Sesaat kemudian pintu rumah terbuka pelan, Vall masuk dengan tubuh yang berdarah darah. Dengan perlahan Vall melangkahkan kakinya, berharap tidak membangunkan Lena. Tapi Lena sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Melihat kondisi Vall, Lena pun menghampirinya dan membuka sebagian baju Vall yang terkoyak.


“apakah orang kampung mengganggumu lagi?” tanya Lena


Vall hanya terdiam. Selama ini Vall memang korban bullying penduduk kampung sampah karena dianggap orang tidak berguna dan pembawa sial. Bahkan sering kali Lena menemukan Vall terkulai di pinggir sungai dengan badan penuh luka. Alasan kenapa Vall memberikan sendal kepada Angga itu karena hanya Angga yang berani membelanya saat Vall di lempari beberapa batu. Bahkan pernah sekali sebuah batu yang dilempar ke Vall mengenai Angga hingga kepalanya berdarah saat  bermaksud melindungi Vall.


Lena memegang erat baju Vall yang ternoda darah. Matanya hampir menangis setiap melihat kondisi Vall. Dia berharap Vall untuk meninggalkan kampung ini, tetapi dia juga ingin Vall untuk tetap didekatnya.


“katakan kalau ini sakit. Kau juga manusia. Sama seperti mereka, kau juga punya rasa sakit”


Lena yang melihat kondisi Vall berusaha menyembunyikan kesedihannya. Di palingkannya wajahnya dan diambilnya kotak p3k. Vall menatap ke arah punggung Lena dari kejauhan.


“aku sakit saat kau menatapku seperti itu” ucap Vall pelan


Meski pelan, Lena mendengarnya dengan jelas. Tangan Lena terus menerus mengacak isi kotak p3k berharap itu bisa mengulur waktu karena dia tidak ingin menatap Vall dengan berurai air mata. Tidak hanya kondisi Vall yang membuat hatinya sakit, tapi juga perasaan yang Vall miliki itu tidak bisa dia balas meskipun dia juga berperasaan sama.


Lena mengobati luka Vall dengan sangat hati hati. Meski terlihat dalam, tapi luka Vall tidak begitu berbahaya. Tampak pula sedikit jahitan dibeberapa lukanya. Lena sangat yakin betul dengan jahitan yang ada di luka Vall. Jahitan yang sama saat ibu Lidya merawatnya dulu. Sangat rapi dan begitu kuat tetapi juga sangat ringkas.


Vall terus menatap wajah Lena dengan begitu dekat. Aroma melati di tubuh Lena yang menandakan ciri khasnya begitu wangi dan membuatnya sedikit bergairah. Vall yang merasa seperti tersihir oleh keindahan paras Lena mulai menyentuh pipi wanita itu dengan penuh rasa.


Lena yang merasa disentuh dengan perasaan itu pun mulai terbawa suasana. Selama ini Lena hanya menjadi pemuas nafsu para pria brengsek dengan bualan bualan busuknya. Ini pertama kalinya Lena merasa dia benar benar diperlakukan dengan istimewa oleh seseorang yang sangat dia harapkan jauh hari sebelumnya.


Kembali lagi tatapan mereka saling beradu dalam pandang. Saling berusaha menjerit dalam hati bahwa mereka benar benar saling membutuhkan balasan akan perasaannya selama ini. Tapi Lena seperti tidak mau terlarut dalam perasaannya, dia langsung memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan Vall.


“untuk sementara tidurlah di sofa, kamarmu sedang dipakai tamu” ucap Lena.


Disaat yang sama, terdengar suara benda jatuh di kamar Vall. Membuat mereka berdua seperti menaruh perasaan yang sama. Mereka saling memandang dan saling menatap ke arah kamar. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara seperti benda yang dilempar ke dinding kamar dengan keras. Tidak hanya itu, mereka juga mendengar suara samar samar seorang seorang bocah sedang berbisik.

__ADS_1


“ana, turun sekarang. Nanti mereka mendengar” ucap lirih Nina pada Ana di dalam kamar


Sebetulnya Vall tidak mau menghiraukannya, baginya, mungkin itu suara para tamu yang di maksud oleh Lena. Tapi mulai muncul suara raungan yang sangat membuat bulu kuduk mereka sedikit menegang. Vall mulai beranjak dan melangkah mendekati pintu kamar. Dari luar tampak terdengar lebih jelas lagi dari sebelumnya, suara raungan seperti sesosok monster kembali terdengar lebih keras.


Lena yang pertama kalinya merasa ketakutan akan hal hal aneh pun mulai menaruh dirinya di belakang Vall. Vall yang merasa sangat penasaran pun memberanikan dirinya untuk membuka pintu dengan pelan. Tampak suasana kamar yang gelap. Nina sengaja mematikan lampu kamar saat Vall membuka pintu itu.


“jangan masuk, ibuku akan jelaskan ini. Tolong segera menjauh” pinta Nina pada Vall


Vall yang berusaha melihat segala sudut ruangan pun langsung paham dan menyadari ada banyak noda darah di dinding dinding kamar. Tampak juga Nina yang berdiri bersandar tembok terlihat khawatir.


“dimana saudaramu?” tanya Lena pada Nina


Dengan perlahan Nina menunjukkan jari telunjuknya ke arah langit langit kamar


“jangan bergerak, dan mundur perlahan. Ibuku akan mengatasi ini dengan baik. Percayalah” ucap Nina


Lena dan Vall pun merasakan beberapa tetesan darah yang terjatuh dari atas turun ke beberapa pundak mereka. Mata Lena membelalak seakan tidak percaya apa yang tengah dia saksikan. Ana terlihat seperti sedang kesurupan dan merangkak di ujung langit langit kamar. Matanya putih semua. Mulutnya seperti terbuka lebar. Rambutnya yang pendek sebahu bergejolak dan bergerak seperti cacing yang hidup. Kulitnya memerah agak kebiruan. Beberapa dari kulit tersebut mengelupas dan seperti terbakar dari dalam tubuh. Bau amis darahnya sangat menyengat disertai bau bangkai hewan muncul dari tubuh Ana.


Di saat yang sama pula pintu rumah Lena di dobrak dan Lyra si ibu dari Ana dan Nina muncul. Lyra langsung melesat seperti kijang ke arah Vall dan Lena yang masih berdiri kaku. Mereka berdua ditarik Lyra dengan kuat ke arah belakang hingga terjatuh. Tubuh Lyra cukup langsing dan seperti tidak memiliki tenaga untuk melakukan kekerasan, tapi dengan mudah dia menarik kedua tubuh Vall dan Lena seperti mainan.


Dengan cepat Lyra masuk kamar dan menutup pintu dari dalam. Di saat yang sama, terdengar suara bahasa aneh keluar dari bibir Lyra. Suara suara jeritan Ana pun semakin keras saat ibunya merapalkan beberapa bahasa aneh.


Vall dan Lena yang masih belum sadar sepenuhnya itupun mulai terkejut saat merasakan guncangan gempa kecil dari kamar. Mereka berdua saling menatap dan mundur perlahan. Ini pertama kalinya mereka melihat dengan mata kepala sendiri kejadian aneh di luar nalar manusia. Tak lama kemudian guncangan gempa kembali menyusul disertai dengan teriakan kecil Ana.


Guncangan ke dua ini membuat suara suara hewan malam seperti jangkrik mulai lenyap. Vall yang mulai mendekati kamar lagi pun dibuat terguncang oleh gempa ke tiga yang berasal dari kamarnya. Guncangan ke tiga ini mampu membuat kawanan burung dan beberapa hewan di sekitar rumah Lena berhamburan pergi seperti merasakan ada bahaya yang sedang terjadi di dalam rumah Lena.


Tak lama dari guncangan ke tiga, pintu kamar pun dibuka pelan oleh Nina. Tampak Nina keluar kamar disusul ibunya yang menggendong tubuh pingsan Ana. Mereka melangkah menuju pintu depan rumah Lena.


“aku akan menganti beberapa barang yang rusak. Untuk kejadian tadi, tolong jangan sampai orang lain mengetahuinya. Aku akan lebih menjaga putriku nanti” ucap Lyra


“tunggu, ada hal yang masih mengganggu pikiranku. Banyak hal yang perlu ku dengar darimu selain kejadian barusan. Aku harus tahu tentang Milky Way sekarang” pinta Lena pada Lyra


Lyra pun menghela nafasnya dan berpaling menghadap Lena. Wajahnya terlihat sedikit kelelahan.


“tidak banyak yang ku ketahui soal sekte itu. Aku hanya pengembara yang ingin hidup normal bersama kedua putriku. Kami hanya kebetulan terlibat sedikit dengan permusuhan kedua sekte itu. Baik Milky Way dan RIP, mereka berdua sama sama busuk dan sama sama memiliki beberapa anggota yang manusiawi. Mereka hanya terikat oleh aturan para leluhur. Jika kau terlalu banyak tahu tentang itu, kemungkinan besar suatu hari nanti kampung ini bisa musnah. Kau cukup beruntung tidak mengingat apapun soal Milky Way. Tetaplah hidup normal seperti ini” jelas Lyra sambil meninggalkan Vall dan Lena.


“hidup normal katamu? Hidup seperti ini?” keluh Lena


"aku melihat beberapa rumah kosong saat melintas tadi, untuk sementara aku akan menempatinya. Sebagai gantinya, aku menaruh beberapa biji hadiah di dalam kamar tadi"


Merasa penasaran, Lena masuk ke kamar Vall. Beberapa noda darah yang sebelumnya tampak tercecer di dinding pun terlihat menghilang sepenuhnya.

__ADS_1


Lena juga melihat beberapa biji berlian di meja dekat ranjang.


"Mereka bukan manusia" ucap Vall dalam hati


__ADS_2