
Vall berjalan keluar meninggalkan halaman sekolah. Keseharian dia lalui seperti sedia kala. Hanya dia lebih sering menghabiskan waktu untuk merenung. Bahkan saat berjalanpun dia selalu melamun. Hingga dia tidak sadar dengan Bulan yang sedari tadi menunggu dirinya di pinggir jalan. Bulan pun memanggilnya begitu Vall melewatinya.
“apakah aku terlihat seperti tiang listrik, atau aku terasa seperti kabut pagi hari?” tanya Bulan.
Vall hanya menimpalinya dengan senyuman tipis. Dari kecil hingga besar. Mereka berdua adalah sahabat baik. Itu yang dipikiraan Vall, tapi tidak bagi Bulan. Pria di sampingnya ini adalah pria idaman sejak kecil.
Sudah hampir 1 tahun semenjak Lena meninggalkan rumahnya. Vall tidak hentinya memikirkannya. Seringkali juga dia mengunjungi gubuk kecil bekas hunian Lena. Tapi itu semua tidak memberikan harapan apapun pada Vall. Lena seakan seperti lenyap dari kota ini. Sekalipun Vall merindukannya, dia berharap, Lena hidup dengan baik di luar sana. Melanjutkan sisa hidupnya bersama orang atau sahabat baru.
Langkah Vall pun terhenti saat ia melihat pria tua dipayungin menuju mobil mewah. Beberapa bawahannya tampak tergesa gesa membukakan pintu untuknya.
Buka pria itu yang membuatnya mematung dan membisu, tapi gadis muda yang dirangkul pria itu. Gadis yang sudah lama Vall cari dan pertanyakan selama ini. Tampak gadis berpakaian minim dari postur tubuh tinggi dan paras yang tidak mungkin Vall bisa lupa. Vall dan Lena tidak sengaja bertemu saat Vall berjalan beriringan dengan Bulan.
Bulan yang mengetahui mereka tengah saling bertatap mata, membuat jantungnya berdetak kencang. Tak banyak bicara, Bulan merangkul tangan Vall berusaha menghalangi Vall dari apa yang akan dia lakukan.
Vall memaksa melepaskan genggaman erat tangan Bulan. Ia tahu, yang di hadapannya adalah Lena yang dia kenal. Meski penampilannya berubah seperti orang kaya, tapi Vall tidak mau melihat Lena menjauh darinya lagi. Terlebih tatapan Lena pada Vall juga terasa seperti rindu yang tidak terjawab.
Vall berlari menyusul mobil yang mulai menjauh, diketuknya kaca pintu belakang tepat di mana Lena tampak duduk terdiam tanpa sepatah katapun mengabaikan Vall yang memanggilnya terus menerus.
“apakah itu kenalanmu?” tanya pria tua itu
“bukan, mungkin salah lihat. Karena wajahku sangat terlihat pasaran” jawab Lena
“perlukah ku usir dia dengan kasar agar tidak mengganggumu di kemudian hari?”
“abaikan” jawab Lena sambil membuka celana pria tua itu. Tangan dan bibir Lena terlihat begitu lihai memainkan pria penikmat daging muda tersebut.
Pria tua itupun menikmatinya sambil menghisap ganja berbentuk rokok. Mereka meninggalkan Vall yang mulai kelelahan berlari mengejar.
Vall tahu betul Lena sengaja mengabaikannya. Dan dia tidak menyangka omongan orang orang yang mengenal Lena ternyata benar. Lena menjadi gadis pemuas orang orang kaya. Rasa sakit hati Vall sangat mendalam. Bukan ini yang dia harapkan jika bertemu Lena lagi.
...****************...
Semenjak kejadian ini, Vall tidak pernah lagi ke sekolah. Hari harinya sering dihabiskan untuk menunggu Lena di mana dia terakhir kali melihatnya. Menunggu setiap pagi sampai malam, berharap dia bertemu lagi. Bulan yang tidak tahan melihat pria idamannya seperti orang gila berharap bisa melakukan sesuatu, tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Suatu ketika, Bulan tak mendapati Vall yang biasa menunggu di depan pusat penginapan mencoba untuk mencari di rumah pria tersebut.
Tak beberapa lama Bulan mengetuk pintu rumah kecil itu. Tampak seorang ibu ibu tua menghampiri Bulan. Dari cara jalan ibu tua itu menjelaskan bahwa dia sangat tersiksa bahkan hanya untuk berjalan.
“kau teman Vall” tanya ibu itu yang tak lain adalah pemilik rumah sebelumnya.
“apakah dia di dalam?” tanya balik Bulan
“syukurlah, aku sempat khawatir beberapa hari ini dia sering berteriak sendirian di dalam rumah. Aku tidak bisa masuk paksa karena dia sempat bilang bahwa dia baik baik saja. Tolong periksa dia. Aku punya kunci cadangan.” kata ibu itu dengan memberikan kunci cadangan rumah Vall.
__ADS_1
Bulan langsung membuka pintunya dengan khawatir. Sampai dia tidak menghiraukan ucapan ibu itu lagi. Bulan mencari ke beberapa kamar. Terlihat ruangan gelap semua. Beberapa perabotan berantakan. Pecahan pecahan kacar berhamburan di lantai. Bulan mendapati Vall tidur di sofa. Parasnya pucat, badanya dingin. Kepalanya memanas. Badannya menggigil kedinginan. Bulan merangkul dan memanggilnya berkali kali.
“perlukah ku panggil dokter?” tanya ibu tua
“aku akan merawatnya dulu, nanti biar ku urus jika keadaannya tidak membaik” pinta Bulan
Si ibu tua itupun mengangguk dan pergi. Bulan dengan penuh perhatian memangku Vall dan mengelap semua keringat di wajahnya.
Dalam hati Bulan, seperti inilah yang dia inginkan. Berada di samping orang yang dia sayangi meski bagai seorang pembantu sekalipun dari pada menjalani hidupnya yang selama ini.
Sesekali Vall memanggil nama Lena dalam tidurnya. Membuat Bulan semakin sedih. Bulan sadar, dirinya tidak mungkin bisa menggantikan Lena yang terus berada di kepala vall saat ini. Tapi dia tidak menyerah untuk berusaha tetap di samping Vall. Berharap suatu hari nati, Vall bisa luluh dan merelakan Lena. Maka muncullah keinginan bulan untuk mendapatkan Vall dengan segala cara.
Bulan berjalan ke arah cermin. Dia menatap sedih pada bayangannya sendiri.
“bisakah kau melakukannya?” tanya Bulan pada bayangannya.
Bulan mulai melonggarkan kancing bajunya. Terlihat pakaian dalamnya yang berwarna putih, seputih kulit mudanya. Rambut yang sedari dulu selalu dia ikat rapi kali ini diurai. Tak lupa dia menyemprotkan parfum aroma melati. parfum kesukaan Lena. Tampak bayangan Bulan di cermin yang memperlihatkan betapa dewasanya dia dengan beberapa riasan di wajahnya.
Bulan kembali menghampiri Vall dan memeluknya. Bulan mencium lembut bibir Vall. Sesaat Bulan merasa bimbang. Apakah dia akan melakukan kesalahan yang berujung rumitnya hubungan mereka nanti. Namun pikiran pikiran yang mengganggu nya dari tadi mulai hilang saat vall setengah sadar memeluk tubuh mungil Bulan seolah Bulan adalah Lena baginya.
Aroma bunga melati terasa wangi dan membuat Vall lebih erat memeluknya. Tangan mereka saling menggenggam. Cahaya bulan masuk menyinari kulit halus Bulan melalui jendela. Tubuh dan bibir mereka terus beradu memadu kasih.
...****************...
Bulan pun melanjutkan tidurnya sejenak di dada telanjang Vall. Dia merasakan hangatnya tubuh pria untuk pertama kalinya. Terasa nyaman baginya terlebih itu adalah pria yang selama ini dia harapkan dan inginkan.
Sesaat kemudian panggilan panggilan kecil nama Lena pun keluar lagi dari bibir Vall. Membuat tubuh mungil Bunga gemetaran. Matanya memerah, hatinya terluka. Sesekali dia terisak tapi dia berusaha menahan bibir mungilnya dengan kedua tangannya. Air mata menetes dari kedua mata bulatnya jatuh ke dada Vall. Merasa tak sanggup, Bulan mengambil baju dan memakainya buru buru. Dia keluar rumah secepatnya dengan mengancingkan sebagian bajunya.
Bulan merasa apapun yang dia lakukan tidak akan bisa membuatnya menjadi seperti Lena untuk Vall.
Bulan terlihat keluar rumah dengan isak tangisnya yang masih dia tahan. Dan dia sadari, sesosok wanita dengan baju mewah tengah berdiri di bawah pohon pinggir jalan. Tangan kananya memegang skuter listrik yang sudah dilipat. Tampaknya Lena sudah lama berada disitu. Bahkan Lena pun tidak menyangka bahwa ia akan bertatap mata langsung dengan Bulan sahabatnya sendiri setelah sekian lama tidak bersapa.
Mata Bulan tampak semakin memerah menahan sakitnya perasaannya saat ini saat melihat Lena. Rasa iri, benci, sekaligus tercampur dengan rasa rindunya pada Lena.
Lena pun berusaha menghindari kontak langsung. Dia melangkah pergi menjauhi Bulan.
“berhenti” ucap Bulan pelan
Lena pun membuka lipatan skuter listriknya. Lena sadar, tidak seharusnya dia disini sementara tujuan sebetulnya dari awal dia adalah memutuskan hubungannya dengan sahabat sahabatnya agar mereka tidak terlibat dengannya. Tapi dalam hati Lena, dia masih tetap khawatir dengan mereka. Karena itulah dia setiap malam selalu mengawasi meski dari luar secara diam diam.
“Lena!!” bentak Bulan
__ADS_1
“maaf” balas Lena
“maaf? apa kesalahanmu?” ujar Bulan tersenyum menyindir “baik kau dan Vall nanti pun akan mengucapkan hal yang sama. Sampai aku kehilangan akal sehatku dan membuatku selalu berfikir bahwa aku adalah seorang pengganggu di antara kalian. Aku sangat membenci perasaan kalian, bahkan aku sangat membenci diriku saat ini. Tapi aku juga sangat menyayangi kalian. Apa sebetulnya masalah antara kalian dan aku?. Sebetulnya apa peran aku selama ini?” lanjut Bulan.
Lena mendekati Bulan. Mata merah Bulan masih tertuju lurus memandang Lena. Lena pun memeluknya seperti masa masa dahulu saat mereka tertawa bahagia di gubuk kecil kampung sampah.
“jalan yang ku pilih akan berbahaya untuk kalian nanti kedepannya. Aku tak bisa mengucapkan perpisahan dengan baik. Karena aku tidak pandai melakukannya dan aku berharap kalian akan membenciku dan menjauhiku. Aku sangat bahagia setiap melihat kalian pulang sekolah dan berjalan beriringan. Aku harap, kalian terus bersama untuk kedepannya tanpa aku. Atas semua yang kau berikan padaku selama ini, atas semua yang Vall lakukan untukku selama ini, semoga ada orang lain yang bisa membalasnya. Aku sangat menyayangi kalian. Sangat.. ” kata Lena
Di dalam rumah, dari balik pintu jendela, Vall bersandar dinding dan mendengar pembicaraan mereka berdua di luar. Vall sadar, mungkin jalan yang dipilih Lena adalah jalan satu satunya yang bisa dia lakukan mengingat selama ini tak ada satupun orang yang mau peduli bahkan menolongnya. Terlebih lagi, Vall merasa dirinya hanya beban yang terus menerus mengharapkan kebahagiaan sepihak tanpa peduli situasi orang lain. Dia selalu bermimpi bisa membangun rumah untuk Lena. Tapi kondisi dia saat ini ternyata sangat tidak layak untuk mengucapkan kata itu lagi di hadapan Lena.
Pikiran pikiran negatif terus membebani vall. Dia semakin terpuruk dengan situasi yang tidak dia perhitungkan sebelumnya. Vall merasa seperti pecundang yang tidak mampu berbuat apa apa selain sebagai bocah gagal yang merajuk mengharap segala kemudahan.
...****************...
Berbulan bulan kemudian. Kampung sampah mulai di bangun lebih baik dari berbagai sisi. Parlok adalah orang yang tidak main main jika soal kesepakatan. Selama Lena berhasil menghasilkan uang untuknya, Parlok tidak segan segan membagi beberapa keuntungannya pada Lena meski itu tidak ada dalam perjanjian.
Uang uang yang lena dapatkan di pakai untuk membersihkan kampung sampah. Beberapa gelandangan yang tidak memiliki rumah pun dengan aman boleh tinggal sepuasnya di kampung sampah. Tidak hanya tempat tinggal, tapi juga makanan pun tidak akan kekurangan.
Anggota anggota kartel pun sudah tidak nampak lagi di kampung sampah. Tidak ada satupun yang berani mengusik Lena saat ini. Karena Lena saat ini adalah orang penting bagi Parlok. Bisa dibilang dia adalah sumber uang Parlok. Kemampuannya untuk merayu dan menjual obat obatan ke para bangsawan sudah tidak diragukan lagi.
Pagi hari, di kampung sampah, Lena duduk di depan tanaman bunga melati yang dia tanami disepanjang jalan setapak menuju rumahnya. Pandangan Lena beralih ke arah pria kumal di tepian sungai. Tempat biasa pria itu pakai untuk tidur.
Setiap ada gelandangan yang ingin tinggal di kampung sampah, lena tidak pernah sekalipun mengabaikannya. Tapi tidak untuk pria yang satu ini, karena dia adalah Vall. Vall semakin memburuk terjebak oleh pikiran pesimisme diri sendiri. Dia beranggapan dirinya adalah segala masalah yang telah terjadi pada Lena. Semakin hari, kondisi Vall semakin tidak waras.
Tidak peduli apapun yang Vall lakukan, Lena sudah tak mau ambil pusing. Tapi tidak untuk kali ini saat dia melihat Vall menyelupkan wajahnya di air sungai sangat lama. Lena menarik dan mendorongnya ketepian. Rambut gimbal Vall basah dan mukanya penuh dengan kumis dan jenggot yang tidak pernah dicukur. Kondisinya yang seperti inilah dia diusir oleh orang tuanya. Meski punya rumah, Vall tidak pernah meninggalinya lagi. Karena itu akan mengingatkannya lagi akan kenangan untuk memberikan rumah pada Lena.
“jika mau mati, jangan disini!” bentak Lena
Vall pun menatap Lena dan tersenyum. Mau bagaimanapun juga, pria ini adalah pria yang pernah menolong dan menjaga dia dulunya. Melihat Vall seperti ini, Lena menarik dan membawanya masuk rumah. Beberapa makanan dia berikan ke Vall. Vall pun melahapnya seperti gelandangan lain yang kelaparan.
“tidakkah cukup? Bukankah waktunya kau berhenti dan melanjutkan hidupmu?” tanya Lena pelan
Vall pun menghentikan makanya. Dan kemudian dia melanjutkan kunyahan makanannya lagi.
“apakah aku masih terlihat pantas mengharapkanmu?” jawab Vall.
Dari sinilah mereka mulai menjalani hidup masing masing tanpa berpikir akan menyelami rasa lagi seperti sebelumnya.
Hari hari mereka lalui seperti dulu di mana mereka masih remaja. Tinggal bersama, makan bersama di kampung sampah. Hanya saja saat ini Vall dalam keadaan setengah gila.
__ADS_1