
Jauh dari kampung sampah, tempat di mana Parlok berada.
Di kediaman Parlok, tidak sedikit anggotanya keluar masuk bawa kantong mayat. Beberapa yang masih hidup bahkan yang sudah sekarat langsung dibunuh di tempat. Tidak ada kesempatan ke dua buat anggota yang melakukan kesalahan di sini.
Tak jauh dari situ, ada kumpulan orang tertawa diiringi suara lagu dari beberapa wanita penghibur di samping kursi besar.
Tak lama, muncullah seorang pria berumur 50 an sedang berjalan dan duduk di kursi besar itu. Seketika semua orang terlihat terdiam dan senyap.
Tubuh pria itu tidak besar, dan tidak juga kecil. Tingginya sekitar 168 cm. Wajahnya biasa seperti orang tua pada umumnya. Tapi karismanya selalu membuat semua bawahannya tertunduk segan.
“ada kabar dari Rude?” tanya Parlok
Semua orang terdiam. Mereka tidak bisa berbuat apa apa karena Rude juga miliki beberapa anggota yang tidak sedikit. Kekuasaanya juga tidak jauh dari kekuasaan Parlok saat ini. Apapun yang membuat Rude berani menentang Parlok, itu karena daftar nama nama para bangsawan yang dia pegang. Selama kartel mendapat pengaruh mereka, keuangan kartel pun akan melonjak kuat terlebih uang adalah kunci kekuatan di dunia kriminal.
Saat semua terdiam tanpa jawaban, Parlok terlihat kesal, diambilnya sebuat shotgun. Semua orang gemetar takut, karena mereka tahu. Tiap kali parlok tidak puas dengan keinginanya, ia akan membunuh beberapa orang di depanya.
“pak lihat ini. Telpon dari Rude” kata seorang anggotanya buru buru menunjukkan ponsel.
Parlok pun mengambilnya dan sesaat telephone itu mati. Sebelum emosi Parlok memuncak, telephone berdering kembali, tapi dalam bentuk video call. Setelah parlok mengangkatnya, terlihat di layar telephone bukan Rude yang video call, tapi Lena. Dengan darah di wajahnya. Lena berbicara pada Parlok.
“selamatkan aku. Aku mendapatkan buku berisi daftar nama para bangsawan” kata Lena sambil menunjukan buku kecil itu ke kamera
“kau sedang bercanda?.”
Lena membuka lembar pertama buku itu memang berisi beberapa nama orang orang berpengaruh dikota ini. Tak hanya itu Parlok juga melihat jasad Rude yang telanjang didekat Lena membuat Parlok yakin dengan ucapan gadis ini.
Parlok pun mengangkat tangannya dan berteriak lantang.
“bergerak ke kampung sampah, bunuh semua anggota yang tidak patuh dan bawa buku kecil yang dibawa gadis ini padaku! Selebihnya terserah kalian!”
Semua orang pun berteriak beringas seperti prajurit yang sedang menuju peperangan.
Di dalam kamar Rude. Lena berusaha tenang. Meski dia sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi semua resiko, tetapi dia masih berusaha untuk tetap bisa hidup. Dia berharap anak buah Rude tidak tahu bahwa Rude sudah mati di kamarnya.
Lena berharap bantuan dari Parlok segera datang meski dia tidak yakin parlok akan menyelamatkannya karena tujuan Parlok hanya buku daftar.
Lena begitu nekat membunuh Rude karena dia berharap bisa membuat perubahan untuk hidupnya. Daftar nama yang dia pegang adalah tiket untuk masa depannya menjadi lebih baik. Setidaknya itu yang bisa dia perbuat saat ini.
Tak beberapa lama, suara pintu kamar di ketuk. Berkali kali seseorang memanggil Rude dari balik pintu. Merasa tidak ada jawaban, pintu seakan dibuka dengan paksa oleh beberapa orang.
Lena memakai yang telanjang bulat memakai kemeja Rude karena bajunya sudah robek. Terdengar beberapa letusan senjata api dihiasi beberapa teriakan orang sedang tawuran.
Lena mengintip dari jendala. Tampak anggota Parlok dan anggota Rude beradu golok. Karena jumlah anggota Parlok lebih banyak, beberapa dari mereka berhasil mendobrak dan masuk kamar Rude.
Lena berusaha memakan dan menelan lembaran lembaran buku daftar. Hidup matinya tergantung dari kenekatannya. Merasa susah untuk menelan lembar demi lembar, Lena teringat sisa kopi yang sempat dia minum.
Beberapa anggota Parlok sangat emosi. Seseorang menampar keras dan menjatuhkan Lena ke lantai dengan kasar.
“aku mengingat semua daftar namanya. Bawa aku ke Parlok. Jika aku mati disini, tak akan ada yang tahu nama nama di dalam daftar” ujar Lena.
Lena tampak berusaha untuk tegar dan lebih berani dalam bersikap. Beberapa orang yang mengelilinginya mulai menghubungi Parlok.
Mendengar perintah Parlok dari alat komunikasi, Lena pun akhirnya di gelandang keluar kamar.
...****************...
Tak jauh dari lokasi. Terlihat Vall berjalan menuju ke kampung sampah. Vall tidak berharap bisa menemukan Lena dikampung sampah. Karena dalam pikirannya, Lena akan sangat menderita jika berada bahkan mengingat masa masa kelam yang dihadapinya saat di kampung sampah.
__ADS_1
Vall menghentikan sejenak laju langkahnya saat dia melihat beberapa polisi mengamankan kampung itu seakan kampung itu sedang di gunakan untuk kepentingan tertentu.
Pandangan Vall pun beralih ke arah Bulan yang tengah berdiri di sebelah gerbang masuk kampung sampah. Bulan tampak sedikit gelisah.
“apa yang terjadi?” tanya Vall pada Bulan
Bulan enggan menceritakan. Dia tahu apa dan bagaimana reaksi Vall nantinya.
Beberapa gerombolan kartel Parlok keluar kampung sampah dengan wajah habis menikmati peperangan. Mereka terlihat beringas dan haus darah. Dan sesaat kemudian muncul beberapa mobil patroli membawa beberapa mayat.
Saat Vall mendengar ucapan seseorang yang mengatakan telah terjadi kekacauan antar anggota kartel, Vall berlari menuju gubuk Lena, meski dia berharap Lena ada di sana, tapi ia juga berharap Lena hilang dan tidak kembali ke gubuk itu lagi. Rasa khawatirnya pada Lena membuatnya berlari tanpa berpikir. Rasa rindu Vall bercampur dengan segala rasa khawatirnya.
Bulan menarik Lengan Vall. Ia tak ingin Vall terlihat kecewa lagi dengan apapun yang Lena alami. Bulan sadar bahwa selama ini. Perasaannya pada Vall selalu ia tutupi setiap mengingat mereka bertiga adalah sahabat. Tapi untuk saat ini, Bulan mulai melangkah lebih egois jika itu menyangkut rasa dihatinya.
“percayalah, tidak ada di sana. Lena tidak akan mungkin berada di gubuk itu” ujar Bulan
Bulan melihat Lena dibawa anggota Parlok masuk mobil. Saat itu pula Bulan memeluk Vall agar Vall tidak melihatnya.
Beberapa mobil meninggalkan tempat kejadian. Tampak Lena duduk di salah satu mobil yang melewati Vall dan Bulan. Bulan tampak meliriknya. Dalam hatinya ia khawatir akan Lena, tapi ia juga khawatir jika Vall melihatnya.
...****************...
Tubuh Lena yang hanya terbalut kemeja putih milik Rude, digiring ke ruangan besar tempat di mana Parlok dan anggotanya berkumpul.
Gadis itu digiring layaknya hewan. Di tarik rambutnya dan kadang diseret untuk segera menghadap Parlok. Lena berusaha untuk berjalan dengan benar, tapi seretan kuat yang dia terima membuatnya selalu terjatuh hingga kulit putihnya terlihat memerah.
Lena menatap tajam ke arah Parlok, dia sudah siap jika hari ini daging dagingnya akan membusuk sekalipun. Pandangan Lena beralih ke sekeliling yang hanya ada banyak binatang berdaging manusia meliriknya dengan penuh nafsu hina.
“benarkah yang kau bilang, kau mengingat semua nama di daftar itu?” tanya Parlok
Lena mengangguk. Tapi seseorang pria di sampingnya memukul kepalanya dengan keras. Membuat Lena tersungkur lagi di lantai. Parlok yang emosi karena anggotanya sendiri menyela pembicaraannya langsung menembakkan shootgun di kepalanya hingga darah dan beberapa organ kepalanya tercecer di lantai.
“aku berpikir untuk menyiksamu agar kau buka mulut. Tapi sepertinya kau merasa sudah siap dengan apa yang terjadi. Tatapanmu itu aku sangat mengetahuinya. Karena aku juga pernah merasakannya” ujar Parlok
“sebutkan berapa maumu, aku beli semua informasi itu dan kau bisa pulang dengan selamat sekaligus menikmati sisa hidupmu dengan banyak uang. Aku orang yang selalu menepati janjiku” lanjut Parlok.
“aku tidak butuh uang, kita hanya perlu kesepakatan” jawab Lena.
Mendengar semua jawaban Lena, Parlok terheran. Parlok sedikit berpikir, Apa yang membuat gadis ini begitu berani meminta kesepakatan dan menolak uang beserta nyawanya sendiri. Karena selama ini yang Parlok pahami, manusia itu sangat mengharapkan pengampunan dan kekayaan tiap kali berhadapan dengan kekejamannya.
“aku beri kesempatan lagi. Kau cukup sebutkan berapa uang yang kau minta”
“aku tidak butuh uang. Aku hanya butuh kehidupan yang layak. Aku akan mengikat para bangsawan dan menggiring mereka untuk jadi peliharaanmu” jawab Lena tegas.
Parlok pun berfikir, mungkin gadis di hadapannya bisa di manfaatkan. Jika pun rencana gagal, hanya gadis ini yang akan jadi tumbal hukum di negara ini mengingat para bangsawan juga memiliki perlindungan ketat dari para aparat penegak hukum.
Sekalipun Parlok hampir menguasai seluruh kota, dia tidak bisa terus terusan membunuh karena semua yang di belakangnya tidak akan bisa selamanya untuk menutupi kejahatannya.
“lanjutkan” tutur Parlok
“sesuai permintaanku, beri aku kampung sampah, biarkan aku hidup semauku disitu tanpa gangguan anggotamu. Sebagai gantinya, kau tidak hanya mendapatkan para nama bangsawan negeri ini, tapi juga mengendalikan mereka.”
“dengan apa kau menundukkan mereka?” tanya Parlok
“seperti halnya Rude” jawab Lena sembari menaikkan kemejanya yang agak besar ke atas hingga terlihat organ intimnya yang tidak tertutup sehelai benangpun. “dengan beberapa bantuan obat obatan darimu tentunya” lanjut Lena.
Semua orang yang melihat keberanian Lena tampak berusaha menahan tawa. Beberapa dari mereka mulai lebih memperhatikan tubuh indah Lena yang sengaja dipertontonkan.
__ADS_1
Setelah berpikir agak lama, Parlok pun berdiri. Dan mendekati Lena. Pria tua itu juga menaruh harapan yang tinggi karena tubuh dan paras Lena juga tidak main main. Sangat bisa diandalkan.
“tentunya aku juga ada syarat yang harus kau penuhi agar kau tidak bisa kabur dari tugas dan janjimu” kata Parlok
Seketika seseorang pria tua berbaju putih dan agak botak sedikit menghampiri Parlok dan Lena. Dia membuka koper pendingin berisi cairan dan suntikan. Lena pun paham apa yang Parlok maksud. Dia pun memberikan lenganya untuk disuntikkan obat obatan terlarang.
“kau hanya bisa mendapatkan obat ini pada dokter Han.” Tunjuk Parlok ke arah pria tua di sampingnya.
Dan dokter Han pun menyuntikannya ke lengan Lena. Lena berusaha memejamkan matanya, tapi ekspresinya berubah saat cairan terlarang itu masuk ke pembuluh darahnya.
Tampak terlihat wajah sedikit kepuasan pada Lena. Dan sesaat kemudian, Lena pun terjatuh ke lantai. Beberapa pria yang melihatnya tak tahan dan salah seorang berusaha mengambil tubuhnya, saat itu pula Parlok menembak 3x kepalanya.
“kalian dengar tadi? Kampung sampah mulai sekarang miliknya. Siapapun yang mengusiknya, akan membayarnya dengan nyawa” ucap Parlok
Semua orangpun terdiam dan merasa tidak puas. Tapi mereka terpaksa harus mematuhi setiap perintah Parlok.
Beberapa wanita penghibur mulai membawa Lena pergi meninggalkan ruangan. Lena mulai di bersihkan dan dipoles dengan berbagai macam alat alat kecantikan. Mulai dari sini, Lena menjadi kaki tangan kartel Parlok. Tugasnya mulai hari ini adalah merayu dan memperbudak para bangsawan dengan obat obatan dari dokter Han untuk kepentingan dan keuntungan Parlok.
...****************...
Di tempat lain, tempat tinggal Vall yang baru.
Bulan memasak beberapa hidangan untuk Vall. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang, Bulan mencoba untuk memberi sedikit perhatian pada Vall.
Bagi Bulan, mungkin ini adalah kesempatan bagus untuk mendekati Vall.
“pulanglah, sopir mu menunggu dari tadi” kata Vall
Bulan nampak tidak peduli, dia membawa sepiring nasi goreng dengan toping beberapa potong udang. Bulan sangat paham kesukaan Vall adalah udang.
“aku akan segera pulang setelah kau menghabiskannya” perintah Bulan.
Vall dengan terpaksa memakannya. Sekalipun dia memang merasa lapar, Vall tetap kesusahan untuk melahapnya.
Segala yang dipikirannya hanya ada Lena sekalipun saat ini ada Bulan di duduk di depan dengan senyum manis bibir mungilnya yang seperti buah cerry.
Vall mengunyah makanannya dengan menatap Bulan. Beberapa kali mereka saling beradu tatapan. Tatapan tatapan hangat yang saling mencoba meraba apa yang ada dihati masing masing.
“aku mendengar kau akan segera di jodohkan”
Bulan mulai memalingkan wajahnya. Dia merasa tidak nyaman saat Vall mengetahui kehidupannya.
“bawa aku pergi dari kota ini” ucap Bulan
Vall yang mendengarnya pun sedikit terkejut. Vall mencoba membaca hati Bulan lebih dalam lagi saat mereka saling bertatap muka.
“kau bisa membuatku jadi buronan orang tuamu” keluh Vall sambil memakan sesuap nasinya.
Bulan memaksakan sedikit tawa dan senyumnya. Sesaat kemudian Bulan mengambil tasnya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan. Sebelum Bulan membuka pintu, dia mencoba untuk mengatakan sesuatu.
“seekor burung Finch di sangkar yang selalu diguyur paksa dengan air dingin tiap pagi, di suruh memakan berbagai ulat dan belatung dari jasad yang sangat busuk. Busuk sekali bahkan sampai membuat mual tiap kali melihatnya. Padahal semua tahu itu burung pemakan biji bijian. Tidakkah kau menyukainya? Burung itu sangat indah dan lucu jika kamu taruh di sini. Dia pasti bisa beradaptasi dengan baik.” Ucap Bulan.
Tanpa memperhatikan Vall, Bulan sangat yakin Vall diam dan tidak menanggapinya. Bulan pun menutup pintu rumah Vall dan pergi meninggalkannya.
Vall mengangkat piring kosongnya dan menaruhnya di tempat cucian. Dia sedikit menunduk dan mulai menyalakan keran air.
Matanya mulai sedikit memerah. Nafasnya juga mulai tidak beraturan. Hati prianya mencoba untuk lebih berusaha menguatkan diri.
__ADS_1
“bahkan aku tidak bisa menjaga Lena, bagaimana mungkin aku bisa mengeluarkanmu dari keluarga bangsawan?” ucap Vall pelan diiringi suara air keran yang terus menerus mengucur.
Di dalam mobil, Bulan terdengar terisak samar samar. Sang sopir yang mengetahuinya pun tidak berani bertanya, hanya bisa membesarkan volume musik lebih keras agar anak majikannya bisa dengan lebih leluasa menangis.