
Ini adalah sejarah dan kisah yang selalu di ceritakan oleh para leluhur sekte Milky Way. Dahulu kala, ada sebuah logam misterius jatuh ke permukaan bumi. Logam mistik berwarna hitam yang mereka sebut adamantiant ini mampu memberikan sihir dan teknologi baru pada manusia. Mereka yang tidak siap akan hadirnya kemajuan teknologi dan sihir, mulai berperang satu sama lain. Semua negara mulai saling berperang untuk mendapatkan logam mistik tersebut.
Ada sebuah negara yang diberi nama Tarantis. Negara paling berkuasa dan makmur dari negara lainnya. Selain memiliki lebih banyak logam Adamantiant, negara tersebut memang memiliki banyak ilmuwan gila yang lebih mempunyai kemampuan memanfaatkan Adamantiant dari pada negara negara lain.
Seorang resi yang sedang bertapa memilih meninggalkan pertapaannya dan berkelana menuju negara Tarantis. Di perjalanannya, sang resi yang dipanggil maha guru agung itu memiliki sebuah impian untuk membawa dan mencari tempat yang layak untuk mereka para korban perang. Tempat yang selalu dia sebut sebagai Milky Way itu akan dia ciptakan di Tarantis nantinya.
Dalam perjalanannya, sang maha guru menyadari bahwa kondisi bumi yang terlalu rusak parah akibat perang dunia membuat mereka yang mengikutinya satu persatu mati karena penyakit. Dari sinilah dia selalu meninggalkan salah satu muridnya untuk membentuk sebuah koloni dibeberapa wilayah yang dia kuasai.
Mereka yang ditinggalkan sang maha guru agung mendirikan Milky Way versi mereka sendiri dan menunggu janji sang maha guru. Sang maha guru berjanji kepada mereka yang ditinggalkan bahwa suatu hari nanti, mereka akan dijemput ke tanah impiannya. Yaitu tanah Milky Way.
Dalam perjalanannya, sang maha guru juga memiliki beberapa bawahan yang menentang. Mereka yang tidak puas dan menganggap impian maha guru hanyalah omong kosong lebih memilih memisahkan diri.
Beberapa kelompok yang memisahkan diri tersebut memiliki pemikiran menyimpang. Mereka berpikir bahwa manusia yang seharusnya mati, tidak perlu diselamatkan. Karena itu bisa mempengaruhi jalan hidup orang lain juga. Karena merasa jijik dengan pola pikir maha guru, mereka pun menciptakan sendiri sekte khusus yang diberi nama RIP. Sekte yang menganggap kematian adalah salah satu proses penting dari jalannya kehidupan.
Ratusan tahun RIP memburu para Milky Way yang dianggap merusak takdir. Maha guru yang mengetahui itupun mulai memberikan bekal kepada setiap koloni yang dia tinggalkan berupa ilmu maupun jimat kuno.
Ratusan tahun, bahkan ribuan tahun berlalu. Tidak ada kabar tentang maha guru agung. Yang mereka tahu hanya kabar bahwa negara Tarantis hilang dalam semalam setelah muncul mata di langit negara tersebut.
Suatu ketika, mulai banyak bermunculan ramalan dari para tetua Milk Way bahwa sang maha guru akan kembali suatu hari nanti. Beberapa dari mereka juga meramalkan bahwa tanda tanda kebangkitannya ada 4 peristiwa. Munculnya penduduk Tarantis, turunnya para manusia dari langit, dan. . .
“dan apa?” tanya Juli
Seorang wanita dukun yang berdiri dengan tongkat kayunya. Dukun itu adalah ibu Juli yang bernama Suri. Ini adalah masa ditahun 2003. Diaman Juli masih berusia 15 tahun.
Tampak dukun buta itu mengarahkan tongkatnya ke arah Juli.
“aku mungkin salah, dan kedatangan kita kemari adalah untuk memastikan bahwa apa yang ada didirimu ini adalah peristiwa nomor 3 kebangkitan maha guru”
“apakah aku juga akan mendapat bagian dari takdir?” tanya seorang gadis muda bernama Yuli
Tampang gadis muda itu identik dengan Juli. Mereka adalah saudara kembar. Dukun tua itu pun menggandeng kedua darah dagingnya berjalan lagi menyusuri hutan. Mereka berjalan cukup lama di dalam hutan. Meski Suri adalah wanita buta, dia tahu persis setiap apa yang ada di hadapannya menggunakan nalurinya.
Merasa seperti berputar tanpa arah di dalam hutan, Suri pun menyuruh kedua anaknya untuk menjauh sejenak. Di angkat dan di ketukannya tongkat kayu di tangan ke tanah 7x
“wahai mitra , kula Suri kanca lawasipun panjenengan. Menapa kersanipun kula manggihi panjenengan”
Suara Suri terdengar menggema tetapi halus di seluruh hutan. Tidak lama kemudian, terdengar suara para burung berhamburan. Pepohonanpun terlihat bergoyang. Beberapa kabut pun mulai menyelimuti tempat mereka berada. Waktu yang harusnya menunjukkan jam 11 pagi itu terlihat gelap seperti malam hari.
“masuklah” jawab seorang wanita entah darimana.
Suri pun melangkahkan kakinya di antara kabut kabut tebal yang membungkus mereka. Lama sekali mereka berjalan di antara kabut. Bahkan terlihat Juli dan Yuli yang seperti kelelahan berjalan.
Setelah beberapa waktu mereka berjalan, tampak sebuah gapura mulai terlihat di ujung pandangan mereka. Yuli saudara perempuan Juli tampak berjalan lebih cepat dan mendahului mereka berdua.
Begitu mereka melewati gapura, tampaklah pemandangan yang sangat indah. Sawah sawah yang luas. Pepohonan yang tinggi dan rindang. Lengkap dengan anak sungai yang mengairi seluruh pertanian. Tampak pula dikejauhan sebuah desa kecil yang di kelilingi beberapa anak sungai. Tepat di sebuah danau, terlihat pula beberapa candi besar yang menjulang tinggi setinggi 100 meter lebih.
Mereka bertiga pun berjalan melewati sebuah tanda “sugeng rawuh wonten Milky Way” yang berarti selamat datang di Milky Way.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, mereka bertiga memasuki desa. Banyak penduduk desa yang tengah mengolah hasil panen mereka dengan gembira. Terlihat pula seorang pria yang memainkan musik gamelan di teras sebuah rumah kayu.
Tidak seperti rumah rumah dikota, desa ini terlihat seperti desa kuno yang terasing dari peradaban dunia saat ini. Beberapa anak kecil juga terlihat berlarian dan hampir menabrak Suri.
Juli melihat seorang pemuda berusia 20 tahun yang bernama Gin tengah dilempar batu kecil dan di teriaki anak anak desa.
“hai manungsa saka langit. bisa mabur ora? age-age tinggalake desa iki karo sayapmu”
Suri yang memimpin jalan untuk kedua anaknya pun menghentikan langkahnya. Kedua tangannya seperti menghalangi kedua anaknya untuk melangkah.
“berhenti dan diam. Jangan bergerak. Dengarkan aku, apapun yang terjadi padaku, jangan lakukan apapun. Mengerti?!”
Mendengar ucapan ibunya yang terlihat serius, mereka pun langsung mengangguk. Di saat itulah Juli menyadari bahwa di atas kepala mereka bertiga terdapat 3 keris yang melayang dan siap menusuk otak otak mereka.
“wanine sekte rip teka nglangkahake sikile mrene” ucap seorang pria yang artinya “beraninya sekte RIP datang menginjakkan kakinya ke sini”
Suri yang tampak menyatukan telapak tangannya itupun dianggap seperti mau mengeluarkan mantra. Tanpa banyak bicara, keris di atas kepala Suri pun langsung menghunjam ke kepalanya.
Juli dan Yuli yang terkejutpun merasa terbakar amarah. Sekalipun mereka emosi, tetapi mereka ingat perintah ibunya sebelumnya untuk tidak melakukan apapun. Tubuh Suri pun terjatuh layaknya orang mati ke tanah. Juli dan Yuli tampak menundukkan wajahnya menahan amarah.
Tidak beberapa lama, Suri pun bangkit dan mencabut keris di kepalanya. Membuat pria di depannya ketakutan seketika.
“pancasona?!” ucap pria tersebut
Beberapa kawanan pria itupun mulai berdatangan. Meraka muncul dari balik bangunan, ada yang melompat dari atas pepohonan. Lengkap dengan keris di atas tubuh mereka siap menghadapi Suri.
Widyari menjelaskan bahwa mereka bertiga adalah sahabat dan Widyari sendirilah yang membukakan jalan menuju desa ini. Terlihat beberapa pria itu sedikit kecewa karena ini pertama kalinya ada RIP yang memasuki desa ini.
“aku sempat terkejut mendengarmu tadi, kenapa kau kesini?” tanya Widyari
“ini mendesak, aku memiliki sepenggal penglihatan tentang kebangkitan sang maha guru agung” jawab Suri
Seketika ada perubahan di wajah Widyari saat mendengar tentang kebangkitan maha guru agung. Belum selesai Widayri terkejut, seseorang wanita tengah melaju dengan mengendarai kuda.
“Eri!! Eri berjalan di alam bawah sadarnya lagi menuju kuil penyegelan!” ucap wanita itu dengan sangat cemas.
Widyari pun langsung mengambil kudanya dan pergi meninggalkan sahabatnya. Tampak terlihat rasa ketakutannya saat terjadi sesuatu pada putrinya.
“ikutlah denganku, aku butuh bantuanmu sekarang. Untuk para tetua dan penjaga Milky Way, berikanlah jalan menuju kuil penyegelan untuk sahabatku” ucap Widyari terdengar menggema di atas kepala mereka sekalipun dia sudah berada sangat jauh.
Di sebuah kuil penyegelan, tampak gadis kecil berusia 10 tahun yang bernama Eri(Lena pada masa kecil) berjalan menuju sebuah kuil. Pintu gerbang yang di kunci rapat pun tampak seperti terbuka dengan sendirinya. Aroma hangus seperti menyebar ke segala arah. Eri berjalan dengan mata terpejam. Dia merasa terpanggil oleh sesuatu yang mengerikan di dalam kuil.
Kaki kaki kecil Eri menginjak beberapa sesajen di sekitar jalan menuju kuil.
“eri berhenti!”
Widyari yang memasuki gerbang kuil menggunakan kudanya langsung melompat dan memeluk putrinya. Dia berusaha memastikan bahwa tidak terjadi apa apa pada putrinya. Di tempelkan lah dahinya ke dahi putrinya. Dengan memejamkan mata dan membisikkan sebuah mantra, seketika Eri langsung membuka matanya dan berteriak ketakutan.
__ADS_1
“tidak apa apa, ibu disini. Jangan takut” ucap Widyari memeluk putri kecilnya yang gemetaran merasakan rasa takut yang luar biasa.
Tubuh Eri dipelukan ibunya pun mendadak terasa sangat panas. Disusul dengan semua sesajen yang berhamburan seperti sedang di endang oleh sesuatu yang tidak terlihat. Widyari dengan kemampuan suaranya yang menggema jarak jauh, langsung memanggil para tetua Milky Way.
Para tetua yang bertapa dibeberapa candi, langsung bergegas saat mendengar pesan Widyari. Mereka tampak berjalan pelan, tetapi langkahnya begitu jauh seperti sedang teleportasi dalam setiap detik. Seorang tetua yang datang lebih dulu melihat Eri tengah di sedot masuk ke kuil. Gerakan cepat tetua tersebut seperti terlihat menggapai tubuh kecil Eri, namun ternyata kecepatan gerakannya tidak sebanding dengan hal mistis yang memaksa menelan Eri dari dalam kuil.
Tampak Widyari berteriak histeris melihat putri kecil kesayangannya tertelan bangunan tua itu.
“aku tidak menyangka sekte Milky Way menyimpan api Brajamusti selama ini tanpa ada yang mengetahuinya” ucap Suri yang datang ke kuil bersama kedua anaknya. Para tetua yang menyadari kedatangan Suri pun terlihat bersiap dan memasang muka siaga.
“tolong putriku!” pinta Widyari
Suri pun mengetukan tongkatnya dan membaca mantra pemanggil Buto ijo. Dengan seketika langit langit terlihat gelap dan beberapa petir menyambar. Muncullah sesosok makhluk berbulu lebat yang memeluk pohon tepat di belakang kuil. Mahkluk itu menyerupai monster bergigi panjang dan mata merah menyala. Suara dengkurnya menggetarkan hati dan membuat bulu kuduk semua orang yang melihatnya berdiri.
Badan buto ijo yang memeluk pohon itupun mulai membesar hingga 2x besarnya kuil. Tubuhnya yang berbulu langsung melompat turun dan memeluk kuil hingga udara panas yang berhembus mulai tertahan di badannya. Tampak raungan kesakitan buto ijo menjelaskan betapa dasyat dan berbahayanya api Brajamusti itu.
Tangan kiri buto ijo mulai merogoh masuk ke dalam kuil. Meskipun boto ijo itu terlihat tersiksa panasnya pancaran api Brajamusti, tetapi buto ijo itu nampak tidak mempedulikannya. Dia cukup patuh dengan perintah Suri meskipun harus menghanguskan dirinya sendiri.
Wajah lega dan tawa bahagia para tetua tersiratkan saat meliat tangan besar buto ijo mengeluarkan Eri dari bangunan kuil. Seketika itu juga buto ijo meletakkan tubuh kecil Eri di hadapan Widyari dengan tangan besarnya yang hangus terbakar.
Widyari langsung memeluk putrinya. Dan membawanya pergi menjauh dari kuil. Para tetua pun langsung duduk bersila di sekeliling kuil membacakan mantra.
Suri yang melihat kuil di mana api Brajamusti berada, langsung menunjukkan jari telunjuknya.
“Juli, ingatlah. Ibu pernah mendapat penglihatan tentang api yang ada di dalam sana dengan sesuatu yang ada di tubuhmu. Suatu hari nanti, kembalilah kesini jika kau mendapatkan jalan buntu akan masalahmu. Ibu melihat kau tidak sendiri berdiri di depan kuil ini nantinya”
Widyari membawa putrinya yang terkulai tak sadarkan diri memasuki keraton. Beberapa pelayan tampak sibuk mempersiapkan ranjang kayu dan beberapa selimut untuk putri pemimpinnya.
Suri yang dipersilahkan untuk memasuki ruangan pun langsung mengatakan pada sahabatnya tentang tujuannya kemari. Dia menceritakan tentang beberapa penglihatannya tentang masa depan. Semua yang dia lihat juga memiliki hubungan erat antara anaknya dan anak dari Widyari ini sendiri.
“kau lebih mengetahui soal ramalan kebangkitan maha guru agung coba pastikan, apakah yang ada di dalam tubuh putaku ini adalah bagian dari kebangkitannya?”
Dengan wajah cemas, Widyari memeriksa kebenaran yang ada di diri Juli. Tamaklah wajah pucat widyari saat menyentuh Juli. Beberapa otot dan tubuhnya seperti melemah. Buru buru widyari langsung menjauhinya. Rasa khawatirnya semakin membesar saat menyadari apa yang dikatakan Suri adalah sebuah kenyataan.
“sebenarnya apa yang ada di diriku ini?” tanya Juli
“ada kesalahan dalam penafsiran para leluhur soal kebangkitan maha guru agung. Dulu saat resi itu menguasai negara Tarantis, dia tidak memiliki lagi keinginan untuk kembali menjemput para koloninya. Dia semakin memahami bahwa apa yang terjadi pada manusia itu tidaklah sesederhana yang dia pikirkan sebelumnya. Maka, timbullah keinginan buruk dari resi itu untuk memusnahkan seluruh umat manusia. Mengenai kematian dan hilangnya negara Tarantis, tidak ada yang mengetahuinya secara detail. Dan soal kebangkitannya adalah point ke 3 itu sendiri. Munculnya waringin sunsang yang diyakini sebagai wadah atau reinkarnasi dari maha guru agung”
Mendengar penjelasan Widyari, Suri pun mulai khawatir. Ternyata tidak seperti yang dia pikirkan selama ini. Padahal dia berharap sekte RIP dan Milky Way akan bisa disatukan lagi saat mengetahui putranya adalah reinkarnasi dari maha guru agung. Terlebih lagi, Suri terlihat cemas saat merasakan gejolak emosi yang meningkat ada pada Widyari. Suri yakin bahwa Widyari sangat tidak menginginkan hadirnya seseorang yang memiliki waringin sunsang.
“maaf, aku benar benar minta maaf. Putramu harus mati” ucap Widyari
Suri yang mendengar ucapan sahabatnya ini hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memohon.
"jangan lakukan ini"
__ADS_1