Milky Way : VALLENA

Milky Way : VALLENA
Bab 14 : AnaNina


__ADS_3

Tepat pukul 3 pagi, Nina keluar rumah dengan membawa dua kantong besar di tangan tangan kecilnya. Tampak dari cara dia berjalan, menjelaskan bahwa kantong berisi beberapa makanan itu terasa sangat berat untuk dia.


Beberapa rumah yang dia lewati di kampung sampah selalu dia bagi beberapa bungkusan kecil. Meski masih berusia 16 tahun, Nina terlihat lebih memiliki sifat kebaikan dibanding beberapa penduduk sekitarnya. Di saat yang lain mabuk mabuk kan di malam hari, Nina selalu menyempatkan diri untuk memasak dan membagikannya diam diam ke beberapa penduduk setempat.


Saat melewati jalan pinggir sungai, Nina berusaha mencari Vall yang biasa dia dapati sedang beraktivitas tidak jauh dari seberang sungai. Hingga senyum manisnya terlihat melebar saat melihat Vall dari kejauhan. Nina bersiul dan melambaikan tangannya ke arah Vall.


Beberapa kue nanas yang Nina bawa, segera di berikan kepada pria di hadapannya. Vall yang berusaha untuk mengatur nafasnya yang kelelahan sedikit tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka bahwa ternyata masih ada anak yang begitu perhatian pada dirinya dan juga kepada Lena di saat orang semua orang kampung mengucilkan mereka.


“izinkan aku ikut pulang ke rumah Lena. Aku punya sisa ikan dan beberapa makanan laut untuk ku masak pagi ini” pinta Nina pada Vall.


“kau bisa keluar masuk semaumu di rumah itu. Tidak akan ada yang melarangmu.” Jawab Vall


“tidak baik masuk rumah orang tanpa sepengetahuan. Karena itulah aku selalu menunggumu di pagi hari disini”


Nina tampak begitu ceria berjalan mengikuti di belakang Vall. Tampak kaki kecilnya berusaha mengimbangi langkah panjang Vall. Nina pun terkejut saat tubuh kecilnya menabrak punggung Vall. Vall yang terlihat sedikit merenung pun membalikkan badannya dan menatap ke arah Nina


“10 tahun lalu, semenjak kejadian di kamarku, apakah pernah terjadi lagi hal serupa?” tanya Vall


Nina yang mendengar pertanyaan Vall sedikit gugup dan bingung untuk menjawabnya. Semua hal tentang keluarganya hanya mereka bertiga yang mengetahuinya. Bahkan sejak Nina kecilpun sudah terbiasa dan pandai untuk menyembunyikan sesuatu tentang keluarganya.


Vall mulai membelai kepala Nina seperti mengagumi seorang anak kecil.


“selama kalian baik baik saja, itu sudah cukup. Aku hanya sedikit takut jika itu membawamu dalam sebuah masalah”


Ucapan Vall langsung di balas senyum manis oleh Nina. Beberapa barang di tangan Nina pun langsung diambil oleh Vall. Terlihat beberapa sayuran dan sepotong ikan besar tampak terjulur keluar kantong.


Di rumah Lena, tampak Nina dengan senang mencuci dan membersihkan beberapa bagian dapur yang terlihat kotor. Tiba tiba, tubuh mungil Nina pun dipeluk oleh Lena dari belakang. Lena yang setengah sadar dari tidurnya merangkul dan menaruh kepalanya di pundak Nina.


“Nina, jadilah putriku walau untuk sesaat. Aku juga ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu” ucap Lena lirih.


Vall dan Nina yang mendengar itupun terdiam. Mereka seperti merasakan bahwa Lena sedang putus asa walau hanya dari beberapa patah kata bibirnya.


“aku akan mewariskan semua hartaku padamu kelak. Aku juga akan mewariskan patung itu padamu” lanjut Lena sambil menunjuk ke arah Vall.


Seperti biasa, Nina hanya tersenyum manis pada mereka yang berada di sekitarnya. senyum itu yang selalu Nina gunakan untuk lebih dekat kepada siapapun selama ibu dan kakaknya menjauhkan diri dari sekitar. Nina berharap, suatu hari nanti, akan ada orang yang bisa menerima mereka bertiga layaknya manusia normal.


 


******


 


Di pagi hari, Nina yang berseragam sekolah duduk  di depan meja makan. Dengan tiga mangkuk nasi hangat yang sudah dia siapkan di meja lengkap dengan masakan yang dia masak di rumah Lena pagi tadi, Nina berharap ibu dan kakaknya mau duduk bersama bercanda di pagi hari layaknya sebuah keluarga.


Sejenak dia melihat ibunya yang duduk di jendela dengan segelas teh hangat di tangannya. Pandangannya beralih pada kakaknya ANA yang mengikat tali sepatunya. Tanpa bicara apapun, ana pergi meninggalkan rumah.


Nina pun menarik nafas kekecewaan. Hari ini sama seperti hari hari sebelumnya. Tiada kehangatan sebuah keluarga.


“semoga hari esok jauh lebih baik” ucap Nina pelan.


 Nina pun berangkat ke sekolah mengikuti Ana setelah mengucap salam pada ibunya. Lyra melihat ke dua putrinya yang berjalan meninggalkan halaman rumah dari jendela. Dia mengangkat gelasnya ke langit dan mengucapkan hal yang sama.


“yah, semoga hari esok jauh lebih baik”


 Nina berjalan 10 meter di belakang Ana. Meski bersaudara, hubungan mereka tidak sebaik keluarga pada umumnya. Meski ingin, Nina tak punya keberanian untuk bertegur sapa dengan Ana. Nina anak yang baik dan lembut. Sebaliknya, Ana jauh lebih dingin dan kasar pada siapapun.


Dua minggu telah Ana habiskan waktunya di bawah pohon dekat sungai dari pada pergi ke sekolah. Timbullah sedikit keberanian Nina untuk menegurnya.


 “ kau tak boleh seperti ini terus”


 Ucapan Nina terdengar seperti angin berlalu di telinga Ana. Ana rebahkan tubuhnya di rumput bawah pohon.

__ADS_1


“ kalau ibu tau, hanya akan menjadi keributan lagi”


 “ pergi saja kau!” sela Ana


 “ aku tak mau kau ribut lagi sama ibu”


Nina menarik lengan Ana. Ana yang marah, menarik Nina keras keras. Nina terjatuh di rumput dengan keras. Ana pun duduk di tubuhnya. Dia cengkeram leher Nina kuat kuat dengan kedua tangannya membuat Nina kesulitan bernafas. Bahkan Nina berusaha meraih sesuatu untuk menyelamatkan diri. Tapi tidak ada apapun di sekelilingnya. Hanya ada rerumputan.


“kenapa aku begitu muak setiap melihat dan mendengar semua ucapanmu?. Aku pikir, mungkin karena aku iri denganmu. Kenapa ibu begitu menyayangimu tapi tidak kepadaku?. Bila kesempatan memihakku, akan ku hapus dirimu dari muka dan ingatanku” ancam Ana pada adiknya kembarnya.


Ana melepaskan Nina hingga membuat Nina terbatuk dan berusaha mengambil nafasnya dengan normal. Nina pun berdiri dengan setengah menangis.


“sesukamu saja” ucap Nina.


Nina mengambil bungkusan nasi yang sudah dia siapkan di tasnya. Dan diletakannya di atas tas Ana. Berharap kakaknya ini tidak lupa untuk makan.  Begitu Nina menjauh pergi, dilemparkannya bungkusan tersebut ke kepala Nina.


“ sebenarnya aku lebih suka melempar pisau ke wajahmu dari pada sampah itu!!”


 


 * * * * *


 


Suara burung burung pagi hari terdengar setia menemani Ana yang tiduran di bawah pohon pinggir sungai tempat di mana Vall biasa menghabiskan waktu.


Terlihatlah Ana yang melamun dengan pisau cutter yang dia mainkan di tangannya. Sekilas terlihat sedikit senyum manis di rautnya saat menatap burung burung lantunkan indahnya nyanyian nyanyian pagi hari. Kesunyian dan kedamaian dihati Ana lenyap begitu seorang laki laki bermotor mendekati Ana. Bukanya motor dimatikan, laki laki tersebut malah memainkan suara bising motornya. Dengan langkah yang dibuat buat, dia mendekati Ana dan merebahkan tubuhnya didekat Ana berbaring.


“hari ini benar benar menyenangkan. Keberuntungan telah berpihak padaku.” Kata laki laki dengan menatap Ana Di sampingnya. “bersyukurlah, karena aku akan membawamu, dampingi hari hari bahagiaku.”


“kau ada waktu 15 detik untuk menjauhiku.”


 “kalo aku menolak??”


 Dengan tertawa laki laki tersebut. Merangkak di atas tubuh Ana yang masih terlentang di rumput.


 “ucapanmu kasar sekali. Kau tak . . ..”


Ucapan lelaki tersebut terhenti ketika ujung pisau cutter Ana masuk di bibirnya. Tanpa ragu ragu, Ana merobeknya selebar 5 cm. rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya teriak. Ditutupinya bibirnya yang penuh darah dengan kedua tangannya.


Melihat lelaki tersebut kesakitan, Ana semakin liar. Pisau cutter nya pun siap dia hunjamkan ke mata. Tapi, seorang pria memegang pergelangan tangan Ana dari belakang.


“ kau benar benar mirip ibumu, sangat menakutkan” ucap pria itu.


Tampak dari jauh terlihat Vall yang memperhatikan mereka. Tatapan Vall mengarah ke pria di samping Ana. Pria tersebut belum pernah Vall lihat sebelumnya di kampung sampah ini. Wajah pria asing itu bagai seorang pangeran tampan. Tubuhnya tinggi dan terbalut banyak kain bercorak tulisan aneh. Di punggungnya ada sebilah tongkat berwarna putih seperti tulang hewan.


Mengetahui Vall melihatnya, pria itupun sedikit membungkuk dan tersenyum ramah.


“aku teman ibunya” ucap pria itu pada Vall


* * *


Malam hari. Di rumah. Ana terlihat tengah menonton TV. Tak jauh darinya, pria yang mengenalkan dirinya tadi sebagai teman Lyra terlihat bersandarkan dinding.


 “ kenapa paman lebih suka berdiri?” tanya Nina


 “kenapa ya? Ah mungkin karena aku ini memang seorang penjaga. Yang hanya duduk kalau ibumu yang perintahkan”


 Nina mengangguk paham. Pandangannya pun beralih pada benda seperti tulang sepanjang 1 meter di punggung pria tersebut. Benda yang terlilit beberapa helai kain yang bertuliskan huruf aneh seperti mantra kuno.


“kenapa paman selalu membawa benda ini, setiap paman kemari?”

__ADS_1


 “ini?ini harga diriku”


 “harga diri?”


 “benar, harga diri seorang lelaki.”


Nina memandangi pria di hadapannya dengan wajah bingung.


“aku punya sedikit dongeng untukmu, di dunia ini, ada Negara tersembunyi. Bisa dibilang negara ini sebetulnya terlupakan oleh manusia seiring dengan berjalannya waktu. Sebuah Negara di mana rakyatnya khususnya para lelaki, mengangkat tinggi yang namanya harga Diri. Perang tanpa alasan sering terjadi. Hingga terpecahlah negara tersebut menjadi dua bagian. Sebuah perjanjian konyol pun terbuat. Ke dua bagian mengadakan perang setiap tahunya. Peperangan yang terjadi di kota mati. Kota para leluhur dan Kota yang menghubungkan ke dua bagian Negara. Hampir semua lelaki meninggalkan keluarganya untuk berperang. Sebab, mereka yang mati di medan perang, akan dihormati sebagai pahlawan. Dan yang pulang dengan selamat, akan mendapat gelar ksatria di kerajaan. Dan di hadiahi batu mistik yang mereka sebut Adamantiant”


 “ paman dari Negara tersebut?”


 “. . . ”


“apakah paman berasal dari Negara yang paman maksud?” tanya Nina


“bukan. aku hanya lelaki yang tergila gila dengan cerita tersebut,”


 


***


 


Suara mobil Lyra terdengar memasuki halaman rumah. Setelah menyelesaikan masalah dari perbuatan Ana, Lyra pulang dengan penuh kekesalan. Lyra yang kesal mematikan TV yang dilihat Ana.


“ini sudah keterlaluan! Mau sampai kapan aku harus mencari tempat tinggal baru jika kau selalu membuat masalah. Kita bisa lebih tenang saat tinggal di kampung ini.” kata Lyra


 Tanpa rasa ragu dan mempedulikan ocehan ibunya, Ana menyalakan TV nya lagi dengan remote. Lyra pun mematikan TV untuk kedua kalinya. Tapi Ana menyalakan lagi dan membesarkan volumenya dengan maksud untuk menyamarkan kata kata ibunya. Kekesalan yang memuncak, membuat Lyra menghempaskan TV 50 inci tersebut ke lantai.


“ucapkan penyesalanmu, diam mu seperti bukti bahwa kau anak cacat” maki Lyra pada Ana


 Terlihat jelas di wajah Nina yang sedih. Dia yang paling benci mendengar ibu dan kakaknya bertengkar. Sekeras apapun dia berusaha untuk menyatukan keluarganya, semua itu sia sia. Baik Ana dan ibunya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk lebih akur.


“kalau kau tak suka, pergi ke kamarmu. Tutup rapat pintu dan telingamu. Besok pagi, kau akan menganggap semua ini hanya mimpi.” Sara paman ke Nina


“sudah jam 9 malam” ucap Ana  “kau tak mau melewatkan malam kencanmu karena anak cacat ini kan?” lanjutnya


Tanpa peringatan, Lyra menampar keras wajah Ana. Membuat Nina memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup jika melihat kekerasan apalagi ini terjadi pada kakak dan ibunya sendiri.


“jika nanti bercumbu dengan hidung belang, aku sarankan, jangan buat kesalahan lagi. Aku tak mau ada anak cacat sepertiku yang akan kau pukuli kelak hari.”


Ucapan Ana membuat semua terdiam. Terlebih lagi Lyra, dia terlihat sangat sedih.


“kau tahu apa itu RASA SAKIT?“ Tanya Lyra “ajaran paling berharga untuk mereka yang merasa hidup! Dan kau harus tahu, seperti apa KESAKITAN itu sesungguhnya”


 Lyra yang akan memukuli Ana, ditusuk garpu punggungnya oleh Nina. Lyra berteriak saat garpu tersebut. Terbenam di punggungnya sedalam dua cm. Saat itulah Nina menarik dan membawa Ana masuk ke kamarnya. Pintu kamar di kunci rapat.


Lyra yang marah menendang pintu kamar Nina. Nina berusaha berusaha menahan pintu dengan punggungnya. Terdengar samar samar tawa kecil sang paman di belakang Lyra


“sepertinya mereka tidak tahu apa apa tentang kamu. Apa seorang pangeran adalah orang yang memalukan untuk diceritakan?” tanya paman tersebut


“pergilah” perintah Lyra


Paman yang sedari tadi berdiri bersandar tembok itupun menjawab patuh perintah Lyra. Dengan santai dia meninggalkan ruangan.


Di kamar Nina, Ana mengambil sekotak roti milik Nina. Dimakannya roti tersebut Sambil duduk di jendela kamar.


“untuk sehari saja, bisakah kita tersenyum dan bercanda seperti keluarga pada umumnya?”


 “lucu sekali” jawab Ana tertawa sambil menghina

__ADS_1


“jika tak bisa setidaknya berpura puralah!”


 


__ADS_2