Milky Way : VALLENA

Milky Way : VALLENA
Bab 12 : Rasa Ini


__ADS_3

Wanita berusia 27 tahun berdiri di depan sebuah rumah. Satu tangannya menggenggam erat sebuah koper berisi beberapa pakaian dan setumpuk uang. Mata wanita itu terus menerus menatap sinis pada seorang pria pengangguran di depan pintu


“dimana anak anakku?” tanya wanita yang tak lain adalah ibu dari Angga dan adiknya.


Kepada suaminya, wanita itu melempar setumpuk uang ke kepala ayah Angga. Hingga membuat ayah Angga murka dan menamparnya hingga terjatuh.


“aku tidak akan memberitahukan padamu. Teruslah mencari uang jika masih ingin melihat mereka”


“aku hanya perlu memastikan mereka baik baik saja. Kau berjanji untuk merawat mereka dengan baik, tetapi selama ini setiap aku kembali membawa uang mereka selalu terlihat tidak terawat dengan benar!”


Ayah Angga yang merasa emosinya semakin menjadi, menendang istrinya dengan liar. Wanita itu hanya bisa berteriak kesakitan dan menutupi siksaan suaminya dengan tangan. Ayah Angga yang merasa usahanya kurang maksimal untuk menyiksa, mulai mengambil batu sebesar genggamannya dan menghantamnya ke kepala istrinya. Meski istrinya berhasil menahan dengan telapak tangannya, pukulan keras itu mampu membuat beberapa bagian wajahnya terluka.


Saat suaminya mulai memukul untuk yang kedua kalinya, Vall menahan tangannya dengan sangat kuat. Tampak dengan jelas mimik muka Vall yang sangat emosi melihat ayah Angga masih hidup dengan semaunya di kampung sampah ini setelah apa yang dia perbuat.


“apakah anjing peliharaan ini akan menggigitku?”


Tanpa menjawab, Vall langsung menghantam hidungnya dengan sangat kuat. Pukulan yang cukup untuk mematahkan batang hidup pria biadab itu membuat hati Vall terasa lebih ringan. Bahkan dia mulai menikmatinya saat beberapa pukulannya terus menerus di layangkan di wajah pria di hadapanya ini.


“berhenti. Tolong jangan sakiti, dia ayah dari kedua anakku” pinta istrinya


Vall yang tidak peduli terus menerus memukuli suaminya seperti orang hilang kendali. Dalam hatinya, ini adalah kesempatan melampiaskan rasa kesalnya atas apa yang terjadi pada Angga dan adiknya. Pukulan demi pukulan terus dilayangkan hingga Vall tidak sadar bahwa pria di hadapannya tengah kritis.


Ibu Angga pun langsung memeluk Vall dari belakang dan berusaha menahan Vall.


“lepaskan, kau tidak tahu apa yang terjadi pada kedua anakmu” ucap Vall


Ibu Angga pun langsung menarik badan Vall hingga mereka saling berhadapan. Tatapan ibu Angga sangat berarti, dia berusaha membaca hati Vall dari apa yang baru saja Vall ucapkan tentang ke dua anaknya.


“apakah mereka masih hidup?”


Vall berusaha untuk tetap diam, karena dia tidak mampu jika harus menjelaskan soal apa yang telah terjadi. Air mata ibu Angga mulai berjatuhan saat melihat wajah Vall yang tampak jelas mencoba untuk tetap diam. Ibu itu yakin dengan apa yang sudah terjadi pada kedua anaknya hanya dari membaca gerak gerik wajah Vall.


“katakan, setidaknya katakan bahwa mereka tidak tersiksa dengan sangat menyakitkan” pinta ibu Angga pada Vall.


Vall yang masih terdiam membuat ibu itu menangis dengan keras. Tangisannya sangat memilukan. Sekalipun dia tidak melihat, tapi dia bisa membayangkan dengan jelas bahwa kedua anaknya benar benar mengalami hal yang sangat menyakitkan.


Vall yang merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi pada kedua bocah itu mengambil sebuah batu. Saat akan di hantamkan ke kepala ayah Angga, istri dari pria itu pun melarangnya.


“sebagai orang yang melahirkannya, aku berusaha untuk menahan diri. Kenapa kau yang bukan siapa siapa bagi kedua anakku mau melakukannya? Jangan kotori tanganmu”


Vall pun menjatuhkan batu di genggamannya. Dia tidak memahami, apa yang dipikirkan wanita di sampingnya ini.


...****************...


Di bawah pohon tepi sungai, Vall tampak duduk di bebatuan tempat biasa dia menghabiskan waktunya. Sementara itu, ibu dari Angga dan adiknya sedang menangis di samping makan sederhana yang Vall buat untuk mengubur kedua bocah tersebut.


Senja mulai menyelimuti langit langit. Vall tampak masih terdiam dan mendengar isak tangis sedih seorang ibu pada makam kedua anakknya.


“siapa namamu?” tanya ibu itu pada Vall

__ADS_1


“Vall”


“aku dulu terlalu muda untuk memahami pria. Hingga aku terjebak pada sebuah hubungan yang memaksaku untuk menjadi wanita bodoh. Aku terlalu bodoh untuk meninggalkan kedua anakku pada pria seperti itu. Seandainya dulu aku mengenalmu, mungkin aku anak anak malang ini tidak ada. Mereka seperti tercipta karena kebodohanku. Semua ini sebetulnya adalah salahku”


Ibu muda itupun mendekati Vall mereka duduk berdampingan menghadap sungai dan beberapa pohon pinggiran sawah. Tampak mereka menikmati matahari terbenam.


“ikutlah denganku, aku bisa mencarikan kerjaan dan tempat tinggal yang lebih layak disini. Sayang sekali jika orang sepertimu hanya jadi peliharaan disini”


“apakah aku bisa menganggap itu sebuah lamaran” tanya Vall


“lihat sendiri kan, aku sangat bodoh untuk menginginkan seorang pria muda” ucap ibu muda itu sambil tertawa lugu.


Vall yang melihatnya pun ikut sedikit tersenyum. Dia merasa lega ibu muda di sampingnya ini bisa setegar itu meski tahu bahwa hatinya sedang sedih.


Tak lama kemudian, Lena tampak berjalan dengan seorang pria yang menjemputnya. Tampak di wajah lena tersipu malu malu dan bercanda dengan nada yang agak dimanja manjakan layaknya wanita penghibur. Vall yang melihat itu tidak mampu menyembunyikan wajah sedihnya. Meski dia sudah berusaha keras untuk baik baik saja selama di samping Lena, tetapi dia tetap aja merasa tercabik cabik hatinya.


Melihat pemuda yang di kaguminya merasa terluka, ibu muda itupun merangkul pundaknya dan memanggil Lena dari kejauhan.


“Lena, bisakah aku membawa pemuda ini? Aku berjanji akan mengurusnya”


Lena yang melihat mereka duduk berdekatan pun merasa sedikit perasaan cemburu. Sekalipun dia tidak memiliki hubungan istimewa dengan Vall, Lena merasa kedekatan seperti itu tidak pernah dia rasakan meski dia menginginkannya.


“aku akan segera menyusul tunggulah di gerbang kampung” pinta Lena pada pelanggannya.


Pria berbalut kemeja itupun sedikit kecewa dan berjalan mendahuli Lena. Lena yang sedikit merasa cemburu melangkah mendekati Vall dan ibu muda itu.


“masuklah ke rumah” pinta Lena pada Vall


“dan kau, aku tidak melihat kekurangan sedikitpun di pesona badan dan parasmu. Bukankah mudah mendapat pria yang jauh lebih baik dari Vall” ucap Lena


“sebuah berlian akan tetap berharga meski berada di dalam tanah kotor penuh bebatuan. Aku cukup mampu membedakan antara berlian dan sampah”


“apa sebetulnya maumu?”


“aku yang harus tanyakan itu. Apa maumu? Kau tahu betul tatapan pemuda itu padamu bukan tatapan biasa. Kau cukup mampu untuk memahami perasaanya. Tapi kau seolah ingin terus mengikat dia bagai hewan dan bermuka mesum pada pria pria lain di hadapannya. Kau sangat buruk sekali” jawab ibu muda


“dengar, aku tidak mau membahas apapun tentang hidupku padamu. Jangan pernah kembali lagi kesini jika keinginanmu hanya tertuju pada pria itu”


“aku tak keberatan meski dia hanya pelampiasan nafsu liarmu saat tidak ada pelanggan. Aku akan terus mengejar dan mendapatkannya”


Mendengar ucapan ibu muda itu, Lena langsung memanas. Dia tidak pernah sekalipun menganggap Vall sebagai budak nafsu dan hewan peliharaan. Semua yang orang orang kampung katakan tentang dirinya dan Vall itu tidaklah benar adanya. Tangan Lena yang mengepal dengan erat seperti ingin sekali menampar wanita di hadapannya ini. Tetapi Vall tiba tiba datang dan berdiri di depan Lena menutupi ibu muda di belakangnya.


“pergilah, aku akan mengantarnya keluar kampung” kata Vall pada Lena.


 


...****************...


 

__ADS_1


Malam hari mulai menyelimuti kampung sampah. Vall berjalan mendahului ibu muda di belakangnya menuju gerbang.


“melihat wajahnya tadi, aku sangat yakin dia juga memiliki perasaan padamu” ucap ibu muda


Langkah Vall pun terhenti. Dia palingkan badannya dan menghadap wanita di depannya dengan lembut.


“jangan kembali lagi kesini. Kampung ini tidak tampak seperti yang terlihat. Banyak anggota kartel yang diam diam membunuh dan mencuri kesempatan saat Lena tidak berada disini. Akibat perjanjian dengan Parlok, kampung ini jauh lebih mudah di jadikan tempat pembunuhan. Karena dari pihak Parlok sendiri menganggap semua yang terjadi di sini adalah kendali penuh oleh Lena bukan dari anggota kartelnya”


Ibu muda itupun mendekati Vall hingga mereka saling berhadapan dengan jarak sejengkal jari jari lentiknya.


“kau mengkhawatirkan aku?”


Vall hanya terdiam dan menunduk. Dalam diam nya, Vall merasa tidak mampu menatap wanita lain selain Lena. Itu adalah janji dia pada dirinya sendiri. Dengan lembut wanita muda ini menarik wajah Vall dan mencium dahinya.


“aku akan menuruti apa yang kau inginkan. Bertahan dan berjuanglah, aku sangat yakin usahamu selama ini berada di dekat nya itu tidak sia sia. Karena aku juga wanita, aku tahu persis apa yang di rasakan seorang Lena dari setiap perkataanya tadi”


Wanita muda itupun pergi meninggalkan Vall dan berjalan ke arah taksi di pinggir jalan.


Vall tampak berjalan dibeberapa sela sela pepohonan liar. Dengan tenang dia berdiri di sebuah lahan kosong di samping sawah. Jauh dari pemukiman orang orang kampung. Lahan itu nampak beberapa galian yang masih baru dan beberapa gundukan tanah.


Di lahan ini, Vall mengubur banyak mayat korban dia yang dia anggap manusia hina. Saat orang kampung dan Lena terlelap di malam hari, Vall berburu orang orang yang dia anggap manusia sampah dan dia bunuh untuk memuaskan rasa kebenciannya. Pepohonan dan rumput liar di lahan ini adalah saksi bisu seorang pemuda baik yang memiliki jiwa iblis dihatinya.


Vall melompat dan memegang dahan pohon. Di dalam gelapnya malam, hampir di setiap harian Vall habiskan untuk melakukan pull up dan beberapa olah raga lain yang bisa membentuk tubuhnya lebih atletis.


 


...****************...


Dini hari, Lena membuka pintu rumahnya dan berharap Vall ada di sana. Tetapi setiap dia melihat ke berbagai sudut ruangan, tidak juga dia melihat Vall. Bahkan di kamarnya juga tidak tampak ada tanda tanda maupun jejak yang Vall tinggalkan. Dalam hati Lena, dia merasa seperti anak kecil yang tengah dimabuk cinta. Semua yang dia lihat di pinggir sungai tadi membuat nya terus menerus berpikir akan perasaan pribadinya yang selam ini dia tahan.


Lamunan Lena pun terhentikan saat melihat Vall pulang ke rumah dengan badan berbalut baju yang basah karena keringat. Dia melihat Vall seperti habis beraktivitas yang sangat menguras tenaga.


“kau terlihat seperti habis bercumbu. Apakah wanita tadi begitu mempesona?” tanya Lena


Vall hanya terdiam dan mengambil air minum di meja. Dia meminum dengan sangat rakus seperti habis berlarian di padang gurun.


“bukankah kau juga melakukan hal yang sama” jawab Vall sambil meninggalkan Lena masuk ke kamarnya.


Dalam hati Vall, dia merasa seperti pemuda yang sedang marah dengan kekasihnya. Entah kenapa dia merasa ingin sekali membuat Lena juga merasakan sakit hatinya seperti rasa yang selama ini dia terima dari Lena.


“aku juga memiliki perasaan itu, kau juga pasti tahu bagaimana sakitnya menahan rasa seperti ini.” Ucap Lena lirih


 


...****************...


 


Sepuluh tahun berlalu. Kembali ke masa di mana tahun 2023

__ADS_1


Di sebuah jalan kereta, seseorang pria berusia sekitar 40 tahun menunggu kereta datang di pinggir jalan. Pria itu nampak seperti anggota Punk. Begitu kereta datang dengan pelan, pria itu melompat dan menyelinap masuk dengan diam diam. Dia juga berusaha menghindari beberapa petugas di dalam gerbong.


Rambutnya yang sepanjang punggung dan berwarna putih itu di ikat selayaknya anak Punk. Di ikatan kakinya tampak pisau yang dililit kain kotor. Pisau berwarna hitam pekat. Pria inilah pria yang membawa Lena pada Vall 20 tahun lalu. Saat ini dia tengah menuju kampung sampah lagi untuk menemui gadis yang dulu sempat dia telantarkan.


__ADS_2