
Di malam gelap yang menyelimuti kota, tampak beberapa tempat yang masih menyala terang bagai siang hari. Tempat itu adalah Jon’s Bar. Tempat hiburan malam. tempat yang biasa Lyra kunjungi di malam hari. Tempatnya luas bagai istana. Bagi Lyra, tempat ini seperti kampung halamannya karena bernuansakan kerajaan dan istana. Banyak orang dari kalangan bangsawan berada disini. Lyra sering menghabiskan waktunya di sini. Seorang wanita menyapa Lyra. Begitu melihat kedatangannya.
“mukamu kusut sekali?. Kamu baru marah marah lagi pada kedua putrimu?”
Lyra tampak diam dan mengalihkan pandangannya ke beberapa penari panggung.
“lupakan, ada dua orang asing yang ingin menemuimu, mereka menunggumu di presidental suite room no 2”
Lyra berjalan menyusuri lorong menuju ruangan yang ditunjuk dengan segelas air minum di tangan kirinya
Lyra membuka pintu ruangan besar berhiasan bunga lotus. Ruangan yang sangat indah dengan 2 kolam teratai di dalamnya. Lyra berjalan ke tengah tengah ruangan. Tampak beberapa ikat laut berenang di dalam kolam. Melihat air kolam adalah air laut, Lyra pun memilih untuk menjauhinya.
Langkah Lyra beralih ke sebuah jendela besar. Dilihatnya seorang pria di jendela setengah lingkaran tersebut.
“selamat datang Lyra, ada pesan untukmu dari yang mulia ratu”
Jantung tersasa ditikam begitu mendengar kata sang Ratu. Gelas di tangannya jatuh di lantai. Lyra mengeluarkan pisau lipatnya yg terbuat dari emas dari balik celananya.
Pria di hadapannya pun tidak tinggal diam, dia mengeluarkan sebuah stick button yang berwarna putih seperti sebuah tulang hewan. Si pria menghentakkan stick button di tangannya hingga memanjang dan meruncing di bagian ujungnya membuat setik yang awalnya seperti tongkat itu berubah menjadi sebilah pedang putih dengan berbahan tulang.
‘yang mulia Ratu berpesan LYRA HARUS MATI”
Sambung seorang pria ke dua yang muncul dari balik pintu masuk. Dengan sebilah pedang dan lilitan kain mantra di tangannya dia mendekati lyra. Lyra berusaha mengambil posisi untuk bertahan. Ini pertama kalinya dia merasa seperti dipojokkan. Karena yang ada di hadapannya ini bukanlah manusia biasa. Tapi orang orang dikirim khusus oleh ratu untuk mengejarnya.
Tanpa banyak bicara, kedua pria itu langsung mengejar Lyra. Lyra yang tidak siap dengan situasi dan kondisinya yang sedikit mabuk berusaha menghindar dan menjauh. Percikan percikan air laut di kolam teratai buatan berhamburan seperti air mancur terkena pijakan dan beberapa serangan ke dua pria tersebut.
Tampak percikan percikan air laut yang terlontar ke udara dan mengenai beberapa kulit mereka
langsung membuat kulit tersebut berubah warna menjadi agak kebiruan. Lyra menghindari seluruh serangan kedua pria itu dengan sangat lincah. Pisau kecilnya cukup berguna meski hanya sekedar menahan tajamnya tulang tulang tajam yang mereka hunjamkan ke seluruh bagian tubuh Lyra.
Disaat Lyra merasa terdesak, sebuah tangan meraih dan melemparnya agak menjauh dari kedua pria yang menjadi lawannya. Pria tersebut adalah bawahan Lyra yang sering Nina panggil sebagai paman.
Kedua pria lawan Lyra pun langsung melompat mundur beberapa langkah. Mereka terlihat sangat terkejut dan saling bertukar pandang.
“tulang Murlok di punggungnya memiliki kadar logam Adamantiant yang sangat tinggi. Itu setara dengan yang dimiliki oleh para pelindung keluarga kerajaan. Mundur sekarang” ucap salah seorang lawan Lyra kepada temannya.
Saat itu juga salah seorang lawan Lyra menusuk lantai dengan pedang di tangannya. Pedang yang menyerupai tulang tersebut dengan mudah tenggelam sebagian di lantai seperti menusuk keju. Di saat yang bersamaan. Guncangan dari senjata tersebut membuat lantai tempat mereka berpijak runtuh seketika. Beberapa pengunjung di lantai bawahnya berhamburan panik dan menjauh dari tempat kejadian. Dengan mudah mereka lari dari pandangan dengan menyelinap di keramaian pengunjuk yang berlarian.
* * * * * * * *
__ADS_1
Nina terjaga dari tidurnya, dilihatnya jam sudah menunjuk ke arah pukul 2 dini hari. Pandangan matanya beralih ke arah Ana yang tertidur bersandarkan dinding di samping jendela. Melihat kakaknya yang tertidur dengan posisi yang kurang nyaman, Nina diam diam mendekatinya. Dengan selimut di tangannya, nina berusaha untuk menyelimuti kakaknya perlahan agar tidak terbangun.
“menjauh dariku” ucap Ana lirih
Membuat Nina merasa sedikit merasa malu dan mundur perlahan lahan. Di jatuhkannya badanya ke ranjang. Matanya mulai terpejam sedikit dan menghela nafas panjang.
“sejak kapan hubungan kita bertiga seperti ini?. Dulu aku mengingat saat kita bertiga masih bercanda dengan hangat di sebuah taman kecil.”
Belum sempat Nina mencurahkan isi hatinya, Lyra membuka pintu rumah dengan kasar. Terdengar jelas dari dalam kamar Nina langkah kaki Lyra sangat terburu buru menuju ke arah mereka berdua. Pukulan keras seperti mendobrak pintu kamar Nina.
“Ana Nina, keluar!”
Nina yang merasa ibunya masih emosi mencoba menahan pintu kamarnya dengan punggungnya. Teriakan ibunya semakin memuncak untuk menyuruh mereka keluar kamar segera.
“kami putrimu sendiri. Seberapapun emosinya seorang ibu, ketahuilah dan sadarlah kita sebuah keluarga”
Perkataan Nina membuat pukulan tangan ke pintu Lyra semakin pelan.
“buka pintunya nak. Kita harus segera pergi” ucap Lyra lirih
Merasa ada yang tidak beres, Nina membuka pintu pelan pelan. Mata Nina terbuka lebar dan merasa tidak percaya bahwa ibunya terlihat memiliki beberapa luka. Sekalipun mereka sering mendapat masalah terburuk sekalipun, ini pertama kalinya Nina melihat ibunya bisa terluka.
Tanpa mengemas barang, mereka berdua di paksa Lyra untuk segera meninggalkan rumah. Saat Lyra hendak memasuki mobil, Lyra melihat dari kejauhan rumah Lena. Tak lama kemudian muncul sesosok pria yang dipanggil paman oleh Nina tadi.
“untuk pertama kalinya ada orang yang mau menerimaku seperti saudara sendiri. Bahkan dia menerima anak anakku seperti anak dia sendiri selama 10 tahun ini. Untuk membalas kebaikannya, aku memintamu untuk melepaskan dia dari belenggunya. Musnahkan semua, anggota dan pemimpin mereka. Pastikan hidup wanita itu benar benar lepas dari mereka”
Pria di samping Lyra pun menjawab dengan patuh seperti layaknya seorang bawahan.
********
Di tempat Parlok, di mana banyak para anggota elite kartel berkumpul. Pria bawahan Lyra datang dan mengeluarkan sehelai kain bertuliskan symbol aneh berwarna merah. Dengan santai dia berjalan menuju sebuah aula yang sangat besar. Di mana para anggota kartel tengah berpesta dan berdansa diiringi musik yang hampir memecahkan telinga. Lampu lampu sorot sempat menyinari bawahan Lyra yang sedang menusukkan telapak tangannya ke beberapa pria yang menghadangnya.
Begitu mereka menyadari ada orang asing berpakaian aneh memasuki aula, beberapa petugas keamanan pun langsung dikerahkan. Mereka memasuki area dengan beberapa senjata tajam di genggamannya. Puluhan anggota kartel pun menghadangnya dengan beberapa golok. Sebagian sudah bersiap menembaknya dari atas gedung menggunakan senjata jarak jauh. Beberapa cctv mengunci pria itu seperti seorang target.
Dengan lembut dia mengikatkan kain itu menutupi kedua matanya. Tangan kanannya meraih tongkat tulang murlok di punggungnya. Banyak anggota kartel Parlok yang menyaksikan ini tertawa. Mereka berpikir pria yang tengah mereka kepung ini adalah orang gila yang tersesat.
“yang mulia, maha guru agung. Ku antarkan mereka yang tersesat dalam nikmatnya kehidupan kepadamu. Bimbinglah mereka sebagaimana kau membimbing kami para kesatria pendosa”
__ADS_1
Selesai mengucapkan doa, pria bawahan Lyra mulai menggenggam erat tongkat di tangannya. Tongkat yang berwarna putih dan terbuat dari tulang hewan itu bergetar dan mekar mengeluarkan gigi gigi tajam dan memanjang.
Dari kejauhan, tampak warga berhamburan menjauhi lokasi di mana markas kartel Parlok berada. Suara suara ledakan dan puluhan tembakan menyebar ke seluruh kota. Beberapa anggota polisi dan keamanan setempat di kerahkan besar besaran.
Jauh dari kota, di pinggir hutan yang teramat gelap. Bahkan tidak nampak satu kendaraan yang melintas.
Ana dan Nina diturunkan oleh ibunya. Tampak Nina yang kebingungan dengan apa yang terjadi pada ibunya tidak diabaikan setiap kali bertanya. Lyra terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam bagasi.
“aku butuh penjelasan. Ini pertama kalinya ibu terlihat gugup dan ketakutan. katakan saja ada apa sebenarnya” tanya Nina.
Lyra memakaikan tas kepada Nina dan memberikan sebuah peta yang dia tandai beberapa lokasi yang harus Ana dan Nina tuju.
“pergilah ke titik pertemuan. Teman ibu mengirim beberapa orang untuk menjemput kalian. Titik titik yang ibu tandai ini adalah pos mereka. Akan ada penjemput, ada juga yang berjaga jika ada kegagalan dalam penjemputan”
“aku butuh kejelasan!”
“mereka mengejarku. Untungnya mereka belum tahu tentang kalian berdua. Karena aku melahirkan kalian di negara ini”
“Lyra!!”
Nina memanggil ibunya dengan sangat keras. Ini pertama kalinya Nina terlihat marah. Bahkan Ana yang tidak perduli dengannya pun mulai merasakan ada perubahan pada sikap Nina yang biasanya lembut dan periang.
Lyra berusaha menahan apa yang tidak mungkin bisa memberitahu pada kedua putrinya. Semua yang terjadi adalah kesalahan masa lalunya.
“teman ibu akan menceritakan semua yang tidak bisa ibu katakan pada kalian” ucap Lyra sambil memeluk Nina.
Lyra mulai beranjak mendekati Ana yang tengah duduk di sebuah batu pinggir hutan. Tampak Ana yang sedikit malas berdekatan dengan ibunya. Dengan lembut, Lyra menyentuh kedua pipi Ana. Ana yang merasa risih, mencoba menepisnya dengan tangan. Tetapi Lyra langsung memeluk dan mencium dahinya dengan rasa kasih sayang seorang ibu.
“kau selalu berpikir bahwa kau anak haram. Pisau emas ini, adalah bukti bahwa kau dan Nina adalah anak yang terhormat” jelas Lyra
Lyra memberikan pisau kecil dari emas kepada Ana. Pisau peninggalan ayah kedua bocah tersebut.
Tanpa berkata lagi, Lyra langsung meninggalkan mereka berdua. Terlihat Nina berteriak memanggilnya di kaca sepion membuat Lyra menangis sedih. Dia tidak menyangka bahwa hari yang dia khawatirkan telah terjadi.
Nina terjatuh dan bersimpuh menatap mobil ibunya menjauh. Sedangkan Ana, yang masih memikirkan perkataan ibunya tadi, mulai penasaran apa yang akan di ceritakan teman ibunya nanti. Dengan penuh keyakinan, Ana mulai memasuki hutan yang gelap dengan pisau emas di genggamannya. Nina yang melihatnya pun mulai mengikutinya dari kejauhan.
Puluhan anggota penjemput ANA dan NINA di kerahkan di seluruh negara. Seperti yang Lyra katakan, hanya beberapa orang saja yang menjemput. Sisanya berjaga di berbagai tempat untuk cadangan jika terjadi hal di luar rencana penjemputan. Mereka yang bertugas dalam penjemputan memiliki pisau yang sama persis seperti pisau milik Gin. hanya saja, pisau mereka tidak berwarna hitam layaknya pisau Gin.
__ADS_1