Milky Way : VALLENA

Milky Way : VALLENA
Bab 20 : Waringin Sungsang


__ADS_3

Tampak air mata Widyari menetes di wajah putrinya yang tertidur. Widyari pun bangkit dan mencabut tusuk konde di rambutnya. Rambut panjang yang selalu dia ikat rapi pun terurai sepinggul.


“tolong jangan lakukan itu” ucap Suri


“akan banyak kematian di kemudian hari nanti jika aku menutup mata akan hal ini” jawab Widyari


Beberapa pelayan di luar ruangan pun langsung menutup pintu dan jendela ruangan. Mereka seperti sudah yakin dengan apa yang akan diperbuat pemimpinnya pada sahabatnya ini.


Suri pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan menancapkan tongkat kayunya di lantai.


“aku akan melindungi darah dagingku. Karena aku yakin akan kebaikan dalan hati putraku”


Widyari pun langsung menusukkan tusuk konde ke telapak tangan. Darahnya yang mengucur di tangannya dia lukiskan ke dahinya. Darah di dahi mulai bergerak dan melukis kulit kulit wajah dan lengannya.


“para tetua Milky Way, nyalakan tirai darah. Jangan biarkan seorangpun keluar hidup hidup sekalipun itu anak anak kita sendiri. Bunuh bocah pewaris waringin sunsang. Dia adalah bibit bencana seluruh umat manusia di kemudian hari nanti” ucap Widyari menggema di seluruh Milky Way.


 


Mereka yang berada di desa pun langsung bersimpuh dan berdoa setelah mendengar perintah pemimpinnya. Sekalipun itu berarti mereka harus di korbankan. Orang tua, muda bahkan anak anak pun langsung duduk bersila dan berdoa.


Seluruh tetua di kuil mulai mengambil kerisnya dan menusuk perutnya sendiri. Darah mereka mengalir dan membasahi tanah Milky Way. Bibir mereka dengan lancar membacakan doa doa meskipun tubuh mereka merasakan sakit yang luar biasa.


Darah darah para tetua yang meresap ke dalam tanah mulai berkumpul ke sebuah candi besar dan tinggi. Beberapa candi yang teraliri darah para tetua pun bergetar hebat. Puncak candi mulai mengeluarkan kabut tebal berwarna merah yang menyelimuti seluruh daratan Milky Way.


Juli dan Yuli yang cemas pun langsung berlindung di balik tubuh ibunya. Tampak Suri sang ibu kedua bocah itu menggigit jarinya hingga berdarah. Dia menelan sendiri darah di jarinya dengan tenang. Lama lama wajah tenangnya pun berubah menjadi wajah yang kehausan darah. Wajah Suri yang sebelumnya terlihat kalem dan lemah lembut itu mulai terlihat tertawa seperti kesurupan.


Matanya yang buta dan berwarna putih terlihat sedikit memerah. Juli dan Yuli pun mulai ketakutan melihat tingkah ibunya. Mereka melangkah mundur pelan pelan menjauhi ibunya yang berubah.


Mulut Suri tiba tiba robek dan melebar hingga pangkal rahang. Tawanya terdengar menyeramkan seperti kuntilanak.


Gin yang tengah duduk di bawah pohon melihat kumpulan asap tebal menggulung dan menyelimuti daratan Milky Way bagai kubah raksasa. Dia berjalan ke arah desa dan menyaksikan para penduduk desa mulai berdoa dan menangis. Gin yang penasaran dengan dinding kubah berwarna merah darah mencoba menyentuhnya. Merasa tidak ada yang aneh, dia mencoba melewatinya. Betapa terkejutnya Gin saat mendapati tubuhnya kembali ke dataran Milky Way tiap kali dia mencoba melewati kubah darah.


Widyari memegang tusuk kondenya dan mematahkannya menjadi 2 bagian. Kedua potongan konde yang sebelumnya sebesar genggaman tangan itu mulai membesar seperti tongkat sepanjang 1 meter.


Suri sendiri mulai berubah wujudnya. Rambutnya yang putih mulai memanjang dan menyentuh lantai. Rambut yang tampak hidup itu menyambar semua dinding kayu di belakangnya. Berharap bisa membukakan jalan untuk kedua anaknya keluar dari ruangan ini.


Seberapapun usaha keras yang Suri lakukan, tampak dinding kayu itu tidak tergores sedikitpun. Beberapa pelayan Widyari yang di luar ruangan melukiskan mantra disepanjang dinding dinding kamar agar Suri dan kedua anaknya tidak bisa keluar.


Merasa pertempuran yang tidak diinginkan Suri tidak terelakan, dia pun terpaksa bersiap melawan sahabatnya sendiri demi anak anaknya. Kuku kuku tajamnya mulai memanjang hingga menyentuh lantai. Daging daging di tubuhnya pun tampak mengerut hingga hampir terlihat tulang tulang di tubuhnya. Kakinya mulai bersiaga.

__ADS_1


Satu detik kemudian, Widyari melesat ke arah Suri dengan menusukkan kedua tongkatnya. Tampak kedua tongkat tersebut dihalau dengan tangan berkuku panjang Suri. Tongkat kayu yang berbenturan dengan kuku tajam itu terdengar seperti pergesekan benda tajam dan besi keras. Pukulan pukulan tongkat Widyari dengan mudah menghancurkan beberapa perabotan di dalam ruangan. Tidak hanya disitu, saat kedua tongkat saling bertemu, selalu menimbulkan ledakan kecil yang mampu menghempaskan tubuh Suri.


Tubuh Suri yang berubah menjadi kuntilanak, terlihat tidak merasakan rasa sakit. Bahkan dia melompat ke berbagai tembok kayu menghindari semua tikaman dan pukulan tongkat Widyari. Beberapa ledakan membuat semua pelayan Widyari di luar ruangan berdoa untuk pemimpin mereka.


Merasa tidak mudah menjatuhkan Suri, Widyari pun memilih untuk langsung membunuh Juli. Suri yang melihat itupun tidak tinggal diam. Dia melompat dan melindungi putranya dengan tubuhnya sendiri. Tubuh Suri tertembus sebilah tongkat milik Widyari. Juli yang berada di belakang tubuh ibunya pun hampir tertusuk kepalanya.


Begitu melihat Suri tertusuk dan tertahan di dinding, Widyari mulai memasang posisi untuk menusukkan tongkat ke duanya. Suri yang tidak mampu mencabut tongkat di perutnya, berteriak kesakitan karena mantra yang terlukis di balik dinding.


Widyari yang merasa sesuatu dan mendengar suara aneh, mulai melihat sekelilingnya. Dengan tiba tiba sebuah tangan buto putih menerjang kamar dan hampir menampar tubuh Widyari. Muncul lagi sebuah tangan buto putih yang mencoba merobek dinding dinding mantra.


Widyari mundur beberapa langkah saat melihat sepasang mata buto putih tengah mengintipnya dari sela sela reruntuhan.


 


Di luar, Gin yang merasa ada kekacauan di keraton langsung berlari menuju tempat kejadian. Dia berharap, tidak terjadi sesuatu pada Widyari. Wanita yang pernah menjadi penolongnya itu adalah satu satunya orang yang memberinya kasih sayang yang belum pernah dia dapatkan sepanjang hidupnya.


Gin berlari menabrak beberapa prajurit penjaga yang berjejer di depan keraton. Keris keris mereka melayang di atas tubuh mereka seperti beberapa peluru yang siap menembak. Para prajurit keraton mulai memasang posisi siaga begitu melihat kemunculan buto putih. Tampak buto putih mulai membesar dan menghancurkan seluruh bangunan keraton.


Beberapa pelayan yang masih bisa berlari, langsung menjauh dan berlari menuju para prajurit. Mereka yang tidak bisa menjauh, tampak diinjak dan dicabik cabik oleh buto putih. Beberapa orang juga tampak di makan dan dikunyah seperti makanan.


Para prajurit yang sudah bersiap, mulai menggerakkan tangan tangannya. Keris keris mereka yang melayang layang bagai lalat menghunjami buto putih. Keris mistis yang mereka kendalikan dengan mudah bergerak menusuk bertubi tubi seperti mesin hidup.


Satu gerakan tangan buto putih yang membesar menangkap sekitar 7 prajurit keraton. Dengan kuat tubuh tubuh itu diremas hingga mereka berteriak merasakan tulang tulang mereka saling menekan dan patah. Tidak sampi disitu, buto putih menghantamkan kepalannya ke prajurit lain hingga mereka berhamburan karena hempasan yang kuat.


Gin yang berada di sekitar itu menghindar dengan sekuat tenaga. Dia melihat tangan buto putih yang hampir menghantamnya dengan pasrah. Mungkin ini akhir dari hidupnya pikir Gin. sebelum tangan besar itu ******* Gin, Yuli dan Juli menolong Gin dengan menariknya sekuat tenaga.


“bertahan dan menjauhlah. Kau tidak ada hubungannya dengan ini kan?!” bentak Yuli


Gin yang masih terkejut dan belum sadar sepenuhnya diraih Yuli dan di ajak menjauh. Sedangkan Juli, dia terlihat sedang dikepung oleh banyak prajurit keraton.


“pergilah, aku akan menyusul” perintah Juli pada adiknya Yuli


Gin yang melihat keraton hancur pun langsung berlari meninggalkan Yuli. Sekalipun Yuli menahannya.


“jangan terlibat!”


“wanita disana, aku harus menolongnya” ujar Gin


Gin berlari menghindari para prajurit dan amukan buto putih. Dengan susah payah dia menghindar, akhirnya dia sampai di depan reruntuhan keraton. Dia memanggil Widyari sekuat tenaga. Matanya terbuka lebar dan merasa tak percaya saat melihat tubuh widyari ditusuk tangan Suri dengan kuku kuku panjangnya.

__ADS_1


Tampak wajah menyeramkan Suri yang mirip kuntilanak menoleh ke arah Gin dan tertawa menyeramkan.


“anak dari langit, aku melihatmu. Bukankah kau juga melihatnya? Tanda tanda kebangkitanNYA benar benar nyata” ucap Suri


Gin yang tidak tahan melihat ini pun langsung mencabut pisau hitamnya. Seketika pisau itu bergetar dan mendesis seperti suara ular.


“hentikan!! Jangan kau gunakan itu. Kau tahu aku sudah mengerti apa akibatnya nanti jika kau menggunakannya!!” teriak Widyari pada Gin


Dengan sekuat tenaga, Widyari mencabut kuku kuku panjang Suri yang menembus perutnya. Beberapa kali Suri tampak menghentakkan dan menggoyangkannya agar Widyari semakin tenggelam dalam tusukan tajam kukunya. Suri juga mengendalikan rambut panjangnya hingga mengikat leher Widyari dengan kuat.


Teriakan kesakitan Widyari membuat lengah Suri. Dia tidak melihat bahwa tongkat yang sebelumnya membesar, sudah dikecilkan hingga menyerupai patahan konde lagi. Tanpa Suri sadari, Widyari menusuk telinga Suri dengan sebilah patahan kondenya. Saat itu pula patahan konde yang masuk telinga langsung membesar dan menembus hingga menembus lubang telinga sebelahnya.


Buto putih yang merasakan tuannya terluka, langsung melompat dan mendarat dengan menginjakkan kaki besarnya ke tubuh Widyari. Widyari yang terluka di perut pun masih bisa menghindarinya meski harus memuntahkan beberapa darah.


Buto putih yang berada di depan Suri, meraih tubuh Suri dan melemparkannya ke atas candi setinggi lebih dari 100 meter. Usaha yang bisa dia perbuat untuk memberi waktu pada Suri agar bisa memulihkan dirinya. Tampak Suri di stupa candi, tengah berusaha mencabut tongkat Widyari. Sementara buto putih yang berada di depan Widyari meraung seperti hewan buas kepada lawannya. Angin kencang yang keluar dari mulut buto putih berhembus hingga membuat selendang dan rambut panjang Widyari tampak berkibar. Tiada rasa takut sedikitpun Widyari rasakan. Sebagai pemimpin Milky Way, dia sudah terlalu banyak menjalani masa masa peperangan melawan sekte RIP sebelumnya.


Melihat buto putih semakin membesar, Widyari mulai bersiap siaga melebarkan kaki kanannya ke arah belakang hingga rok kebayanya yang sempit terbelah memperlihatkan kaki indahnya yang jenjangnya. Saat dia mulai membungkuk sedikit memusatkan sisa sisa tenaga yang dia miliki untuk meraih dan menggenggam sebelah tongkatnya yang terjatuh di tanah.


Dalam sekali lompatan, tubuh indahnya mampu mencapai tepat di muka buto putih. Satu pukulan keras tongkatnya hanya membuat wajah buto putih tampak seperti di tampar saja. Melihat pemimpin mereka seperti sudah tidak memiliki tenaga, para prajurit pun mulai membantu dan menyerang dengan keris di tangan mereka.


Beberapa prajurit yang masih tersisa duduk bersila dan memusatkan seluruh doa doanya pada keris mereka yang masih mengelilingi buto putih. Pandangan tajam buto putih tidak mempedulikan meski keris keris itu menusuknya terus menerus. Tangannya mulai diangkat dan dihantamkan ke arah Widyari berpijak.


Widyari yang masih menggenggam sebagian patahan tusuk kondenya melempar benda tersebut ke atas. Kedua tangannya meremas perutnya yang sudah berlubang lubang karena kuku Suri. Darah keluar dengan banyak dari lubang lubang tersebut. wajahnya sedikit meringis menahan sakit. Darah dari perutnya mulai bergerak dan mengalir bagai melukis tato ke seluruh kulit tubuhnya. Seketika itu juga patahan tusuk konde yang dia lempar ke atas menjadi lebih besar dan panjang. Perlahan Widyari melangkahkan kakinya ke arah menyamping agar sejajar dengan Suri di atas stupa. Dengan sekali gerakan gemulai tangannya dan sisa sisa tenaga yang dia miliki, tongkat yang membesar itupun langsung bergerak melaju kencang dengan sendirinya menembus kepala buto putih dan terus mengarah ke Suri yang masih berada di atas stupa candi.


Saat kedua potongan tusuk konde saling bertemu, ledakan besar terjadi dengan sangat keras. Membuat setengah candi yang begitu besar hancur bagai gunung meletus. Puing puing berhamburan menghantam beberapa bangunan sekitar.


Suri yang terkena langsung pun terjatuh dan wujudnya terlihat mulai kembali menyerupai manusia normal. Meskipun ledakan tadi hanya menyisakan tubuh bagian atasnya saja, dia masih tetap hidup dan bernafas layaknya manusia biasa. Pancasona yang dia miliki membuatnya hidup abadi. Sekalipun tubuhnya hancur.


Juli yang melihat situasi semakin berbahaya untuk penduduk desa, berlari dan menyelamatkan beberapa wanita dan anak anak yang masih terdiam dan berdoa. Yuli adik kembarnya pun melakukan hal yang sama. Beberapa orang sempat diselamatkan, tapi itu hanya bagian kecil dari seluruh penduduk desa.


Juli melihat dengan mata dan kepalanya seorang anak kecil tertimpa puing puing candi dan menyisakan setengah badannya. Seorang ibu yang di depannya masih mengarahkan kedua tangan anak kecil malang tersebut agar terus memanjatkan doa sekalipun mereka mati hari ini.


Beberapa orang yang sudah tua renta terlihat tetap duduk dan berdoa dengan menangis di antara hujan batu. Juli yang mulai muak melihat para korban dari pertempuran yang bahkan dia anggap sia sia ini mulai meluapkan amarahnya.


“semudah inikah mengambil nyawa manusia!! Takut pada ramalan yang bahkan hanya berdasarkan ucapan manusia semata! Takdir!? Kenapa selalu mengkambinghitamkan kata takdir untuk sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui dan pahami?!!”


Seketika angin berhembus dari tempat Juli berada menjuru ke segala arah. Mereka yang merasakan hembusan angin itupun mulai melemah. Beberapa keris yang masih melayang berjatuhan seperti lalat mati. Para prajurit tampak ketakutan dengan apa yang mereka rasakan.


“waringin sunsang!” ucap para prajurit dan beberapa tetua yang masih berdoa membangun tirai darah terlihat goyah dan hampir merusak tirai yang mereka bangun.

__ADS_1


 


__ADS_2