
Lena melihat sekelilingnya hanya ada beberapa kabut asap. Dia juga mendapati tubuhnya terlihat seperti anak kecil berusia 10 tahun. Langkah kaki kecilnya melaju ke arah sebuah kuil kecil yang dihiasi beberapa sesajen dan beberapa tali yang mengikat kuil itu seperti sebuah rantai.
“eri, menjauh dari situ!” teriak seorang wanita berusia 26 tahun.
Wanita itu bernama Widyari. Seperti namanya, pesonanya bak bidadari. Pakaiannya terlihat seperti kebaya kuno jaman dahulu. Wanita ini adalah ibu Lena dan Eri adalah nama Lena saat masih kecil.
“kenapa ibu selalu melarangku bermain disini?” tanya Lena kecil
Widyari langsung meraih putrinya dan meraba beberapa anggota badan putinya seperti memastikan sesuatu.
“kau tidak merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhmu kan?” tanya Widyari dengan sangat cemas
“aku mendengar seseorang memanggilku. Dan saat tersadar aku sudah berada disini” jelas Lena
“dengar nak, ini bukan tempat bermain. Sudah ibu bilang ini adalah tempat penyegelan jimat kuno para leluhur. Akan sangat berbahaya jika kau berada dekat sini. Ayo pergi”
Saat widyari membawa putrinya menjauh, tiba tiba putrinya berteriak seperti sedang merasakan panas yang luar biasa. Widyari langsung memeluknya dengan erat dan berteriak memanggil para tetua.
Belum sempat para tetua datang, semua sesajen di depan kuil yang tersegel berhamburan dengan sendirinya. Rantai dari tali yang mengikatnya pun terbakar dengan sendirinya. Angin panas mulai berhembus ke segala arah. Widyari berusaha melindungi putrinya dengan tubuhnya. Tetapi semua sia sia saat angin berhembus dengan kencang ke arah kuil. Hembusan yang sangat keras itu seperti menginginkan Lena kecil untuk ditelan. Alhasil, tubuh lemah Widyari tidak mampu menahannya. Tampak wajah penuh kesedihan tampak di raut muka Widyari saat melihat putri kecilnya tersedot masuk ke dalam kuli.
Beberapa tetua yang datang terlambat pun merasa kecewa, mereka tidak menyangka kuil penyegel ini menelan korban lagi. Terlebih lagi korban kali ini adalah keturunan Leader mereka yang akan menjadi penerus kepemimpinan suatu hari nanti.
"Hyang Sukmo Sejati, jatine sukmo ingsun, sukmo mulyo ati luwih seksenono ingsun kirim gondo arum kang dak kirim marang raja makoro, buto ijo. Kang adoh tanpo wangenan cedak tanpo senggolan, yo tak undang siro temeko-o”
Terdengar mantra keluar dari bibir seorang wanita dengan tongkat kayu di tangan kirinya. Wanita dukun ini terlihat buta dan semua tetua yang melihatnya pun langsung bersiaga penuh saat menyadari kedatangannya. Karena dukun wanita ini adalah anggota sekte RIP dengan kata lain, dukun wanita ini adalah musuh bagi mereka sekte Milky Way.
Setelah mantra keluar dari bibir dukun itu, sesosok buto ijo terlihat merangkul pohon besar di belakang kuil. Mata buto ijo itu merah dan menyala seperti iblis. Giginya sangat panjang. Badanya tertutup bulu lebat. Tampak jelas buto ijo itu badannya mulai membesar hingga pohon yang dirangkulnya patah.
“aku tidak menyangka sekte Milky Way bisa menyembunyikan api Brajamusti selama ribuan tahun tanpa ada yang mengetahuinya” ucap dukun tersebut.
Lena pun langsung terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa pusing. Badannya pun lemas. Beberapa kali dia merasa hampir muntah. Buru buru dia berlari sekuat tenaga menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Terlihat raut mukanya seperti penuh tanda tanya. Mimpi yang barusan dia alami, dia berusaha memahami apakah barusan itu adalah mimpi belaka atau penggalan masa lalunya yang terlupakan.
Lena berjalan dengan lemah. AIDS yang bersarang di tubuhnya mulai tidak bisa ditawar lagi. Entah berapa lama lagi dia bisa bertahan. Saat ini dia tidak tahu apa yang harus diperbuat selain mencoba mengingat masa lalunya sebelum dia mati. Sesekali dia melihat keluar jendela untuk menatap Vall dari kejauhan. Tetapi malam ini Vall tidak nampak di sana.
Langkah Lena beralih menuju dapur, dilihatnya Gin yang tertidur dan mendengkur di lantai seperti kerbau sekarat dengan beberapa sampah sisa makanan di sekelilingnya.
Suara ketukan pintu rumah pun lena dengar. Dengan wajah lesu, Lena membukanya. Tampaklah Lyra berdiri di depan pintu tersebut dengan beberapa noda darah di bajunya.
“apa yang terjadi?” tanya Lena
“maaf, aku tidak bisa terus tinggal disini. Malam ini aku dan kedua putriku akan pergi”
“tidak, tetaplah disini beberapa lama lagi. Aku sangat menyukai putrimu. Izinkan aku lebih lama bersama mereka sebelum aku..”
Lena pun tidak bisa melanjutkan kata katanya. Dia merasa tidak cukup mampu untuk menceritakan bahwa dirinya sedang sekarat. Dan dia ingin merasakan kehangatan dan kebahagiaan sebuah keluarga bersama mereka yang selama ini berada di sampingnya.
Lyra memberikan sebuah kantong kain kepada Lena. Kantong kain sebesar genggaman itu berisi banyak butiran butiran berlian kecil.
“semoga itu cukup untuk mengganti semua yang sudah kau lakukan pada kedua putriku”
Lyra pun pergi meninggalkan Lena yang masih terdiam dan termenung melihat berlian sebanyak itu di genggamannya. Tanpa dia sadari, Gin sudah berdiri di sampingnya dan mengambil kantong itu.
“apa ini? Permen?” ucap Gin tanpa ragu memakan beberapa berlian tersebut
Lena yang merasa kesal dengan tingkah laku Gin, mencekik leher pria itu dengan sekuat tenaga dan mengguncangnya dengan keras.
“muntahkan!! 1 biji benda ini lebih berharga dari hidupmu!” bentak Lena.
__ADS_1
Karena kondisi Lena yang sudah parah, tiba tiba Lena terjatuh dan terkulai tidak sadarkan diri. Gin yang awalnya mengira Lena hanya pura pura mulai sedikit cemas saat mendengar detak jantung Lena yang melemah.
“hei bocah sinting! Kemari!” teriak Gin pada Vall yang baru saja pulang dari latihannya
Vall yang melihat Lena tak sadarkan diri langsung menggendongnya dan membawanya pergi.
“ke mana kau akan membawanya?” tanya Gin
“rumah sakit. Ada yang aneh pada Lena jauh hari hari sebelumnya. Ini saat yang tepat untuk memeriksakannya karena dia selalu menolak tiap kali ku ajak periksa”
Gin yang melihat tubuh Vall sudah kelelahan langsung meraih Lena dan menggendongnya.
“tunjukkan jalannya!” bentak Gin
...****************...
Di depan gerbang kampung sampah. Tampak seorang wanita dengan baju sepinggang dan celana ketat datang memasuki gerbang. Wanita itu tampak melihat sekeliling. Pandangan matanya beralih ke tulisan rusak yang hendak Lena pasang di gerbang. Tulisan Milky Way itu membuat si wanita misterius tersenyum menakutkan.
Tidak lama wanita itu memperhatikan tulisan Milky Way, beberapa kumpulan pemuda datang melewatinya menuju arah keluar gerbang.
“ku dengar pemilik tempat ini adalah wanita yang memiliki tanda L di lengan?” tanya wanita itu
Mereka para pemuda yang melihat wanita cantik ini bertanya pun terlihat senang. Bahkan beberapa dari mereka ada yang mencoba merayu dan mengajak berkenalan.
“benar, namanya Lena.” Jawab seorang pria
“dan apakah kata Milky Way ini murni dari dia?”
Si wanita pun terawa kecil dan mulai menjulurkan lidahnya dengan tatapan haus darah.
“kau tahu, penderitaan yang dia maksud itu adalah sebuah keindahan dari kehidupan itu sendiri” ucap wanita itu dengan jari telunjuk yang menyentuh dahi seorang pria di depannya.
Tanpa mereka sadari, jari wanita itu langsung menembus tengkorak pemuda dengan mudahnya. Beberapa teman dari pemuda tersebut lari ketakutan saat tubuh temannya terguncang dan mengejang hebat dengan sebuah jari yang masuk ke dalam otaknya.
Beberapa pemuda lain lari terjungkal dan beberapa lagi dikejar dan dibunuh menggunakan jari jarinya yang sekuat besi. Satu pemuda lari melewati gang gang sempit. Dia pun terpojok dibeberapa bangunan yang masih diperbaiki. Wajahnya pucat jantungnya berdebar kencang bagai genderang perang. Di lihatnya sekeliling mencari jalan keluar tapi terlambat. Wanita itu berjalan mendekatinya. Tampak jari telanjangnya menggores dinding dinding hingga membekas seperti cakar besi yang tajam.
“percayalah, hidupmu akan lebih baik di atas sana. Tiada lagi penderitaan duniawi, tempat di mana kumpulan binatang yang mengatas namakan diri sebagai manusia beradu dengan segala egonya” ucap wanita tersebut.
Sejurus kemudian, potongan rahang dan beberapa gigi pemuda tersebut terkoyak hingga lepas dari kepalanya. Begitu potongan kepala korbannya berjatuhan di tanah, terdengar suara jeritan seorang wanita penghuni kampung sampah. Beberapa yang datang melihat lokasi pun juga dibuat terkejut oleh pemandangan yang sangat kejam ini.
Wanita berjari beri itupun menjilati darah di jari jarinya dan bersiap membunuh siapapun yang terlihat di kampung ini. Karena baginya, kampung ini adalah Milky Way. Baik Gin, Vall dan Lena tidak sedang berada di kampung sampah. Bahkan Lyra pun telah pergi. Di saat anggota sekte RIP mengetahui jati diri Lena, Siapa yang bisa menolong para penghuni kampung sampah kali ini?
...****************...
Lena tersadar berada di sebuah tempat yang gelap. Dia berteriak memanggil ibunya. Suara kecilnya seperti tertelan kegelapan dan membuat dia semakin ketakutan saat menyadari dia sedang sendirian di tempat gelap ini.
Lena kecil pun dikejutkan dengan guncangan tempat gelap itu. Beberapa guncangan susulan membuatnya terduduk dan menangis ketakutan. Tangisannya pun berubah menjadi jeritan saat melihat telapak tangan yang besar. Bahkan jari jarinya sebesar tubuh Lena.
Tangan besar dan berbulu tersebut meraih dan menggenggam Lena dengan erat. Teriakan kesakitan Lena terdengar seperti menunjukkan betapa sakitnya tangan besar itu menggenggam tubuh kecilnya.
Tidak lama kemudian, tubuh Lena ditarik keluar ruangan. Di luar ruangan, tampak beberapa tetua dan ibunya sedang menunggu dengan cemas. Wajah mereka berubah bahagia saat melihat tubuh Lena berhasil keluar.
__ADS_1
Tampak tubuh kecil Lena dilempar menjauh dari bangunan kuil penyegelan. Tampak pula mahkluk buto ijo tersebut meraung keras merasakan sakitnya rasa panas yang menyelimuti tubuhnya. Api Brajamusti merasuk ke sekujur daging buto ijo.
...****************...
Lena pun tersadar dari pingsannya. Saat dia melihat sekeliling, dia hanya menemukan Vall yang tengah terbaring di samping ranjang tempat Lena berada. Lena sadari bahwa dia telah berada di rumah sakit. Rasa cemas dan takut pun hinggap di benak Lena. Dia takut Vall mengetahui hal yang sudah dia sembunyikan sejak lama.
“aku merasa membuang waktuku menjadi pecundang hanya untuk tetap berada di sampingmu”
Dari semua yang Vall ucapkan ini, Lena langsung paham bahwa Vall sudah mengetahui semuanya.
Lena hanya tertunduk dan membisu. Beberapa helai rambut panjangnya menutupi sebelah mata birunya. Tampak wajahnya yang sudah tidak segar seperti dulu. Penyakit yang Lena derita tidak hanya merenggut kesehatannya, tetapi juga kecantikan yang selama ini meriasi parasnya.
“kau ingat saat kita kecil dulu? Berteduh di bawah reruntuhan. Kau bilang akan membuatkan aku sebuah rumah dan aku menjawab aku ingin sebuah keluarga. Setelah semua yang kualami, akhirnya aku memiliki sebuah keluarga kecil sekalipun tanpa ikatan darah dan hanya sebatas pertemanan. Aku merasa kalian seperti keluarga bagiku. Membuat hari hariku menjadi lebih hangat. Sekalipun aku emosi tiap lihat Gin, aku merasa dia seperti seorang ayah bagiku. Baik Nina dan ibunya, mereka juga memberiku banyak kenangan indah selama 10 tahun ini”
Vall menyentuh wajah Lena yang masih tertunduk. Dia melihat Lena semakin meringkuk sedih.
“aku takut. Aku takut mati. Aku masih ingin merasakan kebahagiaan bersama kalian. Jangan meninggalkanku, aku berjanji untuk menjaga jarak darimu” ucap Lena
Tak banyak bicara, Vall menarik kepala Lena dan mencium lembut bibir indahnya. Vall merangkulkan kedua tangannya lebih erat ke punggung Lena saat Lena berusaha memberontak. Ciuman Vall pun terhenti saat melihat Gin memasuki kamar.
“apakah aku mengganggu?”tanya Gin
Baik Vall maupun Lena, mereka sama sama terdiam dan membisu sambil mengalihkan pandangan ke arah lain. Melihat dua pemuda mabuk cinta itu, Gin pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Lama sekali mereka saling membisu. Ciuman yang Vall lakukan tadi membuat mereka berdua merasa bingung untuk memulai pembicaraan. Ini adalah ciuman yang mereka lakukan untuk pertama kalinya.
“aku lapar” ucap Vall memecah keheningan di antara mereka berdua
Vall pun meninggalkan Lena di kamar perawatan. Langkah kakinya melaju menyusuri lorong. Dia melihat Gin terpaku di depan layar TV di sebuah ruangan. Vall yang tidak peduli pun berniat mengabaikannya. Tapi langkah kaki Vall tampak tidak bisa digerakkan saat mendengar berita live langsung membahas markas kartel Parlok yang di porak-poranda pria misterius.
Lebih terkejutnya lagi saat mendengar tidak hanya di tempat Parlok, tetapi juga beberapa tim rescue dan puluhan mobil pemadam kebakaran di arahkan ke kampung sampah. Telah terjadi pembunuhan besar besaran dikedua tempat tersebut secara bersamaan. Kabar panas ini pun langsung menyebar di seluruh penjuru negeri.
“bawa aku, antarkan aku pulang” ucap Lena yang sudah berdiri di belakang Vall
Vall yang tidak berharap Lena mendengar ini pun berusaha menutupi kedua mata Lena saat menatap layar TV sebesar 50 inc itu memperlihatkan kondisi kampung sampah yang tampak terbakar dan penuh mayat berserakan di tanah.
Lena terus menerus berteriak histeris meminta Vall untuk mengantarnya ke kampung sampah. Kampung dan para penduduknya yang dia rawat dengan penuh penderitaan ini habis dengan mengenaskan dalam semalam.
...****************...
Jauh dari kota. Di dalam rumah kecil di pinggir pantai, seseorang pria berusia 35 tahun bernama Juli sedang membetulkan pakaian anak perempuan berusia 9 tahun. Mata anak itu bulat seperti mata Bulan. hidungnya mancung seperti hidung Vall. Wajah polosnya penuh tanda tanya.
“ayah, mau kemana kita?”
“kota kelahiran ibumu” jawab Juli tersenyum manis pada putrinya.
Rambut panjang Juli di ikat kucir kuda sebagaimana kebiasaannya waktu masih muda. Wajahnya yang sudah termakan usia masih terlihat manis mempesona layaknya wanita. Dengan menggendong putrinya, Juli keluar rumah kecil dan sederhananya. Tampak Bulan yang di kabarkan telah mati sedang berdiri di depan rumah menunggu suami dan putrinya.
“kau tahu apa yang akan kita hadapi nanti. Apakah kau sudah siap dengan pilihanmu?” tanya Juli
“aku siap jika itu bisa menolong sahabatku. Tidak, mereka adalah keluarga bagiku” ucap Bulan yang nampak seperti gadis desa. Wajahnya terlihat cerah dan bahagia. Berbeda dengan dirinya dulu yang berada dalam kekangan keluarganya. Selama 10 tahun ini Bulan menjalani hidupnya dengan bahagia dengan Juli yang merupakan salah satu anggota sekte RIP
__ADS_1