Misi Menyelamatkan Hati

Misi Menyelamatkan Hati
9. Mengikuti Zeev Ke Barisfer Akademi


__ADS_3


DUA hari lalu Zeev yang baik hati lagi-lagi menolongku, ia memberikan jaket hitam kesayangannya padaku demi membantuku menutupi bercak merah di rokku. Saat itu aku dibuat mati kutu ketika Zeev mengatakan bahwa aku bocor di tengah-tengah ***, mengingat aku tidak memiliki siapa pun untuk aku mintai bantuan sebab Viona tidak dapat datang ke sekolah demi menghadiri pernikahan saudaranya di Bali. Namun, di lain sisi aku pun amat bersyukur sebab Zeev yang menjadi pangeran berkuda putih untuk menolongku, kendati kata pangeran berkuda putih hanyalah berupa halusinasi yang aku buat-buat sendiri.


Dan di akhir pekan ini aku memutuskan untuk pergi ke Barisfer Akademi demi bertemu dengan Zeev. Tentunya dengan alibi bahwa aku harus mendaftar ke tempat bimbelnya sekaligus mengembalikan jaketnya yang sudah aku cuci hingga wangi. Hebat! Bahkan aku sendiri amat bangga dengan strategi super natural yang aku miliki untuk mendekati Zeev.


Ya, sejauh ini strategi yang aku susun untuk menuntaskan misi meyelamatkan hati Zeev nyatanya mendapatkan umpan balik yang cukup bagus di tahap awal. Aku bisa bimbel di tempat yang sama dengan zeev, pun aku bisa mengikuti organisasi Sispala seperti Zeev. Dan semua itu berkat Zeev yang telah membuka jalan dalam upayaku menemukan celah ketika hendak menyusupi hatinya.


Kendati aku telah menyatakan perasaanku padanya di depan umum dengan cara paling kampungan, namun tidak ada keserakahan yang merasuki nurani. Misiku untuk menyelamatkan hati Zeev bukan demi mendapatkan hati atau pun cintanya sehingga Zeev menjadi milikku seutuhnya. Melainkan aku harus menyelamatkan hati Zeev dari jeratan depresi, bukan untuk kepentinganku sendiri. Oleh sebab itu, penting bagiku untuk bisa menjadi orang terdekat Zeev yang selalu berkeliaran di sekitarnya.


“Zeev!” sapaku bersama lambaian tangan yang berdendang di salah satu bangku yang tersedia di dalam area Barisfer Akademi, membuat langkah Zeev tertuju padaku.


“Lo jadi daftar di sini?” tanya Zeev, hari ini terlihat lebih segar sebab biasanya aku hanya bisa melihat Zeev mengenakan seragam atau kaus olahraga di sekolah.


“Iya! Mulai Lusa gue udah bisa bimbel!” ungkapku seraya tersenyum penuh kemenangan. “Terus katanya lusa gue masuk kelas yang itu!” jemari lentikku menunjuk pada salah satu pintu kelas di sisi kanan belakang Zeev.


“Oh! Kita satu kelas lagi, dong!” seru Zeev bersama netranya yang nyalang.


“Wah, kebetulan banget dong, ya!”

__ADS_1


Bukan. Tentu saja ini bukan akibat kebetulan maha sempurna yang telah semesta suguhkan secara cuma-cuma. Bukan pula bermula dari intervensi takdir yang membuka jalan paling nadir nan indah dengan suka rela. Melainkan akibat jerih payahku yang berhasil membujuk salah satu staff agar aku dapat masuk ke kelas yang sama dengan Zeev. Dan beruntungnya staff itu mengizinkanku dengan mudah tanpa syarat.


“Oya! Ini gue mau sekalian ngembaliin jaket lo!” kuserahkan kain hangat nan lembut hitam itu pada Zeev. “Tenang aja. Udah gue cuci sampe bersih, kok!”


“Makasih ya, Nar.” Zeev mengambil alih barang miliknya dengan tak lupa melemparkan anak senyum yang menghujam jantungku.


“Nggak. Gue kali yang harusnya makasih sama lo. Kalau gak ada lo mungkin gue bakalan malu setengah mati di sekolah.”


Setelah aku berhasil melihat wajah Zeev yang telah menjadi bahan bakar semangat di akhir pekan ini, kini aku harus meninggalkan Zeev sebab kelas bimbel Zeev akan lekas dimulai. Belajar memang bukan keahlianku. Namun, perlahan aku mulai menikmati masa-masa pekerjaanku sebagai pelajar sebab Zeev telah memberiku motivasi terbesar bahkan ketika tanpa ia sadari, membuat nurani bergemuruh sebab tidak sabar untuk bisa mendapatkan bimbingan belajar bersama dengan Zeev.



Kini raga serta jiwaku telah bertransmigrasi sepenuhnya dari Barisfer Akademi ke Galaxy Coffee Shop, sebuah kedai kopi yang tengah populer di kotaku bersama dengan Viona, mengingat kami sudah lama bernazar untuk datang ke mari. Alasannya tentu sudah amat jelas, bukan? Kami datang bukan selaku penggemar berat kopi atau sebagai seorang ahli yang amat mengerti jenis-jenis kopi. Melainkan kedatangan kami hanya sebagai dua orang remaja yang ikut-ikutan trend di media sosial demi memenuhi feed instragram dengan suasana yang mengusung tema luar angkasa.


“Muka lo malah jadi keliatan kaya onta tau gak?” sarkasnya ketika berhasil mengabadikan dua bidikan terakhir.


“Coba liat?” aku menyerobot langsung gawai Viona guna memastikan kebenarannya. Dan ternyata “Nggak, kok! Lucu!” protesku manakala melihat wajahku di layar gawai.


“Wah! Selain narsis, ternyata mata lo juga katarak, ya!” lagi-lagi Viona tidak pernah berkata manis padaku sebab di matanya poseku selalu terlihat aneh.

__ADS_1


“Daripada lo tiap foto semua posenya sama! Mentok-mentok cuma nyengir pake salam dua jari!” aku tidak ingin kalah dan meluncurkan serangan balik, membuat Viona kalah telak.


Ya, untuk hal-hal umum yang biasa dilakukan oleh para remaja perempuan bersama teman-teman sebayanya ketika bersama, memang tidak terdapat dalam diri Viona. Viona tidak pernah berkata manis atau memujiku secara berlebihan atas segala hal yang sebagian orang mudah mengucapkannya kendati hanya berupa ungkapan formalitas. Dan aku tidak mempermasalahkan hal itu sebab kabar baiknya tidak ada kepalsuan atas setiap kata yang keluar dari bibir Viona.


“Btw, yang katanya lo mau ikut bimbel di BA itu jadi?” tanya gadis berikat kuda itu setelah menghisap cairan dingin kopi susu melalui sedotan.


“Jadi, dong! Meski pun akhirnya uang bulanan gue jadi kena potongan dua puluh persen sama nyokap buat nambal biaya bimbel gue.” jelasku setengah prihatin atas kesejahteraan dompet yang mulai terancam.


“Terus yang kemaren lo bilang mau ikut Sispala itu beneran?”


“Benerlah! Gue udah serahin data keanggotaan gue ke sekretarisnya.” Aku menjawab dengan mantap. “Kenapa? Lo berubah pikiran dan mau ikut juga?”


“Dih, ngapain? Mending gue push rank di kamar gue yang ber-AC daripada gue bikin limbah suara gara-gara gue ngomel mulu kepanasan.” kali ini Viona masih saja menolakku dengan komentar tajamnya. “Tapi, kenapa lo tiba-tiba pingin join Sispala? Selama ini gue kenal lo, gue gak pernah tuh, nemuin jiwa-jiwa anak alam dari lo!”


Benteng di dalam batinku sontak dibuat tertohok oleh fakta yang dibeberkan Viona, mengingat ia sudah cukup mengerti aku selama empat setengah tahun terakhir yang telah kami habiskan bersama. Bahkan kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak terlalu menyukai strategi ini untuk mengikuti Zeev. Namun, seingatku Zeev pernah tertimpa musibah ketika ia mengikuti kegiatan Sispala sehingga menyebabkan kakinya terkilir. Dan aku harus mencegah hal itu terjadi sebab dapat memengaruhi mobilitas Zeev yang mengharuskan salah satu kakinya digips.


“Gue kan, masih muda, Na! Jadi, gue cuma pingin nikmatin masa-masa muda gue dan ngelakuin semua hal yang belum pernah gue lakuin, salah satunya naik gunung misalnya.”


Alih-alih terkesima oleh jawaban paling bijak sekaligus paling dusta yang pernah aku katakan, Viona justru tergelak mendengar jawaban itu. Ironisnya aku juga merasa konyol atas apa yang baru saja aku utarakan, mengingat mall dengan segala macam isinya merupakan surga dunia paling nikmat dalam kehidupan fanaku.

__ADS_1


“Terserah, deh! Yang penting jangan sampe lo malah ngerepotin anggota Sispala yang lain gara-gara baru sampe di kaki gunung lo udah minta turun!” cetus Viona, sebuah pesan yang tentunya tidak akan pernah aku lakukan kendati tungkaiku harus patah sekali pun.



__ADS_2