
SEJAK Lunar memintaku untuk melupakan kejadian di pagi hari ketika aku menunggu beberapa peserta olimpiade lainnya, aku pun mulai belajar untuk mengenyahkan semua firasat serta prasangka semuku pada Lunar. Ya, boleh jadi Lunar memang sama saja seperti gadis-gadis yang selama ini menyatakan cinta padaku. Mereka hanya tergila-gila pada persona sempurna yang aku coba tampilkan di muka umum. Padahal sebenarnya semua itu aku lakukan semata-mata hanya karena aku menjabat sebagai ketua OSIS yang di mana secara tidak langsung memang dituntut untuk terlihat sempurna.
Terserah. Sebagian orang mungkin menyebutku bermuka dua atau manusia bertopeng. Tapi, bagiku tidak ada salahnya memiliki banyak persona. Pasalnya manusia memiliki tugas yang tidak mudah dalam menjalani hidup yang semakin keras ini. Aku dituntut mampu beradaptasi dengan segala drama yang disajikan bumi. Jadi, tidak ada yang salah dengan menguasai banyak persona selama persona itu memiliki kemaslahatan dan tidak merugikan orang lain.
Pun, aku tidak mengucilkan gadis-gadis yang mencanangkan rasa ketertarikannya terhadapku secara terang-terangan. Bagiku, menyatakan perasaan yang dilahirkan oleh kejujuran bukanlah sebuah dosa atau aib yang harus dikubur. Justru aku mengapresiasi atas keberanian mereka dalam mengimplementasikan perjuangan Raden Ajeng Kartini yang mempelopori emansipasi wanita. Hanya saja, aku dan para lelaki lainnya memiliki satu rahasia umum di antara kami. Para lelaki ini juga diberi kemampuan untuk memahami rasa mana yang dilahirkan oleh keulusan dan mana yang dilahirkan oleh kebohongan untuk kepentingan satu belah pihak.
“Zeev!” sapa Lunar sambil berlari kecil ke arahku, membiarkan surainya melambai-lambai dengan indah.
Sial! Ternyata aku masih belum bisa melupakan kejadian itu sepenuhnya! Otakku otomatis memutar cuplikan adegan di pelataran pagi itu.
“Gue mau tanya, dong!” seperti biasa, Lunar selalu memberikan intro sebelum masuk ke inti pembicaraannya. Sekarang aku mulai terbiasa dengan gadis aneh ini.
“Tanya apa?” balasku seplegmatis mungkin. Ya, aku jelas tidak boleh kalah plegmatis seolah-olah tidak ada yang terjadi seperti Lunar, bukan? Tentu, aku tidak boleh merasa terusik.
“Kalau gak salah lo ikut bimbel, kan?” tandasnya, memberiku rambu kuning tanda peringatan akan datangnya probababilitas ancaman.
“Iya. Kenapa emang?”
“Jadi, gini... Nyokap gue nyuruh gue buat ikut bimbel karena dua bulan lagi mau UAS. Kalau boleh tau lo ikut bimbel di mana?” selidik Lunar bersama sepasang netranya yang berbinar.
“Di Barisfer Akademi.”
__ADS_1
“Gue boleh minta tolong buat mintain brosurnya?” pintanya, membuat pandanganku sedikit merunduk sebab gadis itu dua puluh senti lebih rendah dariku.
Aku tidak mampu menafikan nurani bahwa ada sebuah keterusikan batin yang cukup mengganggu ketika Lunar bersikap biasa-biasa saja terhadapku, seperti saat ini. Namun, nalar ini amat membutuhkan dasar pemahaman yang kuat sebelum aku berargumentasi atas segala polah gadis itu. Atas dasar apa aku herus merasa terusik akan kehadirannya? Mengapa ada sesuatu yang asing dalam diri ini ketika melihat Lunar bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara kami? Mungkinkah ini yang dinamakan kecewa? Kalau, iya. Lantas mengapa aku harus merasakannya?
Alih-alih tenggelam dalam labirin asumsiku sendiri. Aku justru menyanggupi permintaan Lunar tanpa syarat, mengingat akan sangat artifisial bila aku menolak permintaan sederhananya ini. Ya, aku harus bersikap senatural mungkin layaknya Lunar yang kembali kepada Lunar yang aku kenal, tidak nekat dan gila seperti hari di mana ia menyatakan rasa sukanya padaku.
“Kalau gitu gue tunggu brosurnya, ya! Thanks, Zeev!” jawabnya sebelum akhirnya berlalu serta meninggalkanku dengan bayang-bayang senyum manisnya.
ESOKNYA aku menyerahkan selembar brosur sekaligus formulir pendaftaran kalau-kalau Lunar tertarik untuk bergabung dengan akademi bimbelku. Siapa pun pasti bisa melihat antusias Lunar dari senyum lebar penuh kemenangannya manakala ia menyentuh secarik kertas putih itu. Barangkali Lunar benar-benar putus asa atas nilai-nilainya dan bertekad untuk belajar lebih serius. Aku suka semangatnya. Terlebih lagi senyuman itu amat serasi untuknya.
Huh? Ngomong apa gue barusan?
“Iya, lo liat aja dulu. Siapa tau cocok, kan!” aku berusaha bersikap sealami mungkin.
“Cocok, kok! Kan, ada elo, Zeev!” seru Lunar, memperlihatkan senyum selebar bahunya.
Apa? Apa maksudnya itu? Apa Lunar sendiri tahu apa yang baru saja ia katakan? Aku sendiri tidak menyangka bahwa Lunar akan menyebut namaku selugas itu bersama senyum liciknya manakala memaparkan alasannya yang masuk ke Barisfer Akademi. Apa itu maksudnya ia masuk bimbel ke Barisfer Akademi karena aku? Tidak! Di saat seperti ini aku tidak boleh ge-er, kan?
Berpikir rasional, Zeev! Rasional!
__ADS_1
Kendati aku telah berusaha untuk tetap waras. Namun, suara Lunar itu terus mengaum-ngaum sambil hilir mudik di gendang telingaku. Entah bagaimana bunyi itu telah menjadi sebuah melodi indah seolah-olah aku haus akan suaranya. Fix! Nampaknya aku terjangkit sebuah penyakit aneh.
“Oya, Zeev! Gue, kan gak aktif dikegiatan apa pun di sekolah! Kalau misalnya gue gabung jadi pengurus OSIS bisa gak kira-kira?” tanya Lunar, memburaikan lamunanku tentangnya.
“Kalau itu, sih gak bisa, Nar! Kalau lo mau ikut, lo harus ikut diklat dan dilantik dulu. Tapi, kan diklat sama pelantikannya udah kelewat. Nunggu tahun depan juga udah gak bisa karena kelas tiga itu udah harus fokus sama ujian.”
Di tengah-tengah aksiku yang membeberkan alasan itu, diam-diam aku turut menyelipkan sebuah prasangka teraktual terhadap Lunar. Entah mengapa sejak kemarin aku jadi keranjingan untuk menerka-nerka tentang maksud dan tujuan Lunar sebenarnya. Rambu-rambu dalam lobus frontal ini selalu memberi lampu kuning tanda sanubari harus waspada akan segala mara bahaya. Bahkan dalam kasus paling absurdnya ketika Lunar hanya sekadar menyapa sambil tersenyum ke arahku di kala kami berpapasan, dan anehnya logikaku sudah dibuat mati kutu sebab dibuat penasaran.
Lo pake sihir jenis apa sih, Lunar?
“Kalau gue daftar jadi anggota sispala bisa?” selidik Lunar, benar-benar menguji keteguhan iman.
“Bisa aja, sih! Setau gue pembina sama anggotanya juga selalu terbuka buat siapa pun yang mau gabung.”
“Kalau gitu lo bisa bantu gue buat mintain formulirnya gak? Lo juga anggota sispala, kan?” tebaknya dengan tepat. Ya, sebagian besar siswa-siswi di sini juga sudah tau itu. Jadi, kali ini aku tidak ingin berlebihan menilai Lunar.
“Oke, nanti gue mintain ke sekretaris sispala, deh!” aku bersetuju akan permintaan Lunar dengan mudah.
“Kalau gitu gue tunggu formulirnya, ya! Thanks, Zeev!” timpal Lunar sebelum akhirnya berlalu menghampiri Viona yang telah menunggu untuk bertolak menuju kantin. Kali ini pun ia masih tidak abesen dalam memberi senyuman terbaiknya kepadaku secara cuma-cuma.
“Apa, nih? Kok, deja vu!” heranku, tanpa sadar salah satu tanganku mengusap-usap dada guna menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam sana.
__ADS_1