
Barangkali menghindari Lunar merupakan pekerjaan sukar bagi seorang ketua OSIS, mengingat aku tidak pantas untuk mendiskriminasi Lunar layaknya ia bagian dari yang tak kasat mata. Ditambah lagi kami berada dalam satu kelas yang sama dan ke depannya mungkin akan lebih banyak kesempatan lagi untuk bersua dalam kegiatan Sispala atau pun bimbel yang akan ia geluti selanjutnya.
“Oy! Nih, jaket lo!” pekik Theo, membuatku lantas beringsut menuju ke arahnya. “Buat apa, sih nyuruh-nyuruh gue ambilin ginian?” ada bayangan huruf W yang terlukis di keningnya.
“Ya, karena gue butuh!”
“Terus itu apaan? Amplop dari pak Dahlan?” selidik Theo manakala ia mendapati sebuah kantung plastik hitam yang tengah menyembunyikan rapat-rapat benda yang baru saja aku beli dari koperasi.
“Banyak tanya lo!” protesku seraya merebut kain hangat nan lembut itu dari genggaman Theo. “Udah sana balik ke kelas!” kutepuk bahunya untuk sekadar meninggalkan Theo lebih dulu.
“Iya, Iya! Sama-sama paketu!” pekik Theo dengan satir.
Aku memang selalu berusaha memberikan persona terbaikku kepada semua orang. Namun, bersamaan dengan itu aku juga selalu memberi persona paling sampah kepada Theo seorang. Kebetulan Theo juga bukan manusia yang bersih, kendati aku masih bisa melihat sebuah titik putih dalam dirinya. Jadi, entah bagaimana hubungan kami bisa terjalin cukup baik kendati melewati sesuatu yang kotor. Bukan berarti kami tidak pernah bertengkar. Kami jelas pernah mengalami masa di mana saling beradu argumen hingga beradu jotos. Dan aku masih mengingat dengan baik dendamku saat itu.
Kala itu adalah hari ke dua masuk SMA di masa orientasi siswa. Aku dan Theo tanpa sengaja datang ke salah satu toko kelontong yang ada di depan sekolah untuk membeli roti yang harus kami kumpulkan kepada para panita – nantinya akan disumbangkan dalam rangka kegiatan bakti sosial. Akibat roti yang tersisa hanya tinggal satu, maka kami memutuskan untuk saling berebut dan menggelar kekacauan sebab tidak ada yang ingin mengalah. Khususnya aku yang tidak ingin dijemur seperti hari sebelumnya akibat memberikan minumanku kepada salah satu peserta perempuan yang tidak aku kenal.
Saat itu Theo sangat buas sehingga aku mendapatkan tato biru di pepilis kanan akibat bogem mentah yang ia daratkan. Aku yang tidak terima lantas membalas aksi anarkis itu. Namun, ternyata Theo memiliki pertahanan yang gesit sehingga ia berhasil berkilah dan justru membuat bapak pemilik toko kelontong yang berusaha melerai kamilah yang harus menjadi samsak tinjuku. Pada akhirnya kami harus memberi penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih sebab bapak toko kelontong itu mengadukan kami ke pihak sekolah. Aku dijemur lagi.
__ADS_1
“Makasih ya, Zeev!” ungkap Lunar manakala aku melingkarkan jaketku pada pinggang rampingnya guna menutupi jejak merah di rok bagian belakang.
“Sama-sama.” balasku seraya menyerahkan plastik hitam kepada permukaan telapak tangannya. “Gue ke kelas duluan, ya!” begitulah caraku pamit dan meninggalkan Lunar di bangku taman. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh dengan segala drama gadis itu.
Sebelum berpindah menuju tempat bimbel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah, aku tidak luput untuk menghampiri Riri di kelas XI IBB 2 guna mengambil selembar formulir pendaftaran keanggotaan Sispala. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk aku persembahkan kepada Lunar, gadis yang membawa pulang jaketku untuk menutupi roknya hingga *** berakhir.
Tunggu! Mengapa aku yang kerap disebut-sebut sebagai anak tercerdas di sekolah ini justru tidak terbesit ide untuk menyuruh Lunar menghadap langsung saja pada Riri?
Aku tahu bahwa sudah menjadi tugasku untuk melayani, membimbing, serta mengarahkan siswa-siswi dalam kegiatan organisasi. Namun, aku tidak perlu sampai menyuapi mereka satu per satu seperti yang aku lakukan pada Lunar, bukan? Alih-alih mendiskriminasi Lunar dengan konotasi negatif, justru tanpa sadar aku telah mendiskriminasi Lunar dengan cara paling sopan dan positif.
“Ya, sorry! Gue kan, gak punya kemampuan teleportasi!” terangku yang tengah menggendong ransel kelabu.
“Nih, formulirnya!” Riri menyodorkan secarik kertas putih itu padaku. “Emang siapa sih, yang mau gabung?”
“Lunar. Lo juga kenal dia, kan?”
__ADS_1
“Kenal sih, nggak! Tapi, gue cukup tau kalau Lunar tuh, yang nyatain cinta pagi-pagi di lapangan itu, kan?” tanya Riri dengan datar, bahkan wajahnya juga tidak mengalami banyak perubahan.
“Udah deh, gak usah ngejek! Telinga gue udah panas banget denger orang-orang pada ngomongin itu mulu.” protesku seraya menutup indera pendengar ini dengan kedua tangan.
“Kalau telinga lo aja panas, apa lagi Lunar! Lo tau kan, sejak kejadian itu dia jadi dijauhin sama temen-temennya?”
Pertanyaan Riri lantas berhasil menyadarkan akal sehatku. Aku pikir selama ini hanya aku yang menanggung banyak kerugian atas perbuatan gila Lunar, mengingat nama baikku sudah tercoreng akibat tersebarnya rumor buruk yang salah kaprah tentangku di sekolah. Namun, logikaku terlalu dangkal sehingga tidak menyadari posisi Lunar. Pantas saja beberapa hari ini Lunar hanya menghabiskan waktu istirahatnya di bangku taman sendirian, mengingat Viona tengah izin tidak masuk sekolah selama dua hari.
“Lo masih yakin biarin Lunar gabung ke Sispala?” Riri menatapku seolah-olah dengan kehadiran Lunar di Sispala akan berdampak besar bagi kehidupan Lunar di sekolah. “Kemungkinan terburuknya dia bisa aja lebih dibenci daripada sekarang karena dituduh udah jadi fans fanatik kegatelan lo.”
Riri benar. Mengapa aku baru saja mengingat bahwa aku memiliki Zeevers yang selalu membayangiku? Boleh jadi Zeevers akan berbuat hal yang lebih buruk dari ini, mengingat Zeevers selalu lebih dulu menyapu bersih masalah-masalahku terkait lawan jenis. Bukannya aku jumawa atau sok kecakepan. Hanya saja aku memiliki cukup banyak pengikut di sekolah, baik para pengurus OSIS di masa baktiku, atau pun Zeev Lovers – kumpulan para remaja perempuan yang katanya mengagumi serta menjadi pengikut setiaku.
“Tapi, gue juga gak punya hak buat larang dia, kan?” dalihku, membiarkan pandanganku dan Riri saling bertemu.
“Lo gak risih?” kelit Riri, diam-diam menuntut ketegasan dariku.
Risih? Tentu! Normalnya aku akan merasa risih bila ada siswi perempuan yang terlalu agresif mendekatiku laiknya kasus-kasus yang pernah aku alami sebelumnya. Namun, mengapa aku tidak mendapati gelombang risih yang bergetar ketika gadis itu adalah Lunar? Seolah-olah nurani ini tahu bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam diri Lunar yang nurani ini amat ingin pastikan. Apa segala kejanggalan yang memporak-porandakan keteguhan nalar disebabkan oleh adanya sebuah ketertarikan?
__ADS_1
Deg!
Apa gue suka Lunar?