
“Kalau memang bukan milik kamu, coba jelaskan kenapa benda itu ada di tas kamu?” pinta bu Gina, masih tidak yakin atas jawaban yang sudah aku jelaskan.
“Buat apa? Buat ibu percaya sama omongan saya meski pun saya udah jelasin kalau itu bukan milik saya? Saya gak bisa buat ibu percaya kalau ibu sudah berprasangka lebih dulu sama saya. Sekarang saya gak mampu buat buktiin lewat rekaman CCTV karena sekolah ini gak nyediain fasilitas itu. Ibu juga gak mampu bantu saya buat ngelakuin tes sidik jari yang ada di rokok itu, kan?” tanyaku serendah dan seplegmatis mungkin.
“Ini bukan soal kepercayaan, Lunar. Ibu juga gak punya prasangka buruk sama kamu. Ibu cuma menanyakan cerita dari sudut pandang kamu.” ungkap bu Gina dengan sabar.
“Carita dari sudut pandang saya cuma itu bu. Saya gak tau apa-apa dan gak bisa jelasin kenapa benda itu bisa ada di tas saya.”
__ADS_1
Pada akhirnya aku dan bu Gina tidak memiliki jalan keluar lain selain aku harus menerima hukuman atas perbuatan yang tidak pernah aku lakukan. Aku sempat meminta bu Gina untuk mengusut masalah ini hingga menemukan palaku aslinya dan ia setuju atas permintaanku, kendati tidak dapat memberikan jaminan bahwa ia dapat membersihkan namaku dengan tuntas.
Setelah melakukan obrolan yang cukup alot hingga menemukan sebuah kesepakatan, akhirnya aku diperbolehkan untuk keluar dari ruangan konseling. Tak dinyana sudah ada Viona di ambang pintu yang menungguku sejak tadi. Gadis berikat kuda itu nampak sudah tidak tahan lagi menahan segala pertanyaannya dalam benaknya. Ya, aku bisa melihat jelas dari sorot mata Viona.
“Apa kata bu Gina?” selidik Viona yang menggebu-gebu.
“Dia minta gue buat nulis surat pernyataan kalau gue gak akan ngelakuin hal itu lagi. Tapi, gue gak mau karena itu sama aja gue ngakuin hal-hal yang bukan perbuatan gue. Akhirnya gue disuruh bersihin aula sekolah selesai *** hari ini.” ungkapku tanpa semangat.
“Ya, mau gimana lagi? Dari pada masalahnya gak kelar-kelar dan malah berdampak sama nilai gue!” sahutku dengan lantang.
__ADS_1
“Harusnya lo bilang kalau disekolah ini banyak seribu orang yang serempak musuhin lo. Dan bisa jadi mereka salah satu pelakunya yang udah jebak lo!” sungut Viona bersama kobaran api yang membara di kelopak matanya.
“Terus menurut lo pihak sekolah bakalan mau gitu selidikin satu per satu siapa orang yang udah jebak gue? Gak mungkin, Na! Bahkan bu Gina aja gak percaya sama gue!” tandasku dengan penuh amarah. “Minggu kemaren gue abis kena teguran pak Dahlan gara-gara udah nyium ketua OSIS kesayangannya. Sekarang gue harus kena semprot bu Gina gara-gara rokok. Kenapa sih, cobaan gue berat banget, Na?” aku merengek sejadi-jadinya pada sahabat terbaikku sambil bergelayut di tangannya.
“Makanya kalau gue kasih tau itu jagan bebal! Semua kesialan lo ini gak akan terjadi kalau lo jauh-jauh dari Zeev!”
“Udah deh, gue gak mood buat berdebat soal ini lagi!” dengusku seraya menghempaskan lengan Viona.
“Lagian emang lo masih suka sama Zeev setelah dia diem aja waktu semua orang nuduh lo dan justru nganterin lo ke ruang BK secara suka rela?” pancing Viona yang langsung aku makan umpan darinya.
__ADS_1
Kian dipikirkan aku jadi kian murka atas perilaku Zeev dalam menyikapi masalahku. Bukan sebab ia menuntunku menuju ruangan konseling yang di mana sebagian besar di masuki oleh anak-anak bermasalah di sekolah. Bukan pula sebab Zeev diam membisu tanpa sedikit pun membelaku di muka umum. Tetapi, amarahku dipicu sebab Zeev tidak sedikit pun mempercayaiku.