
AKHIR-AKHIR ini sebagian waktu istirahatku, aku dedikasikan kepada bangku taman bagian dalam yang nampak selalu kesepian. Salah satu alasanya sebab aku tengah menghindari kantin yang telah berubah menjadi peternakan Zeevers yang tidak pernah lagi terasa menyenangkan, mengingat sorot mata penuh dendam masih kerap aku dapatkan ketika aku berada di sekitar mereka. Bahkan tidak jarang beberapa Zeevers bernyali tinggi juga mencibirku secara terang-terangan.
Namun, bangku taman ini juga bukan sekadar tempat di mana aku mencari setitik ketenangan, mengingat alasan utamaku berusaha konsisten di tempat ini adalah untuk menyelamatkan Zeev dari cairan soda yang akan jatuh menimpa kepalanya. Sayang. Daya ingatku tidak terlalu tajam sehingga aku hanya memiliki sedikit informasi bahwa Zeev akan terguyur cairan soda di waktu istirahat tanpa mengetahui tanggal, hari, serta menit yang pasti ketika peristiwa itu terjadi, membuat aku harus tetap siaga di bangku taman ini hingga masa itu terlewati.
“Nih, batagor sama teh kotak pesenan lo!” tutur viona manakala membawa dua kotak teh berkeringat dingin serta dua kotak batagor hangat yang dilapisi styrofoam. “Sampe kapan sih, gue harus jadi budak lo?” rengeknya, mengingat Viona harus membelikan aku ini dan itu serta membawanya ke taman agar aku dapat makan dengan nyaman tanpa memberinya sepersen pun ongkos jalan.
“Sampe Zeevers gak sensi dan gosipin gue lagi.” aku menimpali seplegmatis mungkin sambil mengambil bogaku, membuka serta mengaduk batagor dengan penuh afeksi.
“Mereka gak akan berenti gosipin lo, Lunar. Apa lagi kalau nanti mereka tau ternyata lo gabung ke Sispala setelah mereka jelas-jelas udah peringatin lo buat jauh-jauh dari Zeev. Bahkan gue udah gak akan kaget lagi sih, kalau nanti gue ngeliat adegan labrak-labrakan kaya kemaren-kemaren.”cakap Viona yang duduk serta memperingatiku.
“Kan, ada elo! Lo kan, anak karate.. Jadi, bisalah kalau back-up gue sekali-kali!” jelasku seraya tersenyum menggoda penuh manipulasi.
“Kalau lawan lo satu dua sih, gue siap jadi garda terdepan! Tapi, ini masalahnya kalau dikumpulin musuh lo bisa sekampung, Lunar! Yang ada gue bonyok duluan sebelum ngabisin seperempatnya!” celus kalimat yang menerobos keluar dari sela-sela bibir Viona. “Mending lo batalin deh, niat lo buat gabung ke Sispala! Gue gak punya kekuatan super buat belain lo terus, Lunar.”
Viona nampaknya mulai menyerah atas keadaanku yang tidak diuntungkan yang justru membuatnya kesulitan, mengingat aku sudah memanfaatkannya untuk kepentinganku sendiri. Sekarang nuraniku jadi merasa sedikit bersalah kepada sahabat satu-satunya yang aku miliki. Apa ada cara lain yang dapat aku lakukan untuk menyelamatkan Zeev tanpa membuat Viona ikut terlibat ke dalam masalahku?
__ADS_1
“Udah, udah! Mending sekarang lo makan dulu batagor lo! Nih, udah gue adukin!” aku mengalihkan topik guna mengulur waktu ketika mencari jalan keluar dari isi kepalaku sendiri.
“Tapi, gue serius. Lo tau kan, kalau ada semboyan yang namanya musuh sahabat sama dengan musuh bersama?” pertanyaan retoris Viona tentunya tidak perlu aku jawab lagi. “Dan itu yang bikin situasi kita ini jadi kalah jumlah sebelum berperang, Nar.”
Aku lagi-lagi dibuat bungkam oleh ucapan Viona yang hanya mengandung kebenaran, sukses merasuki pori-pori emosi paling sensitif dalam amigdala. Sebenarnya tidak semua musuhku merupakan seorang Zeevers yang aktif. Hanya saja ada sebuah budaya turun temurun yang mengusung konsep di mana bila menyentuh sahabat mereka, maka sama dengan menyentuh diri mereka sendiri. Dan begitulah akhirnya aku menjadi musuh bebuyutan oleh para siswi di sekolah yang setengahnya hanya ikut-ikutan demi membela sahabat di lingkaran pertemanan mereka.
“Lagian motivasi lo apa sih, sampe tiba-tiba pingin ikut bimbel sama Sispala segala?” tanya Viona lagi, membuat kulit kepalaku gatal. “Kalau cuma karena pingin deketin Zeev, mending lo dengerin saran gue buat jauhin dia. Usaha lo gak akan pernah worth it buat dapetin dia, Lunar.”
Bila Viona sudah menatapku dengan intens serta menambahkan namaku pada tiap akhir kata-katanya, maka hal itu menandakan bahwa logika Viona tengah bicara dengan amat serius sekaligus memberi pertanda akan ada sesuatu hal yang amat krusial bila saja aku memaksa untuk tetap setia pada situasi burukku saat ini. Haruskah aku menyerah dan membiarkan semua keadaan berjalan seperti semestinya, termasuk membiarkan Zeev mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling mengenaskan?
Ketika aku tengah mencoba keras untuk meyakinkan akal dan nurani, membuang pandangan dari Viona dan lebih memilih untuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Tiba-tiba sepasang netraku mendapati seorang siswa di lantai dua tengah bercanda dengan beberapa temannya sambil menggenggam sekaleng minuman. Dan di saat bersamaan aku pun mendapati Zeev serta Theo yang berjalan lurus ke arah kami guna memangkas jalan dari kantin menuju kelas.
“Lo mau ke mana? Gue belum selesai ngomong!” pekiknya yang enggan aku indahkan.
Kini aku telah berada tepat di hadapan Zeev dan Theo sambil mengatur pernapasan sebab telah berlarian, membiarkan kedua pemuda itu menatap aku dengan heran.
__ADS_1
“Lo kenapa, Nar?” akhirnya Theo mempertanyakan maksud tujuanku datang ke hadapan mereka dengan mata tergesa-gesa. “Abis dikejar-kejar zombie?”
“Nggak. Bentar... Gue mau ngomong!” sahutku, tubuhku sampai membungkuk sebab menahan napas yang terpenggal-penggal.
“Oke, atur napas dulu coba!” usul Theo yang jelas-jelas aku tengah melakukannya sekarang.
Setelah paru-paruku sudah mampu memasok oksigen dengan normal, aku lantas melanjutkan intro “Jadi, gini.... Gue mau nanya.”
“Nanya apa?” nampaknya Theo lebih penasaran ketimbang Zeev sebab sorot matanya tergeming dan menatap lurus ke arahku.
Nahasnya, aku belum menyiapkan objek atas apa yang akan aku katakan sebagai alibi, membuat otak kecil ini sejenak berpikir serta menimbang-nimbang topik apa yang paling masuk akal untuk aku kemukakan saat ini.
“Oy! Siapa yang udah buang minuman sembarangan dari atas?” pekik salah satu siswa yang sudah basah sebab terguyur cairan soda cokelat, berhasil mengalihkan perhatianku, Zeev, dan Theo secara bersamaan.
“Maaf bang, gak sengaja!” pekik pelaku yang sudah tidak asing lagi di indera penglihatanku.
__ADS_1
Aku memang berhasil menyelamatkan Zeev dari kepungan soda gembira yang terjun ke pucuk kepalanya. Namun, aku tidak menyana bila ternyata ada kakak kelas yang berjalan menuju titik jatuh minuman kaleng itu sehingga kali ini harus mendarat ke pucuk kepala pemuda itu. Bila kala itu Zeev hanya memaafkan pelaku dengan mudah, lalu terpaksa mengganti seragamnya dengan kaus olahraga. Namun, kakak kelas yang menjadi korban saat ini tidak terima sambil berjalan memaki ke arah toilet laki-laki di ujung lorong bagian kiri.