
SEJAK peristiwa yang terjadi di toilet antara aku dan Lunar, hubungan kami justru berjalan semakin baik. Kami dapat berteman akrab di sekolah, di tempat bimbel, dan di organisasi. Bahkan tidak jarang Lunar mengirimi aku video-video lucu berdasarkan selera humornya padaku yang sebagian besar ia dapatkan dari tiktok. Aku pernah mempertanyakan alasan Lunar mengapa ia mengirimiku video-video berdurasi amat singkat itu. Dan jawabannya sungguh diluar akal sehat, ia membeberkan satu alasan pasti sebab aku tidak memiliki aplikasi tersebut.
Kadang aku cukup terganggu dengan keabsurdan Lunar yang menyampah di whatsapp sehingga sering kali ia berada di posisi paling atas dalam daftar chat di gawai. Namun, sering kali juga aku dibuat tergelak melawan gelitik perut sebab tertular selera humor Lunar yang receh. Tanpa aku sadari akhir-akhir ini video-video yang ia kirim menjadi salah satu hiburan tersendiri bagiku untuk sekadar menghirup satu tarikan napas panjang di tengah-tengah rutinitas melelahkan.
“Lo udah liat video yang gue kirim belum?” tanya Lunar manakala kami berjalan beriringan menuju Barisfer Akademi.
“Lagi?” tanyaku setengah tidak percaya mengingat hari ini ia sudah mengirimkan aku beberapa video.
“Iya, sejam yang lalu gue kirim! Nanti kalau lo suntuk coba liat, deh! Lucu banget tau!” katanya, tanpa memandangku sebab ia harus fokus menatap ke depan.
__ADS_1
“Kayanya lo akhir-akhir ini kecanduan aplikasi joget-joget itu, deh! Inget! Lo harus bisa imbangin waktu lo buat naikin nilai lo juga, Nar!” usulku, tanpa maksud untuk menggurui Lunar.
“Iya, iya. Gue kurang-kurangin, deh!”
“Terus mau sampai kapan kita pura-pura gak kenal di sekolah?” pungkasku yang kiranya tidak sanggupku tahan lagi untuk bersarang di ujung lidah. “Kalau dipikir-pikir ini udah kedua kalinya kita pura-pura gak kenal kaya gini, kan?”
Sebagai teman, aku tidak bisa membantu Lunar lebih jauh atas masalah yang telah ia hadapi. Aku tahu melapor kepada pihak guru juga belum tentu solusi terbaik yang akan Lunar tuai, mengingat kami bukan murid Taman Kanak-Kanak yang dilarang melakukan sesuatu hal lantas menurut begitu saja. Tidak ada jaminan bila mereka jera ketika mendapatkan teguran. Belum lagi bully tidak hanya dapat mereka lakukan di sekolah. Oleh sebab itu, aku mencoba mengerti permintaan Lunar yang mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri dengan diam-diam tetap memperhatikan ia dari jauh tanpa Lunar sadari.
“Mungkin sampai kita kelas tiga? Seenggaknya saat itu gue lebih berani buat ngelawan mereka karena mereka bukan kakak kelas!” ungkap Lunar, bahkan di saat seperti ini ia masih bisa memamerkan deretan gigi bersihnya.
__ADS_1
“Jadi, yang labrak lo waktu itu kakak kelas?” tanyaku, menemukan makna tersirat dari balik kata-kata Lunar.
“Makanya gue gak bisa kasih tau lo apa lagi guru soal itu. Gue gak mau mereka kena masalah yang bikin mereka gagal terima surat kelulusan dan justru tahun depan bisa-bisa ketemu lagi sama gue.”
Entah mengapa aku jadi tergelak mendengar alasan konyol Lunar. Baru saja sukma ini hendak bertegar akibat kebaikan Lunar yang tidak ingin membuat orang-orang yang membully nya terkena skandal. Namun, niat itu seketika aku urungkan sebab alasan terbesar Lunar tidak ingin bertemu mereka lagi untuk tahun depan.
“Kalau gitu semangat sampai minggu depan! Katanya minggu depan surat kelulusannya udah keluar! Jadi, lo gak perlu nunggu sampai dua bulan lagi!”
__ADS_1