Misi Menyelamatkan Hati

Misi Menyelamatkan Hati
7. Menyelamatkan Lunar Dari Kejengahan


__ADS_3

Di mata kebanyakan orang, mungkin aku terlihat jenius dan dapat melakukan segala hal, tidak ada hal yang penting dalam hidupku selain belajar. Opini tersebut tidak sepenuhnya mengandung unsur kedustaan yang hina. Namun, sebenarnya aku juga hanya siswa biasa yang amat berbahagia dikala menyambut bel istirahat dikumadangkan. Kendati kerap sulit dilakukan, aku selalu berusaha mengimbangi diri di mana pun aku berada, termasuk dalam lingkaran pertemanan.


“Oy! Ngantin, yok!” ajak Theo, menenggerkan salah satu lengannya ke tulang belikatku.


“Duluan aja.” cetusku, melepaskan potongan tubuh Theo yang setengah melingkar di pundak. “Gue disuruh menghadap pak Dahlan.”


“Ada apa? Tumben dipanggil sendirian.”


“Nah, ini gue mau ke sana buat cari tau!” celetukku pada orang yang paling dekat denganku di sekolah sekaligus orang yang kerap ingin aku singkirkan dari muka bumi ini.


“Kalau dapet amplop jangan lupa bagi dua, ya!”


“Sip! Gue isinya, lo amplopnya!” timpalku sambil mengangkat ibu jari tinggi-tinggi sambil berlalu dari sisi Theo.


Theo memang gemar sekali membuat lelucon. Boleh jadi lelucon sudah menjadi panggilan hidupnya. Aku masih ingat saat Theo berbagi kisah tentang ibunya yang harus menjanda sebab ditinggalkan bapaknya karena lebih memilih perempuan lain. Saat itu Theo masih kelas satu SMP dan memiliki dua adik yang masih kecil. Dan ditengah-tengah lika-liku jalanan terjal dalam hidupnya, Theo masih saja keranjingan membuat lelucon, kendati kadang lelucon-lelucon itu terdengar satir dan menyedihkan ditelingaku. Theo bilang kadang bercanda bisa menjadi salah satu cara untuk membalas cara kerja dunia yang selalu bercanda kepadanya. Dan kiranya aku bisa mengerti emosi unik semacam itu.


“Permisi, pak.” ucapku manakala masuk ke ruangan pak Dahlan. “Katanya bapak panggil saya, ya?” aku mencoba mengonfirmasi informasi yang masuk ke telingaku.


“Saya dengar minggu lalu ada yang berbuat mesum di lapangan sekolah kita. Kamu tau siapa orangnya?” tanya pak Dahlan, enggan basa-basi denganku. “Saya tau kamu orang yang paling jujur di sekolah ini.” cibir pembina OSIS itu.


Asem! Siapa yang laporan, nih? tanyaku, urung aku suarakan. “Kalau maksud bapak itu kejadian pagi-pagi sebelum saya berangkat ke tempat olimpiade, berarti itu saya, pak!” jujurku, menelan saliva sekeras kerikil di kerongkongan. “Tapi, itu semua salah paham!” aku langsung meralat ucapanku sebelumnya dengan cepat.


“Iya, Saya tau. Tadi saya sudah panggil Lunar dan dia ngakuin kesalahannya. Saya cuma mau ingatkan kamu, tolong lebih hati-hati lagi! Kamu, kan ketua OSIS SMA Negeri Dirgantara. Jadi, gak baik kalau sampe ada rumor jelek tentang kamu, karena bisa mencoreng kredibilitas sekolah. Kamu ngerti maksud saya, kan Zeev?”


“Iya, pak. Saya akan lebih hati-hati lagi.”


Inilah aku. Aku selalu dituntut untuk sempurna dalam bersikap sebab telah menjadi panutan oleh teman-temanku. Memang menjadi tugas yang berat dan kadang tidak menyenangkan. Namun, aku tidak pernah menyesal telah terpilih menjadi ketua OSIS. Hal-hal buruk memang akan selalu ada dalam niat-niat baik untuk menumbuh kembangkan potensi dalam diri kita, bukan? Dan aku sekarang hanya perlu berusaha untuk mengasah kemampuanku dalam mengelola hal buruk menjadi sesuatu yang baik.

__ADS_1


Setelah melahap peringatan dari pak Dahlan sebagai boga pembuka, kini aku turut melahap siomay sebagai boga penutup yang sempurna. Tentunya, ditemani Theo yang masih menugguku bersama es teh manis porsi ke dua yang nyaris tandas. Harusku akui bahwa jiwa kesetiaan Theo tidak perlu disangsikan lagi kendati ujung-ujungnya aku yang harus membayar pesanan dua teh manis milik manusia setengah siluman itu.


“Terus gimana?” tanya Theo sembari menggigit selang mungil di gelas.


“Ya, gak gimana-gimana. Pak Dahlan kan, tau banget gue gak akan mesum kaya gitu! Nah, beda cerita kalau yang kena rumor itu elo! Bisa jadi sekarang gue udah kehilangan babu gue.”


“Tokek! Gini-gini juga elo ya yang dulu sujud-sujud minta gue jadi waketos lo!” sungut Theo bersama moncongnya.


“Ya, itu karena lo gampang gue babuin!”



Mulai saat ini aku akan bertekad untuk lebih menjaga jarak dari para siswi di sekolah ini, khususnya dari Lunar Ayyara yang telah merenggut ciuman pertamaku. Aku tidak ingin membuat kegegeran untuk kedua kalinya dengan hal buruk, mengingat akhir-akhir ini nama kebesaranku jadi lebih kondang dengan julukan pepet teroos ketimbang ketos – ketua OSIS – atau paketu – bapak ketua OSIS – yang biasanya melekat bersama namaku.


“Btw, Lunarnya sendiri gimana? Dia gak sampe dihukum, kan?” pancing Theo ketika kami menyisir koridor di sisi taman.


“Bisa gak mulai sekarang jangan sebut nama Lunar di depan gue? Kaya gak ada yang lebih penting aja!” aku mendesis tipis seraya menyalangkan pandangan, membuat Theo langsung mengunci mulut dan membentuk bayangan lingkaran dengan tangannya.


"Pepet teroooss!" pekik Theo, tidak aku indahkan.


Ku tekan kedua bahu Lunar agar gadis itu terduduk kembali di tempatnya, sementara ia hanya menatapku gamang dengan tenang. “Diem dulu di sini!” pintaku, berharap Lunar memiliki kemampuan telepati dan dapat menangkap sinyal yang aku beri.


“Tapi, bentar lagi bel masuk, lho! Gue mau ke kelas.” timpalnya, menegak kembali dan masih tidak mengerti apa maksudku.


Oh, Tuhan! Apa Lunar selalu selamban ini? Apa semua perempuan tidak pernah merasakan apa-apa di saat seperti ini? Aku amat gemas hingga timbul sebuah perasaan yang ingin meremas ginjalnya.


Kubuat Lunar duduk kembali dengan paksa, menekan bahunya hingga bokong Lunar benar-benar menempel ke bangku. “Di rok lo ada noda merah.” aku berbisik setengah meninggi. “Lo lagi dateng bulan?”

__ADS_1


“Demi apa?” sahutnya, bola-bola mata Lunar nyaris keluar bila saja ia lupa cara berkedip. “Gue bocor?”


“Kayanya sih, gitu. Emang gak terasa?”


Lunar hanya memberi gelengan singkat yang diiringi wajah paniknya.


“Bawa itu?” tanyaku, berharap kali ini ia langsung mengerti maksudku, mengingat aku tidak ingin menyebut benda tipis bersayap namun tidak ditakdirkan untuk bisa terbang itu.


“Itu?” tanyanya yang aku langsung balas dengan anggukan. “Nggak!”


Aku memang laki-laki yang telah terbukti keauntetikannya. Namun, aku cukup mengerti bahwa sebagian perempuan kemungkinan akan menganggap kejadian ini memalukan, kendati menstruasi merupakan fase normal yang dialami semua wanita setiap bulannya. Kupikir, keputusan nuraniku untuk melesat secepat mungkin pada Lunar merupakan tindakan paling cerdik yang pernah aku lakukan, mengingat Lunar saat ini nampak tak nyaman akan kehadiran monster merah yang meresap di pori-pori kain roknya.


“Yo! Sini!” aku memekik memanggil Theo yang entah mengapa hanya mengawasiku dari kejauhan.


Babuku itu lantas mematuhi dan segera berlari ke arah majikan. “Kenapa manggil gue?” selidiknya bersama kedua alis yang naik turun.


“Ambilin jaket gue di kelas, gih!” titahku.


“Ogah! Lo ambil sendiri aja sana!” Theo menolaknya mentah-mentah dihadapan Lunar. “Lagian kan, lo juga mau ke kelas!”


“Udah cepet ambilin! Gue lagi ngomong sebagai ketua OSIS, nih!”


Kendati Theo merutuk hingga mengabsen segala jenis hewan kegemarannya sebab aku telah menyalah gunakan jabatan, namun Theo tetap memenuhi permintaanku tanpa syarat dan melesat menuju kelas. Sementara aku meminta Lunar untuk menunggu di tempat untuk kemudian aku tinggalkan sebab aku harus bergegas pergi menuju koperasi untuk membeli ‘itu’.


Sial! Kenapa tadi gak gue suruh si Theo aja yang beli ‘itu’?


Padahal aku baru saja bertekad untuk menjaga jarak dengan Lunar. Namun, mengapa naluri ini tidak bisa mengabaikannya?

__ADS_1


Lo ngerepotin banget sih, Lunar!



__ADS_2