Misi Menyelamatkan Hati

Misi Menyelamatkan Hati
20. Berkonfrontasi Dengan Zeev


__ADS_3

Entah mengapa peristiwa rokok hari ini membuat keberaniaku dalam melakukan gerakan perlawanan terhadap Zeevers muncul. Dan aksi perlawananku dimulai dengan memasuki kembali area kantin bersama Viona. Viona sudah mewanti-wanti bahwa kemungkinan besar kedatangan aku ke kantin hanya akan memicu masalah besar, mengingat sekarang rumor buruk tentangku semakin menjadi-jadi.


Namun, aku tidak peduli. Faktanya kesabaran terbesarku dipengaruhi oleh sikap Zeev. Dan ternyata untuk soal ini Zeev tidak lagi menjadi bahan bakar kesabaranku. Dengan kata lain, aku yang bodoh ini justru lebih memilih berkonfrontasi dengan ratusan Zeevers demi melampiaskan rasa kecewaku kepada Zeev.


“Lo yakin udah siap? Gue gak mau ya kalau kita keluar dari kantin mental lo jadi ancur!” Viona berusaha meyakinkan kembali sel-sel dalam tubuhku yang harus siap melawan musuh.


“Iya! Kan, ada elo!” kebiasaan burukku yang selalu bersembunyi di ketek Viona tiba-tiba saja muncul kembali.


Namun, keputusanku sudah terlanjur bulat. Bagiku tidak ada kata mundur ketika satu langkah lagi aku berada di area kantin. Dan ya, sekarang aku hanya perlu mengikuti langkah Viona yang melesat dengan gagah berani di antara lautan manusia yang mengantre berbagai jenis boga mengenyangkan.

__ADS_1


Seperti yang telah aku dan Viona prediksi, satu per satu pandangan mulai terpusat padaku. Ada begitu banyak siswa dan siswi yang mendesis dan berbisik di depan mataku. Bahkan beberapa kalimat seperti “Gak tau malu!”, “Si caper!”, atau “Najis! Ngapain sih, dia ke sini?” turut menyambangi indera pendengaranku. Dan aku tetap berdiri tegak tanpa menunjukan sadikit pun ekspresi terintimidasi di hadapan orang-orang yang amat bahagia bila aku terluka.


Tak dinyana, tiba-tiba saja Zeev menghampiriku di depan semua orang. Dengan teganya ia berkata “Lo ngapain ke sini?” sambil mengerutkan dahinya kepadaku.


“Gue juga murid sekolah ini. Jadi, gapapa dong kalau gue ke kantin?” aku menimpali dengan dingin.


“Lo mau apa? Gue bisa beliin! Tapi, sekarang lo mending tunggu di taman dekat front office.” titah Zeev seenaknya padaku.


Zeev lantas berdecak sebal di hadapanku, membuatku kian murka padanya. “Ikut gue sebentar!” Zeev langsung menarik pergelangan tanganku tanpa izin dariku.

__ADS_1


Kali ini aku benar-benar diseret dengan tangan Zeev sendiri secara harfiah, meninggalkan Viona yang nampaknya tidak menyadari kepergianku sebab sibuk mengantre di tengah lautan manusia kelaparan. Kendati aku sudah berusaha melepaskan genggaman Zeev dan melakukan sedikit perlawanan. Namun, Zeev baru melepaskan tanganku ketika kami berada di tempat yang tidak teralalu ramai dan menjauh dari area kantin.


“Lo gak bisa seenaknya usir gue kaya gini dong, Zeev!” pekikku, tidak tahan lagi dengan sikap Zeev yang berubah seratus delapan puluh derajat dari Zeev yang aku kenal.


“Gue gak ngusir lo, Lunar! Di dalem itu anak-anak lagi pada gosipin lo. Kalau lo ke kantin sekarang, yang ada lo makan hati karena harus denger omongan mereka.” ungkap Zeev, berusaha membuatku paham atas maksud tindakannya.


“Asal lo tau, ya! Yang bikin gue sakit hati itu bukan mereka atau siapa pun! Tapi, elo, Zeev!” lontarku secara terang-terangan. “Gue pikir lo emang temen gue. Tapi, dari ribuan manusia yang ada di sekolah ini, cuma Viona satu-satunya orang yang tetep percaya gue sampe akhir, Zeev! Dan lo gak ngerti betapa pentingnya arti kepercayaan buat gue!” ujarku dengan penuh penekanan.


Pada akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Zeev atau pun kantin sebab terlanjur muak atas drama yang telah sekolah ini sajikan untukku. Level kekecewaanku kini telah berada di titik paling tinggi sehingga menjatuhkan rasa percaya diri ke titik paling rendah.

__ADS_1



__ADS_2