
MOMEN ketika benda mungil nan lembap dengan harum stroberi yang mendarat di bibir untuk pertama kali nampaknya memang ditakdirkan untuk menjadi momen paling sulit dilupakan. Dan lucunya, aku harus merasakan itu lewat Lunar yang menjadi pemeran utama dalam kisah ciuman pertamaku. Kabar lebih lucunya lagi ternyata ciuman pertamaku hanya sebuah kesalahan.
Kendati ada sebuah psikis yang telah diserang. Namun, aku akan mencoba mengerti Lunar. Ada anasir dalam sanubari yang entah mengapa memiliki banyak pemakluman terhadap sikap Lunar kendati telah mengusik nalar. Aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk menjelaskannya. Namun, nampaknya keajaiban memang selalu melekat pada tiap pengalaman pertama yang pernah terjadi pada diri manusia. Pengalaman pertama jatuh cinta, pengalaman pertama ditolak, pengalaman pertama mengecup, dan masih banyak lagi.
Oke, cukup!
Sekarang raga ini memerlukan guyuran air segar yang mampu membangkitkan semangat sebelum aku harus bertemu Lunar dirapat sekaligus diklat anggota baru Sispala di sekolah. Kubiarkan kedua tungkai ini menuntunku ke bawah shower, kubiarkan sekujur tubuh ini menerima serangan cairan bening yang bertugas mengembalikan kewarasanku.
Setelah aku selesai bersiap dan mengenakan kaus putih yang dibalut jaket hijau army berlogo Sispala SMA Negeri Dirgantara di bagian dada kiri, aku lekas bertolak menuju tempat yang telah kami tentukan sebelumnya di grup Sispala – sekolah. Dan di sana sudah ada Lunar, Theo, Riri, dan delapan anggota Sispala yang lain. Hanya Lunar yang tidak mengenakan jaket yang sama seperti kami sebab miliknya masih dalam proses pembuatan.
“Karena semuanya udah kenal sama anggota baru kita. Jadi, gimana kalau kita sekarang mulai aja rapatnya?” celetuk Theo selaku ketua Sispala tahun ini.
Aku beserta anggota yang lain lantas mengikuti jalan diskusi yang dipimpin Theo. Sayang. Hari ini pembina Sispala berhalangan hadir sehingga kami hanya perlu menginformasikan hasil finalnya kepada beliau. Kami memilih opsi terbaik dari beberapa opsi pendakian yang akan kami lakukan untuk minggu depan. Awalnya kami juga berencana untuk melakukan camping. Namun, setelah kedatangan anggota baru, kami akhirnya mengambil keputusan lain, mengingat Lunar belum pernah mendaki sebelumnya. Jadi, Theo memutuskan bahwa minggu depan kami hanya melakukan petualangan sederhana menuju Curug Malela.
Theo juga meminta Riri untuk memberikan salinan Program Kerja Sispala serta sebuah buku dengan judul Buku Panduan Pembinaan Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Siswa Pecinta Alam (Sispala) kepala Lunar yang telah ia siapkan sebelumnya. Theo juga meminta semua anggota bersedia untuk membantu Lunar bila ia menemukan kesulitan dalam memahami makna yang tersirat dalam buku tersebut. Namun, tiba-tiba saja pikiranku tertarik terhadap sesuatu. Kuangkat tinggi-tinggi tangan kananku agar Theo dapat melihat maksudku dengan jelas.
“Kenapa Zeev?” Theo memberi respon yang cekatan atas aksi kecilku.
“Kegiatan ini dibuka juga untuk siswa-siswi yang lain gak? Atau khusus untuk anggota dan pengurus Sispala aja?” tanyaku, mengingat akan cukup menyenangkan bila saja kami bisa mengajak banyak orang untuk bisa menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap alam.
“Kalau soal itu gue harus tanya dulu ke pembina. Nanti gue infoin lewat grup chat aja, ya.” timpal Theo, enggan memberi jawaban gegabah sebab harus melalui persetujuan pembina bila ingin mengajak lebih banyak orang.
__ADS_1
Diskusi ini berjalan aktif dengan masing-masing anggota tidak sungkan untuk menyampaikan pendapat mereka. Bahkan Diki, salah satu anggota Sispala menawarkan diri untuk ditugaskan mencari kendaraan yang kami perlukan untuk sampai ke area pendakian. Pun Riri sudah memberikan lampu hijau kepada Theo bila sewaktu-waktu pembina Sispala mengizinkan kami untuk membuka pendaftaran bagi seluruh siswa-siswi SMA Negeri Dirgantara.
Sementara itu Lunar masih setia untuk menjadi pendengar yang baik, menyimak dan sesekali hanya mengangguk tanda mengerti dan setuju. Barangkali ia masih beradaptasi dengan lingkungan baru – baginya. Bahkan sesekali aku bisa melihat bahasa tubuhnya yang kikuk manakala mendapatkan perhatian yang lebih dari Theo manakala bertanya apakah Lunar mengerti maksud ucapannya.
Selesai rapat, beberapa dari kami berencana untuk pergi bersama menuju salah satu restoran siap saji di Kota Bandung. Sementara beberapa yang lain memutuskan untuk lekas kembali ke kediaman mereka masing-masing.
“Lo yakin gak mau ikut Ri?” tanya Theo manakala kami beranjak keluar dari area sekolah.
“Nggak, abis ini gue harus ikut acara kumpul-kumpul arisan keluarga.” jawab Riri, gadis yang selalu bicara dengan seperlunya.
“Kalau lo ikut kan, Nar?”
“Emang gue boleh ikut?” Lunar menimpali dengan tatapan seolah-olah tidak percaya bahwa ia memiliki kesempatan yang sama.
Jujur. Aku sendiri sedikit kurang senang bila Lunar ikut makan siang bersama kami, mengingat hanya Lunar anak perempuan yang bergabung dengan empat pemuda ini – aku, Theo, Diki, dan Putra. Entah mengapa ada sejumput gelombang ketidaksukaan yang menggerogoti nalar manakala melihat Lunar mendapatkan banyak perhatian dari teman-temanku, khususnya Theo yang selalu mencoba memperlakukan Lunar dengan berbeda. Aku tidak suka melihat makhluk jomblo itu mencari perhatian Lunar.
Sesampainya kami di renstoran, kami langsung menuju meja antrian pemesanan dan kasir sebelum akhirnya bisa duduk di salah satu meja yang kosong di tepi jendela kaca bersama senampan boga dan soda yang telah berhasil kami tukar menggunakan beberapa lembar uang. Dan anehnya, diam-diam tubuh ini mengikuti mobilitas Lunar sehingga akhirnya aku berhasil duduk di sebelah Lunar. Tiba-tiba aku merasakan sebuah sensasi kemenangan.
“Pizza pie-nya enak gak, Yo?” tanya Lunar, bersama sudut-sudut netranya yang berbinar manakala menyaksikan Theo menyantap benda persegi panjang yang tidak lebih dari seukuran telapak tangan.
Sebelumnya Lunar memang sempat dilema ketika melakukan pemesanan. Ia bingung dalam memutuskan menu tambahan antara pizza pie dengan tiramisu flurry. Dan nampaknya sekarang ia lebih menginkan boga yang disantap Theo.
__ADS_1
“Menurut gue biasa aja, sih. Tapi, ya lumayan lah.” ungkap Theo, kian memperkuat ekspresi Lunar yang menatapnya dengan instens. “Lo mau cobain?” nampaknya pamuda di hadapan Lunar itu berhasil menangkap air wajah yang Lunar tampilan tanpa sadar.
Ketika Lunar membutuhkan beberapa waktu untuk menjawab pertanyaan menjebak Theo, salah satu lenganku melayang begitu saja guna merebut sisa potongan pizza pie yang telah Theo gigit. Sudut-sudut otakku kiranya tidak terima bila Lunar harus menelan sisa gigitan Theo yang di mana secara tidak langsung telah terkontaminasi oleh zat-zat beracun dari bibir Theo. Kucabik-cabik serta kutelan saja boga itu dimulutku, membiarkan Theo, Lunar, Diki, serta Putra terpaku menatapku.
“Yah, sorry gue gak kuat pingin cobain juga!” dalihku, membalas tatapan Theo dengan tidak kalah nyalang. “Kalau lo mau, gue bisa pesenin satu buat lo!” tambahku sambil mengalihkan pandangan kepada gadis disebelahku.
Lunar lantas menggeleng pelan. “Gue makan ini aja.” Lunar menyantap burger dalam genggamannya dengan satu gigitan besar, mendongak sambil mengunyah isi mulutnya yang penuh ketika menatapku.
Theo si kutu busuk itu nampaknya masih mencari-cari celah untuk memperlakukan Lunar dengan istimewa. Aku pribadi sebenarnya tidak cmburu. Hanya saja aku tidak suka bila mendapati seseorang diperlakukan berbeda atau istimewa. Terlebih lagi jika manusia yang sok menjadi pahlawan itu adalah Theo, pemuda yang tidak biasanya bersikap abnormal seperti hari ini.
“Cobain deh, mumpung masih anget!” seru Theo, menyodorkan sebilah kentang goreng yang sudah ia celupkan ke dalam cairan kental merah di bagian ujungnya.
Kali ini pun tubuhku merespon dengan cepat sehingga kujulurkan wajah untuk menyantap kentang goreng yang telah di sodorkan oleh Theo. “Mmm... Iya enak!”
Theo enggan mengalihkan pandangannya dari aku yang asyik-masyuk mengunyah isi mulutku.
“AAW!” pekik Lunar manakala ia mendapatkan tubrukan kasar di salah satu tungkainya.
“Maaf! Maaf! Gue gak sengaja!” tutur Theo bersama air muka penuh penyesalannya.
Aku tebak Theo pasti bermaksud melakukan permainan kotor itu kepadaku. Namun, nahasnya ia salah memperkirakan letak target sasarannya. Dan entah mengapa jiwa kompetitifku tiba-tiba bangkit dan tidak ingin kalah. Ku layangkan saja salah satu kakiku secara diagonal guna meluncurkan pembalasan sebab telah menendang Lunar.
“Aw!” rintih Diki, pemuda yang duduk di sebelah Theo yang justru harus menjadi korban salah sasaran kedua hari ini. “Kaki lo nendang gue anjir!”
__ADS_1
“Maaf, gak sengaja.”