Misi Menyelamatkan Hati

Misi Menyelamatkan Hati
14. Air Mata Lunar


__ADS_3

HARI ini aku kembali menuju rutinitas membosankan yang selalu mencoba memporak-porandakan semangatku dalam menuntut ilmu. Namun, di tengah-tengah kejenuhan itu aku dikejutkan dengan sosok Theo yang tiba-tiba datang dari arah belakang sambil memiting bagian vital di leher dan kepalaku. Aku bahkan dibuat nyaris kehabisan napas bila saja Theo tidak menggubris tepukan tangan yang aku layangkan padanya tanda menyerah.


“Lo mau bunuh gue, ya?” keluhku sambil mengusap-usap leher yang baru saja diintimidasi oleh makhluk buas itu.


“Anggep aja itu rasa syukur gue buat lo atas kejadian kemaren!” celetuk Theo, berusaha mengingatkanku atas kejadian kemarin saat makan siang di restoran.


“Emang gue ngapain?” aku berpura-pura bodoh layaknya manusia amnesia.


“Selama ini gue tuh, was-was, tau gak? Gue pikir lo homo! Gue pikir lo suka sama gue karena lo cuma mau deket-deket sama gue daripada ratusan cewek yang udah ngejar-ngejar lo!” cibir Theo, membangkitkan amarah dalam jiwaku.


Setelah Theo puas dengan seluruh kalimatnya yang ia tujukan padaku, kini giliranku yang ingin memuaskan hasratku untuk meninju ulu hati Theo. Beruntung. Aku berhasil mendaratkan tinjuku pada permukaan kulit berlapis lemaknya, membuat Theo seketika merunduk sembilan puluh derajat guna menghormatiku.


“Lo kalau ngomong suka asal, ya!” geramku pada Theo yang masih menyapu lembut perut bergelambirnya.


“Makanya lo kalau suka sama cewek tuh, bilang! Jangan diem-diem cemburu buta sampe nendang si Diki.” sarkasnya seraya tergelak manakala ia membayangkan peristiwa kemarin.


“Denger ya, gue tuh gak punya waktu buat ngurusin cinta-cintaan apalagi cemburu! Bentar lagi kita mau ujian! Bentar lagi kita kelas tiga! Lo tau, kan gimana sibuknya kita tahun depan? Target gue itu lulus dengan predikat terbaik, kalau perlu masuk ke sepuluh besar nilai ujian terbaik di tingkat nasional. Gue gak mau nyesel lagi kaya kemaren gagal di olimpiade.”


Theo hanya memandangiku tanpa ekspresi manakala aku mencanangkan ambisiku dengan menggebu-gebu. “Kayanya lo perlu belajar arti dari ‘makna hari ini’, deh!” kilah Theo, sama sekali membuatku tidak mengerti atas maksud dari omong kosongnya. “Kadang lo perlu nikmatin hari ini untuk hari ini sebelum lo kehilangan momen yang mungkin gak bisa datang dua kali, Zeev.”

__ADS_1


“Itu jawaban paling pesimis, Yo. Menurut gue selagi kita muda, kita gak bisa terus-terusan manjain diri buat nikmatin masa-masa semu ini. Yang gue lakuin sekarang adalah infestasi supaya masa depan gue bagus. Gue percaya gue akan nikmatin momen yang lebih luar biasa sesuai dengan apa yang gue bayar.” timpalku, tanpa sadar kami sudah beradu argumen di pagi hari.


“Maksud gue, lo perlu perhatiin hal-hal di sekitar lo. Jangan fokus liat yang jauh-jauh mulu sampe buta ngeliat yang ada di deket lo!”


“Iya, tapi untuk saat ini urusan asmara yang sering ada di sekitar gue itu bukan prioritas, Yo. Dan itu keputusan final yang gue ambil.”


“Susah ya ngomong sama lo! Gue deketin Lunar aja lo gak sudi. Apalagi kalau nanti Lunar tiba-tiba digebet cowok lain!” seru Theo, berlalu meninggalkanku lebih dulu di pelataran sekolah bersama bibirnya yang mencebik.



Sebelum aku bertolak menuju kantin untuk menghabiskan separuh jam istirahatku, kandung kemih ini tiba-tiba bergemuruh dan meminta untuk dikosongkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Lantas aku bergegas merapat menuju toilet tanpa dibuntuti Theo yang lebih memilih menungguku di kantin, mengingat kegiatan unik satu ini hanya bisa dilakukan oleh para perempuan dan akan amat menjijikan bila diaplikasikan oleh para laki-laki.


Detik ini aku bisa mendengar dengan samar bunyi dari beberapa buah bibir siswi-siswi perempuan yang nampak tidak ramah dan tidak enak di dengar. Beberapa di antaranya aku mendapati pantulan suara yang berkata “Ini ultimatum gue yang terakhir! Kalau lo masih deketin Zeev, gue bisa bantu wujudin kehidupan lo di sekolah jadi neraka!”


Perlahan suara-suara itu tidak aku dapati lagi setelah aku mendapati satu bunyi keras dari benda yang beradu. Entah berasal dari pintu yang beradu dengan dinding, atau memang ada suatu benda yang sengaja dibanting. Ya, apa pun itu nampaknya aku amat perlu tahu atas kejadian apa yang baru saja terjadi. Dan akhirnya aku memutuskan untuk beralih menuju toilet perempuan untuk memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi.


Ketika aku mencoba memasuki toilet wanita diam-diam layaknya penyusup yang memasuki area terlarang, sontak aku dikejutkan dengan sosok Lunar yang tidak secantik dan seceria biasanya. Kali ini pandanganku mendapati pemandangan Lunar yang melahirkan bulir-bulir bening dari sudut-sudut netra indahnya. Tidak hanya itu, kabar lebih buruknya yaitu seragam serta surai yang menjadi mahkota Lunar sudah berada dalam kondisi paling berantakan.


“Siapa yang udah buat lo kaya gini?” tanyaku, mencoba seplegmatis mungkin ketika berusaha menyembunyikan amarah yang merasuki diri.

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaanku, Lunar justru menghapus jejak-jejak kesedihan di pipinya demi terlihat baik-baik saja. Ia lantas berpaling dari pandanganku dan lebih memilih untuk melihat dirinya melalui pantulan cermin sambil merapikan surai serta seragamnya. Jujur. Aku tidak pernah suka melihat wanita menangis. Namun, ternyata aku juga lebih tidak suka bila melihat Lunar berpura-pura untuk tegar.


“Bisa keluar dulu gak? Ini toilet cewek, Zeev!” pintanya dengan suara bergetar. Barangkali saat ini tidak mudah bagi Lunar untuk menyembunyikan kesedihannya.


Aku yang mencoba menghormati permintaan putus asa itu lantas menurut untuk keluar, menunggu Lunar hingga ia siap untuk setidaknya menceriatakan kronologis sebenarnya padaku. Barangkali aku dapat membantunya, mengingat firasatku mengatakan bahwa peristiwa ini pasti berkaitan dengan Zeevers. Dan naluriku merasa bahwa aku memiliki andil atas peristiwa buruk yang harus Lunar hadapi.


Selang beberapa menit, Lunar keluar dengan wajah yang masih terbilang cukup muram. Namun, setidaknya para anak sungai yang membanjiri permukaan kulit lembut Lunar sudah tidak lagi menghiasi wajahnya.


“Jadi, siapa yang udah buat lo kaya tadi?” tanyaku ketika Lunar baru saja menampakan dirinya dari area toilet.


“Lo nanya karena gak tau atau pura-pura gak tau?” Lunar justru menyerangku balik dengan satir, membuatku kehabisan kata sebab tidak tahu cara menghiburnya.


“Gue tau pasti Zeevers, kan? Tapi, siapa orangnya? Mungkin gue bisa bantu.”


“Kesalahan gue waktu itu bukan sesuatu hal yang bisa lo bantu, Zeev. Sekarang apa pun yang gue lakuin pasti keliatan jelek di mata mereka. Dan sebenernya itu gak ngaruh buat gue. Mungkin satu-satunya yang bisa lo lakuin adalah kalau lo mau jadi temen gue?” balas Lunar dengan segala keunikan jalan pikirannya.


“Kalau soal itu lo kan, emang selalu jadi temen gue, Nar! Dari dulu dan seterusnya.” timpalku yang langsung mendapati sebuah senyuman syarat akan makna laiknya bulan sabit muda yang terbentuk pada awal bulan di wajah Lunar.


__ADS_1


__ADS_2