
Seperti biasanya, kelas bimbingan belajarku dan Lunar selalu selesai pada pukul delapan atau sembilan malam tergantung pada jumlah mata pelajaran yang kami ambil. Dan kebetulan hari ini kami sudah bisa pulang pada pukul delpan malam. Dan seperti hari-hari sebelumnya, kami selalu menanti kedatangan angkutan umum di halte yang terletak di seberang Barisfer akademi.
Ketika kami menegak di tepi trotoar sebelum melintasi jalan raya yang penuh dengan lalu lalang kendaraan, mengedarkan pandangan ke lawan arah di seberang sana. Tiba-tiba saja tas punggungku mendapatkan daya tarik besar sehingga berhasil membuat tubuhku mundur dua langkah ke belakang. Lunar mendapatkan momentum paling sempurna dengan menarik serta memelukku dari belakang ketika menyelematkanku dari sebuah motor yang nyaris menyerempet tubuhku. Dan nahas, pengendara motor tersebut langsung menabrak gerobak rujak yang terparkir di tepi trotoar di sebelah aku berpijak.
Tubuhku sontak membeku manakala menyaksikan sebuah musibah yang nyaris melibatkanku. Ditambah lagi aku juga menerima serangan kombo dari pelukan belakang yang dilancarkan Lunar yang kiranya masih enggan ia lepaskan dari tubuhku. Barangkali bukan hanya aku yang dibuat mati kutu akibat peristiwa yang terjadi begitu cepat itu. Melainkan juga gerak reflek Lunar yang secara tidak langsung telah menyelamatkan nyawaku.
“Lunar? Kayanya kita perlu bantuin pedangan rujak itu, deh!”
__ADS_1
Lunar yang kiranya masih dapat mendengar suaraku lantas tersadar dan buru-buru melepas dekapan hangatnya. Kami pun bergegas membantu pengendara motor serta pedagang dan gerobak rujaknya yang telah terguling untuk dievakuasi. Beberapa goresan menghiasi lekuk tubuh motor putih itu. Namun, yang paling parah adalah kondisi pedangan rujak yang nampaknya mengalami patah tulang di bagian tungkai sehingga harus dibawa ke rumah sakit.
Akan selalu ada orang-orang baik dalam hari-hari yang buruk, seperti saat ini. Beberapa orang dewasa yang melintas bersedia mengantar pedagang rujak itu ke rumah sakit terdekat dengan menggunakan mobil pribadi mereka. Sementara beberapa orang dewasa yang bekerja di sekitar sini seperti pedangan kaki lima yang kerap mangkal di area ini bersedia untuk mengamankan gerobak yang buah, asinan, serta sambal khasnya berceceran di aspal.
“Semoga bapaknya gak kena luka yang serius.” ujarku pada Lunar serta khususnya meyakinkan diriku sendiri.
“Tenang aja. Kaki bapak itu cuma harus di gips selama seminggu doang, kok!” ujar Lunar, membuat nalarku berpikir keras untuk bersikap rasional.
__ADS_1
“Huh?” Lunar lantas mendongak sambil menatap ke arahku selama beberapa waktu. “Maksud gue, dulu tetangga gue pernah kecelakaan yang lukanya mirip kaya bapak yang tadi. Jadi, kayanya sih, kaki bapak itu harus digips selama seminggu!”
Ya, apa pun itu semoga saja pria itu tidak mendapati luka yang serius sehingga tetap bisa mencari nafkah seperti biasanya.
Alih-alih berlarat-larat dengan peristiwa yang barangkali bisa saja menimpaku – bukan pria itu – bila saja Lunar tidak menarikku ke sisinya. Aku tiba-tiba tersadar bahwa angkutan umum yang tadi terdampar menungguku sudah lenyap entah ke mana. Dan kini justru aku mendapati angkutan umum yang melintasi komplek perumahan Lunar yang terdampar di tepi jalan.
“Itu angkot lo! Masuk, gih!” pintaku pada gadis yang biasanya selalu aku tinggal lebih dulu.
__ADS_1
“Kalau gitu gue pulang duluan, ya! See you, Zeev!” sahut Lunar sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menyusup sebagai salah satu penumpang dalam kendaraan umum beroda empat itu. Untuk pertama kalinya Lunar tidak mengingatkan aku untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap kendaraan yang melintas.