
PAGI ini aku mendapatkan giliran untuk melakukan razia rutin yang dilakukan setiap seminggu sekali. Kebetulan aku dan Riri mendapatkan tugas untuk memeriksa kelas XI MIA 1, kelasku sendiri. Sebelum kami masuk ke kelas, aku dan Riri sudah bersepakat untuk masing-masing dari kami memeriksa dua baris meja. Dan aku amat percaya diri bahwa kelasku bersih dari segala macam barang atau atribut yang dilarang dibawa ke area sekolah. Namun, semua itu sebelum aku memeriksa isi tas cokelat yang kerap di bawa Lunar, mengingat alangkah terkejutnya saraf-saraf otakku manakala mendapati sebungkus rokok beserta korek api yang tersimpan disela-sela sudut tasnya.
Dan kiranya bukan hanya aku yang merasakan kepanikan luar biasa. Tetapi juga lunar yang kalang kabut ketika aku megeluarka dua benda tidak lazim itu dari dalam tasnya. “Sumpah! Itu bukan punya gue, Zeev!” Lunar memekik dengan wajah memelas, membuat seluruh pandangan tertuju pada kami.
“Kamu ngerokok, Lunar?” tanya pak Darto, wali kelasku yang kebetulan tengah mengajar hari ini.
“Nggak, pak! Saya gak mungkin ngerokok!” bantah Lunar penuh penekanan.
__ADS_1
“Terus kenapa barang itu bisa ada di tas kamu?” tanya pak Darto, membutuhkan penjelasan yang valid dari gadis itu.
“Ya, saya juga gak tau, pak! Tapi, yang jelas itu bukan punya saya!” Lunar berkelit sebab merasa ia telah dituduh dengan cara yang paling tidak adil.
“Tapi, buktinya sudah ada di tas kamu, Lunar! Sekarang kamu ikut Zeev dan menghadap bu Gina di ruang konseling!” usir pak Darto dengan tegas tanpa sedikit pun belas kasih.
Nalarku mengatakan bahwa tindakan pak Darto sudah benar sebab telah mengikuti aturan serta prosedur yang berlaku di sekolah ini. Namun, sanubariku juga tidak tega ketika aku harus menyeret Lunar keluar dengan kaki tanganku sendiri. Di lain sisi posisiku sebagai ketua OSIS yang akan selalu digugu dan ditiru oleh seluruh siswa-siswi di sekolah ini membuatku tidak memiliki banyak pilihan selain membiarkan Lunar melakukan proses pemeriksaan di ruangan konseling. Dan mau tidak mau, suka tidak suka, aku tetap harus melakukannya kendati terhadap Lunar.
__ADS_1
“Zeev! Rokok itu bukan punya gue! Bahkan bisa gue jamin kalau gak ada sidik jari gue di rokok itu!” ungkap Lunar manakala menyatakan keluh kesahnya dengan intonasi paling putus asa.
“Kalau emang bukan punya lo, lo gak perlu takut. Lo ikutin aja prosedurnya.” ujarku, memberikan satu-satunya saran terbaik dari musibah yang tengah menimpa Lunar.
Lunar tidak lagi membalas ucapanku atau pun mengeluhkan ketidakadilan yang menimpanya. Ia hanya diam seribu bahasa dan bersikap kooperatif hingga akhirnya Lunar harus menghadap bu Gina secara empat mata i ruangan konseling sebab aku tidak diizinkan untuk menemani Lunar hingga proses interogasi selesai. Oleh sebab itu, dengan amat terpaksa aku harus meninggalkan Lunar seorang diri sebab harus melanjutkan mata pelajaran. Kendati di sepanjang kelas Pendidikan Kewarganegaraan, otak kecilku ini tidak dapat memfokuskan diri dalam menyerap materi yang diberikan pak Darto.
__ADS_1