Misi Menyelamatkan Hati

Misi Menyelamatkan Hati
5. Lunar Yang Sulit Dimengerti


__ADS_3


Sebagai ketua OSIS yang dipilih langsung secara jujur dan adil oleh seluruh siswa-siswi SMA Negeri Dirgantara, aku berusaha untuk mengayomi semua teman-temanku, membantu mereka ketika mereka kesulitan, termasuk bersedia menjadi pemimpin apel dadakan sebab salah satu petugas apel berhalangan hadir karena terjerat bakteri Salmonella Thyphi – Tipes.


Aku memang sudah menjalankan tugasku dengan baik selaku pemimpin upacara Senin ini, memimpin penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih yang mulai beranjak menuju titik paling agung guna menghormati para pejuang yang sudah rela bertaruh nyawa demi sebuah kemerdekaan Indonesia. Hanya saja fakta memalukannya adalah kali ini aku tidak bisa benar-benar mengikuti upacara dengan khidmat. Dan semua itu lagi-lagi karena Lunar.


“TEGAK GERAK!” pekikku dengan suara paling bulat.


Sepanjang upacara berlangsung hingga usai, bayang-bayang Lunar beserta segala polahnya terus menari-nari di kepalaku, membuat batinku tersiksa akan ribuan pertanyaan yang logika ini utarakan. Aku pikir aku cukup mengerti soal peremuan berkat bunda yang selalu mengajariku. Namun, ternyata pengetahuanku kiranyanya tidak akan pernah cukup bahkan hanya untuk memahami satu isi pikiran perempuan. Mengapa mereka diciptakan untuk sulit dimengerti?


Setelah Lunar mengecup bibirku tanpa izin – merebut kesucianku dan merenggut ciuman pertamaku –, entah mengapa hari-hariku tidak sedamai sebelumnya. Tiap kali aku melihat Lunar di beberapa kebetulan menyebalkan, tiap itu juga otakku secara otomatis mengingat sebuah cuplikan adegan paling nadir dalam hidupku. Bahkan di saat-saat paling krusial ketika aku harus menghadap kumpulan soal ditahap akhir Seleksi Olimpiade Nasional Matematika, paras elok Lunar yang memenuhi netra dijarak terdekat yang pernah kami buat kian memadati sudut-sudut pikiran dan ruang hatiku.


“Oy! Ngelamunin apa sih, lo?” sungut Theo seraya menepuk pundakku. “Balikin miknya!”


Aku yang mendengar permintaan itu lantas menyodorkan mikrofon jepit yang baru saja kucabut dari dasi, membiarkan Theo menyimpan benda mungil itu ke tempat paling aman di ruang penyimpangan dekat front office.


“Yo! Gue mau nanya serius, nih!” celetukku, mengumpulkan kosakata terefektif dan efisien di tengah-tengah aksi Theo yang sibuk membereskan aneka peralatan upacara. “Misalnya ada cewek yang tiba-tiba dia ngelakuin kesalah ke elo, ngelakuin hal seenaknya ke elo, terus ngediemin elo selama berhari-hari, abis itu besokannya dia tiba-tiba minta maaf dan minta lo ngelupain semua kesalahan dia. Nah, reaksi lo bakalan gimana?” selidikku.


“Tergantung! Kalau kesalahannya itu ngerugiin gue sampe bikin nambah beban pikiran buat gue sih, ya gue pasti minta tanggung jawab!” timpalnya sambil menumpuk beberapa map hitam. “Kenapa? Lo mau minta ganti rugi ke Lunar?” pertanyaan balik Theo sukses menggetarkan pertahananku.


“Nggak! Ini bukan tentang gue atau Lunar!” aku berkelit hingga tanpa sengaja menaikan oktaf suara. “Gue cuma iseng nanya, aja!”

__ADS_1


“Sapi! Ini sih, bukan guenya yang terlalu peka! Tapi, emang elonya aja yang kurang pinter!” hardik Theo tanpa beban. “Gak sekalian aja lo bilang kalau kesalahannya itu karena udah nyium dan permaluin lo di depan umum, terus abis itu pura-pura gak kenal tiga hari!” dengusnya, membuatku terpaksa mengedarkan pandangan demi memastikan kami jauh dari keramaian.


“Lo gila, ya? Umumin aja terus!” sarkasku dengan penuh ancaman, aku mendelik tajam.


Pemuda yang kondang dengan lapisan kulit eksotis itu lantas mengunci mulut rapat-rapat. Barangkali ia tidak ingin bila salah satu map yang tengahku pegang ini melayang di udara dan berlabuh di wajah terjal pas-pasannya.


“Terus lo sendiri jawab apa?” selidik Theo bersama postur penuh waspada kalau-kalau benda pipih hitam ini benar-benar aku lempar ke arahnya.


“Oke.”


“Huh?”


“Yaudah, oke!”


PLAK!


Tanganku sudah tidak tahan lagi menahan gejolak sehingga akhirnya berhasil mendaratkan benda pipih hitam ini pada mulut berbisa Theo. “Gigi lo lunas!” aku berbisik satir.


“Sakit, onta!” pekik Theo sambil mengusap lembut bibir bengkaknya.


__ADS_1


Saat ini kelas Biologi berada pada urutan paling akhir di mana waktu terasa paling panjang sebab seluruh siswa-siswi sudah nyaris kehabisan energi, mengingat kami telah dipaksa menelan bulat-bulat sekawanan materi dari pagi hingga menjelang senja. Padahal bila dievaluasi, sebenarnya menguasai materi secara optimal merupakan sebuah kasus yang langka dikalangan pelajar seperti kami. Kendati demikian, setitik nurani dalam hati kecilku tetap harus berjuang hingga akhir.


Andai sekolahku memiliki sistem pendidikan yang memberi banyak waktu luang bagi kami untuk mengeksplor diri, barangkali aku memiliki kesempatan yang lebih untuk mengembangkan minat dan bakatku. Boleh jadi juga aku bisa masuk ke tingkat nasional di olimpiade Matematika, bukan?


Jujur. Sebenarnya aku juga tidak ingin menyalahkan siapa pun, mengingat aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal remeh itu karena sudah ada begitu banyak tugas sekolah yang menunggu aku selesaikan. Belum lagi tekanan yang aku terima bukan hanya dari satu arah. Melainkan ada dari berbagai sisi. Baik dari sekolah, organisasi, keluarga, bahkan egoku sendiri yang penuh ambisi untuk dapat memenuhi ekspektasi masa depan.


“Lunar! Coba kamu jelaskan apa yang di maksud dengan ribosom?” tanya bu Ambar.


Kendati bukan namaku yang disebut, namun serangan mendadak dari wanita itu sukses membuat sepasang netraku yang semula terkantuk-kantuk, kini terbuka jelas selebar kening Theo. Bu Ambar kiranya memiliki cara yang menarik untuk menyadarkan seluruh kewarasanku.


“Ribosom?” racau Lunar, ia termangu selama beberapa waktu. “Mmm... Ribosom itu butiran nukleoprotein yang ukurannya hanya lima belas sampai dua puluh nano meter, paling kecil daripada organel lainnya.” kendati diawal suara Lunar terdengar ragu, namun pada akhirnya ia dapat menjawab dengan tepat.


“Apa saja dua komponen utama ribosom?” ternyata bu Ambar cukup gigih dan masih berusaha menyerang Lunar, entah sebagai manifestasi apresiasi atau sekadar ingin menguji.


“Subunit besar dan subunit kecil.” timpal Lunar dengan mudah. “Kedua subunit ini bergabung dan membentuk struktur yang mirip dengan burger yang di tengahnya terdapat mRNA. Fungsi mRNA itu sebagai cetakan resep untuk membuat protein tertentu. Jadi, peran utama ribos...”


“Cukup!” pangkas bu Ambar, barangkali mulai menyerah dan mengakui pemahaman Lunar.


Oh, ralat! Sebenarnya aku yang diam-diam mengakui pemahaman luar biasa Lunar. Bukan sebab aku tidak mengerti apa yang gadis bersurai sepunggung itu utarakan. Melainkan sebab seorang Lunar – siswi di peringkat tengah – mengetahui materi yang belum sempat guru kami ajarkan di sekolah. Tiba-tiba aku dibuat takjub sekaligus jengah di saat bersamaan. Barangkali inilah sebabnya mengapa bunda selalu mengingatkan aku bahwa tidak sepantasnya manusia menyimpan rasa tinggi hati serta merendahkan orang lain. Sebab boleh jadi mereka memiliki satu kemampuan yang bahkan lebih besar daripada apa yang aku bayangkan.


“Lain kali tolong perhatikan pelajaran saya walau pun kamu sudah paham, Lunar!” bu Ambar memberi ultimatum tak tertulis pada gadis yang tengah duduk tepat di tengah-tengah ruangan.

__ADS_1


“Maaf, bu.” Sesal Lunar, kiranya menyadari bahwa telah membuat wanita bersurai seleher itu tersinggung.



__ADS_2