Misi Menyelamatkan Hati

Misi Menyelamatkan Hati
17. Kehangatan Yang Diselimuti Kehampaan


__ADS_3

Hari ini Lunar mungkin berhasil menyelamatkan nyawaku dari bahaya. Namun, tak dinyana buaian dekapan hangat Lunar justru membawa malapetaka baru bagi lubuk hatiku. Kendati aku telah mencanangkan dengan penuh percaya diri bahwa asmara tidak ada dalam daftar prioritasku saat ini kepada Theo. Namun, faktanya ada sesuatu dalam hati ini yang menuntut hasrat mudanya untuk dipuaskan. Aku baru tahu bahwa sensasi di mabuk asmara dapat membuat manusia sepertiku ini dilema.


Aku berusaha untuk kembali fokus dalam memecahkan soal fisika. Namun nahas, akal sehatku tidak mampu bertindak sebagaimana mestinya sebab isi kepalaku terus dipenuhi oleh kaledoiskop bayang-bayang peristiwa tentang Lunar, terutama ketika hari di mana aku harus mengikuti Seleksi Olimpiade Nasional Matematika.


Kala itu Lunar sangat aneh. Seharian penuh ia terus berbicara menggunakan kata ganti aku-kamu dan terus meracau hal-hal yang kadang sulit diterima oleh rasio. Lalu tiba-tiba esoknya ia kembali bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kita, membuatku kelimpungan ketika mencerna benda apa yang membentur tengkorak Lunar sehingga ia menjadi sangat berbeda dari biasanya.


Namun, sekeras apa pun aku mencoba mencari tahu, bahkan ketika aku berinisiatif mencari jawaban lewat Lunar. Nyatanya Lunar hanya memberikan alasan bahwa ia salah minum obat. Lantas apakah aku harus percaya pada alibi dangkal yang Lunar paparkan? Atau barangkali sebenarnya Lunar mengidap bipolar atau gangguan mental semacamnya yang memengaruhi dirinya dalam menentukan perilaku?

__ADS_1


Oh, tidak. Bahkan memahami Lunar amat jauh lebih sulit daripada memahami kumpulan soal fisika ini.


Tok! Tok! Tok!


Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarku dengan tidak terlalu keras.


Wanita bersurai ikal itu selalu datang membawa segelas air beserta beberapa pil vitamin yang rutin ia berikan padaku setiap malam. Ada vitamin untuk meningkatkan daya ingat, vitamin meningkatkan daya tahan tubuh, serta vitamin untuk mejaga kesehatan otot, otak dan sistem saraf. Ketika ia masuk, ia akan tetap tinggal di kamarku bila saja aku tidak meminum vitamin pemberiannya dengan cepat. Barangkali ia hanya ingin memastikan bahwa aku benar-benar meminum kapsul-kapsul yang katanya baik untuk tubuhku.

__ADS_1


“Sebelum jam dua belas harus sudah tidur, ya.” ucap ibuku dengan lembut sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kamar.


Mungkin keliahtannya tidak ada interaksi yang istimiewa di antara kami. Namun, ibuku memang seperti itu. Ia selalu bersikap hangat namun juga terasa dingin ketika memainkan perannya sebagai ibu dari dua anak. Aku sendiri tidak tahu atas apa yang saudaraku pikirkan tentangnya. Namun, aku tetap menyayangi ibu yang seperti itu sebagaimana ayah yang mencintai sosok ibu apa adanya.


Ya, sejak dahulu seluruh anggota keluargaku tidak pernah menjadi dekat satu sama lain. Barangkali ayah yang kesulitan menunjukan rasa cinta dan afeksinya membuat rumah ini terasa dingin. Keluargaku sendiri amat jarang memiliki konflik yang serius, mengingat seluruh anggota keluarga memiliki sikap plegmatis yang dominan sehingga tidak ada warna lain di dalam rumah kami. Ada sebuah kehangatan sekaligus kehampaan yang sulit di definisikan yang menyelimuti rumah ini. Dan anehnya aku seringkali merasa bahwa keberadaanku bukanlah hasil dari manifestasi cinta kedua orang tuaku.


Barangkali hal ini yang membuat aku merasa cocok dengan Theo, satu-satunya orang yang dekat denganku. Ada sebuah persamaan nasib di antara aku dan dia sehingga mudah bagiku menerima kehadiran Theo daripada yang lainnya. Dan aku juga merasakan sebuah persamaan yang mungkin sebagian besar orang akan menentang pendapatku yang satu ini. Entah mengapa aku merasa bahwa Lunar selalu berusaha terlihat kuat di sekolah ketika ia dengan segenap tenaga menahan serangan kepedihan laiknya aku yang ingin terlihat sempurna di sekolah demi menyembunyikan kehampaan dan rasa rendah diri yang diam-diam aku peluk sendiri.

__ADS_1



__ADS_2