Misi Menyelamatkan Hati

Misi Menyelamatkan Hati
12. Zeev Tidak Boleh Tahu


__ADS_3

KENDATI kemarin hatiku terbakar oleh api cemburu yang sukses melahap seluruh sukmaku hingga bimbel berakhir, kini aku sudah membulatkan tekad untuk melupakan semuanya. Kendati sejatinya akal serta hatiku tidak akan pernah bisa benar-benar melupa. Namun, aku mencoba meyakini diri bahwa tidak ada yang lebih penting saat ini daripada menjadi teman terbaik bagi Zeev, menyingkirkan keinginan serakahku yang mencoba menuntut sebuah status yang lebih dari itu. Demi kelancaran misi rahasiaku, aku tidak keberatan untuk mengorbankan perasaan terpendamku kepada Zeev.


“Tugas kimia udah gue kirim semalem, kan?” tanyaku, sekadar basa-basi untuk memulai obrolan dengan Zeev pagi ini sebelum kelas pertama dimulai.


“Udah. Udah gue baca juga, kok! Makasih, ya!” ungkapnya, menyunggingkan mentari terbaikku lewat garis lengkung di bibirnya.


“Mmm... Soal Sispala itu gimana? Gue bisa ikut, kan?” selidikku, mengingat Zeev masih tidak mengabariku informasi selanjutnya.


“Oya, gue lupa belum masukin lo ke grup Sispala!” ketua OSIS-ku sontak menggeplak kepalanya seolah-olah tengah memberi hukuman kepada kecerobohan tidak biasa Zeev. “Lo udah bisa gabung, kok! Setiap hari minggu biasanya kita selalu ngadain kegiatan. Nah, kebetulan minggu ini kita paling cuma ngadain rapat buat ngadain kegiatan climbing! Lo kan, anggota baru! Jadi, kalau bisa hadir buat sekalian dapet diklat Sispala.”


“Oke! Kalau gitu masukin gue ke grupnya sekarang! Nanti takut lo lupa lagi!” pintaku tanpa memberikan penekanan khusus sebab tidak ingin membuat Zeev merasa tertekan atas permintaanku.


Zeev yang selalu memberikan respon terbaik lantas mengeluarkan gawai dari kantung celana untuk akhirnya mengundangku ke grup Sispala yang saat ini beranggotakan dua belas orang setelah aku resmi bergabung. Ia juga tidak lupa mengingatkan aku untuk menyapa para anggota yang lain sambil memperkenalkan diriku secara singkat, mengingat aku hanya mengenal Zeev serta Theo dan harus bisa mengakrabkan diri dengan anggota yang lain.


“Kalau gue pake emot senyum lope-lope di akhir kalimat nanti dikira sok akrab gak, Zeev?” tanyaku, takut membuat kesalahan pada kesan pertama.


“Nggak. Mereka gak akan punya pikiran kaya gitu, kok!” Zeev mencoba meyakinkanku untuk tidak khawatir terhadap hal kecil seperti itu.


“Tapi, kesannya terlalu lebay gak sih, kalau ada lope-lopenya? Mending emot senyum biasa aja kali, ya?” aku masih meragu sehingga membutuhkan jawaban paling valid.

__ADS_1


“Ya, gapapa. Asal jangan emot jari tengah aja.” Zeev membalas dengan plegmatis.


“Senyumnya mending yang biasa atau senyum sambil merem atau senyum sambil merem sekaligus malu-malu gitu?” cecarku, sambil memandang wajah Zeev dengan tatapan paling serius.


“Kayanya semua sama aja, deh!” tandas Zeev bersama bayangan huruf W yang terpancar di dahinya.


“Beda, dong! Emang kalau gue kirim emot yang senyumnya setan berarti gue ramah, ya?” timpalku, membuat Zeev diam seribu bahasa. “Oh! Apa gue pake emot senyum kebalik aja kali ya biar dikira playfull dan friendly gitu?”


“Setelah gue pikir-pikir mending perkenalannya kalau ketemu langsung aja. Jadi, lo bisa bebas berekspresi tanpa perlu repot-repot mikirin emotikon doang.” Zeev memberikan saran terbaiknya bersama sebuah senyum tanda kepuasan.


Aku tahu Zeev tengah memberikan solusi terbaik atas segala pertanyaanku. Namun, entah mengapa aku tidak merasakan kepuasan atas saran dari Zeev. Pada akhirnya ibu jariku lebih memilih untuk menyematkan emotikon berbentuk senyum peluk sebelum akhirnya menekan tombol bergambar pesawat kertas yang terpatri di dalam gawai.



Akan amat mencurigakan dan boleh jadi akan membuat Zeev terganggu bila aku nekat mengikutinya hingga sampai ke rumah setiap hari, bukan? Sebab itu, aku tidak memiliki banyak pilihan selain selalu mengingatkan Zeev untuk berhati-hati, terutama pada kendaraan roda dua ketika ia hendak menuju rumah. Aku hanya dapat menemani Zeev dengan doa yang diam-diam aku bisikan pada tujuh lapis langit, berharap doa putus asaku mampu menjadi sihir pelindung paling ampuh bagi Zeev.


“Tuh, angkot lo udah dateng!” pungkas Zeev, pemuda yang tengah duduk di sebelahku di bangku halte, di dekat Barisfer Akademi.


“Nanti aja, deh! Tunggu yang penumpangnya agak sepi.” beberku manakala mendapati angkot dengan penumpang yang diselimuti kesesakan.

__ADS_1


“Gue inget-inget, kayanya lo selalu lewatin angkot lo sebelum gue dapet angkot duluan. Kalau gak karena terlalu penuh, lo juga bilang males nunggu ngetem kalau angkotnya terlalu sepi.” ujarnya, membuat otak kecilku bekerja keras guna mencari dalih paling masuk akal yang bisa diterima oleh otak Zeev.


“Ya, tapi yang barusan emang penuh banget, kan? Supirnya aja yang aneh masih mau ngangkut orang padahal udah keliatan pengap banget kaya gitu.” balasku, tanpa sadar sepasang netra ini tidak cukup berani untuk memandang Zeev sehingga berpaling menatap jalan raya yang penuh dengan hilir mudik kendaraan.


“Jadi, bukan karena nungguin gue, kan?”


Ekor mataku mendapati bayangan Zeev yang samar namun cukup detail untuk aku pahami bahwa Zeev saat ini tengah memandangiku dengan saksama. “Nggaklah! Ngapain juga gue nungguin lo doang?” seloroh bibirku yang kabur dari proses penyaringan dari otak yang bekerja.



Zeev lantas mengangguk tanda mengerti. “Bagus, deh!”


Hati serta akalku yang tidak siap dengan jawaban nyeleneh itu lantas membangkitkan jiwa penasaranku. Kuedarkan kembali pandanganku pada sosok Zeev di sampingku dengan lekat guna memenuhi standar kepuasan dari alasan dibalik ucapa Zeev barusan.


“Sebenernya setelah kejadian di lapangan waktu itu, gue gak bisa untuk bener-bener bersikap biasa aja sama lo, Nar. Semua tingkah lo gak jarang buat gue nebak-nebak apa maksud dan tujuan lo sebenernya. Dan sekarang gue bisa pastiin kalau kejadian waktu itu emang bener-bener cuma kesalahan, kan?” Zeev menatapku dengan intens tanpa sedikit pun senyum yang terpancar dari wajahnya.


Pertanyaan itu jelas membuat batinku bertekuk lutut tanpa sebuah perlawanan. Faktanya aku memang menyukai Zeev, ketua OSIS dengan segudang penggemar yang selalu mengikutinya. Dan nahasnya perasaanku ini hanya sekadar sebuah kisah klasik cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Aku yang cukup pengecut ini tidak sanggup mendapatkan penolakan yang mungkin berdampak pada hubunganku dengan Zeev menjadi renggang.


“Lo tenang aja Zeev. Gue gak kaya rumor yang nyebar itu, kok!” kelitku, berusaha meyakinkan Zeev bahwa aku tidak termasuk ke dalam daftar penggemar fanatik yang harus Zeev hindari. “Gue emang suka sama lo. Tapi, itu cuma kaya perasaan kagum ke idolanya doang. Gue kagum sama jiwa kepemimpinan lo dan kepintaran lo. Ya, sekarang siapa sih, yang gak kagum sama sisi lo yang itu? Dan perasaan kagum gue cuma sebatas itu.”

__ADS_1


“Oke, gue ngerti. Tapi, lain kali jangan diulangin lagi karena perbuatan lo bisa disalah pahamin sama orang lain.”



__ADS_2