Misi Menyelamatkan Hati

Misi Menyelamatkan Hati
21. Perang Dingin


__ADS_3

Kacau. Sembilan puluh hari sebelum Zeev ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa, hubungan kami justru menjadi sejauh mayapada dan dirgantara. Bahkan posisiku tidak lagi kembali pada titik nol, melainkan melangkah mundur ke titik minus seratus yang amat jauh dari titik nol ketika Zeev semula berada. Keadaan tidak berjalan seiringan laiknya usaha yang selama ini aku kerahkan.


Semburat jinggga keemasan dari ufuk barat kiranya mencoba menegurkuku bahwa seharusnya aku tidak bertindak sejauh itu, mengingat sepanjang sisa *** aku sibuk menghindari Zeev sebab enggan bertatap muka dengannya. Namun, egoku terlanjur dirundung amarah, sedih, kecewa, serta dilema atas apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Apakah aku bisa memperbaiki semua keadaan ini? Apakah aku mampu mengendalikan waktu yang tersisa saat ini?


Ya, Tuhan! Aku hanya ingin Zeev tetap tinggal di dunia ini!


Kendati Zeev tidak mengerti bahwa kepercayaan bukan sekadar hal yang penting bagiku, melainkan sumber dari dasar rasa percaya diri yang mampu membuatku mencicipi indahnya perasaan diterima oleh orang lain. Kendati Zeev tidak mampu mengabulkan sebuah harapan yang nurani ini diam-diam panjatkan. Tetapi, hal itu tetap tidak mengubah keinginan terbesarku untuk bisa melihat Zeev dalam waktu yang lama.


Bruk!


Seseorang tiba-tiba menubruk separuh bahuku, berhasil menarik kewarasanku kembali pada nyata. “Maaf!” katanya, sebelum ahirnya gadis itu berlalu dengan tergesa-gesa sebab tengah diburu oleh sang waktu.


Tanpa sadar, aku telah sampai di depan sebuah bangunan bercat kuning telur yang menjulang tinggi, begitu menarik perhatian sebab warnanya yang menyala daripada bangunan-banguan kelabu yang mengapit tubuhnya. Tak dinyana, aku telah berjalan sejauh setengah kilo meter serta menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit dengan ditemani pantulan suara-suara yang ditimbulkan oleh isi pikiranku sendiri.


“Tumben sendirian! Biasanya sama Zeev!” celetuk Selena, gadis berkulit seputih susu asal SMA Panca Sakti itu padaku.


“Iya, hari ini kita gak bareng.” Balasku seraya tersenyum getir manakala harus menelan bulat-bulat kepelikan yang terjadi hari ini.

__ADS_1


Bila predikat SMA negeri favorit di kotaku salah satunya jatuh kepada SMA Negeri Dirgantara, maka SMA swasta favorit selanjutnya akan jatuh kepada SMA Panca Sakti, sekolah yang sejak dahulu kala memiliki sejarah yang kelam dengan sekolahku.


Di tahun sembilan puluhan, segerombolan oknum pelajar yang terbagi menjadi beberapa kubu sering sekali menggelar pesta tauran antar pelajar sebagai manifestasi dalam membuktikan sekolah mana yang terbaik di Bandung. Namun, dari sekian banyaknya kasus anarkis yang pernah terjadi di tahun tersbeut, ada satu kasus yang paling terkenal di kalangan masyarakat hingga detik ini, yaitu peperangan antara SMA Negeri Dirgantara dan SMA Panca Sakti yang nahasnya harus menelan satu korban minggal dunia.


Namun, seiring berjalannya waktu, perkembangan zaman, serta perubahan sistem dan kebiasaan yang terjadi, peperangan panas dan anarkis itu berangsur-angsur mulai berkurang dan bertransformasi menjadi pertempuran yang lebih sehat. Di tahun dua ribu dua puluh dua ini, para petinggi serta pelajar yang masih terbagi menjadi dua kubu tersebut lebih memilih untuk saling bersaing dalam pendidikan, insfrastruktur, serta berbagai kompetisi dibidang olahraga dan kesenian. Dna uniknya – sepanjang pengamatanku sejak bergabung dengan Barisfer Akademi – Selena dan Zeev dapat menjadi teman akrab di tengah perang dingin dalam memperebutan prestasi tersebut.


“Kalau gitu kita lanjut ngobrolnya di dalem aja gimana?” tawar gadis berwajah oriental itu.


Pada akhirnya secara alamiah aku dan Selena saling berbagi kisah yang sifatnya pribadi sambil menunggu kelas di mulai. Berawal dari cerita Selena yang sejak kelas satu mengikuti bimbingan belajar di sini dan sekarang ia tengah memfokuskan diri untuk mengikuti olimpiade fisika yang akan digelutinya. Lalu, diakhiri dengan ceritaku yang memutuskan bergabung dengan Barisfer Akademi untuk menaikan nilai raporku. Sungguh kisah yang menarik dan amat kontras, bukan?


Namun sepanjang obrolan yang terjalin, Selena tidak pernah satu kali pun menyombongkan pencapaiannya atau memandang rendah diriku. Ia justru bersikap ramah dan gemar sekali tersenyum kepadaku. Dan kiranya aku jadi sedikit mengerti mengapa Zeev bisa akrab dengan Selena. Ya, di dunia ini siapa yang tidak suka gadis cantik berkulit putih, ramah, baik hati, dan cerdas seperti Selena? Bahkan aku yang sejatinya perempuan saja amat mengagumi paket lengkap yang ada dalam dirinya.


“Selamat sore, semuanya!” seru miss Diana, selaku guru bimbingan belajar kami. Tak dinyana, kedatangan wanita berkacamata itu turut menghadirkan Zeev yang datang bertepatan dengan beliau.


Ketika sepasang netraku mendapati sorot mata Zeev yang tengah menatap lurus ke arahku, sontak hal itu membuat bola mataku berputar dan tertunduk sebab masih enggan melihat wajahnya. Sistem limbik dalam diri ini masih bersikukuh untuk meminimalisir segala macam bentuk interaksi yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Barangkali hati ini masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.


“Pertemuan sebelumnya saya beri kalian tugas, kan? Apa ada yang mau tulis jawabannya di depan?” tanya miss Diana kepada seluruh penghuni ruangan.

__ADS_1



Pun hari ini aku kembali berada di halte di seberang Barisfer Akademi pada pukul delapan malam untuk menunggu angkutan umum yang melintasi kawasan rumahku. Dan pemandangan tidak asing lainnya ialah kehadiran sosok Zeev di sebelahku yang sama-sama menatap lurus dalam keheningan. Aku masih tidak ingin berbicara dengannya.


“Tadi kenapa lo berangkat duluan? Gue nungguin lo tau di depan gerbang!” celetuk Zeev, mencoba menambah keramaian di tengah keramaian bunyi mesin kendaraan yang melaju kencang.


Bodo amat! Jawabku, urungku suarakan.


“Lo masih marah sama gue, ya?” selidik Zeev dengan pelan namun jelas terpantul di telinga.


Lo pikir aja sendiri! batinku lagi-lagi hanya ingin menikmati percakapan ini sendiri.


Barangkali Zeev yang tidak tahan dengan kebisuan ini pun lantas kembali melanjutkan diri untuk mengutarakan isi pikirannya. “Yang di kantin itu gue gak maksud buat ngusir lo, Nar. Gue cuma gak mau lo sakit hati kalau lo denger omongan buruk tentang lo.”


Alih-alih menanggapi penjelasan membosankan Zeev, tubuh ini kubiarkan menegak dan maju beberapa langkah sebelum akhirnya aku putuskan untuk masuk ke dalam angkutan umum yang tidak terlalu ramai. Untuk pertama kalinya aku meninggalkan Zeev tanpa sepatah kata pun untuk ia bawa pulang, membiarkan Zeev mengamatiku diam-diam dari bangku halte bersama tatapan sendu yang mulai tersirat di air mukanya.


Jujur. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan saat ini. Sebagian diriku tidak ingin membuang waktu untuk melakukan perang dingin seperti ini. Namun, sebagian yang lain masih menolak untuk menerima keadaan serta perlakuan Zeev yang sedikit banyaknya mengecewakanku. Di usiaku ini, aku masih kesulitan untuk mengandalikan hormon-hormon dalam diri yang mempengaruhi emosi yang terus bergelut dalam amigdala. Pada akhirnya hingga pak supir menginjak pedal guna melajukan mobilnya, aku dan Zeev masih tidak bisa kembali pada titik di mana kami seharusnya berada.

__ADS_1



__ADS_2