
PADA jam ketiga, seluruh murid di kelasku diharuskan memasuki laboratorium kimia sebab hari ini kami akan melakukan praktikum mengenai laju reaksi – konsentrasi – kimia dengan menggunkan alat serta bahan yang telah pihak sekolah sediakan di laboratorium. Dari apa yang aku lihat, nampaknya seluruh murid – termasuk aku – cukup antusias untuk mengikuti praktikum kali ini. Suasana juga semakin kondusif mengingat kami amat fokus mendengarkan pengarahan dari pak Jafar yang tengah berusaha memberikan kami pencerahan.
Pak Jafar tidak terlalu banyak membutuhkan intro ketika menyampaikan maksud dan tujuan kami perlu mempelajari laju reaksi – konsentrasi – kimia. Ia lebih memilih untuk mengajarkan kami secara perlahan sambil mengarahkan murid-muridnya untuk melakukan langkah-langkah cara kerja dari praktikum ini secara runut. Sesekali ia memberikan penjelasan atas apa saja yang perlu kami perhatikan agar percobaan kami dalam membuktikan adanya laju reaksi – konsentrasi – kimia ini berhasil.
“Sekarang masukan pita magnesium ke masing-masing tabung.” seru pak Jafar, menginginkan kelompokku beserta beberapa kelompok lain memasukan dua lembar pita berukuran 2cm ke masing-masing tabung berisi larutan HCl 1M dan HCl 2M sebanyak 5ml. “Coba amati banyaknya gelembung gas dan waktu sampai pita magnesiumnya habis.”
Seluruh siswa dan siswi yang berada di ruangan ini fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing. Di kelompokku sendiri, aku mengemban amanat untuk mencatat segala hasil dari pengaruh konsentrasi larutan, pengaruh luas pemukaan, pengaruh suhu, serta pengaruh katalisator terhadap laju reaksi sebagai bahan untuk membuat tabel hasil pengamatan. Oleh sebab itu, aku tidak boleh melewatkan satu momen pun agar catatan hasil pengamatan dari kelompokku menjadi sempurna.
“Gelembung gas yang dihasilkan larutan HCl 2M lebih banyak daripada HCl 1M.” ungkap Fira, salah satu teman satu kelompokku.
“Waktunya juga gak terlalu lama, cuma tujuh puluh delapan sekon.” sahut Rama, bertugas untuk mengamati waktu reaksi dengan bantuan jam sukat dalam gawainya.
“Itu artinya semakin besar molaritas atau konsentrasi suatu zat, maka jumlah partikelnya semakin banyak. Hal ini juga menyebabkan kemungkinan terjadinya tumbukan antar partikel lebih besar sehingga meningkatkan laju reaksi.” imbuh Zeev tanpa jeda ketika ia menyampaikan pendapatnya.
“Huh? Gimana tadi?” tanyaku, tergesa-gesa mengambil pena sehingga tanpa sengaja aku justru menjatuhkan pena yang berada di sudut meja menjadi terhun lurus ke pusat grafitasi bumi.
__ADS_1
Hebatnya salah satu tanganku memiliki gerak reflek yang amat bagus sehingga aku berhasil menangkap benda silinder mungil itu sebelum mendarat ke ubin yang dingin. Dan lebih hebatnya lagi lengan Zeev juga memiliki gerak reflek serupa sehingga pada akhirnya lengan kami tidak sengaja bersentuhan sehingga menimbulkan laju reaksi hati yang cukup aneh namun terasa familiar dalam benakku. Sayang. Zeev lekas menarik kembali lengannya seolah-olah sentuhan kecil tadi merupakan sebuah kesalahan besar.
Aku sadar betul bahwa situasiku tidak mendukungku untuk merasa kecewa sehingga bibirku lebih memilih untuk berucap “Semakin besar moralitas atau konsentrasi suatu zat, maka...” sambil berusaha mencatat semua ucapan Zeev kendati otak, bibir, serta jemari ini cukup kepayahan dalam memahami kata-katanya.
“Molaritas, Lunar! Bukan moralitas!” dengus Rama, membuat pena yang aku genggam otomatis membuat guratan kasar untuk mencoret kata moralitas yang menyasar di buku catatanku, menggantinya dengan kata yang tepat – molaritas.
“Lo catet aja dulu kecepatan timbul gelembung gas, banyaknya gelembung gas, sama waktu reaksinya. Nanti pembahasan sama kesimpulannya gue bantuin di kelas.” saran Zeev, membuatku sedikit bernapas lega sebab Zeev berusaha mengerti kemampuanku dalam menyimak dan memahami setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Tidak seperti materi mengenai organel sel makhluk hidup yang berhasil aku hafal hingga ke anak cucu sebab pernah muncul dalam kisi-kisi ujian biologi yang sudah pernah aku alami di masa depan. Tapi, untuk mata pelajaran kimia ternyata aku masih saja mengalami kesulitan dalam mencerna segala jenis informasi yang aku terima. Kendati segala peristiwa mau pun materi di buku paket kimia sudah pernah aku serap dan pelajari, namun kimia nampaknya tetap menjadi salah satu mata pelajaran yang senantiasa aku benci.
Aku pribadi tidak keberatan atas penundaan waktu secara mendadak yang harus kami lakukan untuk mengikuti jadwal Zeev, mengingat bagiku kapan pun itu akan terasa sama menyenangkannya sebab Zeev yang membimbingku langsung secara privat dan empat mata seperti saat ini. Kendati faktanya Zeev hanya memperhatikanku demi kepentingan tugas kelompok, namun taman dalam hatiku begitu sederhana sehingga sudah berhasil dibuat bersemi-semi olehnya.
“Jadi, kesimpulannya: satu, semakin besar moralitas atau konsentrasi zat, maka akan semakin cepat laju reaksi. Dua, Semakin luas permukaan zat, maka laju reaksi akan semakin cepat. Tiga, penambahan katalis dapat mempercepat laju reaksi.” ujar Zeev secara perlahan dengan menyelipkan jeda pada tiap-tiap poin kesimpulan yang ia paparkan, menunggu guratan tanganku sampai pada sebuah titik sebelum akhirnya ia berucap menuju poin selanjutnya.
__ADS_1
“Coba lo liat lagi, deh!” pintaku agar Zeev memindai kembali hasil tulisanku yang paling rapi dalam kelompok kami, menyerahkan buku catatanku untuk Zeev pindai.
Sorot mata Zeev berpusat pada tiap-tiap guratan tanganku. Wajahnya nampak serius sekaligus menenangkan di sepasang netraku. Entah mengapa tingkat ketampanan Zeev selalu meningkat manakala ia tengah fokus dengan tatapan paling serius seperti saat ini. Oh, ralat. Sebenarnya Zeev juga tidak kalah mempesona ketika ia berpidato atau pun bernarasi untuk memimpin teman-temannya dalam menyelesaikan masalah.
“Ini udah oke, kok! Nanti kalau diketik lo buat hasil pengamatannya dalam bentuk tabel aja biar lebih mudah dibaca.” usul Zeev yang langsung mendapatkan persetujuan dariku.
“Oke, nanti kalau udah beres gue kirim file-nya ke lo.” aku menyanggupi amanat yang Zeev sematkan padaku. Aku tidak boleh membuat Zeev kecewa.
Di tengah-tengah diskusiku bersama Zeev, tiba-tiba seorang gadis berkulit lebih terang dariku dan Zeev mendekat ke arah kami sambil membawa buku bersampul merah muda miliknya, mengganggu quality time-ku bersama Zeev dengan melemparkan sebuah basa-basi “Zeev? Bisa ajarin gue soal nomor tiga yang ini gak? Gue gak ngerti.”
“Mana? Coba gue liat?” timpal Zeev, semudah itu ia berpaling dari pandanganku untuk sekadar memenuhi ekspektasi gadis itu.
Zeev kini nampak serius sekali mengajari gadis di samping kanannya untuk memecahkan salah satu soal matematika. Bahkan nampaknya ia atau pun gadis berkulit putih itu tidak menyadari keberadaanku disekitar mereka. Tiba-tiba aku merasa asing dan sendiri di dalam ruangan penuh lautan manusia ini. Bukan sebab Zeev tengah mengajari gadis itu dengan intens tanpa mempedukikan aku. Melainkan sebab aku lupa bahwa Zeev memang selalu baik dan ramah kepada semua orang, termasuk kepada seorang gadis cantik seperti dia.
Aku pikir, hatiku sudah cukup terlatih melihat Zeev mendapatkan puluhan pernyataan akan hadirnya sebuah cinta dari siswi-siswi di sekolah. Mendapati Zeev menerima perhatian serta kado di Hari Kasih Sayang – Valintine – bukanlah hal tabu bagiku. Namun, baru kali ini aku mendapati Zeev yang memberikan umpan balik dengan diselimuti atmosfer merah muda beserta getaran berbeda daripada yang biasanya. Bila biasanya nuraniku selalu merasa cukup untuk menjadi penggemar rahasia Zeev yang setia. Namun, untuk kali ini nuraniku serakah sebab ingin memiliki Zeev seutuhnya.
__ADS_1
Aku cemburu terhadap sesuatu yang jelas-jelas bukan milikku.