
...#...
...“Kekerasan nggak bisa dibenarkan di sekolah, karena nantinya cuma akan bikin Lo berada dalam masalah.”...
...- Bina Esfand -...
...***...
Bina terus melangkah menjauhi Adnan, saat tiba di koridor semula; secara tidak sengaja ia berpapasan dengan Dev yang hendak pergi ke arah yang berlawanan dengannya. Bina sempat menghentikan langkahnya saat Dev terus saja bergerak ke arah yang sama dengannya, cowok itu benar-benar menghalangi jalannya Bina yang hendak bertemu dengan Renata di kantin. Ia terdiam sejenak bersamaan dengan Dev.
"Bina… ada yang mau aku omongin sama…" Dev menggantungkan kalimatnya saat Bina melangkah ke arahnya dan menggerakkan tangannya meminta agar Dev menyingkir dari jalannya. Cowok itu lalu bergerak menyingkir dari jalan Bina dan mempersilahkannya untuk lewat lebih dulu. Tanpa berkata apa-apa; Bina melangkah melewati Dev.
Dev terdiam ditempatnya, lagi-lagi Bina tidak ingin mendengarkan apa yang hendak ia sampaikan. Dev memandangi Bina yang kini semakin jauh dari tempatnya berada hingga akhirnya menghilang di jalan pertigaan yang dilihatnya.
...*...
Dhira yang muncul entah dari mana secara tiba-tiba menariknya ke sudut dan memojokkannya di dinding, Bina cukup terkejut atas ulahnya. Ini adalah kedua kalinya hari ini dirinya diseret-seret oleh dua orang menyebalkan yang benar-benar tidak ia sukai. Dhira menatap Bina dengan tatapan tajam, Bina tak mau kalah. Ia balik menatapnya sengit. "Apa yang Lo sama Adnan bicarain tadi?" Tutur Dhira.
"Apapun yang gue omongin sama dia yang pasti nggak ada hubungannya sama Lo, jadi lebih baik Lo minggir karena gue nggak mau ngabisin waktu sama cewek-cewek kayak kalian!" Bina menatap satu persatu gadis yang menjadi kakak kelasnya itu. Dhira membulatkan matanya, dengan raut wajah yang tampak semakin kesal. "Berani banget Lo ngomong kayak gitu sama kakak kelas Lo, nggak punya sopan santun banget sama yang lebih tua!" Jolie berkomentar sementara Marissa hanya diam tak berkutik. Bina terkekeh pelan, ia lalu menatap ke arah gadis yang baru saja berbicara itu.
"Sopan santun? Emangnya pantes gue sopan sama orang-orang kayak kalian? Kakak kelas kok hobinya ikut campur urusan adik kelas, kurang kerjaan banget." Bina melipat kedua tangannya di depan dada santai, ia memalingkan pandangannya ke arah lain. Dhira naik darah dibuatnya, ia hendak menjambak rambut Bina tapi lebih dulu Bina menangkap pergelangan tangannya sebelum Dhira sempat menyentuh rambutnya. Bina menatap tajam Dhira dihadapannya. "Kekerasan nggak bisa dibenarkan di sekolah, karena nantinya cuma akan bikin Lo berada dalam masalah." Dhira menatapnya dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.
Bina menghempaskan pergelangan tangan Dhira. "Udah ya, gue punya janji sama temen. Dari pada di sini sama kalian semua, nggak bermutu banget. Lebih baik sekarang gue cabut, Renata pasti udah nungguin gue di kantin. Dah!" Bina melangkah pergi meninggalkan Dhira, Jolie, dan Marissa bertiga di sana. Ketiganya menoleh ke arah Bina yang semakin menjauh. "Lama-lama dia makin ngelunjak," gumam Jolie tepat di telinga Dhira yang berada tepat bersebelahan dengannya, gadis itu kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Sementara itu Dhira di sampingnya berusaha untuk mengatur emosinya yang benar-benar tak terkontrol.
Bina terus melangkah menuju arah kantin, hendak menemui Renata yang sudah menunggunya sejak tadi. Sementara Renata menunggunya; beda halnya dengan kedua teman Bina yang lain yaitu Nina dan Doris, saat ini mereka berdua berada di perpustakaan untuk membaca buku serta menyelesaikan tugas sekolah mereka yang belum sempat mereka selesaikan.
__ADS_1
DRRTTTT... DRRTTTT...
Getar ponselnya membuat fokus Bina tersita, ia kemudian merogoh kantong rok yang ia kenakan dan membuka pesan dari Renata yang didapatnya.
Renata:
Lo dimana sih? Kok lama banget ke toilet doang? Gue nungguin sampe lumutan ini! Cepetan kesini.
Bina tersenyum simpul sembari berkata, "ada-ada aja."
...#...
...“Memang benar, luka terdalam adalah ketika kamu tak mampu melihat dengan mata, dan kesedihan terpendam adalah ketika kamu tak mampu mengucapkan dengan kata-kata.”...
...- Bina Esfand -...
...*...
"Eh? Ya? Kenapa?" Bina mengalihkan pandangannya sebentar.
"Gue nanya kok di cuekin sih, Lo lagi liatin apa?"
"Itu ada cewek yang lagi di marah-marahin sama cowok di taman," gumam Bina sembari terus memandang ke luar jendela.
__ADS_1
"Huh?" Renata menoleh ke arah jendela dan mendapati pemandangan yang sama yang di lihat Bina. "Diandra?"
"Lo kenal dia?" Tanya Bina seraya mengalihkan pandangannya pada Renata.
"Nggak sih, cuma tau aja namanya. Lagian semua orang tahu dia karena dia itu salah satu cewek yang sejak awal emang udah nyita perhatian. Dia cantik, kaya, tapi sayangnya punya penyakit parah yang bikin dia jarang banget ikut olahraga kayak kak Gavin," jelas Renata. Bina hanya bisa mengerutkan keningnya bingung dengan penjelasan dari Renata. "Gavin?" Ulangnya.
"Oh iya gue lupa kasih tahu Lo, jadi selain kak Adnan, ada dua most wanted lain di sekolah ini. Yaitu kak Gavin sama kak Aksa."
"Oh ya?"
"Iya. Kak Gavin itu yang paling banyak banget fansnya, tapi sayangnya kak Gavin jarang banget keluar buat menampakkan diri, selain jarang keliatan, kak Gavin juga jarang ikut pelajaran olahraga. Tapi dengar-dengar sih kak Gavin sekarang lagi banyak banget di omongin sama satu sekolahan, katanya dia lagi deket sama cewek. Katanya ceweknya sama-sama anak pindahan cuma lebih dulu dia pindahnya."
"Oh ya? Kelas berapa?"
"Kelas XI, dan yang gue tahu mereka satu kelas dan duduk satu meja lagi."
"Ooh…"
"Kak Gavin itu dari IPA, selain pinter dia juga ganteng dan baik. Jadi nggak heran lebih banyak orang yang suka sama dia, tapi sayangnya kak Gavin itu susah banget buat di deketin." Bina hanya mengangguk-angguk kepalanya menyimak penjelasan dari Renata.
"Terus kalo kak Aksa itu populer karena dia itu ganteng, ramah, sama mudah akrab banget sama banyak cewek. Minusnya dia itu playboy, tapi sialnya kegantengannya itu bikin nggak nahan. Dia dari jurusan IPA juga."
"Ooh… terus kalo soal cewek itu?" Bina kembali mengalihkan topik pada gadis yang masih dimarahi oleh seorang cowok di taman.
"Diandra? Dia itu sama-sama kelas X kayak kita, dia dari jurusan Bahasa."
__ADS_1
"Kalo cowok itu?"
...***...