
...***...
"Kok sendirian? Ad, dimana?" Tanya Jonas yang baru saja kembali. Cowok itu membawa setidaknya tiga buah cup cake dengan yang satu tengah di makannya, Dev yang mendengarnya datang lalu menoleh. "Tuh." Tunjuk Dev pada cowok yang tengah berdiri di salah satu stand yang tadi di lihatnya.
"Tumben makan yang kayak gituan? Bukannya Ad itu nggak terlalu suka makanan kayak gitu?" Jonas menaikkan sebelah aslinya bingung. "Lagi ngidam kali, makannya pengen makanan itu." Dev menanggapinya sarkas, ia lantas beranjak menghampiri satu stand meninggalkan Jonas seorang diri di sana.
"Ngidam? Siapa bapaknya?" Jonas memasukkan kembali cup cake ditangannya ke dalam mulut, detik berikutnya ia melangkah mengikuti Dev yang kini menghampiri stand di sana.
...*...
Adnan menghentikan pelayan yang baru saja hendak memberikan nampan ditangannya ke arah meja yang di tempati oleh Bina dan kawan-kawan dengan dalih; ia ingin di layani lebih dulu padahal ia hanya ingin menuangkan sesuatu yang dibawanya ke dalam makanan Bina. Tapi tak lama ia akhirnya meminta sang pelayan untuk mengirimkan nampan itu pada meja yang seharusnya. Si pelayan hanya bisa mengikuti permintaannya dan mengirimkan pesanan itu pada meja yang ditempati oleh Bina, tidak lama Adnan akhirnya mendapatkan pesanannya dan segera pergi menghampiri meja yang ditempati oleh Dev dan Jonas yang sejak tadi menunggunya di pojokan seperti biasa.
...*...
"Abis ini pelajaran siapa?" Tanya Doris pada ketiga temannya, ia lantas memasukkan makanan yang dipesannya itu ke dalam mulut.
__ADS_1
"Abis ini pelajaran pak Sam." Sahut Nina yang tengah asik menatap layar ponselnya sembari sesekali memakan makanannya.
"Mati, guru killer bund." Renata baru sadar kalau berikutnya adalah pelajaran pak Sam, salah satu guru yang terkenal galak dan tegas. "Emangnya serem ya?" Bina memasukkan makanan ke dalam mulut, menatap satu persatu temannya itu dengan raut wajah bingung.
"Banget." Doris menekankan.
"Ada beberapa peraturan yang nggak boleh di langgar sama murid selama di pelajaran pak Sam, selain nggak boleh berisik, nggak boleh ada yang tidur, murid yang pengen ngikutin pelajarannya juga harus ngerjain tugas tepat waktu; nggak ada kata telat, kalo sekalinya telat ngumpulin tugas bakalan di usir dari kelas dan nggak boleh ngikutin pelajaran Minggu depan sampe masa hukumannya selesai. Biasanya dua sampai tiga Minggu baru boleh ikut pelajaran lagi, udah gitu nggak ada yang boleh permisi ke toilet selama jam pelajarannya, berlaku buat cewek sama cowok. Dan yang paling penting, pak Sam paling gak suka kalo ada murid yang pas dia lagi jelasin itu kita motong penjelasannya sama pertanyaan atau nggak merhatiin. Dan dia itu salah satu guru yang teliti." Jelas Renata panjang lebar, gadis itu lalu meraih gelas minumnya dan meneguknya hinggap habis setengah.
"Separah itu?" Bina hanya bisa menatap ketiga temannya dengan raut wajah tak menyangka. "Nggak, yang paling parah sih kalo Lo ketiduran di kelas. Biasanya dihukumnya nggak cuma dilarang ikut pelajarannya; tapi juga kadang di suruh buat berdiri diluar kelas sampai jam pelajarannya selesai, kadang juga di suruh lari keliling lapangan, atau bersihin ruang olahraga pulang sekolah." Nina menambahkan, gadis itu kembali sibuk dengan ponselnya.
"Wow." Bina kehabisan kata-kata.
"Btw udah pada selesai 'kan? Mendingan sekarang kita ke kelas buat siap-siap." Doris beranjak bangun dari tempat duduknya. "Udah, ayo. Jangan sampai telat kalo nggak mau dapet masalah." Renata ikut bangun bersama dengan Nina yang sejak tadi tak habis-habisnya dengan ponselnya. Bina ikut bangun, keempatnya lalu beranjak untuk membayar, setelah itu melangkah menuju arah ruang kelas mereka untuk mempersiapkan diri demi pelajaran berikutnya.
"Na, dari tadi Lo sibuk banget. Lagi ngapain sih?" Renata melirik ke arah Nina, begitu pula dengan Doris dan Bina yang kemudian merapatkan tubuhnya ke arah Nina. "Gue lagi lanjutin cerita gue," katanya sembari tersenyum ke arah ketiganya.
"Oh… jadi Lo udah aktif nulis lagi?" Doris menanggapi. "Gitu deh, gue kan baru aja dapat kontrak. Nggak mungkin gue nggak lanjuti ceritanya, gue harus rajin nulis supaya bisa cepet selesai ceritanya." Sahut Nina.
__ADS_1
"Lo nulis apa? Kok bawa-bawa kontrak?" Tanya Bina yang tidak mengerti dengan pembicaraan Nina serta Doris. Renata menoleh ke arahnya, "Nina ini sekarang lagi meniti karir di dunia kepenulisan, karena sejak dulu hobinya nulis dan dia suka banget halu tingkat dewa. Jadi dia mutusin buat coba kirim ceritanya di salah satu platform online gitu, terus siapa sangka; kalo ternyata cerita abal-abal seorang Nina yang halu-nya nggak ketulungan ini laku dan banyak banget peminatnya." Jelas Renata.
"Gila sih, Lo kalo ngomong suka nggak pake filter. Pake jujur segala kalo cerita gue abal-abal." Nina menanggapi, Renata hanya terkekeh dibuatnya sementara Doris sibuk membaca apa yang tengah di tulis Nina di ponselnya.
"Wah gila sih, gue nggak nyangka kalo ternyata gue punya temen penulis." Bina tersenyum. "Btw gue mau baca cerita Lo, boleh gak?"
"Boleh banget, ntar gue kirim link-nya." Sahut Nina. "Bina aja nih? Kita-kita nggak gitu?" Protes Doris.
"Kalian juga mau baca?"
"Ya, mau lah Na. Pake ditanya segala, lagian kita udah temenan cukup lama… nggak juga sih, baru beberapa bulan. Ah, tapi pokoknya kita juga mau baca," kata Renata. Ia menggelengkan kepalanya pelan saat ia membicarakan mengenai seberapa lama mereka berteman.
"Oke, ntar gue kasih link-nya ke kalian semua."
"Sip!" Doris menunjukkan jempolnya. Mereka bertiga lalu terus melangkah menuju ruang kelasnya, tiba di dalam ruang kelas mereka. Ketiganya kembali mengobrol dengan Nina yang masih kadang sibuk menulis di ponselnya dan sesekali menanggapi pembicaraan ketiga temannya.
Tiba-tiba saat tengah mengobrol bersama, Bina merasakan kepalanya berat. Bersamaan dengan itu pandangannya mulai mengabur dan ia mulai merasa lelah bercampur mengantuk. Ia bahkan merasa lemas sampai-sampai tidak bertenaga untuk menanggapi perkataan ketiga temannya yang lain, tanpa sadar Bina tertidur dengan posisi bersandar pada kedua tangannya yang di lipat di atas meja. Pelajaran pak Sam akhirnya tiba, dan begitu sadar guru yang sempat mereka bicarakan itu tiba; Renata dan Doris kelabakan dibuatnya saat menyadari Bina yang sulit sekali untuk di sadarkan. Nina sudah berusaha membantu dengan mengguncang tubuhnya berkali-kali tapi gagal membuat Bina bangun dan sadar dari tidurnya.
__ADS_1
...***...