Miss. Tomboy And Mr. Arrogant

Miss. Tomboy And Mr. Arrogant
#022


__ADS_3

***


Ia menghentikan langkah kakinya begitu mendengar suara ribut-ribut dari koridor yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berada. Ia mengeluarkan smirk-nya begitu mendapati dua orang murid yang selalu masuk dalam berita yang ia tulis di artikelnya dan selalu trending nomor satu di jurusan IPS. "Gue nggak boleh lewatin momen-momen ini," gumamnya yang lalu merogoh kantong celana yang ia gunakan dan mengeluarkan ponselnya guna memotret mereka untuk bahan tulisan artikel berikutnya.


"Gotcha! Kali ini artikel gue akan ada dihalaman utama lagi." Gumamnya sembari terus memotret. Setelah mereka berdua beranjak pergi bersama dengan Doni menuju arah yang sama, ia lantas beralih fokus pada ponsel ditangannya; segera mencari nomor seniornya untuk memberitahukan kalau ia memiliki berita baru yang akan menjadi trending di forum sekolah.


"Halo?"


"Lo gila? Ini masih jam pelajaran, kenapa Lo telpon gue?! Lo pengen bikin gue dimarahin sama guru?!" Teriak orang di seberang sana dengan nada kesal bukan kepalang, ia sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinga agar tidak bisa mendengar omelan dari orang yang menjadi seniornya itu.


"Sorry." Sahutnya santai.


"Sorry? Lo ngomong sorry santai banget seakan-akan ini hal sepele?!"


"Hehe…"


"Hehe, hehe! Udah ngomong, mau apa telpon?! Gue lagi ngerjain ulangan harian ini?!"


"Gue cuma mau ngasih tahu kalo gue dapat berita baru buat artikel gue selanjutnya."


"Tentang si Adnan sama Bina?" Tebaknya.


"Kok Lo tahu?"


"Udah ketebak banget, soalnya berita MTN-01JIPS semuanya cuma bahas seputar mereka."


"Emang, tapi kali ini beritanya lebih 'wah' dibanding artikel-artikel lain yang pernah gue tulis."


"Apa bedanya emang?"


"Tahu gak, gue liat mereka lagi berantem di hadapan pak Doni."

__ADS_1


"What the f*ck?! Seriusan Lo?" Shock-nya di seberang sana.


"Iya. Gue bahkan dapat foto-fotonya, masih fresh, mereka berantem di hadapan gue."


"Gila sih, ini bakalan jadi trending banget!"


"Yoi! Btw ntar gue ke markas jam istirahat, Lo bakalan datang 'kan?"


"Pasti! Gue pengen jadi orang pertama yang lihat barang bukti yang Lo punya!"


"Sip! Kita ketemu di markas jam istirahat nanti."


"Ok! Kalo gitu gue mau lanjut belajar, Lo juga lanjut belajar, gih! Btw kalo gak salah ini jadwal kelas Lo olahraga, ya?"


"Kok Lo tahu?"


"Gimana gue gak tahu orang kelas gue aja di dekat lapangan, ditambah gue juga duduk dekat jendela yang ngarah langsung ke lapangan. Jadi jelas banget gue liat temen-temen Lo, di sini gue juga bisa liat si Bina yang baru balik."


"Dia udah sampai?"


"Oh… ya udah kalo gitu gue tutup. Sampai ketemu di markas aja."


"Sip!"


Ia memutuskan sambungan telponnya sepihak, memandangi lebih dulu layar ponselnya yang kini menyala tak lama setelah itu; ia beranjak pergi meninggalkan tempatnya saat ini berada. Ia melenggang menuju arah lapangan olahraga untuk melanjutkan kegiatan belajarnya yang sebentar lagi akan segera selesai.



*


BLAM!

__ADS_1


Adnan menutup pintu ruangan Doni dengan sedikit kasar. Ia mendengus kesal saat setelah hampir setengah jam lamanya ia di marahi habis-habisan oleh Doni yang menjadi gurunya itu. "Ini semua gara-gara dia." Adnan mengepalkan kedua tangannya erat.


"Tapi pak, benar-benar bukan saya…" Adnan sekali lagi melakukan pembelaan.


"Ikut!" Doni mempertegas kalimatnya sembari melangkah di depan Adnan, cowok itu hanya bisa pasrah saat dirinya dipaksa untuk ikut ke ruangan Doni. Langkah Adnan terhenti saat ia melihat Bina yang muncul dari balik pertigaan, gadis itu melangkah menuju arah lapangan yang dalam seketika berhasil membuat Adnan curiga kalau orang yang telah menjebaknya adalah dia. "Tunggu, pak! Saya tahu siapa yang tadi lempar bapak pakai batu." Adnan berusaha menghentikan langkah Doni. Pria dengan wajah galak itu menoleh kearahnya seraya menghentikan langkah kakinya.


"Jadi sekarang kamu mau ngaku?" Ujarnya.


"B-bukan pak, sudah saya bilang. Bukan saya pelakunya, tapi Bina." Adnan melirik ke arah Bina yang dalam seketika menghentikan langkah kakinya saat namanya di sebut-sebut.


"Siapa?" Bina tiba-tiba nibrung seraya berjalan dengan wajah kesalnya menghampiri Adnan dan Doni yang tengah berbincang. Doni beralih pandang pada Bina yang tiba-tiba datang. "Maaf pak, saya nggak sengaja dengar nama saya di sebut-sebut." Bina menatap Doni.


"Dia pelakunya pak!" Tunjuk Adnan pada Bina.


"Apaan Lo, main nuduh-nuduh gue?! Maksud Lo apa, hah?!" Bina kesal dibuatnya.


"Tapi emang Lo yang lakuin kan? Lo yang udah lempar pak Doni pakai batu supaya gue kena masalah, ya kan?! Ngaku aja Lo!" Adnan tak mau kalah.


"Enak aja Lo kalo ngomong, emangnya Lo punya buktinya?!" Tukas Bina yang dalam seketika membuat Adnan bungkam.


"Iya, memangnya kamu punya bukti kalo Bina yang lakuin, sampai-sampai kamu sangat percaya kalau Bina yang udah lakuin itu?" Doni menimpali masih dengan raut wajah kesalnya. Adnan diam, bingung harus menjelaskan apa.


"Sekarang kamu cepetan ikut bapak! Jangan buat alasan lagi!" Doni beranjak pergi, Adnan terdiam sesaat sebelum akhirnya berjalan melewati Bina dihadapannya. Adnan menatap Bina tajam, sementara itu; Bina meledeknya dengan menjulurkan lidahnya ke arah Adnan. Adnan kesal dibuatnya, ia terus melangkah sampai akhirnya tiba di ruangan Doni dan di marahi habis-habisan olehnya.


Lagi-lagi apa yang terjadi beberapa menit yang lalu itu berhasil membuat kepala Adnan mendidih bak air di atas tungku. Nama Adnan berhasil semakin buruk di mata semua orang di sekolahnya termasuk gurunya, bahkan saat ia dimarahi Doni di dalam ruang kerjanya; pria itu membawa-bawa masalah yang tertulis di forum sekolah yang terus menjadi buah bibir semua orang.


"Gue nggak terima ini! Dia udah berkali-kali bikin gue malu dan bikin harga diri gue jatuh di hadapan semua orang! Liat aja, gue bakalan balas perbuatan dia ke gue! Gue nggak bakalan tinggal diam!" Adnan membatin, cowok itu lalu beranjak pergi menuju ruang kelasnya untuk kembali belajar.


*


"Akhirnya Lo datang juga, darimana aja? Kita nyariin dari tadi tahu gak?" Ujar Renata begitu Bina tiba di hadapan mereka berdua.

__ADS_1


"Sorry banget gue harus ke toilet bentar udah gitu ke ruang loker buat ngambil barang gue yang ketinggalan." Bina tersenyum kaku ke arah Doris dan Renata, ia tidak ingin berbicara jujur mengenai apa yang telah ia lakukan; karena Bina tidak ingin membuat teman-temannya terlibat dengan masalahnya bersama dengan Adnan yang menyebalkannya bukan main. "Nih minuman yang Lo pesan!" Doris menyodorkan minuman ditangannya.


***


__ADS_2