
...***...
Bina turun dari ojek yang baru saja mengantarkannya pulang hingga sampai di depan rumah. Ia terdiam begitu mendapati rumahnya di datangi oleh beberapa orang pria berjas hitam yang kini menggedor-gedor pintu rumahnya.
"Bina!" Panggil Mei. Bina menoleh mendapati tetangga yang selalu membantunya itu tiba di hadapannya.
"Tan, ada apa sebenernya ini? Siapa mereka?"
"Tante juga nggak tau, tapi yang pasti dari tadi mereka terus gedor-gedor rumah kamu."
"Kalo gitu ayo kita cek." Bina melangkah menghampiri beberapa orang pria di depan pintu dengan di temani oleh Mei di sampingnya.
"Maaf, bapak-bapak ini siapa ya? Ngapain gedor-gedor di rumah saya?" Ujar Bina membuat mereka menoleh ke arahnya serentak.
"Oh, kita ke sini karena mau konfirmasi kalo rumah ini udah resmi di jual sebagai pengganti jaminan pelunasan utang pak Esfand. Ini surat tanda buktinya, dan saya selaku penanggung jawab datang ke sini buat minta anda keluar secepatnya dari rumah ini. Karena pembelinya minta buat secepatnya di kosongin biar mereka bisa pindah."
"Tunggu, maksud bapak? Saya bener-bener nggak ngerti. Utang? Utang apa maksudnya? Ayah saya memangnya punya utang?" Bina mengerutkan keningnya bingung.
"Semuanya ada di surat berjanji ini, anda bisa baca sendiri." Pria itu menyodorkan surat di tangannya pada Bina.
Bina membacanya, ia begitu shock hampir pingsan begitu membaca seluruh isi perjanjian yang tertulis disana.
"Tapi pak, kalo saya keluar dari sini saya harus tinggal di mana? Rumah ini adalah satu-satunya peninggalan mendiang kedua orang tua saya."
__ADS_1
"Perjanjian tetap perjanjian. Pak Esfand juga udah tanda tangan hitam di atas putih, jadi anda nggak punya pilihan. Secepatnya anda keluar dari sini, beresin semua barang-barangnya dan kosongin rumah ini. Hari ini orang yang beli rumah nya bakalan datang buat ngecek semuanya."
"Kalo gitu, kasih saya waktu. Senggaknya sampai saya bisa dapet uang buat sewa kontrakan, pak."
"Tetep nggak bisa. Kalo kayak gitu, yang ada saya yang di marahin dan saya yang rugi."
Bina menunduk murung, ia bingung harus bagaimana. Ia tidak pernah tahu menahu sebelumnya kalau mendiang ayahnya memiliki utang yang begitu besar dan menggunakan rumah sebagai jaminan pelunasan utang-utangnya.
"Kalo gitu gimana kalo Bina tinggal di rumah Tante aja? Ng?" Mei mengusap pelan pundak Bina yang tertunduk lesu. Bina menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku udah terlalu banyak ngerepotin Tante Mei, kalo sekarang aku tinggal sama Tante aku malah jadi beban buat Tante. Lagian Tante aja udah kerepotan ngurus rumah, beban Tante juga banyak. Kalo aku ikut tinggal, yang ada aku malah nambah beban. Aku lebih suka tinggal di rumah ini, lagian ini adalah rumah satu-satunya peninggalan ayah sama bunda. Aku nggak mungkin bisa pergi dari sini, terlalu banyak kenangan yang aku punya di rumah ini dan nggak akan bisa aku lupain Tan…" Bina mengepalkan tangannya erat, dadanya terasa sesak saat ia secara tiba-tiba harus keluar dari rumahnya sendiri dengan alasan rumahnya di sita sebagai pelunasan utang mendiang ayahnya.
Mei terdiam, ia mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Bina. "Ah, kalo gitu… biar saya sendiri yang bicara langsung sama pembeli rumahnya pak. Apa bapak bisa tolong kasih tahu saya di mana rumahnya? Saya bakalan datangin langsung rumahnya buat negosiasi baik-baik secara kekeluargaan sama pembelinya."
"Kalo soal itu…"
"Huft~" ia menghela napas panjang. "Oke kalo gitu, tapi saya nggak bisa bantu banyak. Saya cuma bisa bantu anda buat ketemu aja, selebihnya anda urus sendiri."
"Iya pak, gapapa. Asalkan saya bisa ngomong secara langsung dan negosiasi sama orang yang beli rumah ini, udah lebih dari cukup buat saya."
"Alamatnya di—oh itu orangnya," ujarnya mengalihkan pandangannya pada mobil mewah yang kini melaju dan berhenti tepat di depan rumahnya. Bina terdiam memandangi mobil itu, memperhatikan sosok wanita yang kini melangkah turun dari dalam mobil dengan pakaian mewahnya.
"Bagaimana pak? Apa rumahnya udah bisa di tempati?" Wanita itu menghampiri pria di sana.
"Ada beberapa masalah Bu, tapi saya sedang berusaha buat selesain masalahnya."
__ADS_1
"Masalah apa?"
"Gini Bu, dalam surat perjanjian yang di sepakati saya sama pak Esfand mengatakan kalo selama rumah ini masih belum terjual maka rumahnya di tempati anaknya buat sementara. Tapi di sini pas kita mau minta ng…"
"Bina. Nama saya Bina," kata Bina begitu mendapati pria itu melirik ke arahnya dengan raut wajah bingung.
"…Ya, buat keluar. Ternyata dia nggak tahu apa-apa soal ini dan minta buat di kasih keringanan buat tinggal sementara waktu di rumah ini sampai dia dapet kontrakan buat tinggal."
"Oh, soal itu…"
"Bu, saya mohon… rumah ini bener-bener berharga buat saya. Saya nggak tahu harus tinggal dimana kalo rumah ini di jual, senggaknya kasih saya waktu buat ngumpulin uang sampai saya bisa dapet kontrakan buat tempat tinggal."
"Memangnya kamu nggak punya keluarga lain, atau saudara gitu?"
"Nggak punya." Bina menggelengkan kepalanya. "Ng… gini aja, kita bicara di dalam biar lebih enak," tutur Bina seraya menghampiri pintu masuk di ikuti oleh Mei dan yang lainnya.
...*...
TUK!
Ditya menaruh cangkir teh manis yang baru saja di suguhkan Bina kembali ke atas tatakan yang ada di atas meja. Ia kemudian melipat kedua tangannya di atas kakinya yang saling bertumpang satu sama lain. Ditya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, rumah yang cukup besar dengan pemandangan yang luar biasa indah dan tanaman yang sangat terawat benar-benar membuatnya merasa nyaman berada di tempatnya saat ini.
"Kayaknya kamu bener-bener ngerawat rumah ini dengan baik," katanya. Ia beranjak bangun dari tempat duduknya, menghampiri beberapa lukisan yang tergantung di dinding.
"Jadi… gimana Bu? Ibu mau kasih saya keringanan 'kan? Kalo saya keluar, saya bener-bener nggak tahu harus pergi kemana." Bina tak ingin menyerah begitu saja, sudah hampir setengah jam lamanya ia bernegosiasi dengan Ditya dan itu tidak mudah. Wanita paruh baya itu tampaknya benar-benar tertarik dengan rumah yang telah di rancang sedemikian rupa oleh salah satu arsitek teman dari mendiang ayahnya Bina itu.
__ADS_1
...***...