
...***...
"Jawab jujur!" Bina menekankan sembari mengencangkan sedikit cekikan nya membuat Adnan nyaris tak bisa bernapas.
"I-iya. Iya, gue! Puas?" Tukas Adnan dengan sedikit tertahan. Bina lalu melepaskan cekikannya, Adnan tersungkur; menghirup udara disekitarnya dengan rakus. Ia terbatuk-batuk saat berhasil lepas dari Bina.
"Lo berusaha buat bunuh gue?" Adnan mendelik menatap Bina.
"Lagian Lo juga yang salah, padahal gue udah tanya baik-baik, tapi Lo nggak mau ngaku." Bina membenahi posisinya, ia melipat kedua tangannya didepan dada. "Walaupun harus pakai kekerasan, tapi seenggaknya… Lo mau ngomong jujur. Makasih udah ngakuin kesalahan Lo, tadinya gue mau suruh Lo buat minta maaf juga ke gue. Tapi setelah dipikir-pikir dan gue liat kondisi Lo kayak gini, Lo pasti nggak bakalan mau buat minta maaf 'kan?"
"Seharusnya Lo yang sejak awal minta maaf sama gue!" Adnan memegangi lehernya yang terasa sakit akibat kerahnya ditarik dan dijepit diantara tangan Bina yang melingkar di lehernya.
"Gue nggak pernah bikin salah sama Lo." Bina beranjak pergi dari sana meninggalkan Adnan seorang diri yang masih dalam keadaan kesal setengah mati. Tangan cowok itu terkepal erat, matanya menatap tajam ke arah dimana Bina menghilang dibalik pintu sana.
"Sial! Dia baru aja bikin harga diri gue jatuh. Gue nggak bakalan tinggal diem, liat aja. Semua ini belum selesai," kata Adnan. Cowok itu beranjak bangun dari tempatnya.
...*...
"Lo kenapa? Akhir-akhir ini kayaknya lesu banget, lagi ada masalah atau gimana?" Tanya Tiffany yang menghampiri Bina lalu duduk tepat di sampingnya. Bina menoleh ke arahnya yang kini terduduk sembari memandanginya dengan raut wajah penasaran. Bina menghela napas sejenak sebelum akhirnya menceritakan semua kejadian yang dialaminya di sekolah pada Tiffany. Gadis yang menjadi teman kerja part time-nya itu mendengarkan dengan seksama, sesekali ia mengangguk-anggukkan kepala menyimak penjelasan dari permasalahan yang di alami oleh Bina padanya. "Jadi itu alasannya Lo kayak gini akhir-akhir ini?" Tiffany menyimpulkan, Bina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Emang parah sih, ngerjainnya nggak tanggung-tanggung lagi." Komentarnya, Bina hanya mengangguk pelan. Ia lantas terdiam bersama dengan Tiffany, gadis di sampingnya itu tampak sedang berpikir sebelum akhirnya berkata, "kalo gitu, Lo harus balas dia! Bikin dia lebih malu lagi!" Tukasnya.
"Gue juga pengen, cuma gue bingung gimana cara balas dia?" Sahut Bina. "Mau gue kasih saran?" Tanya Tiffany.
"Emangnya Lo punya?" Bina menaikkan sebelah alisnya, Tiffany mendekatkan bibirnya pada telinga Bina dan membisikkan rencana yang telah ia pikirkan itu pada Bina. Bina merekahkan senyum saat ia mendengar ide yang baru saja di bisikkan oleh Tiffany.
"Gimana? Oke gak?" Tiffany tersenyum dengan raut wajah bangga, ia sangat yakin kalau idenya akan berhasil membuat Adnan lebih malu dibanding dirinya.
"Oke banget. Makasih buat sarannya." Bina menunjukkan jempolnya.
"Sip!" Balas Tiffany.
__ADS_1
...*...
Bel istirahat baru saja berbunyi, Renata dan Bina membereskan semua alat tulis mereka ke dalam tas; bersiap untuk pergi ke kantin. "Cepetan kita ke kantin, lapar nih!" Nina memegangi perutnya yang keroncongan.
"Gue juga lapar." Doris menimpali.
"Ayo." Renata beranjak bangun dari tempat duduknya. Bina ikut bangun, tapi geraknya tertahan saat secara tiba-tiba ia merasakan kalau roknya menempel dengan kursi yang ia duduki.
"Kenapa?" Tanya Doris yang mendapati wajah Bina tampak terkejut.
"Lo gapapa 'kan?" Nina memastikan.
"Gue gak bisa berdiri," kata Bina sembari memandangi ketiga temannya bergantian.
"Huh? Kok bisa?"
"Nggak tau." Bina menggelengkan kepalanya pelan.
"Gimana dong? Gue nggak mungkin jalan ke kantin sambil bawa-bawa kursi 'kan?" Ia mulai panik.
"Bentar." Doris beranjak dari tempatnya menghampiri pintu keluar dan mengecek ke arah luar memastikan tidak ada orang, setelah itu ia menutup pintu ruang kelas dan menguncinya rapat. Detik berikutnya gadis itu menghampiri kedua temannya yang lain.
"Ada yang bawa rok cadangan gak?" Tanyanya pada kedua temannya.
"Kalo gak salah gue punya di loker, bentar. Gue bawa dulu." Renata beranjak dari tempatnya dan pergi menuju ruang loker.
"Emang mau ngapain?" Tanya Nina yang masih bingung pun Bina yang hanya bisa menatap Doris penuh tanya.
"Kali ini, kita bikin orang yang udah ngerjain Lo itu berpikir kalo Lo nggak kena sama jebakannya," tutur Doris.
"Caranya?" Nina masih tidak mengerti, tidak lama; Renata kembali dengan membawa rok yang di maksud. Beruntung ukuran lingkar pinggangnya sama dengan Bina, jadi pasti akan muat dengan gadis itu.
"Nih!" Renata memberikannya pada Doris.
__ADS_1
"Terus?" Tanya Nina.
"Lo pake ini, lepas itu!" Ujar Doris mengintruksi. Bina melongo dibuatnya.
"Maksud Lo, gue harus lepas rok gue di sini. Gitu? Di depan kalian?" Bina menatap horor Doris.
"Ya nggak lah, kita bakalan jaga di pintu buat mastiin nggak ada yang masuk. Jadi sementara Lo ngawasin keadaan, Lo ganti roknya. Gitu, ngerti?" Doris menjelaskan idenya.
"Oh, oke." Bina mengangguk. Ia lalu meraih rok milik Renata.
"Buat kalian, tutup tirainya. Biar gue yang jaga di pintu." Doris beranjak setelah mendapatkan anggukan kepala dari kedua temannya itu. Mereka lantas bergerak membantu Bina. Tak lama setelah berhasil bebas dan lepas dari kursi yang di pasangi oleh lem, kini Bina bisa berdiri dengan mengenakan rok yang di dapatnya dari Renata. Ketiga temannya itu kembali menghampiri Bina setelah mendapati gadis itu berhasil bebas.
"Gimana? Bagus 'kan ide gue?" Doris membanggakan diri. Nina memberikan dua jempolnya untuk temannya itu sembari tersenyum. "Lo bener-bener pinter!" Puji Renata bangga.
"Terus sekarang apa?" Tanya Bina.
"Kita harus sembunyiin dulu kursi ini, karena gue yakin banget kalo orang yang udah ngerjain Lo itu bakalan ke sini pas dia liat kalo Lo nggak kena sama jebakannya."
"Tapi dimana kita sembunyiin ini?" Nina menaikkan sebelah aslinya.
"Terus kalo disembunyiin, gue nanti duduk dimana?" Bina menimpali.
"Gini, kita sembunyiin dulu kursi Lo. Udah gitu kita ganti pake kursi yang bersih dan nggak ada lemnya."
"Oke, tapi gimana caranya?"
"Kita bawa kursinya ke tempat yang aman, kita taruh dulu di deket gudang udah gitu ganti sama kursi baru yang nggak ada lemnya." Kata Doris.
"Kalo gitu, ayo lakuin!" Bina menyetujui. Mereka berempat lalu beranjak dari sana untuk menaruh kursi itu di dekat gudang dan menggantinya dengan kursi lain; membuat seolah-olah kursi itu adalah kursi yang sama yang selalu dipakai oleh Bina saat mengikuti pelajaran.
"Selesai." Doris tersenyum simpul memandangi meja Bina.
...***...
__ADS_1