Miss. Tomboy And Mr. Arrogant

Miss. Tomboy And Mr. Arrogant
#010


__ADS_3

...***...


"Kalo cowok itu siapa? Kenapa marahin dia kayak gitu?"


"Cowok itu namanya Bryan, sama-sama kelas X kayak kita. Dia juga cukup populer tapi nggak terlalu banyak yang ngejar-ngejar dia karena orang-orang udah tahu kalo dia udah punya tunangan, dan Diandra itulah tunangannya."


"Tunangan?"


"Iya."


"Tapi kenapa dia marah-marah sama tunangannya sendiri?"


"Nggak tahu, tapi emang beberapa kali gue sempet liat mereka berantem. Ya menurut gue wajar sih, namanya juga hubungan 'kan nggak selamanya manis aja. Kadang ada saat dimana kita berantem sama pasangan kita," tutur Renata. Ia meraih gelas berisi minuman yang dipesannya kemudian meneguknya hingga tinggal seperempat. Bina kembali fokus pada gadis yang bernama Diandra itu, kini gadis itu berdiri seorang diri di bawah pohon di taman. Kepalanya tertunduk, dan Bina melihat pundaknya bergetar. Gadis itu menangis.


"Cowok brengsek." Bina membatin. Ia menatap penuh kesal saat mendapati cowok yang semula bersama Diandra itu melangkah pergi meninggalkannya seorang diri di taman. Melihat Diandra yang seperti itu membuatnya teringat akan apa yang pernah ia alami.


"Memang benar, luka terdalam adalah ketika kamu tak mampu melihat dengan mata, dan kesedihan terpendam adalah ketika kamu tak mampu mengucapkan dengan kata-kata." Bina menundukkan kepalanya.



...*...

__ADS_1


"Bina!!!!" Doris tiba-tiba saja berlari memasuki ruang kelas dengan sangat heboh gadis itu menunjukkan ponsel ditangannya ke arah Bina. Sebuah artikel yang lagi-lagi muncul, dan kali ini lagi-lagi membahas tentang Bina dan Adnan yang kemarin bertemu secara diam-diam saat jam istirahat.


"Wah, gila sih. Semenjak Lo masuk, berita tentang Lo sama kak Adnan selalu jadi trending nomor 1 terus, terutama di jurusan kita." Renata mengecek ponselnya, memandangi tagar yang tengah menjadi trending di sekolahnya. Di forum sekolah secara global tagar tentang Bina dan Adnan berada di trending nomor tiga setelah yang pertama tentang Gavin si kakak kelas dari jurusan IPA, tagar kedua Aksa dari jurusan yang sama, dan yang ketika Adnan dari jurusan IPS. Tapi jika dilihat dari trending forum jurusan IPS, nama Adnan dan Bina berada di trending nomor satu, setelahnya diikuti oleh beberapa berita lain tentang Dhira dan beberapa tentang pelajaran serta lain sebagainya.


"Kalian lagi apa sih?" Nina baru saja tiba dengan segelas cup berisi minuman di tangannya, ia ikut memperhatikan ponsel yang dipegang oleh Doris di sampingnya. "Liat, berita tentang Bina muncul lagi!" Seru Doris heboh. "Oh…" Nina menanggapinya santai seolah bukan hal yang wah, tapi memang sebenarnya bukan sesuatu yang wah; karena Bina sudah sering menjadi perbincangan jurusan IPS, apalagi semenjak ia pindah.


"Oh? Lo kok santai banget nanggepinnya?" Doris kecewa dengan respon Nina.


"Terus gue harus bilang wow sambil kayang gitu?" Nina memutar bola matanya malas.


"Ya nggak gitu juga kali."


"Iya, juga sih." Renata membenarkan. Bina terdiam dalam lamunannya tak menghiraukan teman-teman yang kini sibuk membicarakan mengenai artikel mengenai dirinya. "Siapa sebenernya orang dibalik semua artikel ini?" Bina membatin, ia mulai merasa penasaran siapa sosok dibalik artikel yang selama ini bermunculan di forum sekolah mengenai dirinya dan Adnan. Sejak awal ia masuk dan bertemu dengan Adnan sampai saat ini, artikelnya terus bermunculan; semuanya berantai dan datang silih berganti membahas mengenai dirinya lengkap dengan foto sebagai bukti penguatnya. Nina yang sejak tadi menyimak lalu beralih pandang pada Bina yang terdiam tanpa kata. "Bina?" Nina menepuk pelan pundaknya.


"Ya? Kenapa?" Tanya Bina tersadar dari lamunannya. "Lo gapapa? Kok Lo ngelamun?" Nina memandangi Bina dengan raut wajah bingung.


"Gue gapapa kok." Bina tersenyum menyembunyikan pikirannya, sementara itu Nina hanya diam dan memandanginya penuh selidik.


...*...


"Gila sih, emang iya mereka ketemuan secara diam-diam?"

__ADS_1


"Menurut yang gue baca sih gitu, udah gitu fotonya juga jelas banget kalo mereka lagi ketemuan bareng secara diam-diam."


"Gue jadi penasaran apa yang mereka bicarain."


"Sama gue juga. Selain itu gue salut sama tim berita sekolah yang selalu berhasil bikin berita yang luar biasa kayak gini, bayangin aja; dari awal si Bina masuk, beritanya nggak abis-abis. Dia selalu ke-gep lagi bareng sama si Adnan."


"True sih!"


Semua bisikan itu cukup untuk membuat seorang Adnan jengkel, ia mendengus kesal setiap kali melangkah kemana-mana semua orang di jurusan IPS tengah membahas mengenai dirinya. "Liat aja, gue nggak bakalan tinggal diem," batin Adnan. Jonas tiba-tiba muncul dengan Dev dari arah belakang, kedua cowok itu berhasil membuatnya terkejut; apalagi Jonas yang tiba-tiba merangkul pundaknya dari arah belakang. "Otw ke kantin!!!" Hebohnya sembari menggiring Adnan dan Dev.


"Gila, Lo teriak-teriak di deket telinga gue!" Adnan mendelik ke arah Jonas dengan raut wajah kesal, cowok pencinta manis itu hanya terkekeh pelan sembari terus berjalan menggiring kedua temannya. Tiba di dalam kantin mereka bertiga segera masuk dan menghampiri stand makanan yang berjejer di sana. "Lo mau makan ap—"


"Cup cake vanila!!!" Jonas heboh sendiri membuat ucapan Dev barusan terpotong, cowok itu berlari menuju penjual aneka kue. Dev hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat Jonas yang tidak pernah bisa lepas dari makanan favoritnya yang satu itu. Sementara di sisinya, Adnan tampak diam sembari mengedarkan pandangannya.


"Lo cari siapa?" Tanya Dev sembari memandang Adnan di sampingnya. "Gak, gue nggak cari siapa-siapa kok." Elaknya. "Terus, Lo mau pesen apa?" Dev memperhatikan setiap stand makanan yang ada.


"Itu dia." Adnan membatin saat ia mendapati Bina yang baru saja tiba bersama dengan ketiga temannya. Ia mengeluarkan smirk-nya dan terus memperhatikan ke arah mana Bina menghampiri stand makanan yang ada di sana. Setelah mendapati dimana Bina memesan makanannya kemudian menunggu di meja bersama yang lain, ia lantas beranjak menghampiri stand yang sama.


"Kalo gue ma—" Dev menoleh tapi ia terkejut saat cowok yang sejak tadi di ajaknya bicara itu raib dari sisinya. "Lho, kemana Ad? Bukannya barusan di sini?" Dev mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia lalu menangkap sosok Adnan di salah satu stand makanan yang ada di sana, ia memperhatikan dengan seksama gerak-gerik cowok itu. "Kok sendirian? Ad, dimana?" Tanya Jonas yang baru saja kembali. Cowok itu membawa setidaknya tiga buah cup cake.


...***...

__ADS_1


__ADS_2