
...***...
Hari berlalu, banyak sekali kejadian yang telah di alami oleh Bina, mulai dari makannya yang tiba-tiba saja di campur dengan sesuatu yang menjijikan, lalu meja belajarnya yang tiba-tiba terbelah dua dan pindah tempat, sampai baju olahraganya yang tiba-tiba berada di atas pohon di taman sekolah. Semuanya benar-benar terasa menjengkelkan, dan benar-benar membuat Bina tidak tahan lagi. Ia sudah mencari tahu berkali-kali siapa yang telah mengerjainya, tapi ia selalu gagal membuat orang itu masuk dalam jebakannya.
Bina melangkah menyusuri koridor untuk bisa tiba di perpustakaan, ia sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Renata dan yang lain di sana untuk belajar serta mencari bahan bersama untuk tugas yang akan mereka kerjakan mendatang. Langkahnya terhenti sejenak saat ia menangkap sosok Adnan yang tengah berjalan keluar dari lapangan basket dengan mengenakan baju olahraganya, mereka melangkah menuju ruang loker. Bina memperhatikannya dari kejauhan, ia benar-benar muak melihat Adnan.
"Aku yakin, pasti dia orangnya!" Bina membatin, ia benar-benar yakin kalau orang yang selama hampir seminggu ini mengerjainya dan membuat banyak berita lain tentangnya bertambah, selain bersama dengan Adnan sendiri; berita tentang Bina yang dikerjai oleh entah siapa itu juga terus menjadi buah bibir semua orang. Terutama di jurusan IPS, dan satu-satunya orang yang kini dicurigai oleh Bina adalah Adnan. Tentunya setelah ia mencoret nama Dhira dari daftar tersangka karena cewek itu ternyata sudah tidak masuk hampir dua Minggu lamanya karena sakit.
"Tapi kalo emang dia orangnya, itu berarti aku harus cari cara buat menangkap basah dia dan buat dia ngerasain apa yang aku rasain," pikirnya. Setelah cukup lama terdiam memperhatikan sosok Adnan yang kini hilang dibalik pertigaan, Bina lalu melanjutkan langkah kakinya menuju ruang perpustakaan untuk bertemu dengan ketiga temannya yang sejak tadi menunggunya kembali dari toilet. Tiba di ruang perpustakaan, Bina segera mencari keberadaan Renata, Doris, dan Nina. Pandangannya lantas tersita oleh Nina yang secara tidak sengaja dilihatnya tengah mencari buku di rak buku tak jauh dari tempatnya berada, Bina segera menghampiri Nina dan menanyakan keberadaan teman-temannya yang lain.
...*...
Hari ke lima, Bina benar-benar sudah lelah dengan sikap Adnan yang terus meledeknya seakan-akan tahu sesuatu mengenai apa yang dialaminya. Saat jam istirahat, ia menyeret Adnan menuju roof top untuk berbicara, Bina menutup pintu roof top begitu tiba di sana dan menguncinya agar Adnan tidak bisa pergi termasuk agar tidak ada orang lain yang bisa datang dan memergoki mereka yang tengah berbicara berdua, bisa kacau jadinya kalau orang memergoki mereka tengah berbicara berdua di roof top.
"Apa yang Lo mau?! Kenapa Lo tarik-tarik tangan gue?" Kesal Adnan sembari menghempas kasar tangan Bina, membuat cengkeraman tangan gadis itu lepas dari pergelangan tangannya. Bina menatapnya tajam. "Lo 'kan?!" Ujarnya.
"Huh?" Adnan menaikkan sebelah aslinya bingung, ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan Bina.
__ADS_1
"Lo, kan orangnya?! Bener kan?"
"Lo ngomongin apa? Gue nggak ngerti." Adnan semakin bingung dibuatnya.
"Gue tahu, Lo yang udah ngerjain gue selama ini. Lo yang udah taruh obat tidur di minuman gue waktu itu sampai gue ketiduran di kelas dan dimarahin sama pak Sam?! Udah gitu, Lo juga yang udah bikin loker gue basah dan masukin semua sampah ke dalamnya, beberapa hari yang lalu 'kan?!" Bina melangkah mendekat ke arah Adnan, mengikis jarak di antara mereka. Adnan berjalan mundur saat wajah Bina begitu dekat dengan wajahnya.
"Gimana dia bisa tahu?" Adnan membatin, ia menatap Bina dengan raut wajah sedikit terkejut karena Bina bisa dengan mudah menebak kalau itu semua adalah perbuatannya. "Lo kalo nuduh orang harus punya bukti," kata Adnan berusaha mengelak dari kenyataan.
"Gue nuduh bukan tanpa bukti, karena sikap Lo sejak awal emang udah ketebak kalo Lo orangnya! Sejak awal, di setiap gue ngalamin semua itu; Lo selalu datang dan ngetawain gue. Jadi bisa di simpulkan kalo Lo tahu sesuatu tentang apa yang gue alami," tutur Bina.
"Bukan gue!" Adnan mempertegas.
"Ngapain gue harus ngaku kalo itu semua emang bukan gue yang laku—"
BUGH!
Bina tiba-tiba meninju wajahnya, membuat Adnan tersentak kaget sampai-sampai nyaris tersungkur di lantai bersemen.
"Jangan sampai gue paksa buat ngaku," tukas Bina. Adnan mendongak menatap Bina, ia tidak menyangka; selain penampilannya yang super tomboi dengan potongan rambut pendek nyaris seperti rambut cowok, ternyata pukulan Bina juga cukup menyakitkan. Adnan meringis, ia menatap Bina dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Lo berani nonjok gue?" Ia menatapnya tajam.
"Kenapa? Emangnya Lo pikir karena gue cewek, gue jadi nggak berani buat lawan Lo, gitu?"
"Gue nggak terima Lo udah bikin wajah mulus gue jadi kayak gini."
"Terus? Lo mau ngelawan balik gue? Ckckck, ternyata seorang Adnan yang arogan ini beraninya sama perempuan." Bina melipat kedua tangannya di depan dada, kepalanya menggeleng pelan. Adnan melongo dibuatnya, ia tidak terima Bina berkata seperti itu padanya. Tangannya dibawah sana terkepal erat berusaha untuk menahan rasa kesalnya.
"Untungnya Lo cewek, kalo nggak. Udah abis, Lo sama gue!" Gerutu Adnan kesal.
"Lo pikir karena gue cewek, gue nggak bakalan bisa lawan Lo yang punya tubuh lebih gede dari gue?"
"Udahlah, gue nggak mau ladenin cewek aneh kayak Lo! Daripada di sini sama Lo, cuma buang-buang waktu gue dan bikin emosi gue naik. Gue nggak mau main kasar sama cewek." Adnan beranjak menuju pintu tapi lengannya lebih dulu ditarik Bina membuat langkahnya terhenti dalam seketika. Adnan menoleh tapi Bina bergerak cepat memutar tubuh Adnan jadi berhadapan tepat dengannya dalam posisi yang super dekat.
"Lo pikir mau kemana? Lo belum akuin kesalahan Lo," ucap Bina yang kini kedua tangannya bergerak membenahi kerah seragam yang di kenakan oleh Adnan. Adnan termangu sembari memandangi Bina dalam jarak yang begitu dekat, ia beradu pandang dengannya. Bina tersenyum simpul membuat Adnan semakin membisu, tangannya terus bergerak dan dalam satu kali gerakan, tubuh Adnan berputar tersungkur hingga punggungnya membentur tubuh Bina, tangan gadis itu tepat melingkar di lehernya; membuat Adnan tercekik dan tak bisa bergerak.
"Akh—" Adnan meringis sembari memberontak berusaha membebaskan diri dari Bina. Bina mendekatkan kepalanya, berbisik tepat di telinga Adnan. "Gue tanya sekali lagi, yang selama ini ngerjain gue itu… Lo atau bukan?" Tanya Bina. "Jawab jujur." Tekannya.
...***...
__ADS_1