Miss. Tomboy And Mr. Arrogant

Miss. Tomboy And Mr. Arrogant
#006


__ADS_3

...***...


Sementara itu tangannya kini berada dibawah hand dryer, tengah mengeringkan tangannya.



...*...


"Pokoknya kali ini jangan sampai gagal!" Dhira mengepalkan tangannya erat, ia kini berada di dalam ruang kelasnya bersama dengan Marissa. Sementara itu Jolie ia minta untuk pergi dan mengecek keberadaan Bina. Tidak lama atensi mereka beralih pada Jolie yang datang dengan berlari.


"Dia dibawah!" Ucapnya terengah-engah, Dhira bergegas bangun dari duduknya. Meraih ember berisi air pel hendak menyiramkan air itu pada Bina yang katanya ada dibawah sana. Dhira keluar bersama dengan kedua temannya itu, berdiri di belakang tembok yang menjadi pembatas koridor. Mereka mengangkat ember itu siap untuk mengguyur Bina yang dibawah sana.


"Kena Lo sekarang…" Dhira tersenyum simpul.


...*...


Sejak kemunculan Bina yang secara tiba-tiba menjadi banyak perbincangan di sekolahnya, membuat Dev benar-benar tidak bisa lepas memperhatikannya. Otaknya setiap hari terus dihampiri sosok Bina, bahkan Jonas berpendapat kalau sikap Dev jadi semakin pendiam setelah kedatangan Bina di sekolah mereka. Dev yang sedang berjalan menuju arah roof top secara tiba-tiba beralih pandang saat ia melihat Bina yang berdiri di dekat lapangan sementara tidak sadar kalau di atas sana; Dhira hendak mengguyurnya dengan air. Dev awalnya tidak sadar dengan Dhira, tapi begitu ia hendak melangkah naik. Secara tidak sengaja matanya melihat sekilas Dhira dan kedua temannya.


Dev bergegas lari, mendorong tubuh Bina hingga tersungkur jatuh di lantai saat air itu mulai turun dan mengguyur tepat ke seluruh tubuh Dev. Bina tersentak kaget, begitu juga orang-orang yang berlalu-lalang di sana. "Mati! Malah kena Dev!" Jolie melongo di atas sana saat mereka lagi-lagi mengguyur orang yang salah. Bergegas ia menjatuhkan ember ditangannya ke lantai. "Sembunyi!" Ujar Dhira cepat-cepat yang kemudian berlari diikuti kedua temannya masuk ke dalam kelas dan menyembunyikan barang bukti. Mereka hanya bisa berharap kalau tidak ada yang menyadari apa yang telah diperbuatnya, karena bisa-bisa kalau Adnan tahu mereka menjahili Dev, bisa-bisa mereka bertiga habis oleh Adnan. Cowok itu amat tahu bagaimana caranya balas dendam.


Bina bangun, ia menarik cepat tangan Dev dan membawanya ke tempat yang sepi untuk berbicara empat mata. "Lo gapapa 'kan?" Tanya Dev begitu mereka tiba ditempat yang cukup sepi. "Ngapain Lo tolong gue?" Bina menatapnya tak bersahabat. Melihat reaksi dari Bina justru membuat Dev merasa lega, ia mengulum senyum; kedua tangannya mencengkram pundak Bina dan kedua matanya menatapnya lekat. Mereka berdua beradu pandang sesaat.


"Jadi ini benar-benar kamu?"


Bina menepis kedua tangan Dev cepat. "Gue bukan lagi Bina yang Lo kenal! Dan gue mau Lo bersikap seolah kita nggak pernah saling kenal satu sama lain," ujar Bina penuh penekanan di setiap kalimatnya guna menegaskan permintaannya pada Dev.


"Aku tahu kamu marah. Tapi Bina, aku bisa jelasin…"


"Gak perlu. Gue nggak butuh penjelasan dari Lo, yang gue butuh cuma Lo bersikap seolah nggak kenal sama gue. Ngerti? Lain kali, kalo Lo liat gue ngalamin hal kayak tadi. Nggak usah peduliin gue." Potong Bina cepat. Bina beranjak pergi meninggalkan Dev. Bina sama sekali tak memberikan Dev kesempatan untuk berbicara dan pergi begitu saja. Dev terdiam memandangi Bina, perasaan Dev berkecamuk antara senang dan sedih yang bercampur menjadi satu. Dev terdiam tanpa kata ditempatnya, "Aku tahu, aku emang salah…" gumam Dev pelan seraya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Sejurus kemudian Dev beranjak pergi dari tempatnya saat ini berada, ia hendak mengganti pakaiannya sekaligus numpang mandi di kamar mandi sekolah agar bau tidak sedap dari air bekas pel itu tidak menempel lagi ditubuhnya.


...*...


TRING!


Bel di pintu masuk itu berbunyi setiap kali ada pengunjung yang datang dan pergi. Bina menghampiri meja kasir di sana, mendapati Tiffany yang kini tengah berdiri seraya tersenyum ramah pada pelanggan yang baru saja tiba bersamaan dengannya.


"Hey Tiff," sapanya.


"Hi Bin, akhirnya Lo dateng juga. Gue kira Lo nggak masuk hari ini."


"Nggak mungkin gue nggak dateng, kecuali kalo gue sakit."


"Ya udah kalo gitu ganti baju gih."


"Oke," sahutnya melangkah menghampiri ruang pegawai untuk mengganti pakaiannya. Setelah berganti baju, Bina kemudian segera mengerjakan tugasnya sebagai seorang pelayan kafe. Membereskan meja yang kosong, mencuci beberapa piring dan gelas kotor dan melayani pelanggan di meja kasir. Sesekali juga ia mendatangi meja pelanggan untuk mengantarkan apa yang mereka pesan.


"Ya, bener. Tapi seenggaknya kita tetep punya kerjaan nggak cuma diem gabut aja," sahut Bina yang kemudian meraih satu kursi yang sejak awal di simpan di dekat wastafel lalu mendudukinya.


"Ya bener. Btw gimana sekolah barunya? Ada yang ganteng gak?"


"Pikiran Lo cuma cowok doang, nggak ada yang lain apa?"


"Hehe… namanya juga usaha. Tapi kalo Lo punya temen cowok ganteng kasih tahu gue ya. Siapa tau aja kita cocok gitu."


"Gampang, ntar gue kenalin kalo ada."


"Makasih, Lo emang the best deh."

__ADS_1


"Hm." Bina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Bunyi dering ponselnya membuat pembicaraan mereka terpotong, Bina merogoh kantong seragam kafe yang digunakannya. Menatap layar ponselnya yang kini menyala menampilkan sederet nama di layar panggilnya.


"Bentar ya, Tante Mei telpon. Gue angkat dulu."


"Oke," kata Tiffany. Bina menggeser tombol hijau yang dalam seketika menyambungkan panggilan telponnya dengan Mei, tetangga yang dekat dengannya sudah seperti tantenya sendiri.


"Halo Tan? Ada apa? Kenapa telpon?" Tanya Bina runtut begitu panggilan telponnya terhubung dengan wanita di seberang sana.


"…"


"Huh? Apa?"


"…"


"Oke, oke. Aku ke sana sekarang juga. Bentar ya, Tan. Aku izin dulu sama Tiff."


"…"


"Oke. Makasih udah ngasih tau aku Tan." Bina menutup sambungan telponnya, wajahnya panik bukan kepalang begitu mendapat telpon dari Mei.


"Ada apa?" Tanya Tiffany.


"Ada masalah. Gue harus pergi sekarang. Ini mendesak banget, kalo pak Amir nanyain, bilang aja gue punya masalah genting banget."


"Oh, oke. Ntar gue kasih tahu, Lo hati-hati di jalan ya. Ntar kalo masalahnya udah selesai, Lo harus cerita sama gue apa yang terjadi!"


"Oke. Kalo gitu gue pergi dulu."


"Ng." Tiffany mengangguk. Bina bergegas mengganti pakaiannya di ruang pegawai, setelah berganti pakaian ia segera pulang untuk mengurus masalah yang di dapatnya.

__ADS_1


"Semoga aja bukan masalah besar, dan semoga semuanya cepat selesai," gumam Tiffany seraya menatap kepergian rekan kerja part time-nya itu yang menghilang di balik pintu keluar.


...***...


__ADS_2