
...***...
Tiba di ruang loker, mereka lalu menghampiri loker masing-masing seraya terus mengobrol. Bina tersentak kaget begitu membuka loker miliknya, dan mendapati sampah yang secara tiba-tiba berhamburan keluar dari dalam sana. Doris, Renata, dan Nina yang mendengar suara barang berjatuhan dari dalam sana lantas menoleh serentak.
"Gila, siapa yang berani lakuin ini?" Renata tampak kesal mendapati temannya mendapatkan perlakuan seperti ini. "Wah parah banget, lihat barang-barang Lo jadi kotor," ujar Nina.
"Siapapun yang berani lakuin ini sama Lo, dia benar-benar pengecut!" Doris tak kalah kesalnya. Bina hanya diam, masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja dilihatnya. "Kayaknya ada yang tumpahin air juga ke dalam loker Lo, liat deh. Buku-buku Lo basah." Nina menarik satu buku dengan jari telunjuk dan jempolnya. Bina meraih satu persatu buku miliknya dan mengeluarkannya dari dalam sana. "Siapapun orangnya yang udah lakuin ini ke gue, liat aja. Kalo gue tau siapa orangnya, gue nggak bakalan tinggal diem!" Kesal Bina sembari menaruh semua buku-bukunya di lantai dengan sedikit kasar.
Renata, Doris dan Nina lalu membantu Bina untuk mengeluarkan semuanya. "Basahnya parah banget," kata Renata yang mendapati buku-buku milik temannya itu dalam keadaan kurang bagus, tulisan di dalamnya bahkan sudah pudar. Setelah mengeluarkan semua barang-barang di dalamnya, Bina lalu membersihkan dalam lokernya agar bersih. Sementara itu ketiga temannya membantu mengecek buku-bukunya.
"Kalian ngerasa ada yang aneh sama semua ini gak?" Ucap Nina secara tiba-tiba, ketika temannya itu menoleh serentak dengan raut wajah bingung.
"Maksud Lo?"
"Apanya yang aneh?"
Tanya Renata dan Doris bergantian, sedangkan Bina hanya diam dan berusaha mengingat-ingat lagi. Setelah mengingat-ingat, ia baru sadar kalau ternyata memang ada kejadian ganjil yang ia alami seharian ini.
"Gini, tadi sebelum Bina makan di kantin dia gapapa. Tapi tiba-tiba pas udah jam istirahat, Bina tiba-tiba aja ngantuk berat sampai-sampai di hukum sama pak Sam, terus pas kita mau pulang dan datang ke ruang loker ini…" Nina menatap Renata dan Doris yang menampakkan raut wajah mengerti.
"Oh, bener," sahut Renata.
"Gue baru sadar!" Doris heboh.
"Lo pinter banget Na!"
"Pasti ada seseorang di balik semua ini, gitu 'kan maksud Lo?" Kata Doris yang diangguki oleh Nina.
__ADS_1
"Tapi yang jadi pertanyaannya itu, siapa? Siapa yang udah lakuin semua ini sama Bina?" Renata, Doris dan Nina terdiam dengan penuh tanya. Sementara Bina sejak tadi hanya diam sembari menerka-nerka siapa dalang dibalik semua yang ia alami.
"Dhira? Apa jangan-jangan dia orangnya?" Bina membatin, kalau diingat-ingat lagi; sejauh ini hanya Dhira dan kawan-kawannya yang sudah banyak berusaha untuk mengerjainya tapi selalu berakhir gagal.
...*...
"Btw, makasih banget kalian udah mau bantuin gue." Bina tersenyum ke arah ketiga temannya.
"Bukan masalah, lagian kita temen. Jadi udah sewajarnya kita saling bantu," sahut Doris. Renata menganggukkan kepala mengiyakan ucapannya.
"Bener apa yang dibilang Doris." Nina menimpali.
Saat ini keempatnya tengah berjalan menyusuri koridor untuk bisa tiba di gerbang depan dan pulang. Tapi Nina mendadak menghentikan langkahnya saat mengecek pesan masuk di ponselnya.
"Lo mau ketemu siapa?" Tanya Renata.
"Ada pokoknya, tapi yang pasti gue nggak bisa jelasin sekarang. Gue buru-buru, kalo gitu gue duluan. Bye!" Nina bergegas pergi dari sana dengan sedikit berlari. Renata, Bina dan Doris melambaikan tangannya ke arah Nina yang perlahan hilang dibalik sudut lain koridor.
...*...
"Jemputan gue udah datang," kata Doris begitu mendapati mobilnya sudah tiba di depan pintu gerbang. "Ya udah pulang duluan aja sana," ujar Bina.
"Lah, Lo gimana? Nggak mungkin gue biarin Lo sendirian di sini sementara nungguin si Ren balik dari toilet."
"Gapapa, lagian cuma bentar ini. Jadi Lo pulang aja, kasian kalo supir Lo sampai harus nungguin Lo juga."
__ADS_1
"Yakin?" Doris memastikan, Bina menganggukkan kepalanya meyakinkan. "Ya udah, kalo gitu gue duluan."
"Iya." Jawab Bina, Doris beranjak pergi menghampiri mobil jemputan; meninggalkan Bina seorang diri yang kini tengah menunggu Renata kembali dari toilet, dan pulang bersama dengannya. Jalan rumah antara Bina dan Renata kebetulan satu arah; jadi setiap hari mereka sering pulang bersama dengan menggunakan angkutan umum. Bina melambaikan tangannya pada Doris di dalam mobil, perlahan mobil yang dilihatnya itu bergerak menjauh hingga akhirnya menghilang diantara mobil-mobil lain yang melaju di jalan raya. Bina disibukkan menunggu, sementara menunggu Renata kembali; ia diam dan memikirkan segala kemungkinan mengenai siapa orang yang telah mengerjainya seharian ini. "Siapapun Lo yang udah lakuin semua itu sama gue, Lo udah cari urusan sama orang yang salah." Bina bergumam pelan, tangannya terkepal erat saat ia terus dibuat kesal dengan kejadian hari ini.
BRUKKK
Tanpa peringatan lebih dulu, seseorang menabraknya dari arah belakang; membuat Bina tersungkur jatuh ke arah depan.
"Ups, sorry. Nggak sengaja," katanya dari arah belakang. Bina menoleh begitu mendengar suara yang terdengar familiar, dan tepat dibelakangnya; Adnan berdiri bersama Dev dan Jonas. Cowok arogan itu sama sekali tak merasa bersalah telah membuat Bina jatuh.
Bina meringis, ia berusaha untuk bangun. Dev yang melihatnya hendak membantu Bina, tapi ucapan Bina beberapa waktu lalu masih terngiang dipikirannya. Dev mengurungkan niatnya, ia tidak ingin membuat Bina semakin menjauh darinya. Cewek itu lalu bangun, beberapa bagian tubuhnya lecet dan mengeluarkan darah; terutama di bagian sikut dan lututnya.
Bina menatap penuh kesal pada Adnan dihadapannya. "Lo kalo jalan itu pake mata!" Bentaknya kesal. Adnan terkekeh pelan dibuatnya, membuat Bina terkejut mendapati respon dari Adnan.
"Heh cewek aneh! Dimana-mana jalan itu pake kaki, bukan pake mata!" Tuturnya.
"C-cewek aneh? Gila! Berani banget dia bilang gue aneh!" Teriak Bina dalam hatinya. "Maksud gue mata Lo dipakai, bukan main asal nabrak aja! Udah gitu nggak ada rasa bersalah sama sekali." Bina menatapnya tajam.
"Lagian siapa suruh, Lo diem di situ kayak tiang listrik." Balas Adnan.
"Gila sih, udah nabrak orang sampai jatuh tapi nggak ngerasa bersalah sama sekali."
"Gue udah bilang sorry."
"Tapi sorry Lo nggak tulus! Atau jangan-jangan, Lo sengaja nabrak gue supaya gue jatuh?"
"Bisa, gak. Jangan berprasangka buruk sama orang? Orang gue bener-bener nggak sengaja." Tukas Adnan tak terima dengan tuduhan dari Bina terhadapnya, keduanya berdebat hebat.
__ADS_1
...***...