
...***...
Bina melangkah menuju ruang UKS saat kepalanya benar-benar tidak bisa ia ajak kompromi. Ia benar-benar mengantuk berat dan bahkan sangat sulit untuk membuka kedua matanya; padahal saat ini dirinya tengah menjalani hukuman dari pak Sam, Bina di minta untuk berdiri di luar kelasnya; dan ia malah melarikan diri ke ruang UKS karena benar-benar tidak bisa berdiri dengan tegap sampai beberapa kali ia menubruk pintu sampai membuat pak Sam marah padanya. "Buat saat ini aku cuma pengen tidur dulu," gumam Bina berusaha tak memikirkan mengenai hukuman yang ia dapat dari pak Sam; guru yang terkenal killer menurut Renata, Doris dan Nina.
Saat tengah melangkah menuju ruang UKS secara tidak sengaja, Dev berjalan pulang dari ruang guru dan hendak kembali ke ruang kelasnya bersama dengan teman sekelasnya, tapi ketika atensinya disita oleh Bina yang berjalan sempoyongan dalam keadaan kurang baik berhasil membuat rasa cemasnya muncul. Dev meminta temannya untuk pergi lebih dulu dengan dalih ia ingin pergi ke toilet lebih dulu, setelah berpisah dengan teman sekelasnya; ia lalu mengikuti Bina dari arah belakang hingga akhirnya tiba di ruang UKS. Dev menghentikan langkahnya begitu ia tiba di depan ruang UKS, ia berdiri di ambang pintu sembari menatap Bina yang kemudian menghampiri satu ranjang dan mulai berbaring setelah menutup tirai di ranjang yang ia tempati. Kebetulan tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada dirinya dan beberapa siswa lain yang benar-benar sakit dan kini tengah tertidur.
"Ngapain dia kesini? Bina sakit?" Dev memonolog saat ia melihat Bina yang menghilang dari balik tirai yang ditempatinya. Detik berikutnya, Dev melangkah memasuki ruang UKS dan berjalan menghampirinya secara perlahan. Cowok itu menyibak tirainya pelan dan mendapati Bina yang kini terlelap begitu nyenyak di atas ranjang tidur yang ada di ruang UKS. Dev melambaikan tangannya beberapa kali tepat di depan wajahnya guna memastikan apakah Bina benar-benar tertidur atau tidak, setelah merasa cewek itu benar-benar tidur; tangannya beralih, bergerak secara perlahan menempelkan punggung tangannya pada kening Bina untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Normal, tapi kenapa dia ke UKS?" Dev bergumam pelan; amat pelan bagai bisikkan. Sejurus kemudian cowok itu terdiam tanpa kata, kedua manik matanya memandangi Bina yang terlelap tepat dihadapannya dengan begitu tenang. Dev terdiam memperhatikannya, ia memandanginya lekat. "Kamu masih secantik dulu walaupun rambut kamu di potong sependek ini," bisik Dev.
Dev mengulurkan tangannya dan menggenggam pelan tangan Bina, ketika kulit mereka bersentuhan satu sama lain; rasanya seperti Dejavu. "Ternyata tangan kamu masih sehangat dulu. Bina… kalo aja kamu tahu, kalo aku kangen banget sama masa-masa kita dulu. Kalo aja aku bisa mengubah masa lalu, mungkin aku bakalan lebih menghargai kebersamaan kita dulu dan nggak bakalan pernah tinggalin kamu. Kalo aja dulu, aku nggak ninggalin kamu… mungkin kamu nggak bakalan bersikap kayak gini sama aku." Dev menggenggam tangan Bina semakin erat, ia lantas mencium punggung tangannya penuh kelembutan. "Aku harap kamu mau ngasih aku satu kesempatan lagi buat jelasin semuanya, dan aku harap kita bisa kayak dulu lagi…"
...*...
Suara dering dari ponsel di atas nakes dekat ranjang tidurnya membuat Bina terganggu. Ia lantas membuka kedua matanya perlahan dan menoleh ke arah nakes dimana ponselnya berada. Tangannya terulur meraih benda pipih berbentuk persegi itu, ia menatap ponselnya dan mendapati pukul empat tepat di layar lock screen-nya. Bina terbelalak, ia spontan bangun dan terduduk di atas ranjang tidurnya. Benar dugaannya, ia masih berada di ruang UKS. Beberapa murid yang ada di sana melangkah keluar secara perlahan berhamburan dari dalam ruang UKS bersamaan dengan dokter jaga yang kini tengah membereskan barang-barang bersiap untuk pulang.
__ADS_1
"Duh, mati! Aku lupa kalo aku 'kan masih dalam hukuman, kalo gini yang ada aku nyari perkara sama pak Sam." Bina membatin, bergegas ia bangun dari tempat duduknya; membereskan ranjang tidurnya lalu melangkah keluar bersama dengan beberapa siswa lainnya. Tiba di luar, semua orang telah berhamburan keluar dari ruang kelas masing-masing, jantungnya semakin menderu saat sadar kalau ia sudah melewatkan beberapa pelajaran terakhir setelah jam istirahat. Bina bergegas berlari menuju ruang kelasnya, tapi langkahnya terhenti saat di koridor ia bertemu dengan Doris, Renata, dan Nina yang melangkah menuju ruang UKS dengan tas miliknya ditangan Renata.
"Eh, itu ternyata orang yang kita cari," ujar Renata yang kemudian menghampiri Bina bersama dengan Nina dan Doris di sampingnya.
"Lo di cariin dari tadi, ternyata malah keluar dari ruang UKS." Doris berujar, sementara Renata memberikan tas ditangannya pada Bina.
"Lo sakit? Kok keluar dari ruang UKS?" Nina menaikkan sebelah aslinya bingung.
"Kayaknya nggak deh. Lo pasti lanjut tidur di ruang UKS kan?" Renata menebak. Bina hanya bisa menampakkan cengirnya membenarkan tebakan dari Renata yang benar-benar tepat.
"Tuh kan, gue bilang juga apa."
"Menurut Lo? Nggak mungkin kita kesini kalo masih belajar!" Doris menanggapi.
"Iya juga sih, duh gila. Nggak tau kenapa gue ngerasa ngantuk banget habis makan siang tadi." Kata Bina.
"Lo abis begadang apa gimana?" Tanya Nina.
__ADS_1
"Nggak, gue nggak pernah begadang soalnya setiap hari gue sibuk. Selain sekolah pulangnya juga gue harus kerja part time, jadi nggak mungkin gue punya waktu buat begadang. Cuma anehnya pas udah selesai makan siang di kantin tadi, gue tiba-tiba ngerasa ngantuk. Padahal awalnya gue sama sekali nggak ngerasa ngantuk atau capek," jelas Bina.
"Aneh." Renata mengerutkan keningnya.
"Apa jangan-jangan ada yang masukin sesuatu ke makanan yang Lo makan?" Ucap Nina, menebak.
"Nggak mungkin, kalo ada sesuatu di makanan Bina. Pasti kita juga bakalan ngerasa ngantuk, soalnya kita juga makan bareng sama dia 'kan? Jadi rasanya nggak mungkin banget." Doris tidak setuju.
"Udahlah nggak usah debat soal itu, mending kita pulang. Ini udah waktunya pulang." Renata menengahi, ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Mereka bertiga menganggukkan kepalanya lalu melangkah menuju ruang loker untuk mengambil barang-barang yang mereka butuhkan.
"Btw tadi pak Sam nanyain gue gak?" Tanya Bina hati-hati.
"Banget. Dan kayaknya Lo harus siap-siap buat dapet masalah gede," ujar Renata.
"Masalah gede?"
"Hukuman Lo di tambah. Besok pagi Lo harus ketemu sama pak Sam buat dengerin penjelasan hukuman yang dia kasih." Kata Doris.
__ADS_1
...***...