
...#...
...“Gue cuma memposisikan diri gue sebagai cermin buat Lo! Kalo Lo berbuat baik, gue balas dengan kebaikan juga. Dan kalo Lo bersikap jahat, gue balas dengan kejahatan juga.”...
...- Bina Esfand -...
...***...
"Gue punya berita baru!"
"Apa?"
"Gue jelasin nanti, sekarang gue lagi otw ke markas. Yang pasti… berita kali ini nggak bakalan kalah trending dibandingkan artikel-artikel lain yang gue punya."
"Lo emang bener-bener jagonya bikin artikel trending, ya… nggak salah Lo bisa dapat julukan si MTN-01JIPS."
"Siapa dulu, gue gitu lho."
"Cih, dasar sombong. Nyesel gue muji Lo."
"Haha… jealous nih ceritanya karena artikel yang Lo tulis cuma stuck di situ-situ aja?"
"Eh kurang aja Lo, pakai acara ngeledek gue segala! Inget! Gue itu senior Lo! Dasar bocah!"
"Ya… tapi dalam hal menulis artikel, gue seniornya haha…"
"Wah parah sih, harga diri gue diinjak-injak sama bocah ingusan 15 tahun. Gue nggak terima."
"Baper, gue cuma becanda. Haha…"
"Dahlah, males ngomong sama Lo! Mending gue tutup aja."
"Yakin nggak mau tahu berita apa yang bakalan gue terbitin kali ini?"
"Ntar juga tau, kan artikelnya MTN-01JIPS selalu ada di top 1 ranking trending jurusan IPS. Ntar juga pasti muncul, gue tunggu di forum aja. Males ketemu sama Lo!"
"Haha… marah ceritanya. Btw di markas ada siapa?"
"Nggak tahu, gue nggak lagi di markas!" Ketusnya. Sambungan telponnya itu di putus sepihak dari seberang sana. Ia menghentikan langkah kakinya sejenak sembari memandang layar ponselnya yang menampakkan tampilan history call di ponselnya.
"Bener-bener marah dong, padahal gue cuma becanda." Ia terkekeh pelan. "Gapapa lah, ntar juga pasti baik sendiri. Sekarang yang terpenting gue harus nulis artikelnya dan pastiin artikel itu muncul siang ini juga, harus!"
__ADS_1
...*...
Orang-orang berusaha menahan tawa setiap kali berpapasan dengan Adnan, bukan hanya tentang kertas bertuliskan 'gue gila' di punggungnya, tapi juga karena artikel baru yang mereka baca benar-benar berhasil membuat mereka tertawa terpingkal. Adnan hanya bisa mengerutkan kening bingung saat ia melihat orang-orang yang melintas di sekitarnya itu terus terkekeh pelan. Ia berusaha untuk tidak menghiraukan mereka dan terus melangkah menuju tempat yang ditujunya. Tiba di ruang guru, Adnan segera menemui guru yang dicarinya.
"Kalau begitu saya permisi pak," ujar Adnan begitu urusannya selesai, ia berbalik siap untuk melangkah; sebelum lelaki yang menjadi gurunya itu menghentikan langkahnya cepat.
"Adnan?"
"Ya, pak?"
"Kamu sehat 'kan?" Tanyanya. Adnan hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban, raut wajah bingung terpancar dari wajahnya.
"Memangnya kenapa pak?" Tanya Adnan.
Pria itu lantas mengulurkan tangannya, meraih kertas yang sejak tadi menempel dipunggungnya. Kertas itu diberikan pada Adnan, "ya udah kamu bisa ke kelas lagi," ujarnya seraya menepuk pelan pundak Adnan.
Adnan melangkah keluar dari ruang guru, tiba di luar; ia berhenti sejenak memandangi kertas dalam genggamannya. Emosinya meningkat saat ia sadar kalau orang-orang sejak tadi menertawakan dirinya yang tidak sadar telah dijahili oleh seseorang. Adnan meremas kertas ditangan penuh emosi, ia terdiam sejenak berusaha mengingat-ingat dulu sebelum akhirnya ia ingat kejadian saat dirinya bertemu dengan Bina di koridor.
"Lo…" Adnan geram sendiri.
"Adnan!" Jonas tiba bersama dengan Dev, kedua cowok itu menghampiri Adnan dan berdiri dihadapannya. "Lo udah tahu belum… eh? Udah tahu ternyata," ucap Jonas, ia beralih memperhatikan kertas ditangannya.
"Apa?"
Jonas merogoh kantong celananya dan menunjukkan artikel di forum sekolah yang baru saja dirilis beberapa menit yang lalu. "Ini semua gara-gara dia! Awas aja."
...*...
"Eh, eh! Liat deh, ada berita baru tentang kak Adnan." Renata heboh sendiri seraya memandangi layar ponselnya.
"Ssttt… jangan teriak-teriak, ini perpustakaan!" Ujar Doris mengingatkan.
"Oh, sorry. Gue lupa," kata Renata.
"Emangnya ada apa?" Bina memelankan suaranya.
"Ada berita baru tentang kak Adnan, ini baru saja rilis artikelnya."
"Mana?"
__ADS_1
"Ini, liat." Renata menyodorkan ponsel ditangannya pada Bina yang duduk bersebelahan dengan Doris. Doris di samping Bina terkekeh pelan, ia menutupi mulutnya berusaha menahan tawanya saat membaca isi artikel tentang Adnan. Sementara Doris terkekeh disampingnya.
"Haha, gila sih. Ini yang nulis bener-bener bisa bikin orang ketawa…" Doris terkekeh pelan seraya membaca artikelnya.
"Yang nulisnya bener-bener bikin kak Adnan malu," kata Renata yang tidak suka dengan isi dari artikelnya.
"Bagus dong, sekali-kali gitu bikin dia malu. Biar nggak terus-terusan punya sifat arogan, sejak Bina masuk namanya bener-bener ancur. Haha…"
"Bukan sekali, tapi berkali-kali! Jadi banyak berita miring tentang kak Adnan yang di tulis sama tim berita sekolah."
"Iya, tapi yang ini paling kocak gila! Gue gak bisa berhenti ketawa tolong, hahahaha…"
Sementara kedua temannya tengah membicarakan artikel yang mereka baca, beda halnya dengan Bina yang kini diam tak bersuara disampingnya.
"Siapa sebenernya orang dibalik artikel ini?" Bina membatin, fokusnya tersita oleh pertanyaan yang muncul dibenaknya.
...*...
Pulang sekolah, Adnan menyeret Bina paksa menuju roof top dan menutup pintunya rapat agar tidak ada orang yang bisa ke sana. Bina menghempaskan kasar tangan Adnan saat cowok itu mencengkeramnya dengan sangat kuat.
"Lo mau apa lagi sih?!" Tukas Bina kesal.
"Lo 'kan yang udah tempelin kertas di punggung gue?" Adnan menatapnya tajam. Bina terkekeh pelan, ia lalu balas menatapnya tajam.
"Cih, gue kira apaan."
"Jadi emang Lo pelakunya?!"
"Kalo iya emangnya kenapa?" Bina menanggapi santai.
"Berani banget Lo ngerjain gue?!"
"Denger!" Bina mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Bina masih beradu pandang dengan Adnan, kedua tangan Bina terlipat di depan dadanya.
"Gue cuma memposisikan diri gue sebagai cermin buat Lo! Kalo Lo berbuat baik, gue balas dengan kebaikan juga. Dan kalo Lo bersikap jahat, gue balas dengan kejahatan juga." Bina menekan setiap kalimatnya, Adnan melongo mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Bina.
"Apa Lo bilang?" Adnan mengepalkan kedua tangannya erat, ia benar-benar kesal dibuatnya.
"Karena udah nggak ada yang mau gue omongin, gue duluan!" Bina berbalik, ia melangkah pergi meninggalkan Adnan seorang diri di roof top. Cowok itu memandangi Bina yang terus melangkah pergi hingga sosoknya menghilang dibalik pintu.
"ARGH!!!" Adnan berteriak kesal.
__ADS_1
"Dia benar-benar udah ngibarin bendara perang sama gue. Liat aja, gue nggak bakalan tinggal diem. Gue bakalan bales Lo!" Kesal Adnan.
...***...