
...#...
...“Terkadang cara menyadarkan adalah dengan membalas.”...
...- Bina Esfand -...
...***...
Adnan tampak terkejut saat melihat Bina yang dengan santainya berjalan bersama dengan ketiga temannya menuju kantin untuk menikmati waktu istirahat mereka, sesekali mereka tertawa sembari terus melangkah menyusuri koridor. Adnan berhenti ditempatnya seketika, ia menoleh ke arah Bina yang berjalan berlainan arah dengannya. Ia memperhatikan rok bagian belakang yang dipakai oleh Bina.
"Kenapa bisa?" Pikirnya seraya mengerutkan keningnya heran. Secara mendadak ia melihat Bina yang menoleh kearahnya sembari menatapnya lewat ekor matanya, cewek itu menatapnya penuh arti. Adnan melihat Bina tersenyum tipis, seakan-akan tengah meledek dirinya. "Berani banget dia! Tapi… kenapa bisa?" Adnan terdiam tak bersuara.
"Ad!" Jonas menepuk pundak temannya itu membuat Adnan tersentak kaget dan spontan bangun dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Jonas yang tengah memandanginya, Dev sama dengan Jonas; cowok itu juga tengah beradu pandang dengan Adnan. "Lo kenapa? Kok berhenti?" Tanya Jonas.
"Gue gapapa." Adnan mengelak.
"Ya sudah, ayo pergi. Ntar guru-gurunya keburu pergi buat rapat," ucap Jonas. Adnan lalu berjalan bersama dengan ketiga temannya menuju ruang guru untuk mengambil beberapa bahan materi untuk mereka tulis saat jam kosong mendatang nanti, karena guru-gurunya akan melakukan rapat; jadi mereka mau tidak mau harus mengambil tugas yang harus dikerjakan. Apalagi Adnan, walaupun cowok itu terkesan arogan dan punya perangai yang buruk; tapi tidak bisa dipungkiri kalau cowok itu memiliki otak yang pintar. Bahkan di kelas, setiap tahunnya; ia selalu berada di peringkat satu. Menduduki bangku top di ranking kelasnya.
"Ayo," katanya sembari melangkah pergi bersama dengan Jonas dan Dev.
Bina menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke arah Adnan yang kini semakin menjauh dari tempatnya semula berhenti. "Liat aja, ini semua baru aja dimulai. Gue bakalan balas semua ulah Lo, dan bikin Lo sadar kalo gue bukan orang yang akan diam aja pas Lo kerjain kayak gitu," Bina mengeluarkan smirk-nya.
"Terkadang cara menyadarkan adalah dengan membalas." Bina menatap Adnan. Ia beralih fokus lantas berjalan bersama dengan ketiga temannya pergi menuju arah kantin untuk menikmati waktu istirahat mereka bersama-sama.
...*...
"Gue yakin, orang yang selama ini ngerjain Lo itu pasti lagi kebingungan kenapa Lo nggak kena sama jebakan dia," ucap Doris seraya terkekeh pelan lalu memasukkan makanan yang tengah dinikmatinya.
"Bener banget." Renata menimpali.
"Tapi ngomong-ngomong, gue masih penasaran, kira-kira siapa yang selama ini ngerjain Lo?" Nina beralih sejenak dari ponselnya, menatap Bina yang duduk tepat dihadapannya.
"Gue juga masih penasaran, Lo udah berhasil cari tahu belum?" Tanya Renata. Doris hanya diam dan menunggu Bina angkat suara. Cewek itu kini dengan santainya menikmati makanan yang dipesannya, terdiam sejenak memberikan jeda untuknya menjelaskan.
"Udah." Akhirnya pelan.
__ADS_1
"Seriusan?" Nina menatapnya berbinar. Bina menganggukkan kepalanya.
"Siapa Bin?" Renata sama penasarannya sama Nina.
"Kalian nggak perlu tahu, tapi yang pasti dia udah ngaku. Tapi kayaknya masih belum terima karena gue udah berhasil tahu kalo dia yang udah ngerjain gue, makannya dia nggak berhenti gitu aja pas gue udah tahu." Jelas Bina.
"Serius dia udah ngaku?" Doris menatapnya tak percaya.
"Iya. Kita udah ketemu dan udah ngomong, dia juga udah ngaku." Bina meyakinkan.
"Wah gila sih, Lo hebat banget sampai bisa bikin dia ngaku." Nina berdecak kagum, ia lalu kembali mengalihkan fokusnya pada makanannya. Melahapnya sesuap lalu kembali pada tulisannya di layar ponselnya.
"Terus apa yang bakalan Lo lakuin sekarang?" Tanya Renata. "Nggak mungkin Lo nggak punya rencana kan?"
"Lo nggak berniat buat laporin dia gitu? Atau seenggaknya balas dia?" Doris menaikkan sebelah alisnya.
"Gue nggak bakalan laporin dia, tapi gue punya rencana sendiri; buat balas dia." Bina mengeluarkan smirk-nya. Renata, Doris, dan Nina dibuat penasaran olehnya.
...*...
"Aneh, kenapa bisa?" Adnan mengerutkan keningnya heran, padahal sudah jelas-jelas ia sangat ingat kalau ia mengoleskan banyak sekali lem di sana. Tapi herannya tidak ada sama sekali. "Apa jangan-jangan dia udah tahu sebelumnya?"
"Kayaknya dia mulai waspada karena udah tahu gue yang lakuin." Pikir Adnan.
...*...
Pulang sekolah, Bina dengan ketiga temannya kembali ke tempat dimana mereka menaruh kursi yang semula di duduki oleh Bina yang telah Adnan olesi dengan lem super kuat yang tidak bisa lepas. Ketiganya berdiri di dekat kursi sementara Bina berusaha melepaskan roknya dari kursi. "Kayaknya gue harus beli rok baru," gumam Bina saat menyadari roknya itu tidak bisa lepas dari kursi. Bina beranjak bangun sembari memandangi kursinya. "Padahal baru beberapa bulan yang lalu aku beli rok itu. Sekarang harus beli baru lagi… kira-kira uangnya ada nggak ya?" Bina membatin, ia menghela napasnya panjang.
"Lo nggak punya rok lain?" Tanya Doris, Bina menggelengkan kepalanya pelan.
"Yang lain udah kecil, kalo gue pake; pasti bakalan pendek banget." Jelas Bina sembari menundukkan kepalanya.
"Kalo gitu, buat sementara Lo pakai aja dulu rok gue itu. Kebetulan gue punya tiga, jadi masih ada dua yang bisa gue pake." Kata Renata. Bina mendongak menatapnya.
"Serius boleh?" Tanya Bina memastikan, Renata menganggukkan kepalanya. "Makasih."
"Iya sama-sama."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong ini udah hampir jam empat, gue harus pergi duluan. Gapapa kan?" Nina berucap tiba-tiba setelah sejak tadi sibuk memandang layar ponselnya.
"Lo mau kemana?" Renata menatap ke arahnya.
"Gue harus ketemuan sama orang, ada janji soalnya. Kapan-kapan kita pulang bareng kayak biasa."
"Oke."
"Kalo gitu gue pergi." Nina beranjak pergi meninggalkan ketiga temannya di sana. Renata, Doris, dan Bina hanya diam sembari memandangi gadis itu yang terus melangkah hingga sosoknya hilang dibalik dinding.
"Kira-kira sebenernya dia mau ketemu sama siapa, ya?" Tanya Bina yang penasaran.
"Nggak tahu, tapi kayaknya seseorang yang penting." Renata menyahut.
"Jangan-jangan dia punya pacar?" Celetuk Doris yang berhasil membuat kedua temannya itu menoleh serentak ke arahnya. "Apa?" Doris menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Prasangka kita sama," ujar Bina dan Renata serentak.
...*...
"Dimana?"
"Gue bentar lagi sampai."
"Nggak ada yang tahu kan?"
"Aman."
"Bawa berita apa lagi kali ini?"
"Yang pasti, berita yang gue tulis bakalan selalu berada di top 1 trending topik IPS."
"Pede banget Lo."
"Pasti! Karena artikel yang gue tulis selalu trending."
...***...
__ADS_1