
...***...
Bina melangkah menyusuri koridor di keesokkan paginya, ia hendak pergi menuju ruang kelasnya. Tapi saat hendak berbelok, secara tiba-tiba Adnan muncul dan dengan sengaja menabraknya hingga jus yang dibawa oleh cowok itu tumpah ke bajunya.
"Sorry," ujar Adnan dengan raut wajah tak berdosa. Bina mendongak menatapnya tajam, pagi-pagi seperti ini dirinya harus sudah dihadapkan dengan Adnan yang arogan dan menyebalkannya bukan main. "Gue gak liat Lo tadi, maklum; mata gue nggak bisa liat orang aneh kayak Lo." Tuturnya menekankan di kata 'aneh'.
Bina mendelik penuh kesal, kedua tangannya terkepal erat di bawah sana. Sementara itu, Dev dan Jonas yang ada di sisi kiri dan kanan Adnan hanya bisa diam memandanginya. Dev tampak mencemaskan Bina tapi raut wajahnya berusaha untuk menyembunyikan rasa cemasnya itu.
"Tenang Bina, kamu harus tenang! Biarin dia seneng dulu sekarang, nanti baru bales dia." Bina membatin berusaha menguatkan dirinya yang tengah dilanda emosi. Setelah terdiam sejenak, ia lantas mengubah air mukanya menjadi tampak lebih tenang. Bina tersenyum simpul memandangi Adnan yang ada dihadapannya.
"Gapapa kok, gue tahu Lo nggak sengaja. Gue bisa ganti baju nanti, nggak usah ngerasa bersalah gitu." Bina meledek, Adnan melongo di buatnya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau respon Bina akan berbanding terbalik dengan apa yang ia ekspektasikan.
"Apaan ini? Kenapa dia tiba-tiba bersikap kayak gini? Apa jangan-jangan ini bagian dari rencananya buat bales gue? Gue jadi penasaran apa yang bakalan dia lakuin? Apapun itu, yang pasti gue harus hati-hati, jangan sampai gue kena sama kejahilan dia." Pikir Adnan. Cowok itu beranjak pergi meninggalkan Bina dengan di ikuti oleh Jonas yang sejak tadi asik memakan cup cake vanila yang baru saja dibelinya.
Dev terdiam sejenak memandangi Bina, ia hendak membantunya dengan mengeluarkan tisu yang dibawanya, tapi bergegas Bina melangkah pergi meninggalkannya tanpa menghiraukan Dev sama sekali. Dev terdiam ditempatnya seraya memandangi Bina yang kini terus melangkah sampai sosoknya hilang dibalik pertigaan koridor. "Susah banget buat dapetin kesempatan kedua dari kamu," batinnya, memandangi jalan dimana Bina menghilang.
"Dev!!" Jonas berteriak memanggilnya saat temannya yang satu itu malah diam termangu ditempatnya, Dev menoleh dan segera menghampiri Adnan dan Jonas yang sudah semakin jauh dari tempatnya berada. "Malah bengong, kenapa sih?" Ujar Jonas begitu Dev berada disampingnya.
"Gak, gapapa." Dev menyahut pelan sementara Adnan sejak tadi hanya diam dan memperhatikan raut wajahnya yang tampak berbeda.
...*...
__ADS_1
"Beneran gue boleh pinjam baju Lo nanti?" Tanya Bina pada Renata.
"Iya, lagian baju Lo basah 'kan? Jadi nggak mungkin Lo pakai baju basah, bisa-bisa Lo masuk angin." Tutur Renata, saat ini mereka tengah berada di dalam ruang loker. Sedang mengganti seragam dengan baju olahraga untuk mengikuti pelajaran pertama.
"Makasih banyak Ren."
"Bukan masalah, kebetulan gue bawa dua baju cadangan. Jadi Lo bisa pakai satu."
"Oke."
"Tapi ngomong-ngomong Lo kenapa? Kenapa baju Lo basah?" Tanya Doris yang sejak tadi hanya diam dan menyimak saja, pun Nina yang kini memegangi ponsel ditangannya.
"Gue nggak sengaja tabrakan sama seseorang yang bawa minuman, dan minumannya tumpah. Makannya basah," jelas Bina, menyembunyikan kebenarannya. Ia tidak ingin teman-temannya tahu kalau dirinya ditabrak oleh Adnan saat sedang berjalan menuju ruang kelas.
"Udahlah, kita ke lapangan sekarang yuk!" Nina angkat suara seraya memasukkan ponselnya ke dalam loker bersama dengan baju seragam miliknya.
"Ayo, yang lain juga pasti udah nunggu di lapangan, kan." Doris beranjak pergi bersama dengan Nina, Renata, dan Bina. Mereka berempat melenggang menuju lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga.
...*...
Adnan keluar dari ruang guru, ia lantas melangkah menyusuri koridor untuk bisa kembali ke ruang kelasnya dan mengikuti pelajaran berikutnya. Bina yang sedang terduduk di tepi lapangan lalu beralih pandang pada Adnan yang kini berjalan di koridor mengikuti satu orang guru killer yang berjalan di hadapannya. Bina menatapnya tajam, mengingat kejadian tadi pagi membuatnya benar-benar kesal. "Liat aja, gue nggak bakalan tinggal diem." Gumam Bina pelan. Matanya terus bergerak mengikuti Adnan yang tengah berjalan, tak lama ia beranjak bangun mengikuti Adnan dari arah belakang dengan sangat pelan agar cowok itu tidak sadar tengah ia ikuti.
Disisi lain Renata, dan Doris yang baru saja kembali dari kantin tiba-tiba mendapati Bina yang hilang dari tempat semula ia berada. "Bina nya juga nggak ada," ujar Renata saat mendapati gadis itu tidak ada di tempatnya.
__ADS_1
"Lah kemana? Bukannya tadi di sini?" Doris mengedarkan pandangannya ke sekeliling tapi tak menemukan Bina di manapun. Renata menghampiri salah satu temannya yang sedang beristirahat di sana kemudian menanyakan mengenai Bina yang tiba-tiba hilang dari tempatnya berada, tapi setelah ditanyakan pada teman-temannya; mereka bilang kalau mereka tidak melihat Bina.
"Gimana?" Tanya Doris saat Renata kembali. "Nggak ada yang tahu. Kayaknya ke toilet deh." Ujar Renata.
"Lah terus ini gimana minumannya?"
"Pegang aja dulu, ntar juga pasti balik lagi 'kan?"
"Ya udah, ayo duduk." Doris mengambil duduk di kursi yang ditempati oleh Bina sebelumnya, disampingnya Renata terduduk. Sementara itu Nina yang tadi ikut dengan mereka, pamit untuk pergi ke suatu tempat lebih dulu untuk menemui seseorang.
...*...
"Liat aja, gue bakalan ngerjain Lo lebih dari Lo ngerjain gue." Bina membatin, ia memandangi Adnan yang terus berjalan bersama dengan salah satu guru di hadapannya, berjalan dengan jarak beberapa meter dari gurunya di depan. Bina terus melangkah, sampai tiba di koridor yang cukup sepi; Bina mulai bertindak. Adnan dilihatnya berhenti untuk mengikat tali sepatunya yang lepas, dibelakangnya tanpa ia sadari; Bina meraih kerikil kecil dan melemparkannya keras tepat ke arah kepala guru itu membuatnya mengaduh kesakitan dan spontan menoleh ke arah belakang. Di belakangnya ia mendapati Adnan seorang yang langsung menjadi tersangka, guru itu—Doni langsung memarahi Adnan habis-habisan. Adnan sudah mengelak berulang kali, ia mengaku kalau bukan dirinya yang melemparnya dengan kerikil. Tapi Doni sama sekali tak ingin mendengar alasannya.
"Tapi beneran bukan saya pak…" Adnan sekali lagi menjelaskan setelah berulang kali dituduh Doni.
"Jangan alasan kamu! Memangnya kamu pikir batu bisa melayang sendiri?! Kalau bukan kamu terus siapa?! Di sini cuma ada kamu sama bapak. Sekarang kamu ikut bapak."
"Tapi pak, benar-benar bukan saya…"
"Ikut!" Doni menekankan. Adnan mau tidak mau harus mengikuti Doni yang kini membawanya menuju ruang guru untuk di marahinya.
...***...
__ADS_1