Miss. Tomboy And Mr. Arrogant

Miss. Tomboy And Mr. Arrogant
#008


__ADS_3

...#...


...“Jangan buang-buang waktu buat nyalahin orang lain atas apa yang terjadi, karena itu cuma akan membuang-buang energi Lo. Lebih baik Lo habisin waktu Lo buat introspeksi diri, dan mengoreksi apa yang salah sama diri Lo!”...


...- Bina Esfand -...


...***...


Memang rumahnya bagus, walaupun tampak tidak terlalu megah tapi sangat nyaman untuk di tinggali.


"Ng… habis denger cerita kamu, saya jadi ngerasa kalo kamu emang bener-bener anggap rumah ini berharga. Selain itu di lihat dari seberapa bersihnya tempat ini, kayaknya kamu bener-bener ngerawat rumah ini dengan baik. Dan saya salut sama kamu." Ditya duduk kembali di sofa yang ada di sana. "Walaupun kamu tinggal sendiri tapi kamu bisa bersihin semua ini dengan sangat baik."


Bina dan Mei terdiam penuh harap, masih menunggu keputusan dari Ditya.


"Gini, sebenernya saya beli rumah ini bukan buat di tempati sama saya. Tapi ini buat anak saya yang bener-bener nggak bisa mandiri dan nggak bisa apa-apa. Taunya cuma bisa nyuruh-nyuruh, jadi saya beli rumah ini buat ngedidik dia biar lebih mandiri dalam banyak hal…" Ditya mengambil jeda sejenak.


"…Tapi, kalo kamu masih mau tinggal di rumah ini… boleh."


Bina dan Mei tersenyum dengan wajah berbinar menatap Ditya, mereka senang bukan kepalang saat mendengar kata terakhir yang di ucapkan Ditya.


"Ibu serius? Itu berarti ibu nggak jadi beli rumah ini?" Tanya Bina memastikan, ia tersenyum senang.


"Saya tetep beli rumah ini."


"Eh?" Bina mengerutkan keningnya bingung, senyumnya seketika lenyap dari wajahnya.


"Tapi… kalo kamu mau tetep tinggal di sini, kita bikin perjanjian."


"Pe-perjanjian?" Ulang Bina. Ditya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Perjanjian apa?" Mei ikut bertanya.

__ADS_1



...*...


Hari berganti. Setelah negosiasi kemarin, Ditya dan Bina akhirnya menyetujui perjanjian mereka. Ditya setuju mengizinkan Bina untuk tetap tinggal dengan syarat ia harus membantu anaknya menjadi lebih mandiri dan lebih baik dibandingkan sebelumnya, Bina harus bisa membuatnya berubah. Dan karena mengira itu bukanlah hal yang sulit, ditambah lagi karena tidak memiliki pilihan lain, akhirnya Bina menyetujui syarat dari Ditya dan membuat perjanjian kontrak antara mereka.


"Abis ini pelajaran apa?" Tanya Bina pada Renata yang berjalan disampingnya. Bel istirahat baru saja berbunyi dan kini mereka tengah melangkah menuju kantin untuk menikmati waktu istirahat mereka.


"Abis ini ada pelajaran bahasa Indonesia, sama Matematika."


"Oh. Eh, btw gue mau ke toilet dulu ya."


"Mau gue anter?"


"Nggak usah gue bisa sendiri."


"Ya udah, tapi tau 'kan dimana toiletnya?"


"Oke deh, kalo gitu gue duluan ke kantin ya."


"Iya."


"Eh, mau gue pesenin gak? Mau beli apa?"


"Gue nggak terlalu hafal sama makanan apa aja yang di jual di kantin. Jadi kalo boleh minta rekomendasinya, makanan yang enak."


"Oke, ntar gue pesenin."


"Sip. Makasih."


"Ya, sama-sama. Kalo gitu gue pergi."

__ADS_1


"Iya."


Renata beranjak pergi meninggalkan Bina yang kini melangkah menuju arah lain di koridor, berjalan menuju arah toilet untuk menyelesaikan urusannya. Tidak lama, Bina kembali setelah menyelesaikan urusannya di toilet, ia melangkah keluar tapi secara tiba-tiba Adnan muncul dan menariknya cepat menuju arah lain koridor.


"Mau Lo apa lagi?" Kesal Bina begitu Adnan melepaskan cengkeraman tangannya saat mereka berada ditempat yang cukup sepi. Bina beradu pandang dengan Adnan yang kini tampak sebal. Cowok itu merogoh kantong celananya mengeluarkan ponselnya.


"Liat apa yang udah Lo perbuat!" Tukas Adnan kesal sembari menunjukkan ponselnya yang menampakkan artikel yang sama yang dibaca dan di permasalahkan oleh Doris dan teman-temannya yang lain.


"Lo nyalahin gue lagi gara-gara ini?" Bina menatapnya kesal.


"Gue minta untuk yang terakhirnya ke Lo! Lo harus minta maaf ke gue, dan Lo juga harus tangkap orang yang udah nulis artikel tentang gue! Minta dia buat hapus artikel ini dan bersihin nama gue!" Adnan menekankan kalimatnya.


"Gue gak mau!" Tolak Bina sembari menatapnya sengit. "Emangnya siapa Lo, nyuruh-nyuruh."


"Abis bikin nama orang lain jelek, Lo nggak mau minta maaf sama sekali sama gue?"


"Nggak. Ngapain gue nurutin permintaan cowok arogan kayak Lo!" Adnan geram sendiri jadinya ketika Bina lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan arogan.


"Berhenti panggil gue arogan!" Tukas Adnan kesal, ia menatap Bina tak bersahabat. "Dan Lo harus ikutin ucapan gue karena Lo yang salah. Lo udah bikin nama gue rusak di mata banyak orang, terutama anak-anak di sekolah." Adnan tak terima. Bina menghela napasnya panjang, ia melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap Adnan dihadapannya.


"Jangan buang-buang waktu buat nyalahin orang lain atas apa yang terjadi, karena itu cuma akan membuang-buang energi Lo. Lebih baik Lo habisin waktu Lo buat introspeksi diri, dan mengoreksi apa yang salah sama diri Lo!" Bina berhasil membuat Adnan terbelalak dengan kalimatnya.


"Instrospeksi diri?" Adnan tak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya. Instrospeksi diri katanya?


"Harusnya Lo yang instrospeksi diri karena Lo udah bikin nama gue jelek di mata orang-orang, tapi Lo sama sekali nggak kau minta maaf!"


"Gue capek ngomong sama Lo, cuma ngabisin waktu gue doang." Bina berbalik tak menghiraukan Adnan yang kini kesal bukan main, beberapa kali ia berteriak berusaha menghentikan langkahnya tapi sama sekali tak di gubris oleh Bina yang terus berjalan. Adnan terdiam penuh emosi, tangannya terkepal erat dan matanya menatap tajam ke arah Bina menghilang di koridor sana.


"Gue nggak bakalan tinggal diem. Karena Lo udah bikin nama gue jelek, gue bakal pastiin Lo jera, dan nggak tenang sekolah di sini sampai akhirnya Lo datang sendiri ke gue buat minta maaf tanpa perlu gue paksa…" gumam Adnan. Adnan beranjak pergi dari sana meninggalkan tempat itu, hal tak terduga lainnya sejak tadi tengah mengawasinya tanpa sepengetahuan mereka sebelumnya. Sosok yang sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi itu diam seraya menatap ke arah tempat ke duanya tadi berdiri, ia menarik sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah smirk di wajahnya.


"Menarik," gumamnya pelan. Ia kemudian beranjak pergi dari sana seraya mengecek kembali gambar-gambar yang di dapatkan olehnya. "Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya." Ia terus melangkah hingga tiba di koridor sepi yang tampak kurang terawat, ia melangkah masuk ke salah satu ruangan yang lebih tampak seperti gudang dan lenyap dibalik pintu masuk.

__ADS_1


...***...


__ADS_2