
...***...
"Oke, kalo gitu sampai ketemu besok," ucap Bina.
"Ya, bye!" Tiffany melangkah pergi menuju arah yang berbeda dengan Bina, mereka baru saja selesai menutup kafe dan kini melangkah pulang menuju rumah masing-masing bersama dengan karyawan lain yang bekerja di sana.
Bina berhenti di tepi jalan, menunggu angkutan umum yang selanjutnya akan mengantarkan ia pulang ke rumah. Tak lama menunggu akhirnya ia mendapatkan satu angkutan umum yang ditunggunya. Sepanjang perjalanan pulang, Bina hanya diam sembari terus memandangi jalanan luar yang dilewati olehnya.
Tiba di pemberhentiannya, Bina lantas melangkah keluar dan berjalan sebentar agar bisa tiba di rumahnya. Di depan rumahnya, ia bertemu dengan Mei yang baru saja pulang dari minimarket untuk membeli beberapa bahan dapur yang ia butuhkan.
"Kamu udah pulang?" Sapanya saat mendapati Bina baru saja tiba.
"Iya tan. Tante dari mana?"
"Tante baru aja pulang dari minimarket beli bahan-bahan dapur. Ngomong-ngomong dia belum datang ya, anaknya Bu Ditya itu?" Tanya Mei. Bina menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum, aku juga nggak tahu kapan dia bakalan ke sini."
"Emangnya Bu Ditya nggak ngasih tahu?"
"Nggak. Mungkin nanti juga kalo udah waktunya dia bakalan datang sendiri, aku cuma harus siap-siap aja. Karena dia bisa datang kapan aja."
"Oh, iya sih."
"Kalo gitu, aku masuk dulu Tante… aku mau istirahat."
"Ya udah. Eh ya, kamu udah masak buat makan malam? Kalo belum, nanti kamu datang ke rumah Tante, ya? Tante buatin makanan enak."
"Iya, makasih Tan. Nanti aku ke sana."
Bina beranjak pergi dari sana memasuki rumahnya, sementara itu Mei melanjutkan langkahnya ke rumah tempatnya tinggal yang kebetulan letaknya tepat berseberangan dengan rumah Bina.
BLAM!
__ADS_1
Bina menutup pintu rumahnya, ia lalu melangkah menuju ruang tengah; menghampiri sofa yang ada dan duduk terhenyak di atas sana. Kepalanya menengadah menatap langit-langit rumahnya yang kini masih tampak gelap sementara cahaya matahari diluar sana sudah mulai meredup.
Hening, tidak ada hal lain yang dapat di dengarnya selain keheningan. Bina memejamkan kedua matanya perlahan. "Aku benar-benar lelah," gumamnya sembari menghela napasnya pelan. Ia terdiam sesaat sebelum pikirannya kembali diingatkan dengan ucapan dari Mei tadi.
"Kira-kira kapan semua ini bakalan berakhir? Kapan anaknya Bu Ditya ke sini?" Bina memonolog, ia membuka kedua matanya.
"Kalo anaknya Bu Ditya datang, gue pasti nggak bakalan ngerasain kesepian kayak gini lagi."
"Pasti gue punya temen buat ngobrol dan sharing apapun yang ada di rumah ini, bisa nonton tv bareng, makan bareng, sampai pergi sekolah bareng…"
"Tapi kira-kira… anaknya Bu Ditya itu cewek apa cowok ya? Gue lupa nanya, Bu Ditya juga waktu itu kayaknya buru-buru banget; jadi nggak sempet nanya lebih spesifik lagi."
Bina tertegun saat secara tiba-tiba ia mendengar perutnya berbunyi. Ia mengusap perutnya pelan, "gue laper…" gumamnya.
"Mendingan gue ganti baju, udah gitu pergi ke rumah Tante Mei buat ngambil makanan yang dia kasih sama gue."
Bina beranjak bangun dari tempat duduknya, melangkah pergi dari sana untuk mengganti bajunya; setelah itu pergi ke rumah Mei untuk mengambil makanan yang dibuatkan Mei untuknya.
Jam istirahat, Bina baru saja keluar dari dalam ruang kelasnya; sementara ketiga temannya kini berada di ruang perpustakaan untuk mencari bahan untuk tugas baru mereka di Minggu ini. Bina melangkah menyusuri koridor, secara tak sengaja ia berpapasan dengan Adnan yang juga berjalan berlawanan arah dengannya. Bina menghentikan langkahnya sejenak, mereka beradu pandang dari jarak yang cukup jauh. "It's show time," batinnya seraya tersenyum miring. Bina merogoh sesuatu dari balik kantong rok yang ia kenakan, ia lalu kembali melangkah. Begitu jaraknya berdekatan dengan Adnan; ia menepuk keras punggung cowok itu, membuat Adnan tersentak kaget dan spontan menoleh ke arahnya.
Bina dengan santainya menoleh, ia kemudian tersenyum sinis ke arahnya. Adnan hanya menanggapi tatapannya dengan tatapan tajam penuh kesal.
Bina kembali fokus pada jalanan yang dilaluinya, ia berbelok dan bersembunyi sebentar dibalik dinding. Ia mengintip, memperhatikan Adnan yang kini kembali melangkah menjauh dari tempatnya; ia terkekeh saat melihat punggung Adnan yang kini ditempeli dengan secarik kertas kecil dengan sebuah tulisan di sana.
"Bina?!" Secara tiba-tiba Nina datang dari belakang dan menepuk punggungnya membuat Bina tersentak kaget dan spontan menoleh ke arahnya.
"Nina? Bikin kaget aja."
"Lo ngapain?"
"Kemarin Lo pengen tahu siapa yang udah ngerjain gue selama ini 'kan?" Tanya Bina, Nina menganggukkan kepalanya. "Liat, gue lagi kerjain orangnya balik." Bina menunjuk ke arah Adnan yang kini masih melangkah.
__ADS_1
"Ja-jadi maksud Lo… kak Adnan pelakunya?" Nina memandang Bina dengan raut wajah tak menyangka, Bina menganggukkan kepalanya. "Seriusan?"
"Iya. Masa gue bohong, lagian dia udah ngomong sendiri kalo dia yang udah ngerjain gue selama ini," jelas Bina sembari memandangi cowok itu yang perlahan sosoknya hilang di antara koridor di sana.
"Wah gila, gue nggak nyangka sih…" Nina bergumam pelan.
"Eh, ngomong-ngomong yang lain kemana? Kok Lo sendirian?" Bina baru menyadari kalau cewek itu hanya seorang diri tanpa ditemani oleh Renata dan Doris yang semula sejak tadi terus bersama dengannya.
"Mereka masih di perpus lagi nungguin Lo."
"Oh, terus? Lo sendiri kenapa di sini? Nyariin gue?"
"Nggak, gue mau ke toilet tapi nggak sengaja liat Lo di sini. Lagi ngintai sambil cekikikan sendiri, karena penasaran… ya udah gue samperin. Taunya lagi ngerjain kak Adnan."
"Kalo gitu, ayo balik ke perpus lagi." Bina menggandeng tangan Nina, hendak membawanya pergi dari sana.
"Gue mau ke toilet." Nina melepaskan genggaman tangan Bina.
"Lho, kirain udah?"
"Belum, kan udah gue bilang. Gue mau ke toilet tapi nggak sengaja liat Lo di sini, jadi gue samperin. Gue belum sempet ke toilet."
"Oh gitu. Ya udah sana ke toilet."
"Iya, Lo duluan aja. Kasihan yang lain udah nungguin."
"Oke. Kalo gitu ketemu di perpus."
"Sip!"
Bina beranjak pergi dari sana meninggalkan Nina seorang diri yang kemudian berbalik arah dan melangkah menuju koridor yang berbeda dengan yang di lewati oleh Bina.
Tiba di perpustakaan, Bina segera mencari keberadaan kedua temannya; Doris dan Renata yang telah menunggunya sejak tadi. Begitu menemukan keduanya, ia lalu menghampiri mereka yang kini tengah bergumul dengan setumpuk buku yang mereka pinjam untuk dibaca. Setelah menyapa mereka sebentar, Bina lalu berlanjut mencari buku untuk ia baca sekaligus ia harus mencari buku untuk tugas miliknya.
__ADS_1
...***...