
...***...
"Apa jangan-jangan dia yang seharian tadi ngerjain aku?" Bina membatin, ia terdiam dalam lamunannya. Otaknya terus saja memikirkan kejadian saat ia pulang sekolah dan bertengkar dengan Adnan di depan gerbang sekolah. Secara tidak sengaja Adnan membahas mengenai Bina yang di marahi oleh pak Sam hingga di suruh untuk keluar kelas dan mendapatkan hukuman. "Kalo emang iya, dia orangnya… liat aja, aku nggak bakalan tinggal diem. Aku bakalan balas dia balik." Bina mengepalkan tangannya.
"Tapi masalahnya aku nggak punya cukup bukti buat nuduh dia. Aku harus cari tahu dulu baru udah itu…"
"Bina!" Tiffany memanggilnya lagi sembari mengguncang pundak gadis yang menjadi temannya itu. Bina tersentak kaget, ia spontan tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Tiffany yang kini tengah sibuk mencuci piring di sana.
"A-ah, ya? Kenapa?"
"Itu ada pelanggan juga, malah ngelamun." Tiffany menoleh ke arah dimana seorang pelanggan pria tiba bersama dengan beberapa temannya dan berdiri tepat di depan meja kasir yang ditempati oleh Bina.
"Oh, ya. Maaf, mau pesan apa?" Bina beralih pandang pada mereka.
...*...
"Lo dari tadi ngelamunin apa sih? Kerja juga sampai nggak fokus gitu," kata Tiffany yang kini tengah membereskan meja yang ada dan mengelapnya dengan lap ditangannya. Mereka baru saja tutup dan siap untuk pulang ke rumah masing-masing, karena pekerjaan mereka telah selesai.
"Gak, gue nggak lagi lamunin apa-apa kok." Elak Bina sembari membersihkan meja kasir.
"Bohong banget, padahal udah jelas-jelas Lo ngelamunin sesuatu. Kalo Lo punya masalah atau apa-apa, Lo bisa cerita sama gue. Siapa tahu 'kan, kalo gue bisa bantuin Lo. Jangan sungkan buat cerita," ucap Tiffany.
"Iya. Kalo gue punya masalah, gue pasti cerita sama Lo kok."
__ADS_1
"Nah gitu, jadi biar Lo nggak hadapin semuanya sendirian. Seenggaknya dengan sharing ke gue, Lo jadi bisa ngerasa lebih lega."
"Hm." Balas Bina dengan bergumam.
...*...
Bina melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya dan berjalan menghampiri Renata yang duduk satu meja dengannya, gadis itu tak sendiri; dia bersama dengan Doris dan Nina yang duduk di meja depan sembari memandangi ponsel di tangan mereka. "Pagi." Sapa Bina sembari menghampiri mereka bertiga, ketiganya menoleh spontan dengan raut wajah kurang baik. Ketiganya tak membalas sapaannya dan malah menatapnya tanpa kata, Bina mengubah air mukanya menjadi bingung. "Kalian kenapa?" Tanya Bina yang lalu menghampiri Renata dan duduk disampingnya.
Renata menyodorkan ponsel ditangannya pada Bina, "apaan sih?" Bina meraihnya dan membaca apa yang tertulis di sana setelah sama sekali tak ada kalimat yang terlontar dari mulut ketiga temannya. Ia begitu terkejut saat melihat artikel baru yang lagi-lagi tentang dirinya muncul dan menjadi trending seperti hari-hari sebelumnya. "Berita lagi tentang Lo. Selamat, Lo udah dapet gelar cewek nomor satu jurusan IPS yang selalu deket sama kak Adnan," kata Renata memberikan selamat. Ia menjabat tangan Bina paksa. Bina terdiam memandangi layar ponsel milik Renata yang menampakkan artikel tentang dirinya dengan Adnan yang selalu berhasil membuat satu jurusan IPS heboh dibuatnya. "Siapa sebenernya sosok di balik penulis artikel ini? Kenapa dia bisa selalu tahu pas gue ketemu sama si Adnan?" Bina membatin.
...*...
"Gue mau ke toilet dulu, kalian duluan aja." Kata Bina pada teman-temannya.
"Oke, kalo gitu kita pesenin makanannya," ujar Renata.
"Kalo gitu sampai ketemu di kantin." Renata, Nina dan Doris melangkah menuju kantin untuk menikmati waktu istirahat mereka sembari menunggu Bina kembali dari toilet. Bina melangkah masuk ke salah satu bilik yang ada di toilet, tak lama setelah selesai; ia keluar dan menghampiri wastafel yang ada di sana untuk mencuci tangannya. "Gue bener-bener penasaran sama orang yang udah nulis artikel itu. Siapa sebenernya orang itu? Dan kenapa dia selalu ada di saat-saat gue pas lagi ada sama si Adnan?" Bina memonolog. Ia terdiam sembari memandangi layar cermin di hadapannya, menatap dirinya lewat pantulan cermin.
"Gue harus cari tahu ini. Tapi sebelum itu, gue harus tahu dulu siapa aja anak-anak yang ikut ekskul berita sekolah," gumamnya. Bina mengeringkan tangannya di hand dryer yang ada, lalu melangkah menuju pintu keluar, tapi begitu ia menarik kenop pintunya. Pintu itu terkunci dari luar.
"Lho, apa ini?" Bina berusaha mengguncang lagi pintu itu tapi tetap saja tidak bisa dibuka olehnya. "Gila, di kunci." Bina terus menarik tapi gagal. Sejurus kemudian ia berteriak sembari menggedor-gedor pintu keluar berharap seseorang dari balik pintu itu mendengar suaranya, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari siapapun di luar sana. Bina mendengus kesal.
"Sial, gue di kerjain lagi. Siapa sih sebenernya yang berani ngerjain gue?! Awas aja kalo ketemu." Bina bersungut-sungut tangannya terkepal dibawah sana. Detik berikutnya ia bergerak mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong rok yang dikenakannya, ia segera meminta bantuan pada teman-temannya untuk membebaskannya keluar dari dalam toilet.
...*...
__ADS_1
"Untung aja Lo bawa hp, coba kalo nggak?" Ujar Nina.
"Ya, kalo nggak. Bina pasti terpaksa nungguin anak yang mau ke toilet," sahut Renata sembari memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Gue bener-bener penasaran siapa sebenarnya yang udah berani ngerjain Lo kayak gini?" Ucap Doris sembari mengunyah makanannya.
"Gue juga penasaran." Nina menimpali.
"Gue bakalan cari tau orangnya, dan awas aja kalo sampai gue tahu orangnya! Gue bakalan bales dia lebih dari yang gue alami!" Bina bertekad.
"Setuju!" Seru Renata.
"Tapi gimana caranya Lo cari tahu?" Tanya Nina.
"Sebenernya gue udah punya tersangka," jawab Bina yang berhasil membuat ketiga temannya itu tertegun, mereka bertiga spontan merapatkan diri pada Bina.
"Siapa?" Tanyanya serentak dengan raut wajah penasaran. Mereka berbicara sedikit berbisik agar orang-orang di sekitarnya tidak bisa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan.
"Gue curiga sama dua orang, antara Dhira sama gengnya atau Adnan! Gue yakin banget ada salah satu di antara mereka." Kata Bina.
"Gue juga curiga sama mereka, soalnya sejak awal mereka berdua itu yang paling nggak suka sama Lo!" Kata Doris.
"Menurut gue nggak mungkin kak Adnan lakuin hal kayak gini, kalo kak Dhira pasti masuk akal!" Renata membela Adnan.
"Nggak mungkin apanya? Udah jelas-jelas selama ini yang paling banyak diomongin itu, Bina sama kak Adnan, pasti kak Adnan nggak terima lah dapet berita miring kayak gitu, makannya dia ngerjain Bina!"
__ADS_1
...***...