MISTERI DI BALIK ARWAH

MISTERI DI BALIK ARWAH
Permainan


__ADS_3

Aku hidup berdua dengan Ayah ku, sedangkan ibuku tidak lagi tinggal bersama kami. Aku memiliki saudara kembar tapi perempuan. Dia tinggal bersama saudara ku yang di Bali. Sekali sekala dia akan datang mengunjungi kami disini. Begitu juga dengan ibuku dalam satu bulan dua sampai tiga kali akan datang membawa beberapa makanan dan kebutuhan kami.


Setiap kali ibu datang aku merasa hidup, berapa besar rasa rinduku hanya aku yang tahu. Dari sorotan mata ayah, aku pun tau jika dia pun sangat bahagia dengan kedatangan ibu, tapi dia gengsi untuk mengakuinya.


Aku didik keras sama ayah, dan tidak itu pula ayah membentuk pribadiku yang kejam. Siapa yang berani melukai kita dan merugikan kita maka kita harus membalasnya dengan lebih kejam lagi. Dan tanpa ampun.


Pada awalnya aku tidak mau mengikuti semua yang ayah katakan. Tapi ayah terus memaksaku mengikuti apa yang ia lakukan.


Contohnya hari itu ada seekor ular masuk rumah, tanpa sengaja ayah menginjak dan refleks ular itu menggigit kaki ayah. Ayah mengerang kesakitan, aku bergegas minta pertolongan. Tak berapa lama pertolongan pun datang. Syukur ku panjatkan ayah selamat dari bisa ular itu. Setelah ayah bisa berjalan lagi walaupun dengan sempoyongan dan lambat, namun itu tak menghentikan niatnya untuk mencari ular itu.


Ular yang telah menggigit ayah, aku letakkan di belakang rumah. Ayah pun pergi ke tempat itu, dengan segera ayah mengambil ular itu. Memotong motong dan mengulitinya, kemudian yang terakhir ayah membakarnya.


" Ayah ular itu sudah tidak bernyawa lagi kenapa ayah harus menyiksanya lagi. Lepaskan ayah."


" Tidak ada ampunan bagi siapapun yang telah merugikan kita. Kita harus memusnahkannya dengan kejam, itu baru setimpal."


" Tapi ayah ular itu sudah mati. Sudah tidak ada gunanya lagi yah."


" Kau tidak mengerti, aku hanya memberikan hukuman yang pantas. Aku mau kau pun melakukan hal yang sama!!!"


Kami berdua seperti penjahat, yang selalu melakukan pembunuhan berantai.


Malam itu ada tikus dan kucing yang kejar kejaran di atas plafon rumah. Suara yang di timbulkan pun mampu membuat ayah terusik. Semakin lama semakin suara itu keras.


Prraakkkk


Plafon kami pecah dan ayah yang tak jauh dari plafon jatuh pun langsung bangkit. Dia menangkap kucing yang sedang menggigit leher tikus. Ayah langsung melemparkan kucing itu ke tembok, seketika kucing itupun lemas tak berdaya. Tak sampai di situ, ayah mengambil palu, memukul kepala kucing itu berkali kali. Darah segar mengalir di lantai... kemudian ayah menyalakan api di tong kosong setelah api besar ayah mengambil kucing tadi. Ayah membakarnya....


" Sudah hentikan ayah... kucing itu sudah ta bernyawa." Pintaku.


" Ingat nak, tidak ada ampunan!!"


Akhirnya aku besar dengan didikan ayah yang tak punya belas kasih pada siapapun dan apapun yang merugikan kami. Mereka baik, maka kami pun baik. Mereka merugikan kami, maka kematian adalah jawabannya.


Pagi itu ibu datang membawakan makanan, aku senang sekali. Ketika tengah malam aku terbangun karena mencium bau gosong, aku pun berjalan mendekati sumber bau. Ya itu dapur, dapur terbakar. Ayah yang mencium bau terbakar pun langsung datang ke dapur. Dengan segera kami memadamkan api. Setelah api padam ayah mencari sumber, yang memicu kebakaran.

__ADS_1


Di atas kompor ada panci, dan di dalamnya ada bakso mie yang hangus. Tak lama kemudian ibu menghampiri kami. Sambil menggosok gosokkan matanya, ia mulai sadar apa yang terjadi. Mata ayah memerah menahan amarah, kemudian hal yang tidak ingin aku lihat pun terjadi.


" Anakku hukuman apa yang pantas bbagi orang yang merugikan kita?" tanya ayahku dengan sorot matanya yang tertumpuh pada ibu.


" Tapi ayah, itu ibu bukan hewan?"


" Hewan atau manusia sama saja... siapa pun yang merugikan kita maka kita harus menghukumnya dengan setimpal." Jawab ayah dengan penuh penekanan.


\*\*


" Sepertinya anak ini datang ke tempat yang salah... tapi baiklah aku pun ingin mendengar apa yang akan kalian lakukan pada wanita itu. " Batin ku.


" Apa yang kamu lakukan pada ibumu? jangan bilang kamu dan ayah mu juga melakukan hal yang sama pada ibumu, seperti pada hewan hewan itu." tanyaku


" Ya betul sekali aku dan ayah pun melakukan hal yang sama sama ibu. Kami membunuhnya, kemudian kami memotong motong tubuh ibu. Setelah itu kami memasaknya." Jawabnya tanpa ada rasa penyesalan di raut wajahnya.


Mulutku terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang di katakan pemuda itu.


" Apa kau tak punya hati haahhh? dia ibumu, yang melahirkan mu ke dunia ini. Tanpa dia kau tak mungkin ada sekarang." Bentak ku padanya.


Aku pun bangkit dari dudukku. Aku bingung apa yang harus aku perbuat pada pemuda itu. Hati dan pikiran ku masih belum bisa menerima setiap ceritanya. Ku perhatikan mata sayu itu, mencoba mencari kebohongan. Tapi nihil tidak ada apapun di sana. Aku malah menjadi takut sendiri menerima tatapan tajam darinya.


" Ok, begini.... Sekarang lebih baik kamu pulang dulu. Aku butuh waktu untuk mencari solusi akan masalahmu. Nanti setelah aku mendapat solusinya aku akan menemui langsung ke rumah mu." Saran ku pada pemuda itu. Dia tersenyum miring.


" Masalah kecil seperti ini pun kamu tidak bisa memberiku solusi. Tapi baiklah aku tunggu kedatangan mu." Ejejnya padaku. Tapi aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Setelah itu pun dia beranjak pergi.


" Agus... tidakkah kamu rasa bahwa pemuda tadi GILA?" tanyaku.


Agus yang belum menjawab pertanyaan ku langsung lari ke toilet.


Hhuwekk huwekk.


Agus memuntahkan semua yang ada di perutnya. Dia merasa mual ketika teringat cerita pemuda tadi,yang katanya memasak potongan tubuh ibunya.


" Aku ta habis pikir, kenapa masih ada kanibal di dunia ini. Ibunya sendiri... Lebih baik kita selidiki dulu rumahnya. Dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Usul Agus.

__ADS_1


" Betul juga katamu. Baiklah ayo kita cari tahu tentang pemuda itu. Jika benar memang ada pembunuhan di sana maka kita harus segera melaporkan ke pihak kepolisian." Jawab ku dengan penuh semangat.


Pagi sekali aku dan Agus pergi ke alamat yang di berikan pemuda itu. Tempatnya lumayan jauh. Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai ke rumahnya.


Ku pandangi sekitar rumah itu. Rumput yang panjang, daun kering yang berserakan. Aku mencoba membuka pintu halaman. Tak jauh ku lihat pemuda itu sedang duduk termenung di bagian samping rumah. Di depan pemuda itu begitu banyak sampah dan sobekan kertas. Kalau aku lihat sepintas tempat itu bukanlah seperti rumah yang di huni orang SEHAT, tapi hampir seperti rumah kosong yang ta terurus.


Ku urungkan niat ku untuk menemui pemuda itu. Aku pergi ke sebuah warung yang tak jauh dari rumah itu.


" Permisi Bu, boleh saya tanya sesuatu?" tanya ku pada pemilik warung itu, setelah memesan kopi.


" Iya silahkan ada apa?"


" Rumah itu, siapa yang menempatinya?" tanya ku dengan menunjuk rumah kotor itu.


" Oh rumah itu. Di situ ada dua orang yang tinggal di sana. Ayah dan anaknya."


" Tapi kenapa seperti rumah yang tidak berpenghuni ya Bu?" tanya Agus.


" Ya maklum mas, Aris anaknya agak gimana gitu... walaupun dia ramah dan sopan pada tetangga tapi dia kayak anak linglung. Dia menjaga ayahnya yang mempunyai penyakit depresi setelah di tinggal istrinya. Banyak warga yang kasian pada keadaan Aris, tapi Aris sendiri selalu menolak bantuan kami. Dia bekerja jika di suruh orang, dia sebenarnya anak yang rajin."


" Apakah kemarin atau beberapa hari lalu ada keributan di rumah itu?" tanya ku, yang penasaran dengan cerita Aris yang membunuh ibunya.


sk


" Tidak ada, keributan apa apa." " Emangnya ada apa ya?" tanya pemilik warung itu.


" Tidak, kami cuma nanya saja." Jawab Agus.


Aku jadi pusing sendiri dengan pemuda ini. Kesimpulan ku saat ini, Aris menyidap penyakit gangguan jiwa skizofrenia, yaitu suatu gangguan jiwa yang mana penderitanya tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Schitos artinya terbelah, phren artinya pikiran. Schizophrenia jiwa yang terbelah atau pikiran yang terbagi atau terpecah. Tapi Aris bisa menjaga sosok pelindung pada saat yang tepat.


Begitu besar dan unik ciptaan Tuhan yang berbagai macam masalah yang mereka hadapi. Tapi Tuhan selalu memberi pelindung baginya. Sungguh mengagumkan.


# Maaf jika dalam penulisan dan kata kata masih kurang memuaskan. Saya mohon saran dan kritik nya. Saya ucapkan terima kasih.


# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋

__ADS_1


__ADS_2