MISTERI DI BALIK ARWAH

MISTERI DI BALIK ARWAH
Elsa...


__ADS_3

Malam ini Lisa mengajak aku dan Ade pergi makan malam. Aku merasa sangat bahagia, Lisa yang dulu sangat dingin dengan kami, kini ia berubah menjadi sangat hangat. Terima kasih Tuhan... atas semua yang Engkau beri pada keluargaku. Lindungi kami dan jaga lah kebahagiaan kami. Aamiin.


Ade makan dengan lahapnya, hingga beberapa makanan tak sengaja menempel di pipinya.


" Ade kalau makan jangan belepotan sayang." Ucapku sambil membersihkan pipi Ade.


" Pa... kenapa makanannya gak di habiskan? nanti Ade habiskan low, biar papa kapok..." Tutur Ade.


" Kalau kamu habiskan saja... tapi awas makanan Papa pedas."


" Kalau pedas Ade gak mau, nanti mulut Ade bisa terbakar."Kata Ade, dengan muka cemberut. Aku yang gemes melihat bibirnya, ku acak rambut jagoan ku itu.


" Udah Pa, Ade habiskan makanannya." Pinta Lisa pada kami.


Kami bertiga sudah selesai makan malam, dan kami memutuskan untuk pergi ke taman terlebih dahulu.


Di taman banyak sekali orang dan anak anak yang sedang menikmati indahnya malam... Lisa dan Ade sedang bermain anting anting, aku sendiri sedang duduk sambil menunggu mereka. Tak jauh dari tempat dudukku, aku melihat seorang remaja putri sedang termenung sendiri. Pandangan ku beredar, mencari dengan siapa remaja itu datang. Dan ku pastikan dia sendiri, aku mendekatinya.


" Hai... kenapa kamu menangis?" tanyaku. Remaja itu melotot keheranan ke arahku.


" Apa om bisa melihat aku?"


" Tentu aku bisa lihat kamu. Kamu kenapa menangis? dan sama siapa kamu ke sini?"


" Aku bersyukur masih ada orang yang bisa melihat dan mendengar aku." Dia semakin menangis, tapi di dalam tangisnya dia masih bisa tersenyum. Aku merasa ada yang aneh, kenapa dia merasa bahagia jika aku bisa melihatnya. Apa dia ini hantu? hantu kenapa bisa jalan?


" Om tolong aku... tidak ada yang bisa melihat aku kecuali Om, maka dari itu aku minta tolong kepadamu Om. Aku mohon tolong aku Om." Pinta remaja itu dengan kedua tangannya memohon. Hatiku terasa tersentuh.


" Baiklah aku akan membantumu, tapi tidak sekarang. Ini adalah waktu untuk keluargaku. Besok saja kamu datang ke klinik ku. Aku tunggu, datanglah." Aku menyerahkan satu kartu nama padanya. Dengan raut wajah kecewa ia menerimanya.


" Tapi janji ya Om untuk menolongku." Mata yang penuh harap tersorot di maniknya. Aku mengangguk tanda mengiyakan.


" Papa." Panggil Ade, aku pun menoleh ke sumber suara. Ade berlari merentangkan tangannya.


Haaaappp


Ku tangkap jagoanku, ku bawa ia dalam kepelukan.


"Papa kenapa jauh duduknya? kami sampai bingung tadi mencari Papa." Tanya Lisa kepadaku.


" Tadi di sini Papa bicara sama dia.." kujelaskan pada Lisa, dan menoleh pada remaja itu. Tapi... remaja itu hilang, entah pergi kemana.


" Sudah deh Pa, jangan banyak alasan. Wong dari tadi di situ gak ada siapa siapa. Dah yuk kita pulang saja lagian ini sudah malam." Ajak Lisa, yang menggandeng tanganku.


" Tunggu sayang, tadi beneran low ada remaja di sini. Bahkan kami bicara lama sama dia." Kataku pada Lisa.


" Ya mungkin dia ada urusan penting sehingga dia pergi gak pamit kamu Pa. Ya udah yuk pulang."


Selama perjalanan pulang entah mengapa pikiran ku terganggu dengan remaja tadi. Kata katanya terngiang di pikiranku. "Aku bersyukur masih ada orang yang bisa melihat dan mendengar aku." Sesampainya di rumah aku berusaha membuang jauh pikiran yang agaknya mungkin eror.


Keesokan harinya.


Di depan klinik aku melihat remaja itu lagi. Tapi penampilan serba hitam, dan juga memakai kacamata hitam. Sorot matanya seperti mengisyaratkan "kenapa lama sekali?"


Aku parkirkan mobil terlebih dahulu, setelah itu aku samperin dia.


" Kenapa kamu tunggu di luar? yuk kita masuk." Pintaku, tanpa penolakan ia ikut masuk. Saat sudah di dalam, aku melihat Agus sedang membersihkan lantai. Karena aku nggak mau mengganggu dia, aku langsung mengajak remaja itu naik ke lantai dua.


" Ok... sekarang katakan apa yang bisa aku bantu? dan kalau boleh tau siapa namamu?"


" Namaku Elsa Om."


" Elsa, sekarang apa yang bisa Om bantu?"


 


\\\\\*


 


Elsa memulai ceritanya...


Satu minggu yang lalu aku pergi ke taman bersama saudara ku bernama Tomi. Dia datang ke rumah dan minta izin ke Ibu untuk mengajak aku jalan jalan ke taman. Tanpa merasa curiga Ibu mengijinkan. Aku dan Tomi satu sekolah Tomi kelas dua belas dan aku kelas sepuluh. Setiap hari kami pulang pergi ke sekolah sama sama. Hingga ibu ku tidak pernah merasa keberatan jika Tomi mengajak aku jalan atau keluar rumah.


Sesampainya di taman aku dan Tomi bermain beberapa permainan, ketika sudah merasa lelah kamipun istirahat.

__ADS_1


Tomi menawarkan minuman padaku, karena aku haus aku menerima minuman yang ia berikan. Satu, dua, tiga menit sesudah aku minum, kepalaku terasa berat, pandanganku menjadi buram. Akhirnya aku tidak tau apa yang terjadi padaku.


Aku berusaha membuka mata walaupun terasa berat... Ada sebuah tangan melingkar di perutku. Aku terus berusaha membuat diriku sadar sepenuhnya. Dan setelah benar benar sadar...


(Elsa menangis sesenggukan, aku tak tega melihatnya. Ku beri air minum dan kotak tisu. Dalam pikiranku mungkin ini cobaan yang berat buat dia. Hingga Elsa tak mampu bersuara cukup lama)


" Apa yang terjadi?" tanyaku yang penasaran dengan diamnya Elsa.


Aku mendapatkan diriku sudah tak berpakaian lagi, begitu juga dengan Tomi.


Aaaaaaaaaaa


Tomi terbangun, dia berusaha menenangkan aku yang menangis. Kesucian yang ku jaga selama ini telah di renggut oleh sepupu ku sendiri.


" Kau jahat Tom, kau jahat. Kenapa kau lakukan ini padaku Tom? kenapa?" Tomi hanya diam, aku meracau terus memukuli tubuh Tomi. Ku selimuti tubuh ku yang polos tanpa sehelai benang. Rasa takut akan menghadapi reaksi Ibu dan keluarga, terus memutar mutar di kepalaku. Aku bingung harus bagaimana menghadapi kenyataan, bahwa orang yang merenggut kesucian ku adalah sepupu ku sendiri Apa kata orang nanti. Pertengkaran antara kami pun tak bisa di kendalikan.Ku tarik tubuh Tomi yang mematung tanpa suara, ku pukuli Tomi. Aku terus meluapkan rasa kecewaku padanya. Hingga itu terjadi...


" Cukupppp Eellsaa!!" teriak Tomi, aku yang masih tidak menghiraukan kata Tomi, dan terus menangis dan memukulinya.


Jleepppp


Darah segar mengalir dari perutku, tapi aku tidak merasakan sakit. Rasa sakitnya masih kalah dengan rasa sakit atas perbuatannya.


" Apa yang kau lakukan Tom? kau membunuhku haahh? Setelah kau renggut kesucian ku, sekarang kau berusaha membunuhku. Kau manusia paling jahat dan kejam Tom." Ucapku dengan terbata bata.


" Maafkan aku Elsa... aku khilaf, aku di kuasai dengan hawa nafsu yang ingin memilikimu. Hingga aku melupakan bahwa kau adalah saudara ku. Aku mohon maafkan aku sa... maaf. Aku mencintaimu sa...." Tutur Tomi dengan memeluk tubuhku yang terkulai lemas, dan tak berdaya.


Saat aku ingin menjawab kata Tomi, entah apa yang terjadi? aku melihat diriku dalam pelukan Tomi, aku berusaha bicara sama Tomi tapi diasudah tidak bisa mendengar kata kata yang ku ucapkan. Itulah akhir dari hidupku.


 


\*


 


Berarti Elsa adalah arwah gentayangan... pantes dia bilang cuma aku yang bisa melihat dia, eee tapi tunggu selama ini aku tidak pernah bisa melihat hantu. Dan ini.... Kali pertama aku melihat penampakan. Oh Tuhan...kenapa aku harus di hadapkan dengan arwah sepeti ini? Pasti kalau ada orang lain yang melihat aku berbicara sama dia, maka pasti mereka akan berfikir bahwa aku gila. Tapi bagaimanapun aku sudah berjanji untuk membantunya. Jadi mau gak mau aku harus menolongnya.


" Trus apa yang terjadi setelah itu?" tanyaku pada Elsa.


" Tomi membawa tubuhku dengan mobilnya. Aku terus berusaha bicara sama dia, berusaha menyentuhnya namun semua sia sia. Tomi tidak memberikan respon apa apa. Ku pandangi tubuhku yang ada di kursi belakang, tubuh yang sudah tidak suci lagi. Aku terus menangis dan terus berusaha memukul Tomi, meskipun dia tidak terasa.


Mobil Tomi berhenti di sebuah danau, suasana di tempat itu sangatlah sepi tanpa ada cahaya yang menyinari. Hanya sinar rembulan yang mampu memberi cahayanya. Tomi beranjak keluar dan membuka pintu belakang. Dia menarik tubuhku dan memasukkan pada karung besar. Kemudian ia memasukkan batu besar pada karung sebelum ia mengikatnya.


" Sa .... maafkan aku sa... maaf, aku terlalu mencintaimu sa. Hingga aku tidak mampu jika aku harus di miliki oleh orang lain. Maaf sa, aku janji cinta ini akan hanya untukmu sa. Tidak akan pernah aku bagi. Maafff." Ucap Tomi dengan membelai karung itu.


Dia mendorong karung masuk danau, dan tenggelam lah tubuhku begitu juga dengan rahasia Tomi.


Sepulang dari danau Tomi langsung kabur ke rumah salah satu temannya.


Di rumah ku, Ibu sedang kebingungan mencari keberadaan ku, yang hilang menurut mereka. Ibu dan kakak terus berusaha mencari Tomi, tapi mereka tidak bisa menemukan keberadaan Tomi. Setiap hari ibu dan kakak terus mencari tahu kabarku. Aku sudah mencoba untuk bicara sama mereka, tapi mereka tidak bisa mendengar atau melihat aku.


" Jadi, kamu mau minta tolong agar aku sampaikan kabar ini pada orang tua mu?" tanyaku yang menduga arah bicara Elsa. Elsa mengangguk.


"Ok sekarang bagi tau di mana danau yang kamu maksud.?"


" Jangan ke danau itu dulu sebelum Om temukan keberadaan Tomi."


" Terus aku harus mencarinya kemana?"


Elsa mengambil secarik kertas dan menuliskan sebuah alamat. Dan memberikan kertas itu padaku. Alamat yang di berikan lumayan jauh dari klinikku.


" Apa kau yakin dia ada di tempat ini?" tanyaku sedikit ragu.


" Tadi pagi aku masih melihatnya di tempat itu." Jawab Elsa yang kini matanya sayu.


" Baiklah Om akan pergi sekarang." Kataku sambil meraih kunci mobil di meja.


" Pagi Dok. Tumben pagi sekali bos sampai?" sapa Agus dari arah dapur.


" Emang gak boleh aku datang pagi. Oh ya Gus, aku mau pergi dulu. Tolong jaga klinik dulu ya." Perintahku ke Agus.


" Emang bos mau kemana?" tanya Agus yang penasaran.


" Cepetan Om, nanti keburu Tomi pergi." Elsa menarik tanganku.


Aku pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Agus. Sedangkan Elsa setelah melihat aku masuk mobil dia menghilang, entah ke mana. Jalanan pagi itu lumayan sepi, hingga aku bisa mempercepat laju mobilku. Perjalananku hampir tiga jam, kini aku sudah sampai tepat berada di depan alamat yang di beri Elsa.

__ADS_1


Aku turun dari mobil, ku amati setiap sudut rumah itu. Di depan pagar rumah tertulis 'Rumah di jual'.


" Mana mungkin Tomi ada di rumah ini?" batinku.


Sepi tanpa ada aktivitas, dan saat ingin ku buka gerbangnya seseorang menyapaku.


" Anda mau beli rumah ini ya? lebih baik anda telfon terlebih dahulu." Kata seorang pemuda, mungkin warga sekitar.


" Tidak saya ke sini mau mencari seseorang."


" Pak, rumah ini sudah kosong enam bulan lalu. Pemiliknya pindah ke Jakarta. Kalau saya boleh tau anda mencari siapa?"


Aku terdiam, bingung harus bilang apa.


" Saya mencari Tomi."


" Oh, den Tomi. Dia keponakan pemilik rumah ini. Tapi bukannya dia tinggal di Surabaya ya?"


" Saya cuma berfikir mungkin dia singgah ke sini." Dalilku.


Cukup lama aku bicara sama pemuda itu. Akhirnya aku putuskan untuk pergi saja dari situ. Saat ku jalankan mobilku, aku melihat ada seseorang memasuki rumah itu, dengan cara mencurigakan... Ku matikan mobilku, dan ku perhatikan dia.


Wajah yang di tutup dengan masker dan hoodie membuat aku tidak bisa melihat wajahnya. Dia melihat ke kanan, ke kiri dan sekelilingnya. Kemudian dia menaiki pagar samping rumah itu, dia masuk melalui salah satu jendela.


" Dia Tomi..." Suara Elsa mengejutkan aku, hampir copot jantungku di buatnya. Ingin aku marah karena kehadirannya. Tapi sorot mata yang penuh dengan kemarahan yang ku lihat membuat aku mengurungkan niatku. Elsa yang kini sudah berada duduk di sampingku. Aneh... padahal pintu mobil semua terkunci. Tapi tidak ada yang aneh diakan arwah gentayangan.


Aku putuskan masuk ke rumah itu, seperti yang Tomi lakukan tadi. Kini aku dapat melihat dia, Tomi sekarang ada di sebuah kamar. Menyadari kedatanganku Tomi langsung balik badan menghadapku.


" Siapa kamu? kenapa kamu kesini?" teriak Tomi yang terkejut melihat kehadiranku.


" Tenanglah Tom, aku kesini ingin membantumu. Kau jangan takut, mari kita saling bicara baik baik." Aku berusaha bernegosiasi dengan keadaan.


" Hahhahaa.... bagaimana kau bisa menolongku, sedangkan kau sendiri tidak tau siapa aku dan apa masalahku, lebih baik kau pergi dari sini. Atau kalau tidak aku bunuh kau dengan pisau ini!!!" gertak Tomi.


" Aku tau siapa kamu dan aku tau apa yang sudah kamu lakukan pada Elsa." Ucapan ku berhasil membuat dia menjatuhkan pisau yang ia pegang sejak tadi. Tomi menangis, dia meringkuk di lantai. Dapat ku lihat dari matanya, ia menyesali telah membunuh Elsa.


" Aku tidak sengaja membunuhnya, aku tidak sengaja. Aku tidak sengaja." Ucap Tomi yang gemetar dengan wajah ketakutan, air matanya juga terus mengalir.


Ku dekati dia, aku duduk di sebelahnya. Ku biarkan dia menangis sampai puas dulu. Dan saat ku rasa dia sudah tenang.


" Kenalkan aku Andi, aku seorang psikiater. Aku datang ke sini untuk membantumu."


Tomi memperhatikan aku, dari atas ke bawa.


" Dari mana kau tau tentang aku dan juga tentang Elsa. Karena setahu aku cuma aku dan Elsa yang tahu."


" Ya kau benar hanya kau dan Elsa yang tahu apa yang terjadi di antara kalian. Dan Elsa sendiri yang datang padaku, dan ia minta tolong agar aku bisa membantu orang tuanya menemukan jasadnya."


Mata Tomi menatapku seakan tidak percaya.


" Mana mungkin Elsa menemui mu, dia sudah mati. Dan tangan kotor inilah yang telah membunuhnya." Lagi lagi Tomi menitihkan air matanya, menunjukkan kedua tangan yang ia gunakan untuk membunuh Elsa.


" Apa kau tidak percaya denganku? lalu kalau kau tidak percaya bagaimana mungkin aku bisa menemukan kamu di sini tanpa bantuan Elsa."


" Jika kau bisa melihat dia, aku mohon bantu aku untuk minta maaf sama dia! aku gak mau di hantui rasa bersalah. Aku mohon beritahu Elsa aku mau bertemu dengan dia. Aku mau minta maaf, aku mohon." Pinta Tomi dengan kedua tangannya memohon kepadaku.


" Dia ada di sini, dia berada tepat di depan kamu saat ini." Kataku. Tomi seakan masih tidak percaya.


" Om aku pinjam note dan bolpoin yang Om bawa." Pinta Elsa


Aku meraba ke saku, dan benar saja aku menemukan note dan bolpoin. Aku letakkan dua barang itu di atas lantai di depan aku dan Tomi.


Aku melihat Elsa menulis, tapi Tomi terkejut melihat bolpoin itu bergerak sendiri, aku dapat melihat ada rasa takut di diri Tomi.


Tomi... pulanglah, aku sudah memaafkan kamu. Aku cuma mau kau menyerahkan dirimu ke pihak berwajib. Agar jasadku bisa di temukan, dan dengan begitu orang tuaku tidak akan susah payah mencariku lagi. Aku mohon pulanglah dan akui kesalahanmu. Sejujurnya aku juga sangat mencintaimu Tom, tapi aku tidak pernah bisa ungkapkan karena kau adalah saudara ku. Pulanglah...


Akhirnya Tomi mau menuruti keinginan Elsa, aku mengantarkan Tomi ke kantor polisi yang ada dekat dengan tempat tinggal mereka. Semua di ceritakan secara detail oleh Tomi, polisi langsung mengerahkan tim SAR untuk mencari jasad Elsa di danau. Saat jasad di temukan kedua orang tua Elsa yang berasal di TKP menjerit histeris melihat jasad putrinya. Tomi tak luput dari pukulan yang di layangkan ayah Elsa. Tomi pasrah menerimanya, polisi berusaha melindungi Tomi yang sudah tak berdaya itu.


Aku mengikuti proses pemakaman Elsa, setelah semua selesai aku pamit undur diri kepada orang tua Elsa. Dan saat aku mau pergi langkah kakiku terhenti, saat ku lihat Elsa tersenyum padaku. Kini baju yang ia kenakan serba putih, tak sama dengan hari hari yang lalu. Senyuman yang menawan.


"Terima kasih Om..." ucapnya dan perlahan tubuhnya terus hilang.


#Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘😘😘💋


dan juga mampir keceritaku yang lainnya

__ADS_1


- Garis Hidup Arin


- Mengenal Rasa 🙏🙏


__ADS_2